MEMPERTAJAM HIDUP bagian 3-Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3-Minggu, 22 Feb 2015)

Pengkhotbah 10:10

Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.

Dulu orang berkata: Kalau mau menjadi orang sukses kita harus kerja keras. Itu benar! Namun kerja keras saja tidak cukup, kita harus “Kerja CERDAS.” Kerja cerdas artinya kita harus kreatif, inovatif, efektif dan efesian. Untuk itulah hidup ini harus senantiasa diasah agar tidak kehilangan ketajamannya. Ketumpulan hidup membuat kita kerja keras, ketajaman hidup membawa kita kerja cerdas.

APA YANG PERLU DIPERTAJAM?             

  1. Penglihatan / Mata

Seorang anak Tuhan harus memiliki mata yang tajam seperti mata Rajawali membidik binatang buruannya. Ketajaman mata kita akan membuat kita memahami tujuan dan kehendak Tuhan dalam hidup ini. Sehingga kehidupan ini jalani dalam rangka melaksanakan tujuan Allah. Tuhan Yesus memiliki ketajaman dalam penglihatanNya sehingga mengerti jelan tujuan hidupNya dalam dunia ini yaitu melakukan kehendal BapaNya.

Yoh 4:34

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

  1. Perkataan / Mulut

Mengapa mulut harus dipertajam?

  • Perkataan kita mengandung KUASA yaitu menghidupkan atau mematikan

Amsal 18:21                              

“Hidup dan mati dikuasai lidah. Siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya”

  • Allah memperlakukan kita, sesuai dengan apa yang kita katakan.

Bilangan 14:28

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan, bahwasannya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Ku lakukan kepadamu”

Dua bagian ini yaitu mempertajam mata dan mulut sudah kita pelajari beberapa Minggu yang lalu, sekarang marilah kita melihat bagian yang ketiga yaitu TELINGA atau PENDENGARAN.

Mempertajam PENDENGARAN / TELINGA

Mengapa Telinga perlu dipertajam?

  1. Kehidupan atau kematian ditentukan oleh pendengaran.

Yesaya 55:3a

Sendengkanlah telingamu dan … dengarkanlah, maka kamu akan hidup!

Manusia pertama yaitu Adam dan Hawa gagal mendengarkan suara Tuhan akibatnya kematian yang diperoleh. Sebaliknyam jika kita mendengarkan suara Tuhan maka keselematakan yang kita nikmati.

Yohanes 5:24

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

  1. Iman Bertumbuh melalui PENDENGARAN

Roma 10:17

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Contoh :

Wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun

Markus 5:27,28

Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

 

Berita tentang Yesus yang menyembuhan orang buta, mentahirkan orang kusta, melepaskan orang yang kerasukan setan dll, telah membuat wanita ini percaya bahwa Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkannya. Itulah sebabnya ia datang kepada Yesus dan menjamah jubahnya sebab imannya berkata: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Apa yang Anda dengar? Mendengar suara dunia hanya akan akan mendatangkan ketakutkan, kuatir dan gelisah. Dengarlah firman Allah yang melahirkan iman dan kekuatan.

  1. PENDENGARAN menentukan BUAH KEHIDUPAN yang kita hasilkan

Lukas 8:15

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Kehidupan kita berbuah atau tidak sangat bergantung dari cara kita mendengar dan apa yang kita dengar. Banyak orang kristen hidupnya mandul tidak berbuah karena mereka hanya pasang telinga tetapi tidak mendengarkan. Tepatlah seperti yang dikatakan nabi Yesaya dalam Yesaya 42:20 “Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.“

CARA MEMPERTAJAM TELINGA / PENDENGARAN KITA?

A. Milikilah TELINGA SEORANG MURID.

Yesaya 50:4

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Apa yang membuat perkataan nabi Yesaya tajam dan berkuasa? Sebab setiap pagi ia mempertajam pendengarannya dengan cara duduk dibawah kaki Tuhan. Nabi Yesaya mendengar suara Allah, sebelum menyampaikan kepada umat Israel. Kadang-kadang kita enggan duduk dibawah kaki Tuhan untuk mendengar suaraNya, sehingga perkataan kita tajam, tapi bukan memberkati,melainkan menyakitkan hati orang lain. Milikilah telinga seorang murid.

Telinga Seorang Murid

  • Tanda utama telinga seorang murid adalah “mendengar dan lakukan”

Contoh :

  • NUH – Kej 6 : 13 – 21

Ketika Allah memperintahkan Nuh untuk membuat bahtera, Nuh tidak berbantah-bantah sekalipun sulit untuk dikerjaan, Nuh taat dan mengerjakannya tepat seperti yang Tuhan firmankan.

  • Abraham – Kej 22 : 1- 3

Setelah menanti 25 tahun untuk memiliki anak perjanjian, Tuhan Allah meminta Abrahan agar mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Rasa sulit diterima dengan akal sehat, namun Abraham taat melakukannya. Abraham tidak berlama-lama, keesokannya harinya ia bersama Ishak dan bujangnya menuju bukit Moria.

  • Simon Petrus

Lukas 5:5 – Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Tidak perlu memberi alasan ataupun agumentasi dengan Yesus, Petrus taat melakukan perkataan Yesus. Inilah telinga seorang murid, dengar firmanNya dan lakukan saja.

 

  • Tanda kedua telinga seorang murid adalah Mendengar kemudian simpan dalam hati”

Luk 1:29

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Masalah seringkali datang karena kita tidak menyimpan dalam hati kita apa yang kita dengar. Kita cenderung lebih cepat meresponi dari pada menyimpan dan memikirkannnya dalam hati. Maria menyimpan segala firman dalam hatinya dan menginjinkan Alllah bekerja melaluinya.

Mazmur 119:11

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.

 B. Cepat Mendengar tetapi Lambat Berkata-kata

Yakobus 1:19

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.

Ketajaman telinga kita, terlihat melalui ayat ini yaitu cepat mendengar tetapi lambat berkata-kata. Filosofinya adalah Tuhan memberikan kepada kita 2 telinga, 1 mulut dengan maksud agar dengan 2 telinga kita cepat mendengar dengan 1 mulut kita lamabt berkata-kata. Tetapai apa faktanya? Kita seringkali lebih cepat berkata-kata, ketimbang mendengarkan. Seni Komunikasi adalah Komunikasi yang baik, BUKANLAH kemampuan untuk berkata-kata, tetapi kemampuan untuk mendengarkan.

 C. Jangan KERASKAN HATI

Ibrani 3:7,8

Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun.

Bagaimanapunbentuk firman Allah yang datang kepada kita, jangan pernah mengerasakan hati. Jadilah seperti Samuel yang berkata: Berbicaralah Tuhan sebab hambaMU ini mendengar, (1 Sam 3:9) Demikian juga belajarlah dari Daud yang bersedia di tegur oleh nabi Natan setelah ia melakukan dosa. (2Sam 12:13) Jangan seperti orang banyak yang mengikuti Yesus yang hanya mencari roti saja, tetapi saat Yesus menyampaikan firman Allah mereka menolaknya, merasa firman itu terlalu keras.

Yohanes 6:60 – Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”

 D. Dengarlah Apa yang TIDAK Terdengar

Ketajaman telinga kita ditunjukan melalui kemampuan kita mendengar apa yang tidak terdengar. Hubungan-hubungan antara orang tua dan anak, suami dan istri, antara sudara seiman, seringkali rusak karena ketidakmampuan kita mendengar apa yang tidak terdengar. Untuk memperjelas pemahaman kita tentang mendengar yang tidak terdengar, marilah kita lihat dua kisah diawan ini.

  • ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI, Luk 10:30-34

Dikisahkan ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Mengapa Imam dan Orang Lewi tidak menolong orang yang dirampok? Jawabannya adalah karena mereka tidak memiliki telinga yang tajam. Ironis! Pemimpin agama, tetapi tidak punya kepekaan mendengar seruan orang yang menderita. Sementara orang asing, orang Samaria, justru memiliki kepekaan mendengar jeritan orang yang dirampok. Bagaimana dengan kita? Mampukah kita mendengar jeritan mereka yang menderita? Mereka yang hidup di jalanan? Mereka yang hidup dalam kemiskinan. Tidak dapat dipungkiri, kadang-kadang telinga kita sudah tumpul terhadap jeritan mereka. Kita berpikir ini sudah biasa, itu bukan tanggung jawab saya. Akibatnya kita menutup telinga akan teriakan keras mereka. Tuhan Yesus memiliki telinga yang sangat tajam, saat ia melihat orang banyak mengikutiNya, “hatinya tergerak oleh belas kasihan.” Marilah kita berdoa kepada Allah agar kepada kita dikaruniakan telingga yang tajam yang mampu mendengar yang tak terdengar.

  • DAUD DAN GOLIAT, 1 Samuel 17 : 10 – 32

Tantangan Goliat kepada barisan tentara Israel, membuat Saul dan segenap orang Israel menjadi cemas dan sangat ketakutan. Tetapi tidak dengan Daud. Dengan penuh keberanian Daud maju melawan Goliat. Apa yang membuat Daud berani menghadapi Goliat? Sebab Daud tidak mendengarkan perkataan Goliat, Daud mendengar apa yang dikatakan Allah dalam hatinya. Sebab itu dengan jelas ia nyatakan imannya: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Telingnya mendengar suara Goliat, tetapi hatinya mendengar suara Allah.

Saudara-saudara, jika kita mendengar suara musuh, kita akan lemah dan takut. Tetapi jika mendengarkan suara Allah, kita akan kuat dan berani menghadapi lawan. Oleh karena itu sekali lagi saya katakan: Pertajam telingan Saudara, sehingga ditengah-tengah hiruk pikuk suara dunia, kita tetap mampu mendnegar suara Allah yang menguatkan, menolong dan memberikan kemenangan. Tuhan memberkati! KJP.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s