Kemerdekaan yang Sejati – Pdt. JS. Minandar (Minggu, 24 Agustus 2014)

Galatia 5:13

PENDAHULUAN
Kita patut bersyukur karena kita menjadi warga negara Indonesia yang sudah merdeka. Kita merdeka karena jasa para pahlawan yang rela mati mengorbankan jiwa, raga dan harta benda demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah 69 tahun bangsa kita merdeka, ternyata banyak orang yang menggunakan kemerdekaan bukan untuk melayani masyarakat melainkan untuk melayani diri sendiri. Lihat saja apa yang diberitakan melalui media elektronik maupun cetak, tidak sedikit para pejabat dan wakil rakyat melakukan pencurian uang negara dengan cara korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan untuk berbuat kejahatan.

SECARA ROHANI
Secara rohani kita merdeka bukan dari jajahan bangsa asing atau manusia, tetapi merdeka dari iblis, dosa dan kejahatan. Pahlawan kemerdekaan kita adalah Yesus. Melalui kematianNya di atas kayu salib, Tuhan Yesus mengalahkan musuh kita yaitu maut dan menyatakan kemenangan pada hari kebangkitanNya. Haleluya! Untuk apakah Tuhan Yesus memerdekakan kita?

DUA TUJUAN
Perhatikan kembali Galatia 5:13: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan itu sebagai kesempatan kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”

Ada dua tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh orang yang sudah dimerdekakan oleh Yesus:
1. Tidak menggunakan kemerdekaan untuk berbuat dosa.
2. Melayani seorang akan yang lain dengan kasih.

1. KEMERDEKAAN BUKAN UNTUK BERBUAT DOSA
Tujuan Tuhan Yesus memerdekakan kita bukan untuk berbuat dosa. Kalau kita tidak berbuat dosa, itu berarti kita mengasihi Tuhan. Dengan demikian di dalam Yesus kita menggenapi hukum pertama sampai yang keempat dari sepuluh perintah Allah yang diterima oleh Musa di gunung Sinai.

JEMAAT GALATIA
Di Galatia ada jemaat yang mengaku sudah dimerdekakan oleh Yesus dari dosa, tetapi menggunakan kemerdekaan itu untuk berbuat dosa. Ini adalah kekeristenan yang salah. Orang Kristen yang seperti ini digambarkan oleh rasul Petrus seperti anjing atau babi.

II Petrus 2:22
Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”

Pengajaran Cheap Grace
Sekarang berkembang ajaran yang disebut: Cheap Grace – Anugerah Murahan. Pengajaran ini mengajarkan bahwa Yesus mati disalib untuk menebus dosa kita pada masa lalu, masa sekarang dan termasuk dosa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan lain kata, karena semua dosa kita sudah diampuni, maka kita bisa bebas berbuat dosa apa saja. Kelompok ini menggunakan ayat 1 Yohanes 1:9 sebagai “SIM” (surat ijin melakukan) berbuat dosa. Ini sesat! Sebab setelah kita bertobat dan percaya kepada Yesus, seharusnya hidup kita seperti Yesus bukan malah bebas berbuat dosa.

Ajaran ini banyak disukai dan banyak pengikutnya. Tanpa disadari mereka telah menggenapi II Timotius 4:3,4. Di akhir zaman orang tidak suka ajaran sehat, memuaskan telinga dan memalingkan diri dari kebenaran dan membuka diri bagi dongeng. Pendeta dan gereja aliran ini tidak pernah berkhotbah tentang dosa. Jemaat dininabobokan dengan pengampunan dan berkat-berkat Allah. Sebagai Gembala, saya bertanggung jawab atas kerohanian saudara, sebab itu saya pastikan firman Allah yang keluar dari mimbar ini adalah firman Allah yang murni dan sejati, apa adanya tanpa kompromi. Dosa kami sampaikan dosa, benar adalah benar. Hanya firman Allah yang murni yang akan membawa kehidupan.

YANG BENAR
Ajaran yang benar adalah bahwa Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa, agar kita tidak berbuat dosa dan hidup sesuai firman Allah. Lihatlah beberapa ayat berikut ini:

I Tesalonika 4:7
“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”

Roma 6:18
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

1 Petrus 2:16
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

Marilah kita lihat contoh klasik dalam Yoh 8:1-11, tentang seorang wanita yang berzinah. Setelah menangkap basah wanita yang berzinah, orang Farisi dan ahli-ahli taurat menghadapkannya kepada Yesus dan menanyakan apakah dia boleh dirajam batu seperti yang diperintahkan Musa? Ini pertanyaan dilematis bagi Yesus. Sebab kalau Ia menjawab: “boleh dirajam” maka orang akan menolak Yesus sebab Ia mengingkari ajaranNya yaitu kasih dan pengampunan, sementara kalau dijawab: “jangan” maka Yesus dianggap melawan Taurat. Akhirnya Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah, lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Satu per satu mereka meninggalkan Yesus dan wanita itu sebab tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Tuhan Yesus juga tidak menghukum melainkan memberikan pengampunan dan tanggung jawab. Katanya kepada wanita itu: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Dalam Roma 6:1,2, rasul Paulus sampaikan kepada jemaat di Roma, apakah kita boleh berbuat dosa setelah dimerdekakan? Sekali-kali TIDAK!! Mengapa? Karena kita sudah mati terhadap dosa. Apa artinya mati terhadap dosa? Lihatlah ilustrasi berikut ini :
Ada seorang bapak yang mengidap penyakit komplikasi (jantung, ginjal, diabetes dan darah tinggi). Oleh karena penyakit yang dialami itu, dokter melarangnya untuk makan daging, gorengan, kacang, segala jenis makanan yang berlemak dan manis. Suatu hari, secara diam-diam rupanya bapak tersebut menyembunyian kacang dan memakannya di dalam kamar. Tak sengaja anaknya masuk dan mendapati ayahnya sedang makan kacang. Spontan mendengar laporan dari anaknya, sang ibu merampas kacang dari tangan suaminya. Bapak tersebut jadi sedih.
Singkat cerita, akhirnya Bapak itu meninggal. Istri dan anaknya sangat sedih. Kemudian karena rasa sedih dan cinta kepada suaminya bersama anaknya, ibu tersebut memberikan makanan kesukaan suaminya. Dengan tubuh yang telah terbujur kaku, mereka berdua saling bergantian menyuapkan makanan ke mulut suaminya, namun tak satupun makan itu dimakannya. Mengapa? Karena ia sudah mati. Demikian halnya dengan orang yang sudah mati terhadap dosa, biar dosa di depan mata, terasa sangat nikmat, ia tidak bakal menyentuhnya karena sudah mati terhadap dosa. Saya berharap jemaat GPdI Mahanaim semuanya sudah mati terhadap dosa. Amin?!

Sekarang mari kita perhatikan bagian yang kedua. Kembali kita lihat Galatia 5:13: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan itu sebagai kesempatan kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

2. MELAYANI SESAMA DENGAN KASIH
Tanggung jawab kedua yang harus dilakukan orang yang telah dimerdekakan Yesus adalah: “melayani seorang akan yang lain oleh kasih.” Orang yang melayani kepada sesama dengan kasih, di dalam Yesus orang tersebut telah menggenapi Hukum Taurat (Hukum Moral), yaitu: Hukum Kelima sampai hukum yang kesepuluh. Mari kita lihat rincian hukum 5-10.

SEPULUH HUKUM TAURAT – Keluaran 20:7-17
a. Hukum V
Keluaran 20:12
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.”
Anak Tuhan yang telah dimerdekakan oleh Yesus akan…

  • Menghormati dan mencintai orang tua.
  • Memelihara orang tua saat lanjut usia.

b. Hukum VI
Keluaran 20:13 “Jangan membunuh”
Orang yang telah dimerdekakan Yesus, akan mengasihi sesama dengan sungguh-sungguh (tidak membunuh). Selain itu dia juga akan menghormati otoritas (Ibrani 13:7,17). Barangkali ada orang yang berkata jangankan membunuh, lihat darah saja tidak berani mana mungkin bisa membunuh? Jemaat Tuhan, membunuh bukan hanya dilakukan dengan senjata tajam tetapi melalui perbuatan, perkataan dan tindakan kita dapat membunuh sesama kita. Rasul Yohanes dalam surat I Yohanes 3:15 menyebutkan bahwa orang yang membenci sesamanya identik dengan membunuh!

c. Hukum VII
Keluaran 20:14 “Jangan berzinah”
Definisi Zinah = “Tidak setia”. Orang yang dimerdekakan Yesus adalah: orang yang setia. Oleh sebab itu saya menasehati kepada suami dan isteri setialah sampai maut memisahkan kita. Jangan pernah melukai hati pasangan dengan perzinahan. Demikian juga dengan orang-orang muda, kalian yang masih pacaran dan belum menikah, setialah dengan status kalian sebagai bujang. Jangan pernah melakukan hubungan seksual sebelum diberkati dalam pernikahan kudus.

d. Hukum VIII
Keluaran 20:1 “Jangan mencuri”
Orang yang dimerdekakan Yesus, akan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga dirinya bersih dari apa pun yang bukan milik atau haknya. Mencuri, Yunani : KLEPTAI. Dari kata ini muncul kata “Kleptomania” yang berarti: mengambil barang-barang yang kecil. Sekecil apapun kalau itu milik orang lain dan kita ambil itu adalah pencurian. Pastikan tidak ada barang milik orang lain yang kita simpan, jika masih ada segeralah kembalikan.

e. Hukum IX
Keluaran 20:16 “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Orang yang dimerdekakan Yesus, berusaha menjaga mulutnya dari perkataan dusta. Baik secara formil dalam memberikan kesaksian dalam sidang maupun dakam dalam pergaulan keseharian dengan sesama. Hati-hati dengan perkataan sebab semua akan dipertanggung-jawabkan.

Matius 12:37
“Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Amsal 18:21
“Hidup dan mati, dikuasa lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya”

f. Hukum X
Keluaran 20:17 “Jangan mengingini rumah sesama, jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya atau apa pun yang dipunyai sesamamu.”
Orang yang dimerdekakan Yesus, bebas dari semua keinginan yang jahat. Sebaliknya keinginannya adalah menjadi sama seperti Yesus.

Amsal 21:10 Keinginan yang tidak sesuai firman Allah adalah keinginan yang dilakukan orang fasik yang akan dibinasakan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, seiring perayaan 69 tahun kemerdekaan RI, marilah kita pakai hidup ini untuk melakukan kebenaran dan melayani sesama. Tuhan memberkati._

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s