KEBAHAGIAAN SEJATI – Pdt. Markus Sigalingging (Minggu, 10 Agustus 2014)

1 Tesalonika 5 : 16

Saat menulis surat Tesalobnika, rasul Paulus sedang dalam keadaan yang menderita. Berbagai aniaya dan penderitaan ia alami karena memberitakan Injil Kristus. Bahkan kalau diperhatikan kehidupan dan pelayanannya, sebagian besar diwarnai dengan penderitaan. Tetapi yang mengherankan adalah; sekalipun hidupnya penuh dengan penderitaan dan kesukaran, namun rasul Paulus tetap bersukacita. Kepada jemaat di Tesalonika ia berpesan: “Bersukacitalah senantiasa.”

Manusia mudah bersukacita saat hidupnya diberkati tetapi akan kehilangan sukacita saat keadaan buruk datang. Suka cita yang dimaksudkan rasul Paulus adalah sukacita sejati yang tidak digerakan dan didorong oleh hal-hal yang bersifat jasmani dan berkat-berkat materi, melainkan sukacita yang dihasilkan oleh kuasa Roh Kudus. (Roma 15:13 )

Pemazmur dalam Mazmur 25:12-13, menggambarkan kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang permanen yang diwarisi oleh anak cucunya. Kebahagiaan disini meliputi kebahagiaan lahir dan batin.

Apakah Kebahagiaan yang Sejati?
1. Kebahagiaan sejati tidak tergantung dengan apa kita alami.
Terlalu banyak anak Tuhan yang kehilangan kebahagiaan karena keadaan yang dialaminya. Kebahagiaan hilang karena ia dikecewakan sahabatnya, mengalami kegagalan, ditipu, sakit, dikhianati, dll. Keadaan-keadaan yang kita alami bisa berubah-ubah, namun jangan sampai mengubah kebahagiaan yang kita terima dari Tuhan. Bahkan dalam penderitaan dan aniaya sekalipun jangan sampai kita kehilangan kebahagiaan. Bukankah rasul Paulus telah mengingatkan kita bahwa kepada kita telah dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga menderita untuk Dia (Fil 1:29). Tepatlah jika rasul Yakobus menghimbau anak-anak Tuhan untuk merasa berbahagialah dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yak 1:12). Sebaliknya bersyukurlah untuk apa yang terjadi dan relakan untuk semua yang telah hilang.

2. Kebahagiaan yang sejati tidak tergantung dengan apa yang ada.
Suatu kali, seorang jemaat memanggil saya dan menyodorkan sebuah amplop tebal yang berisi uang. Saya sangat bersukacita saat menerimanya, sesampainya di rumah saya buka dan ternyata amplop tersebut berisi 30 lembar uang seribuan. Kontan sukacita saya hilang ketika melihat isi amplop tersebut.
Betapa sering sukacita kita bergantung dengan apa yang ada pada diri kita. Kita berfikir sukacita itu akan datang kalau kita memiliki uang yang banyak dan harta yang melimpah. Jika semuanya tidak ada, maka lenyap juga sukacita. Sukacita oleh Roh Kudus tidak bergantung pada apa yang kita miliki, ada tidak ada uang, kita tetap bersukacita. (Matius 6:21; 1Tim 6:9)

3. Kebahagiaan sejati tidak tergantung kepada manusia.
Saat sedang berkendaraan, seorang polisi memberhentikan saya dan meminta menunjukan SIM dan STNK, saat dibaca nama saya Sigalingging, kemudian dia bertanya: Apakah Bapak kenal dengan Kol. Sigalingging yang di Polda? Saya jawab: ya itu om saya. Seketika polisi tersebut meminta maaf mengembalikan SIM dan STNK kemudian mempersilahkan saya jalan kembali.
Kita merasa senang jika ada orang yang menjadi “backing” kita, dekat dengan pejabat dan menikmati kehormatan dari para bangsawan. Namun itu bukan sumber sukacita sejati, sebab sukacita sejati tidak tergantung kepada manusia tetapi kepada ketaatan kepada tuntunan Tuhan. Dalam 2Taw 26; saat raja Uzia mencari Tuhan, ia menjadi kuat dan berhasil, namun saat ia tinggalkan Tuhan, Tuhan juga meninggalkannya sehingga mengalami kekalahan.

4. Kebahagiaan sejati adalah tindakan iman. (Yoh 15:9,10)
Kebahagian tidak pernah datang dengan sendirinya, ia membutuhkan upaya dan tindakan iman dari kita. Sumbernya adalah kasih Allah. Karena itu jika kita ingin selalu berbahagia, jangan keluar dari kasih Allah, sekalipun keadaan dan orang-orang mengecewakan kita. Datanglah kepada Yesus yang berjanji memberi kelegaan dan kebahgiaan kepada kita. (Mat 11:28). Amin.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s