KRISTEN GARAM atau KRISTEN KERIKIL – Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 1 Februari 2015)

Lukas 14:34,35

“Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

PENDAHULUAN

Perhatikan ayat di atas: “Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?. Tidak ada lagi gunanya…” Kalau ayat ini kita kaji menurut konsep masa kini, kita akan sulit untuk mengerti maksud ayat ini. Mengapa? Sebab garam pada zaman alkitab berbeda dengan garam pada masa kini. Saat ini, apabila kita membeli garam dan mencoba mencicipi rasanaya, maka seutuhnya adalah garam, seluruh bagian garam itu rasanya asin. Tidak demikian garam pada zaman alkitab ditulis.

GARAM PADA ZAMAN ALKITAB

Sebelum orang menemukan: “Tambang Garam” atau mengolah garam di “Tambak Garam.” Mereka memanfaatkan garam yang terkandung dalam kerikil karang atau dalam bongkahan batu karang. Orang-orang pada zaman alkitab jika hendak menggunakan garam, biasanya mereka mengikat kerikil garam itu dan mencelupkannya ke dalam air. Air asin itu kemudian dipakai sebagai garam, untuk bumbu membuat masakan atau membuat kue. Demikianlah dilakukan berulang-ulang dari generasi ke generasi.

KEHILANGAN RASA ASIN

Setelah kerikil garam itu digunakan berulang-ulang, kerikil garam itu akan kehilangan rasa asinnya. Jika sudah demikian maka kerikil garam itu tidak berguna lagi selain tinggal kerikil, dibuang dan diinjak-injak orang.

HIDUP PENGIKUT KRISTUS

Hidup pengikut Kristus di tengah dunia digambarkan seperti: “Garam yang tidak boleh kehilangan rasa asin.” Garam berbicara tentang “Pengaruh yang Baik”. Seperti garam yang memberikan rasa asin pada makanan sehingga makanan terasa nikmat saat dimakan, demikianlah halnya dengan anak-anak Tuhan, seharusnya memberikan pengaruh positif kepada dunia sehingga dunia menjadi semakin baik.

Kalau kita mempelajari kitab Imamat, kita akan menemukan 5 macam korban dalam Perjanjian Lama. Salah satu dari korban-korban tersebut adalah “Korban Sajian” (Imamat 2:13). Ketika orang Israel melakukan korban “Korban Sajian” mereka harus membubuhkan garam kedalamnya. Hal ini dimaksudkan karena korban sajian merupakan korban ingat-ingatan (Imamat 2:9,16). Jadi perbuatan baik yang kita lakukan akan membuat orang terkesan dan terus mengingat perbuatan baik tersebut. Oleh karena itu, jadilah garam yang asin, yang memberikan dampak positif kepada dunia ini bukan garam yang hambar yang sudah kehilangan rasa asinnya.

KRISTEN YANG TIDAK BERDAMPAK

Kalau pengikut Kristus memberi kesan /ingat-ingatan buruk kepada dunia, Tuhan Yesus menyamakan kita dengan: “Garam yang telah kehilangan asin.” Apakah yang akan dilakukan terhadap garam yang kehilangan asin? Kita menjadi orang Kristen yang tidak berguna dan dipijak-pijak orang. Tetapi yang fatal adalah bukan hanya orangnya yang diinjak injak, tapi nilai kekristenan juga diinjak-injak.

HANYA ADA DUA PILIHAN

Dari sini kita dapat mengerti bahwa hanya ada 2 pilihan bagi orang Kristen (pengikut Yesus).

  1. Kristen Garam

Yaitu menjadi pengikut Kristus yang membawa pengaruh yang baik kepada lingkungan di sekitar kita. Mencegah kebusukan/kerusakan serta menjadi berkat dimanapun kita berada. Kalau kita ada dalam keluarga, keluarga diberkati karena kehadiran kita, di kantor, tempat kerja bahkan dimana saja.

  1. Kristen Kerikil

Yaitu pengikut Kristus yang tidak menjadi pengaruh yang baik, sebaliknya ia membawa pengaruh yang buruk & jahat kepada dunia. Pengikut Kristus yang demikian ia tidak menjadi berkat, sebaliknya, ia menjadi laknat. Konsekwensi kristen kerikil adalah ia menjadi tidak berguna dan dipijak-pijak orang. Bahkan dampak buruk yang ditimbulkan oleh Kristen kerikil (orang Kristen yang tidak jadi pengaruh baik) adalah berdampak kepada umat Kristiani secara umum, kemudian Institusi Gereja akan tercemar, hingga puncaknya adalah nama Tuhan Yesus tidak dimuliakan.

Kepada orang kristen kerikil, suatu kali kelak Tuhan akan melakukan pemisahan. Mari kita lihat I Korintus 11:19 “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan (pemisahan), supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.” Perpecahan yang dimaksudkan disini bukanlah perpecahan yang terjadi dalam jemaat melainkan adalah pemisahan. Tuhan Yesus tidak akan membiarkan citra “Gereja” menjadi buruk karena adanya orang kristen kerikil. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus akan adakan pemisahan di dalam jemaat, mana kristen garan dan mana kristen kerikil.

Untuk mengetahui lebih jauh marilah kita perhatikan perumpamaan tentang lalang dan gandum dalam Matius 13:24-30. Dari kisah ini kita dapat menarik beberapa pemahaman:

Ladang adalah gambaran jemaat Tuhan, saudara dan saya, anak-anak Tuhan, keluarga Mahanaim. Kemudian ditaburi benih baik yaitu Firman Allah. Setiap Minggu, dari mimbar ini selalu ada taburan benih firman Allah. Tidak pernah seorangpun hamba Tuhan yang memberikan benih yang tidak baik/ jahat dari mimbar ini. Semua memberitakan kebenaran. Kemudian dari perumpamaan itu dikatakan: saat tidur musuh menabur lalang. Musuh ini adalah iblis. Ia tidak akan pernah berhenti untuk menaburkan benih kejahatan kepada kita. Jadi jemaat yang tidur rohani, akan menjadi seperti lalang. Akibatnya gandum akan dibawa masuk ke dalam gudang yaitu sorga sedang lalang dibakar dalam api neraka.

MENGAPA ADA KRISTEN KERIKIL

Mengapa ada orang Kristen kerikil yaitu orang Kristen yang tidak memberi dampak baik dalam hidupnya?

  1. Tidur/Lengah, Matius 13:24-30

Orang kristen yang tidur imannya adalah orang kristen yang tidak beribadah dengan sungguh-sungguh, sehingga Iblis mendapat kesempatan untuk menaburkan benih jahat di dalam hatinya. Barangkali kita datang ibadah, tetapi saat firman ditaburkan, kita mengantuk atau bermain HP, sehingga iblis memilki kesempatan menaburkan benih yang jahat dalam hati kita. Itulah sebabnya banyak orang kristen tidak memberi dampak baik dalam hidupnya sekalipun rajin kebaktian, karena iblis menaburkan lalang dalam hatinya.

 

  1. Berkompromi

Hal kedua yang membuat kita tidak memiliki dampak baik kepada dunia karena kita berkompromi kepada dosa. Kita tidak bersikap tegas terhadap dosa/pengaruh jahat. Tuhan Yesus mengingatkan kita dalam Lukas 14:26 :

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”

Jangan salah memahami/menterjemahkan ayat ini, seolah-olah kita harus membenci keluarga kita. Setiap pengikut Yesus wajib melakukan perintah Yesus, yaitu: MENGASIHI sesamanya bahkan sampai kepada musuhnya.

Yohanes 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikianlah pula kamu harus saling mengasihi.”

Matius 5:44 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

 Jika Tuhan menganjurkan kita mengasihi musuh kita, apa lagi suami, isteri, anak, keluarga tidak mungkin kita benci mereka. Kita harus mengasihi keluarga dengan sungguh-sungguh. Jadi yang dimaksudkanTuhan Yesus: Membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya adalah berbicara tentang “PENGARUH BURUK”.

Apapun dan siapapun termasuk orang- orang-orang yang ada dalam keluarga kita bisa mempengaruhi baik atau buruknya kualitas pengiringan kita kepada Yesus. Pengaruh buruk yang diberikan oleh mereka inilah yang harus kita hindari atau kita benci. Sekali lagi bukan orangnya yang kita benci, tetapi pengaruhanya yang jahat itu yang kita hindari.

Mari kita lihat contoh yang ditunjukkan oleh raja Asa – I Raja-raja 14 – 16.

Raja Asa mengadakan pembaharuan, untuk mencari dan menyembah Tuhan serta menjauhkan berhala dari bangsa Yehuda. Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron. (I Raja 15:13) Dengan demikian: Membenci yang dimaksud Lukas 14:26 ialah suatu sikap TIDAK MAU BERKOMPROMI dengan siapa pun juga, walaupun orang-orang tersebut adalah orang yang kita cintai (bapak, ibu, anak, dan keluarga kita) bila orang-orang tersebut membawa pengaruh buruk kepada kita yang bisa membuat kita gagal menjadi “KRISTEN GARAM”.

  1. Tidak Bersedia Memikul Salib

Lukas 14:27 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.

Untuk jadi Kristen Garam (pengikut Yesus yang memberi dampak baik), kita harus bersedia pikul salib dan menyalibkan semua keinginan jahat yang ada di dalam diri kita. Karena nenek moyang, umat manusia telah jatuh dalam dosa maka semua orang yang lahir ke dunia ini, lahir di dalam dosa. Akibatnya di dalam diri manusia (roh, jiwa & tubuh), sudah ada benih yaitu potensi untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, mengapa anak-anak bisa berbohong sekalipun tidak pernah diajar? Karena dalam diri manusia sudah ada benih dosa.

Pada waktu kita percaya dan menerima Yesus di dalam hidup kita, semua dosa-dosa kita diampuni dan kita menjadi kudus dan benar di hadapan Tuhan. Namun kita tidak berubah jadi malaikat atau jadi orang yang kebal dosa. Kita masih hidup di dalam daging yang masih punya keinginan berbuat dosa. Kalau kita ingin jadi Kristen Garam (Kristen yang berdampak baik/positif) kita harus mengambil keputusan untuk menyalibkan daging kita.

 Galatia 5:24

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”

Inilah yang disebut dalam Kolose 2:11 sebagai “SUNAT KRISTUS” yaitu penanggalan tabiat dosa dari diri kita.

Kolose 2:11

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa.”

BAHAN OLOK-OLOK DAN KALAH

Kalau pengiringan kita tidak melakukan ke 3 hal hal di atas, maka kita akan menjadi bahan olok-olokan oleh orang dunia. Dalam Lukas 14:28-30 digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti orang yang membangun rumah tetapi tidak bisa menyelesaikannya sehingga menjadi bahan ejekan atau olok-olokan orang yang belum mengenal Kristus. Selanjutnya dalam Lukas 14:31-33, digambarkan seperti seorang raja yang hendak berperang tetapi tidak memperhitungkan kekuatannya dan kekuatannya lawannya akibatnya ia mengalami kekalahan dalam perang. Jadi orang kristen yang tidak menjadi “kristen garam” ia akan menjadi orang Kristen yang ditewaskan dalam peperangan iman dan dibinasakan.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas kita dapat menarik kesimpulan: Janganlah kita menjadi Kristen KTP, hanya sekedar menjadi orang yang beragama Kristen, tetapi hidupnya tidak menjadi berkat. Kristen seperti ini akan “merusak, membusukkan, menghancurkan bukan hanya Gereja; Umat Kristen, tetapi “Nama Yesus Kristus!” Jadilah orang kristen garam yang memberi dampak positif kepada dunia, sehingga dunia menjadi semakin indah, baik dan mulia. Tuhan memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s