BELAS KASIHAN Bukan PERSEMBAHAN – Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya-Minggu, 8 Feb 2015)

Matius 9:9-13

 PENDAHULUAN

Khotbah kali ini adalah kelanjutan dari khotbah Minggu yang lalu yaitu tentang “Kristen Garam bukan Kerikil”.  Jika ada diantara Bapak Ibu yang tidak hadir dapat memyimaknya dalam warta jemaat edisi : Edisi: 06/XVII/15 ;  8 Februari 2015. Kita dipanggil untuk menjadi garam bagi dunia yang sedang menuju kebusukan dan kehancuran. Untuk itu marilah kita mempelajari Matius 9 : 9-13 secara berurutan ayat per ayat.

Ayat 9

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.

Jika kita hubungkan dengan ayat 1, kita akan mengetahui bahwa peristiwa ini terjadi di Nazaret, kota di mana Yesus dibesarkan. Yesus dilahirkan di Betlehem, tetapi dibesarkan oleh orang tuanya yaitu Yusuf dan Maria di Nazaret. Itulah sebabnya, Ia dikenal Yesus orang Nazaret. Di situ, Yesus melihat Matius yang pekerjaannya pemungut cukai  sedang duduk di rumah cukai.

CARA MATIUS DISELAMATKAN

Kemudian Tuhan Yesus menghampiri Matius dan berkata: “Ikutlah Aku!”  Perkataan Tuhan Yesus ini bak magnet yang menarik Matius, sehingga tanpa tanya, Matius segera berdiri dan mengikut Yesus. Jika kita perhatikan catatan dalam Injil, kita tidak menemukan adanya catatan ataupun penjelasan bahwa: Matius sedang mencari Yesus; atau dia ingin bertemu Yesus; atau mungkin ia ingin menjamah Yesus. Tetapi kita melihat Tuhan Yesus sendiri yang aktif mencari dan menarik Matius untuk mengikutiNya.

 Tuhan memiliki banyak cara untuk menarik orang kepadaNya. Ada orang yang percaya kepada Tuhan melalui sakit, setelah sembuh ia percaya kepada Yesus. Yang lain, percaya kepada Yesus karena mendengar nyanyian rohani, dan beberapa orang percaya kepada Yesus melalui penginjilan pribadi, dll. Hal ini telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya pada  sekitar 600 – 700 th sebelum Yesus lahir. Dalam kitab Yesaya 65:1, mengatakan:

“Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku”

 Ayat ini digenapi dalam diri Matius. Matius tidak pernah mencari Tuhan, tetapi Tuhan Yesus yang mencarinya dan memanggilnya menjadi muridNya.  Pengalaman ini tentunya juga dialami oleh beberapa orang percaya, mungkin juga ada diantara kita yang mengalaminya. Bahkan di akhir zaman Tuhan Yesus akan bekerja dengan cara yang sama untuk membawa orang-orang berdosa seperti Matius atau orang fanatik bahkan mereka yang membenci Yesus dan umatNya  untuk datang kepada Kristus.

MATIUS MENGUCAP SYUKUR

Ayat 10

“Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.”

 Setelah Matius bertobat dan menjadi pengikut Yesus, Matius tidak malu atau takut untuk menyatakan diri bahwa dia telah menjadi pengikut Yesus. Sebaliknya, Matius mengadakan perjamuan makan atau ucapan syukur. Matius bersyukur sebab ia telah menjadi manusia yang baru, hidup yang lama ia tinggalkan dan menjadi “Pengikut Yesus”. Matius tidak hanya mengundang Yesus dan murid-Nya, tetapi Matius mengundang rekan-rekan seprofesi yaitu para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mungkin disana ada para pencuri, pezinah, pemabuk, perampok, pembunuh dan para pendosa lainnya. Matius ingin semua orang berdosa yang seperti dirinya, alami perjumpaan dengan Yesus sehingga mereka percaya; bertobat dan terima pembaharuan hidup serta diselamatkan.

Memiliki Hati Yesus

Salah satu bukti orang yang telah diselamatkan, adalah mengalami pembaharuan hati dan jiwa seperti yang dialami Matius. Hidup masa lalu Matius di hati dan jiwanya hanya uang.  Tidak peduli mendapatkannya dengan cara salah, yang penting uang masuk kantong. Bahkan ia tidak segan menekan dan menindas orang lain asal mendapat uang yang banyak. Tetapi setelah diselamatkan, Matius memiliki hati seperti hati Yesus. Di hatinya tidak hanya uang, tetapi sekarang ia ingin semua orang berdosa percaya Yesus dan diselamatkan.

 Beberapa orang yang mengalami perubahan hati seperti Matius adalah:

♦ Zakheus – Lukas 19:1-10

Zakheus profesinya dulu sama seperti Matius, sebagai pemungut cukai. Ia juga suka menindas rakyat untuk membayar pajak. Tetapi setelah ia bertemu dengan Yesus, hidupnya diubahkan dan hatinya dibaharui. Ia berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Luar biasa!! Bagaimanakah dengan kita? Apakah perjumpaan dengan Yesus membuat hidup kita diubahkan? Jika kita tidak mengalami perubahan hidup, patut kita bertanya: Apakah kita benar-benar sudah berjumpa dengan Yesus?

♦ Wanita Samaria – Yohanes 4:39

Wanita Samaria ini juga mempunyai masa lalu yang kelam. Ia dapat digolongan sebagai seorang PSK. Namun perjumpaanNya dengan Yesus di tepi sumur Yakub membuat hidupnya berubah total. Melalui hidupnya yang baru, banyak orang dibawa kepada Yesus. Bahkan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

 KOMENTAR NEGATIF

Ayat 11

“Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

 Ketika ucapan syukur itu berlangsung, orang Farisi berkomentar negatif. Ia mencela Yesus karena makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya. Sekarang bayangkan! Bagaimana bila jemaat, melihat gembala atau staf gembala/hamba-hamba Tuhan duduk bersama dengan orang-orang jahat dan para pendosa yang lain? Mungkin kita juga akan mencela seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Dari sini kita dapat mengambil sebuah pelajaran: Jangan sedih, kecewa apalagi mundur, kalau Saudara berbuat baik, benar dan mulia tapi orang mengkritik Saudara dan berkomentar buruk terhadap Saudara. Mengapa? Sebab Saudara telah memikul kuk penderitaan yang Yesus sudah pikul.

Matius 11:29.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

ORANG SAKIT PERLU DOKTER

Ayat 12

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”

 Dari jawaban  Tuhan Yesus kita melihat:

·           Yesus memposisikan diriNya sebagai dokter

·           Matius/orang berdosa sebagai seorang pasien

Coba pikirkan, apa yang terjadi bila semua dokter yang ada di Indonesia tidak mau mendekat/didekati orang sakit? Semua orang sakit akan mati (binasa), karena keangkuhan para dokter. Tetapi karena dokter mau mendekat dan melayani orang sakit, banyak yang seharusnya mati, dapat diselamatkan nyawanya dari kematian. Tetapi ini terjadi secara rohani. Banyak pengikut Kristus tidak mau meniru apa yang Yesus lakukan. Sebaliknya malah meniru apa yang orang Farisi lakukan!

POSISI PENGIKUT KRISTUS

Pengikut Yesus yang sudah diselamatkan harus jadi seperti dokter, yang mencari dan mendekati orang sakit (berdosa) untuk menyelamatkan orang berdosa dari kematian kekal.

Berbeda dengan orang Farisi yang merasa dirinya suci dan orang lain kotor; mereka merasanya dirinya yang benar, orang lain berdosa; merasa menjadi orang baik, orang lain jahat. Itulah sebabnya mereka tidak mau mendekat kepada orang berdosa. Barangkali ada orang yang beralasan dengan ayat, I Korintus 15:13 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik…!” Mereka tidak mau mendekati orang yang berdosa dengan alasan agar tidak turut dalam kebiasaan buruk mereka. Jangan salah memahami ayat ini. Kita harus baca ayat ini dari ayat 12, bahwa saat itu ada jemaat Korintus yang telah menjadi sesat. Mereka dipengaruhi ajaran sesat yang mengajarkan: “Tidak ada kebangkitan orang mati”. Karena alasan inilah rasul Paulus memperingatkan jemaat Korintus supaya jangan bergaul dengan mereka agar tidak turut menjadi sesat. Hal yang sama, saya juga sampaikan kepada jemaat MAHANAIM agar jangan bergaul dengan orang-orang yang mengajarkan ajaran sesat agar kita tidak dipengaruhi oleh ajaran mereka yang menyesatkan.

PERAN PENGIKUT KRISTUS

Perhatikan apa yang firman Allah katakan tentang peran orang kristen.

  • Penuntun orang buta dan terang dalam kegelapan

Roma 2:19

“bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan.”

Yesus mengutus kita sebagai penuntun orang buta. Orang buta tidak bisa berjalan sendiri, ia perlu orang lain yang menuntunya. Coba bayangkan, kalau ada orang buta yang sedang berjalan, kemudian sampai di ujung jurang, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan berteriak dalam ruang kaca kita: Awas, hati-hati di depan jurang! Jika itu yang dilakukan, maka orang tersebut akan mati jatuh didalam jurang. Orang Kristen harus keluar dari ruang kacanya, berjalan menghampiri orang buta tersebut dan membawa ke jalan yang benar agar ia tidak jatuh dan binasa.

Peran yang kedua adalah terang dalam kegelapan. Seandainya saudara menyalakan lilin di tengah hari yang terik, apakah manfaatnya? Tidak ada! Terang hanya berfungsi di dalam kegelapan. Sekecil apapun nyala lilin itu akan memberi manfaat jika ia menyala di dalam kegelapan. Oleh karena itu terangilah dunia yang gelap ini.

  • Garam dunia

Matius 5:13a

“Kamu adalah garam dunia…”

Seperti garam yang bersedia larut di tengah dunia yang hambar dan  busuk, untuk mengubah dan  menyelamatkan dunia, demikianlah tugas dan panggilan kita kepada dunia ini. Tanpa kesediaan hati untuk larut seperti garam mustahil dunia akan diubahkan. Jadilah garam dunia.

  • Domba ke tengah-tengah serigala

Matius 10:16

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala…”

Yesus mengutus dan menempatkan kita di dunia, di tengah-tengah serigala: bukan untuk membunuh serigala melainkan menyelamatkan, dengan cara mengubah serigala jadi domba.

BAGAIMANA CARANYA

Ayat 13

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”, karena Aku datang bukan utk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 Jangan salah mengartikan ayat ini. Ada orang berkata: “Yang penting belas kasihan, persembahan tidak penting”. Akibatnya ia abaikan persembahan dan korban kepada Tuhan, yang diutamakan adalah belas kasihan. Ini tidak benar! Untuk itu marilah kita memahami ayat ini dengan benar, dengan cara melihat konteks memberi persembahan dalam tata cara ibadah di zaman Taurat.

Tata Cara Ibadah Di Zaman Taurat

Mereka hanya menerapkan ritual ibadah dengan cara membawa korban persembahan sesuai tuntunan Taurat. Bagi oang kaya, akan mempersembahkan lembu, orang yang ekonominya kelas menengah memberi persembahan domba atau kambing, sedangkan bagi mereka yang kurang mampu, mempersembahkan anak burung merpati atau burung terkukur. Jika ada orang Israel yang melakukan dosa, maka mereka akan membawa korban penghapus dosa, setelah itu dilakukan, selesailah sudah urusannya dengan Tuhan, tetapi mereka tidak menerapkan “Kasih atau Belas Kasihan” kepada sesama, apalagi kepada musuh mereka. Mereka berkorban tetapi tetap membenci bahkan membunuh sesamanya. Tuhan Yesus ingin agar orang yang sudah diselamatkan memiliki “BELAS KASIHAN” yaitu menyelamatkan orang yang berdosa dari kebinasaan.

 Mari kita bandingkan ajaran Taurat yang dibawa Musa dan ajaran Kasih karunia yang dibawa Tuhan Yesus.

Ø  Matius 5 : 38-39

Taurat mengajar: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Kasih karunia mengajarkan: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

 Ø  Matius 5:43, 44

Ajaran Taurat: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Ajaran Tuhan Yesus: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Jadi yang benar, bawalah persembahan kepada Tuhan yang disertai dengan hati yang penuh dengan belas kasihan. Oleh karena itu, apa pun yang kita lakukan dalam hidup ini, lakukanlah dengan “kasih”, termasuk ibadah; membawa persembahan serta melayani Tuhan.

Kolose 3:14. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Tuhan memberkati!! GBU

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s