Garis Batas Kemenangan (Minggu, 02 Maret 2014)

Oleh Rev. Stefan Sos

1 Samuel 17:1-3

Kisah dalam ayat ini menjelaskan pertentangan atau peperangan di antara dua bangsa.  Pertentangan ini terjadi antara bangsa Isrel dan musuhnya. Sering kali Tuhan menggunakan musuh-musuh Israel untuk membawa mereka tetap dengan perjanjian Allah. Kedua bangsa yang dikisahkan tersebut terus bertengkar. Bangsa Filistin begitu kejam dengan Israel  danImage mereka berusaha mencari cela agar dapat melawan Israel. 1 Samuel 17, mencatat bahwa orang Filistin berkumpul di satu tempat. Mereka  membawa kereta perang, senjata dan prajurit perang sehingga setiap pagi ketika orang Israel bangun pada pagi hari, mereka harus siap siaga karena ada musuh yang akan menyerang, yaitu bangsa Filistin. Dengan demikian bangsa Israel terus ada di bawah bahaya dan mereka akan terus siap siaga jika penyerangan dilakukan bangsa Filistin.

Sesungguhnya ini gambaran hidup orang percaya. Ketika kita bangun pagi ada begitu banyak tantangan, yaitu dosa dan  keduniawian yang menjadi musuh bagi umat Allah. Musuh tersebut semakin banyak dan kuat. Karena dosa, moral manusia yang semakin jahat lebih dari Sodom dan Gomora. Berkembangnya  pengajaran sesat melalui pemahaman teologi tidak sesuai lagi dengan kebenaran firman Tuhan dan berusaha masuk ke dalam gereja Tuhan. Dengan demikan kita harus bersiap sedia untuk siap berperang. Bahkan peperangan terus terjadi atas hidup orang percaya dimana agama-agama sekarang  dengan gencar menentang ajaran Kristus. Iblis berusaha menarik keluar roh-roh pemberontakkan untuk melawan gereja Tuhan bahkan pemberontakan tersebut telah masuk dalam gereja sehingga menarik jemaat melawan para pemimpin gereja dan ajarannya. Tetapi bukan hanya peperangan itu saja, ada satu peperangan besar yang harus kita hadapi juga, yaitu memenangkan jiwa bagi Tuhan. Jiwa-jiwa tersebut membutuhkan kebenaran, jiwa-jiwa tersebut membutuhkan tujuan hidup dan menemukan pengharapan. Semua tantangan ini berdiri melawan gereja Tuhan.

Perhatikan 1 Samuel 17, bangsa Filistin datang untuk meyerang Israel bahkan membangun kemah-kemah untuk menyerang Isreal. Jika diperhatikan dengan seksama, sepertinya tidak mungkin oleh satu orang Filistin menimbulkan ketakutan di seluruh Israel (1Sam 17:11). Seharusnya bangsa Isreal tahu bahwa ada satu pribadi yang harusnya di takuti. Dalam ketakutan bangsa Israel, bangsa Filistin dapat meyerang Israel dangan mudah, tetapi mengapa mereka menunda penyerangan dan justru memilih untuk berada di sisi orang Israel? Tindakan bangsa Filistin inilah yang juga dilakukan oleh Iblis bagi orang percaya.

Ada saat dimana kita merasa lemah dan sepertinya tidak ada lagi kekuatan serta kemampuan yang dapat kita miliki. Namun iblis tidak langsung menyerang di posisi yang lemah ini. Bukankah Iblis 6000 tahun telah ada dan ia punya cara berperang yang lebih baik dari kita serta memiliki kekuatan yang lebih kuat. Seharusnya iblis memiliki kuasa yang lebih besar. Mengapa?

Perhatikan kembali di 1 Samuel 17:1, bangsa Israel berada di Efes-Damim. Efes-Damim  adalah garis batas wilayah Israel. Jadi orang Filistin tidak dapat melewati batas garis tersebut untuk meyerang orang Israel. Batas garis ini adalah Darah Yesus yang memisahkan orang percaya dari musuh-musuh.  Ada darah Yesus yang mengalahkan kuasa iblis. Oleh kematianNya, Yesus membangun garis batas atas kehidupan orang percaya sehingga Iblis tidak dapat menyerang dan langsung mengalahkan kita.  Salah satu cara agar kita kalah adalah dengan mengeluarkan kita dari garis batas yang Yesus berikan.

Penyerangan tidak dilakukan oleh bangsa Filistin, karena bangsa Israel tidak ada yang keluar dari batas garis tersebut. Sebab itu Goliat meminta satu orang untuk keluar melawan bangsa Filistin (1 Sam 17:8), tetapi tidak ada satupun yang berani. Datanglah Daud menawarkan dirinya untuk melawan Goliat dan bangsa Israel sepakat Daud yang akan melawan Goliat. Mereka memperlengkapi Daud dengan baju perang, Daud menolak karena dengan baju tersebut akan mengundang Daud keluar dari garis batas dan membuatnya tidak nyaman. Maka Daud gunakan peralatannya, sebab dengan senjata tersebut ia tetap berada di garis belakang dari garis batas. Daud mengerti bahwa ketika musuhnya kalah barulah ia keluar dari garis batas. Keputusan besar bagi Daud saat itu, antara menang atau diperbudak oleh bangsa Filistin. Dalam kehidupan nyata, tidak ada yang abu-abu. Menang atau jadi budak Iblis. Daud tidak hanya sekedar menyerang. Ada prinsip-prinsip yang dilakukan oleh Daud.

Prinsip Daud

  • 1 Sam 17: 26 – Daud memiliki perjanjian Allah. Daud yakin bahwa ia memiliki perjanjian dari Allah. Perjanjian akan penyertaan Allah atas bangsa Israel. Seseorang yang di luar Tuhan tidak memiliki perjanjian Allah dan inilah yang membuat mereka kalah.
  • 1 Sam 17:37 –  Daud berperang bersama Tuhan. Daud memahami bahwa peperangan tersebut adalah tentang Tuhan bukan tentang kekuatannya. Daud bergerak dengan pengalaman masa lalunya bersama dengan Tuhan.
  • 1 Sam 17:45,46 –  Daud menggunakan Nama Tuhan. Perhatikan kata Daud “tetapi aku mendatangi engkau dengan NAMA TUHAN…” Nama Tuhan berkuasa. Saat ini apakah kita berada dalam peperangan pribadi? Musuh yang kita hadapi seperti Goliat, memiliki senjata, berpengalaman dan menakutkan. Jangan menghidupi peperangan pribadi, kita sudah menang sebab Nama Tuhan membawa kemenangan. Kita SUDAH menang bukan AKAN menang sebab Yesus telah menang.
  • 1 Sam 17: 46 –  Mengetahui trik Iblis. Bagi Daud ada satu hal yang ia lakukan bahwa ia tidak menunda peperangan. Ia melawan Goliat saat itu juga, ia kalahkan trik iblis dengan melawannya sekarang tidak nanti. Jadi  habisi Iblis dengan total bukan setengan-setengah.

Sering kali kita jumpai orang-orang percaya bergumul dengan masalah yang sama. Terus-menerus dan berulang- ulang terjadi.  Saat ini sadari bahwa Tuhan sudah memenangkan peperangan itu di kayu salib. Hari ini kita telah menang karena kita memiliki darah Yesus. Ketika musuh datang berpikirlah, bergeraklah seperti Daud dan berdiri tetap dalam garis batas darah Yesus. Percaya bahwa kuasa Yesus tetap sama sampai saat ini. Gbu

 

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s