KEADILAN dan BELAS KASIHAN (Minggu, 04 Agustus 2013 )

Image

Pdt. J.S Minandar

Y a k o b u s 5:1-6

 PENDAHULUAN

Sekarang kita telah sampai di Yakobus 5. Pada pasal 5 :1-6, Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul: “Peringtan Kepada Orang Kaya.” Ada berita khusus yang disampaikan Yakobus kepada orang-orang kaya yaitu sebuah peringatan. Sebelum kita bahas hal mengenai peringatan kepada orang kaya, lebih dahulu kita bahas tentang keadilan dan belaskasihan.

 

Yakobus 5:1-6 ayat-ayat ini merupakan rangkaian teguran buat orang Yahudi Kristen yang tersebar di luar tanah Palestina, dimana Yakobus menegur keras kepada orang-orang kaya. Jika rasul Yakobus memberikan teguran kepada orang-orang Kristen yang kaya, hal ini bukan berarti Firman Allah melarang atau mengingatkan orang kristen tidak boleh kaya. Sebaliknya Firman Tuhan menuliskan bahwa kekayaan adalah janji Tuhan  buat setiap orang percaya. Contohnya adalah Abraham.

Kejadian 13:2 “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.”

Kejadian 24:1 “Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya (umurnya diberkati), serta diberkati Tuhan dalam segala hal (secara jasmani dan rohani).”

Sebagai pengikut Yesus, kita adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji dan waris berkat Abraham. Artinya anak-anak Tuhan akan menerima kekayaan-kekayaan seperti yang Tuhan janjikan kepada Abraham.  Jika demikian, lalu apakah tujuan Yakobus menegur orang-orang kaya?

TUJUAN TEGURAN YAKOBUS

Teguran Yakobus bertujuan mengingatkan atau menegor orang kaya dalam jemaat, karena ada anggota jemaat yang diberkati dengan kekayaan yang melimpah tetapi orang tersebut tidak memiliki belas kasihan dan kemurahan. Sebaliknya sebagai orang kristen (pengikut Yesus), sikap dan tindakan mereka sebagai majikan begitu keras, kejam, bengis bahkan tidak menunjukkan belas kasihan, Yakobus 5:4-6. Secara jasmani mereka memang kaya, tetapi sesungguhnya mereka miskin dihadapan Tuhan karena tidak memiliki belaskasihan dan keadilan. Belas kasihan merupakan kekayaan rohani yang harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Jadi jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang tidak menjadi kesaksian bagi bawahan kita karena tidak ada belas kasihan.

MENGAPA HARUS BELAS KASIHAN?

Ada 3 alasan mengapa kita harus memiliki belaskasihan :

1.Hukum Allah

Matius 23:23 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab pesepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Para pengikut Taurat merasa puas setelah mereka melakukan hukum-hukum Allah. Bagi mereka dengan memberikan persepuluhan, beribadah dan melakukan sariat-sariat agama lainnya merupakan ibadah yang lengkap dan tidak perlu lagi berperilaku belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Yesus hadir, hukum-hukum tersebut diluruskan. Melakukan kewajiban hukum-hukum Allah itu perlu dan wajib, tetapi harus dibarengi dengan perbuatan yaitu belaskasihan dan keadilan. Kekeristenan adalah keseimbangan antara ibadah (iman) dan perbuatan.

2. Sifat Yesus

II Korintus 8:9 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.”

Ayat ini menjelaskan bagaimana kita telah menerima belas kasihan yaitu karunia dari Tuhan dimana oleh belaskasihan, dimana Yesus yang tidak terbatas oleh waktu, rela jadi miskin dengan mengosongkan diriNya dan menjadi manusia yang penuh keterbatasan, supaya kita kaya dalam segala hal. Kata “KAYAbahasa Yunani ditulis – PLOUTEO (Ploo-teh-o): menjadi kaya secara berkelimpahan. Artinya, kaya, bukan cuma “materi”, tetapi “belas kasihan” dan “kemurahan” II Korintus 8:2,7. sekarang apakah sifat belaskasihan Yesus ada didalam diri kita. Jangan sampai kita menjadi orang kaya yang ditegur oleh Yakobus karena kalau cuma kaya materi, kita tidak bisa mempraktekkan poin ke tiga, yaitu..

3. Saksi Kristus

Kisah 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Setiap orang kristen (pengikut Yesus) harus menjadi saksi. Yang dimaksud saksi bukanlah hanya berbicara tentang Injil (Kabar Baik), bahwa satu-satunya jalan untuk sampai ke sorga itu hanya ada di dalam Yesus, tetapi bersaksi artinya, setiap pengikut Yesus harus bisa memperlihatkan kepada dunia, cara hidup Kristus, karakter Kristus atau kepribadian Kristus itu di dalam diri kita, yaitu: “Belaskasihan Kristus di dalam hidup kita.”

 CONTOH :Didalam injil Lukas 7:1-10, Yesus begitu menaruh perhatian tentang yang satu ini, yaitu “Belas Kasihan”

Ayat 1  “Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.”

Setelah Yesus menyelesaikan pengajaranNya, yang terkenal dengan ajaran khotbah di bukit, Yesus masuk kota Kapernaum. Kata Kapernaum, terdiri dari 2 kata: Kefar – rumah dan Nahum – penghiburan. Jadi, Yesus ingin mendapatkan sesuatu yang menghibur dan menyenangkan diriNya, yaitu penghiburan yang bukan bersifat duniawi atau hal-hal jasmani.

Ayat 2 “Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.”

Injil Lukas, terkenal sebagai Injil Antagonis, sebab banyak menampilkan cerita/kisah tentang tokoh atau kejadian dengan perbandingan yang ekstrim, misalnya:

  • Lukas 16               Orang kaya dan Lazarus (neraka dan sorga)
  • Lukas 18               Hakim yang kejam dengan janda yang tidak berdaya.
  • Lukas 7 Perwira dengan seorang hamba. Tetapi keistimewaan dalam kisah ini, perwira yang kaya dan terhormat ini memiliki rasa peduli dan belaskasihan yang tinggi kepada hambanya yang sedang sekarat. Pada masa PL, posisi hamba tidak dianggap dia bahkan dianggap seperti benda hidup. Contoh: I Samuel 30:11-13, seorang hamba karena sakit, ditinggalkan di jalan, dibiarkan mati. Daud menunjukkan belaskasihan, sehingga Tuhan menolong Daud di Ziklag.

 

Ayat 3 “Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepadaNya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.”

Belaskasihan dalam diri perwira ini, membuat ia sadar bahwa ia butuh Yesus. Ia menyadari, ada yang ia bisa buat dengan menggunakan uang, pangkat, kuasa, tetapi ia sadar untuk keselamatan hanya Yesus yang bisa menyelesaikannya. Belas kasihan dalam diri perwira ini membuat ia disukai oleh pemimpin Yahudi. Umumnya pemimpin Yahudi benci penjajah, tetapi tidak dengan perwira ini.  Kesimpulan:  Orang yang memiliki belaskasihan dalam dirinya, adalah orang yang sadar bahwa ia butuh Tuhan dan saudara seiman.

Ayat 4, 5 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolonganNya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.”

Para tua-tua (tokoh) Yahudi, yang terkenal fanatik dan membenci penjajah, justru merekomendasi yang baik tentang perwira kafir kepada Yesus: “Ia layak Engkau tolong!” Inilah kuasa belaskasihan, yang mendatangkan daya tarik di tengah lingkungan yang fanatik sekalipun. Belaskasihan dalam diri perwira ini pula, yang membuat dia, rela mengorbankan hartanya, demi pembangunan rumah ibadat (sinagoge). Belas kasihan, akan mendorong Saudara untuk peduli hamba-hamba Tuhan, peduli terhadap sesama jemaat dan kondisi rumah Tuhan.

Ayat 6,7 “Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka.

Apakah yang membuat Yesus tertarik untuk datang ke rumah perwira tersebut? Apakah karena dia orang kaya, berkorban bagi pembangunan rumah ibadat? Yesus tertarik karena ingin melihat, ada seseorang yang di dalam dirinya ada roh belaskasihan. Lukas 7:6b,7 “Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepadaNya: Tuan, jangan-lah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepadaMu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Belaskasihan, membawa kita kepada kerendahan hati. Orang yang punya belaskasihan, akan terhindar dari roh kesombongan, sebaliknya rendah hati. Tetapi, ada hal yang menarik dari kisah ini. Pada umumnya orang bangga kalau Yesus mau singgah di rumahnya, contohnya Zakheus. Tetapi tidak dengan perwira ini, ia merasa tidak layak dan kalau ia diizinkan datang menemui Yesus, ia rasa dirinya tidak layak, sebab dalam pandangannya, Yesus terlalu agung bagi dirinya. Orang yang memiliki belaskasihan punya rasa hormat yang tinggi terhadap Yesus.

Ayat 8 “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada serang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Perwira ini baru mendengar tentang Yesus, tetapi iman dan belaskasihan di dalam dirinya, telah mendorong dia untuk menempatkan Yesus pada posisi yang tertinggi di dalam hidupnya. Siapakah yang tertinggi dalam diri Saudara? Kalau kita percaya kepada Yesus dan roh belaskasihan itu ada di dalam diri kita, maka kita akan menempatkan Yesus di atas segala-galanya dalam hidup kita, bukan diri sendiri; manusia; harta; kedudukan, atau apa pun, tetapi Yesus.

Mengerti Kekutan Kuasa Firman

Orang yang memiliki belaskasihan, memiliki keyakinan akan kuasa firman Allah. Ia meyakini, kalau Yesus memerintahkan firman, maka firman itu akan datang dan bekerja di dalam diri hambanya itu dan hambanya akan disembuhkan. Miliki iman akan kuasa firman Allah, Mazmur 33:9.

Kesimpulan

Sampai ayat ini, kita melihat bahwa perwira ini walaupun ia seorang non Yahudi (kafir), tetapi roh belaskasihan yang ada di hidupnya membuat ia menjadi figur yang berbeda dibandingkan pejabat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. 

Belaskasihan, membuat ia menjadi orang yang :

  1. Tidak sombong, menghargai jasa dan pelayanan hambanya
  2. Menyadari keterbatasannya dan membutuhkan Yesus (ibadah)
  3. Membuat dia suka berkorban
  4. Memiliki rasa hormat yang begitu tinggi kepada Yesus sebagai Tuhan
  5. Mengerti otoritas Allah, dan kekuatan kuasa firman Allah

Iman seperti inilah yang dicari Yesus, sebab :

Ayat 9 “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ni tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

Pada umumnya, kalau kita membaca Injil dan mempelajari kisah pelayanan Yesus, semua orang yang mendengar dan melihat Yesus menjadi heran dan takjub. Tetapi ayat ini menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus merasa heran mendengar tentang seorang perwira yang memiliki roh belaskasihan, yang membuat hidupnya berbeda dibandingkan dengan masyarakat di sekitarnya, padahal ia bukan orang Yahudi. Kalau selama ini kita dibuat heran dan takjub akan Yesus, maka sekarang kita membuat Yesus merasa heran kepada kita. Caranya milikilah dan praktekkanlah belaskasihan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan Yesus Memberkati_

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s