KEMURAHAN DAN KEKERASAN ALLAH seri 3 – Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya-Minggu, 9 Agustus 2015)

Pengkhotbah 7:13
Perhatikanlah pekerjaan Allah!
Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya?

PENDAHULUAN
Beberapa kali kita bahas kemurahan dan kekerasan Allah dari Roma 11:22. Tetapi saat ini kita akan bahas dari Pengkhotbah 7:13. Kita sudah pelajari bahwa wujud kemurahan Allah adalah: “pengampunan” dan “pemulihan”. Sebesar apapun dosa yang diperbuat manusia, jika orang tersebut datang dan mengaku di hadapan Yesus, maka ia akan diampuni dan diselamatkan. Bukan hanya itu saja, orang tersebut akan dipulihkan serta menjadi anak dan waris kekayaan Bapa di sorga (Yohanes 1:12; Galatia 8:17). Itulah gambaran kemurahan Allah. Namun apabila kemurahan Allah itu ditolak maka Allah tidak segan-segan untuk menunjukkan kekerasanNya. Seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 7:13 – jika Allah membengkokkan maka tidak akan ada seorang pun manusia yang meluruskannya.

KEKERASAN ALLAH
Contoh kekerasan Allah dapat kita lihat melalui Yeremia 14 mengenai musim kering. Pada pasal ini kekerasan Allah kepada bangsa Yehuda digambarkan lewat bencana yaitu musim kering.

  • Yeremia 14: 1

“Firman TUHAN yang datang kepada Yeremia mengenai musim kering.”

Mengapa Allah memberikan musim kering kepada umat Yehuda yang merupakan umat Allah sendiri? Jawabnya karena bangsa Yehuda telah menghina dan menginjak-injak kemurahan Allah. Bangsa Yehuda menyia-nyiakan kemurahan Allah sampai kekerasan Allah dinyatakan. Mereka menyembah berhala, kemudian minta ampun dan diampuni; lalu menyembah berhala lagi dan diampuni lagi; terus berulang-ulang sampai akhirnya batas kemurahan Allah habis. Pada akhirnya Allah memperlihatkan kekerasan-Nya kepada bangsa Yehuda melalui bencana.

  • Yeremia 14: 2

“Yehuda berkabung, pintu-pintu gerbangnya rebah dan dengan sedih terhantar di tanah; jeritan Yerusalem naik ke atas.”

Pintu gerbang berfungsi sebagai benteng pertahanan sebuah kota. Jadi apabila sebuah kota pintu gerbangnya rusak, maka kota itu pun juga akan rusak. Sekuat apa pun pintu gerbang dibangun oleh manusia, jika Allah menunjukkan kekerasan-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Sekalipun ia seorang penguasa, semuanya tidak mampu untuk membendung kekerasanNya. Itu sebabnya jangan permainkan kemurahan Allah.

  • Yeremia 14:3

“Pembesar-pembesarnya menyuruh pelayan-pelayannya mencari air; mereka sampai ke sumur-sumur, tetapi tidak menemukan air, sehingga mereka pulang dengan kendi-kendi kosong. Mereka malu, mukanya menjadi merah sampai mereka menyelubungi kepala mereka.”

Selain musim kering, bentuk kekerasan Allah dinyatakan melalui “BENCANA ALAM”. Hal ini tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Lihat saja apa yang terjadi di negeri ini. Penguasa mana yang dapat menghentikan letusan gunung Raung, Sinabung, Merapi dll? Sehebat apapun pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang dalam pemerintahan, ia tidak akan bisa memberi solusi, tatkala Allah menunjukkan kekerasan hatiNya. Seperti yang tertulis dalam Wahyu 6:12-17, ketika materai ke 6 dibuka ada berbagai bencana dan semua alami ketakutan, baik para raja, pembesar, perwira, orang merdeka bahkan para budak.

  •  Yeremia 14:4-5

“Pekerjaan di ladang sudah terhenti, sebab hujan tiada turun di negeri, maka petani-petani merasa kecewa dan menyelubungi kepala mereka. Bahkan rusa betina di padang meninggalkan anaknya yang baru lahir, sebab tidak ada rumput muda.”

Akibat kekerasan Allah, orang-orang kehilangan pekerjaan, tidak ada pangan dan tidak ada lagi hujan (berkat) secara jasmani, terlebih secara rohani yaitu kebenaran firman Allah. Itu sebabnya betapa pentingya kita gunakan kemurahan Allah saat sekarang ini dengan sebaik-baiknya. Selain itu, kekerasan Allah juga menjadikan manusia kehilangan kasih, sehingga mereka tidak mempedulikan orang lain. Digambarkan seperti rusa beranak yang tega meninggalkan anaknya yang masih butuh asupan demi mendapat hidup untuk dirinya sendiri. (2 Timotius 3:1)

  • Yeremia 14:6

“Keledai-keledai hutan berdiri di atas bukit gundul, mengap-mengap seperti serigala, matanya menjadi lesu, sebab tidak ada rumput.”

Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang angkuh yang menyia-nyiakan kemurahan Allah, yaitu mereka yang menolak keselamatan yang Allah tawarkan. Pada waktunya, ketika Tuhan menunjukkan kekerasanNya, mereka menjadi lemah tak berdaya. Barulah mereka mengharapkan kemurahan Tuhan, tetapi kemurahan Tuhan tidak ada lagi.

Demikianlah contoh kekerasan Allah yang dinyatakan kepada umatNya. Sekarang kita akan melihat seorang hamba Tuhan, yaitu nabi Yeremia yang bersyafaat untuk bangsanya.

DOA SYAFAAT YEREMIA
Nabi Yeremia adalah seorang Nabi yang tidak tahan melihat kondisi bangsa Yehuda ketika kekerasan Allah dinyatakan sehingga ia berdoa memohon kemurahan dan kebaikan Allah. Dalam doa syafaatnya, Yeremia tanggungkan semua dosa bangsa Yehuda pada dirinya dan mengakui kesalahan-kesalahan bangsanya, agar Allah mengampuni orang Yehuda.

Yeremia 14:7
“Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, bertindaklah membela kami, ya Tuhan, oleh karena nama-Mu!Sebab banyak kemurtadan kami, kami telah berdosa kepada-Mu.”

Inilah syafaat Yeremia memohon supaya Tuhan memberi kemurahan, agar jangan bertindak keras dulu.

  • Yeremia 14:8-9

“Ya pengharapan Israel. Mengapakah Engkau seperti orang asing di negeri ini, seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk bermalam? Mengapakah Engkau seperti orang yang bingung seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? Tetapi engkau ada di antara kami, ya Tuhan dan nama-Mu diserukan di atas kami, janganlah tinggalkan kami.”

Jika diartikan secara bebas maka ayat ini akan berbunyi demikian “Tuhan! Kenapa bengong? Ini umat-Mu loh, tolong dong, masa dibiarin aja, seperti pahlawan tak berdaya!” Yeremia menganggap, Tuhan seperti pahlawan yang tidak berdaya. Pahlawan yang kalah dalam peperangan. Jadi ketika Kekerasan Allah ditunjukkan, Allah tidak akan ada ditengah Israel sebagai pembela. Apa yang dialami Yehuda, semoga jadi pelajaran bagi kita untuk tidak bermain-main dengan masa kemurahan Tuhan.

TANGGAPAN TUHAN ATAS SYAFAAT YEREMIA
Pada saat ini kekerasan Allah belum dinyatakan secara umum kepada dunia. Tapi akan tiba masanya Tuhan bersikap keras, sehingga nabi sekaliber Yeremia pun tak akan bisa meluluhkan hati Allah.

Berikut ini alasan, mengapa Tuhan marah kepada bangsa Yehuda.
Yeremia 14:10
“Beginilah firman Tuhan tentang bangsa ini: “Mereka sangat senang mengembara dan tidak menahan kakinya. Sebab itu Tuhan tidak berkenan kepada mereka; tetapi sekarang Ia mau mengingat kesalahan mereka dan mau menghukum dosa mereka.”

“Orang Yehuda senang mengembara!”
Sesungguhnya Allah rindu melihat bangsa Israel hidup mengikuti jalan Allah, sehingga bangsa-bangsa lain melihat dan mengikuti jalan bangsa Israel. Namun sebaliknya, Israel justru lebih suka mengembara, yaitu dengan cara menyembah berhala seperti bangsa kafir sehingga mereka keluar dari jalan Tuhan. Hal itu mereka lakukan berulang-ulang, seolah-olah kemurahan Allah mereka pergunakan dengan bermain-main sampai batas kemurahan Allah berakhir.

Jadi, kerinduan Allah terhadap bangsa Israel untuk menjadi contoh, merupakan kerinduan Allah juga terhadap orang percaya. Allah ingin memakai kehidupan pengikut Yesus untuk menjadi contoh bagi orang yang belum mengenal Allah sehingga mereka dapat melihat cara hidup kita lalu bertobat dan berbalik kepada Tuhan (Ibrani 12:1).

PENGIKUT JALAN TUHAN
Dalam zaman para Rasul, orang percaya disebut sebagai “Pengikut Jalan Tuhan”, bahasa Yunaninya “CHRISTIANOS” (Kisah para Rasul 22:4). Jadi Tuhan memanggil kita supaya mengikuti jalan Tuhan seperti seseorang yang meninggalkan jejak kaki di pasir sehingga orang di belakangnya dapat mengikuti jejak kaki tersebut, persis seperti jejak kaki yang nampak. Bukan mengembara seperti bangsa Israel yang mengikuti cara hidup orang kafir/dunia. Terkadang mereka mengikuti jejak Tuhan setelah itu mereka menyimpang. Ketika Allah menghukum, mereka pun berbalik. Namun tidak beberapa lama, kembali mengembara. Sebab itu Allah menunjukkan kekerasanNya terhadap umatNya.

YEREMIA DILARANG BERSYAFAAT
Yeremia 14:11
”Tuhan berfirman kepadaku: “Jangalah engkau berdoa untuk kebaikan bangsa ini! Sekalipun mereka berpuasa, Aku tidak akan mendengarkan seruan mereka; sekalipun mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian, Aku tidak akan berkenan kepada mereka, melainkan Aku akan menghabiskan mereka dengan perang, dengan kelaparan dan dengan penyakit sampar.”

Mengapa Yeremia dilarang bersyafaat? Karena batas kemurahan Allah telah berakhir. Bila kemurahan Tuhan sudah berakhir maka kekerasan-Nyalah yang dinyatakan. Tidak ada gunanya kita bersyafaat bagi siapa pun di hadapan Tuhan bila batas kemurahan Allah berakhir. Sebab itu selama kemurahan Allah masih berlaku, gunakan sebaik mungkin untuk bersyafaat bagi keluarga atau orang-orang yang kita kasihi sebelum berakhir masanya, yaitu pada saat kedatangan Yesus.

Bila kemurahan Tuhan diinjak-injak (dilecehkan) sampai waktu kemurahan (kesabaran) Tuhan itu berakhir maka Tuhan akan menunjukkan kekerasan-Nya, sehingga tidak ada seorang pun juru syafaat (pengantara) yang bisa melunakkan hati Allah.

YEREMIA BERUSAHA MENGINGATKAN TUHAN
Yeremia 14:13
Lalu aku berkata: “Aduh, Tuhan Allah! Bukankah para nabi telah berkata kepada mereka: Kamu tidak akan mengalami perang, dan kelaparan tidak akan menimpa kamu, tetapi Aku akan memberikan kepada kamu damai sejahtera yang mantap di tempat ini!”

Di ayat ini Yeremia berusaha mengingatkan Tuhan tentang janji-janjiNya terhadap umat Israel. Seolah-olah Yeremia berkata begini: “Tuhan, janganlah bertindak keras! Nanti para nabi mukanya mau ditaruh dimana di depan bangsa Yehuda? Karena para nabi sudah berjanji bahwa bangsa Yehuda akan diberkati, tidak ada perang, tidak ada kelaparan, semuanya akan aman dan damai sentosa!

Apa jawaban Tuhan?
Yeremia 14:14
“Jawab Tuhan kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.”

Pada saat itu ada nabi-nabi palsu yang bernubuat kosong dan Allah tidak menghendakinya. Tetapi mereka tidak suka kepada Yeremia, sebab Yeremia beritakan firman Allah yang benar (alkitabiah). Mereka justru lebih menyukai nabi yang suka berbohong; nubuat palsu dan membawa berita sensasi yang bukan dari Tuhan. Inilah juga salah satu arti ucapan Tuhan di ayat 10 bahwa: “Orang Yehuda suka mengembara…” yaitu orang Yehuda (umat Allah), tidak suka kepada Yeremia melainkan nabi palsu.

NASIB NABI PALSU
Yeremia 14:15
“Sebab itu beginilah firman Tuhan mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini – : “Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh pedang dan kelaparan.”

Inilah akhir hidup para nabi yang bernubuat palsu. Mereka akan alami kekerasan hati Allah.

Yeremia 14:16
“Dan bangsa yang kepadanya mereka bernubuat akan tercampak mati di jalan-jalan Yerusalem, disebabkan oleh kelaparan dan perang, dan tidak ada orang yang akan menguburkan mereka; mereka sendiri, isteri-isteri mereka, anak-anak mereka yang laki-laki dan yang perempuan. Demikianlah akan Kutumpahkan kejahatan mereka ke atas mereka.”

Jadi hati-hati dengan ajaran palsu, karena dampaknya bukan hanya dialami oleh orang tua yang menerima ajaran tersebut, tetapi akan dialami juga oleh anak-anak yaitu Generasi Penerus. GPdI Mahanaim membutuhkan hamba-hamba Tuhan yang berani tidak popular seperti Yeremia, untuk tetap memberitakan firman Allah yang murni dan yang benar!

ALLAH LAMPIASKAN KEMARAHAN-NYA
Selanjutnya, Allah melampiaskan kemarahan-Nya kepada Yeremia agar Yeremia teruskan kepada bangsa Yehuda. Karena bangsa Yehuda sudah menginjak-injak kemurahan/ kebaikan Allah.

Yeremia 14:17 – 18
“Katakanlah perkataan ini kepada mereka: “Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti, sebab anak dara, puteri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidak tersembuhkan. Apabila aku keluar ke padang, di sana ada orang-orang mati terbunuh oleh pedang! Apabila aku masuk ke dalam kota, di sana ada orang-orang sakit kelaparan! Bahkan, baik nabi maupun imam menjelajah negeri yang tidak dikenalnya.”

Allah sedih umat-Nya jadi korban, sebab mereka injak-injak kebaikan Allah. Mengapa Allah hanya bersedih saja? Mengapa Allah tidak memberikan kemurahan kepada umat-Nya, tapi menunjukkan kekerasan-Nya? Karena kondisi umat Allah tidak bisa dipulihkan lagi, seperti penyakit yang tidak mungkin bisa disembuhkan.

YEREMIA MASIH BERDALIH
Meskipun umat Allah tidak menerima kemurahan Allah lagi, nabi Yeremia bertahan untuk kesekian kalinya, meminta kemurahan Allah. Ia berdalih atau tawar-menawar dengan Allah,ayat 19-22. Tetapi apakah jawaban Allah?

Yeremia 15:1-2
“Tuhan berfirman kepadaku: “Sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku, biarlah mereka pergi! Dan apabila mereka bertanya kepadamu: Ke manakah kami harus pergi?, maka jawablah mereka: Beginilah firman Tuhan: Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke pedang, ke pedanglah! Yang ke kelaparan, ke kelaparanlah! Dan yang ke tawanan, ke tawananlah!”

Dalam ayat 1, Tuhan seolah-olah berkata, sekalipun mereka (Musa dan Samuel) hidup pada zaman Yeremia, Tuhan tidak akan dengarkan perkataan mereka untuk memberi kemurahan pada bangsa Yehuda. Kita semua mengetahui kisah Musa begitu populer dalam Perjanjian Lama. Pada saat itu Tuhan tidak mau menyertai Israel, IA akan mengutus Malaikat. Tetapi Musa bersyafaat kepada Allah dan meminta kemurahan Allah. Musa berkata jika Tuhan tidak menyertai bangsa Israel hapuskan namaku dari kitab kehidupan. Musa rela masuk neraka asal Allah menyertai bangsa Israel. Doa syafaat Musa meluluhkan hati Tuhan. Tetapi apabia Allah menunjukkan kekerasanNya, Allah tidak memperdulikan lagi umatNya. Hati-hati!!

Yeremia 15:3-4 “Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman, demikianlah firman Tuhan: pedang untuk membunuh, anjing-anjing untuk menyeret-nyeret, burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan. Dengan demikian Aku akan membuat mereka menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi, oleh karena segala apa yang dilakukan Mansye bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem.”

PENUTUP
Demikianlah kekerasan Allah yang tidak lagi dapat dihalangi oleh siapapun, baik pemerintah atau para nabi sekaliber Samuel, Musa dan Yeremia.
Secara umum, kita masih hidup direntang waktu kemurahan Allah yaitu, dari kematian Yesus sampai kedatanganNya. Dan Antikristus pun belum berkuasa dan dinyatakan di muka bumi ini. Tetapi, secara khusus kita masih hidup, dengan lain kata kemurahan Tuhan masih diberikan pada kita yaitu berupa usia / umur.

Dengan cara apakah kita pergunakan kemurahan Allah ini? Mana yang kita mau pilih? Menghargai dan menggunakan kemurahan Tuhan sebaik-baiknya? Atau menginjak-injak kemurahan Allah, sehingga Allah melakukan kekerasan-Nya terhadap kita? Hargailah kemurahan Allah. Biarlah kita memilih untuk terus hidup dalam kemurahan Allah dengan berjalan dalam kehendakNya. Bukan menginjak-injak kemurahanNya dengan berjalan diluar kehendak Allah.
Tuhan memberkati!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s