MEMPERTAJAM HIDUP seri 8 – Pdt. Joseph Priyono – Ibadah raya 2 (Minggu, 27 Sep 2015)

Pengkhotbah 10 :10
Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga,
tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.

Pendahuluan
Para motivator berkata: “jangan bekerja keras, bekerjalah cerdas”. Jauh sebelum para motivator menganjurkan bekerja cerdas, raja Salomo sudah mengetahui rahasia kerja cerdas yaitu dengan cara “mengasah kapak.” Ketumpulan dalam hidup hanya akan membuat seseorang bekerja keras, menghabiskan banyak tenaga dan waktu, namun menuai hasil sedikit. Untuk itu hidup ini harus terus diasah agar tetap terjaga ketajamannya.

Beberapa bagian yang perlu kita asah dalam hidup ini, adalah:
1. Mata / Penglihatan
2. Mulut / Perkataan
3. Telinga / Pendengaran
4. Pikiran
5. Tangan / Perbuatan
6. Karakter
Ketajaman mata, mulut, telinga, otak dan tangan dapat membawa Anda sampai ke PUNCAK, tetapi KARAKTERLAH yang mempertahankannya. Karakter adalah landasan bagi ketajaman hidup agar kita tetap berada pada puncak. Ketajaman mata, mulut, telinga, pikiran dan tangan tanpa karakter adalah seperti orang membangun rumah yang megah namun tanpa dasar yang kokoh. Sehebat apapun bangunan itu didirikan, cepat atau lambat pasti akan roboh dan hancur.
7. Hati
Bagian akhir dari ketajaman hidup adalah mempertajam hati. Mengapa hati perlu dipertajam? Karena hati adalah sumber kehidupan.
Amsal 4:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Kita dapat memiliki ketajaman mata, ketajaman mulut, ketajaman telinga, ketajaman pikiran, ketajaman tangan dan ketajaman karakter, semuanya bersumber dari hati kita. Menajamkan hati berarti menajamkan hidup kita.
Lukas 6:45
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

Bapak, Ibu dan Saudara/i sekalian, pada pagi hari ini saya ingin melanjutkan seri khotbah mempertajam hidup dengan pokok bahasan:

———- MUSUH –MUSUH KETAJAMAN HIDUP ————–

Mendapatkan kehidupan yang tajam tidak semudah membalikkan tangan karena ada musuh-musuh yang menghambat usaha kita untuk mempertajam hidup. Musuh yang pertama yang kita hadapi adalah: KENYAMANAN HIDUP.

Berhati-hatilah dengan kenyamanan, karena kenyamanan dapat membuai seseorang sehingga terlena, santai dan tanpa disadari membawanya pada kehancuran. Kenyamanan adalah akhir dari kemajuan dan awal dari kemunduran. Biasanya jika seseorang sudah merasa nyaman dalam hidupnya, ia tidak lagi mempertajam hidupnya. Usahanya tidak segigih yang dulu, doa-doanya pun tidak sungguh-sungguh seperti dahulu, ia berhenti mengasah hidupnya. Itulah prestasi terakhir yang dapat diraih dalam kehidupan.

Musuh dari yang TERBAIK adalah yang BAIK. Orang-orang yang senang tinggal dalam kenyamanan, ia hanya puas dengan hasil yang baik dan bukan yang terbaik. Kelompok ini tidak pernah mencapai potensi maksimal yang Tuhan berikan kepadanya. Mereka berhenti pada hasil yang baik, merasa cukup dan puas menjalani hidup rata-rata. Tinggalkan kenyamanan, melangkahlah maju dalam peningkatan.

Amos 6:1
“Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!

Melalui nabi Amos, Tuhan Allah memperingatkan bangsa Israel yang tinggal dalam kenyamanan sehingga melupakanNya. Karena merasa aman dan tenteram, bangsa Israel lupa akan celaka yang akan dialami. Kenyamanan hidup membuat mereka terlena dan tidak waspada akan bahaya yang sedang mengancamnya. Sekali lagi berhati-hatilah dengan kenyamanan, karena kenyamanan dapat membutakan mata kita sehingga tidak dapat melihat bahaya yang sedang mengancam.

KENYAMANAN MUSA
Keluaran 3:7-10
Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

Allah memanggil Musa dan mengutusnya untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir menuju sebuah negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Inilah kehendak Tuhan bagi Musa. Tetapi apa respon Musa terhadap kehendak Tuhan?

Keluaran 4:10
Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”
Keluaran 4:13
Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus.”

Musa menolak pergi ke Mesir bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tidak ingin diganggu kenyamanan hidupnya. Musa tentu masih ingat saat ia melarikan diri dari Mesir. Ia sadar, kembali ke Mesir berarti menyerahkan diri kepada Firaun. Baginya, bersama dengan domba-domba gembalaannya di padang gurun sangatlah menyenangkan dari pada kembali ke Mesir. Musa pastinya juga masih mengingat bagaimana beratnya tekanan hidup yang dialami bangsa Israel di Mesir. Itulah sebabnya ia menolak perintah Tuhan dengan berbagai alasan. Musa hidup dalam “kenyaman.”

Bahaya Kenyamanan Musa

a. Tidak peka terhadap kehendak Allah.
Kenyamanan hidup yang dialami Musa telah membuatnya menjadi tidak peka kepada kehendak Allah. Allah menghendaki agar ia pergi ke Mesir membawa bangsa Israel menuju ke Kanaan, namun ia memilih tinggal bersama domba-dombanya. Baginya kenyamanan lebih penting dari pada melakukan kehendak Allah.

Waspadalah dengan kenyamanan hidup. Keadaan nyaman, aman dan tentram kadang-kadang dapat membelokkan arah tujuan hidup kita. Pengejaran kehidupan kita tidak lagi ditujukan kepada kehendak Allah, tetapi kepada usaha mencapai kenyamanan hidup. Bukankah kita ada demi tujuan Tuhan? Rasul Paulus mengingatkan dalam Kol. 3:16 : “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”
Karena kita ini diciptakan oleh Dia dan untuk Dia, maka sepenuh kehidupan kita seharusnya digunakan untuk kehendakNya dan bukan kehendak diri kita sendiri.

Contoh : Orang Muda yang Kaya (Markus 10:17-22)
Ayat 17 – 20
Bagi orang muda yang kaya ini, ia bersedia melakukan apapun asal kenyamanannya tidak terusik. Tetapi apa yang terjadi saat kenyamanannya terusik….?
Ayat 21
Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.“
Akibatnya ……
Ayat 22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Orang muda yang kaya ini lebih memilih hidup nyaman dengan kekayaannya, ketimbang melakukan kehendak Tuhan yaitu menjual hartanya dan membagikan kepada orang miskin demi mendapatkan harta di sorga. Bagaimana dengan kita? Beranilah meninggalkan kenyamanan hidup demi melakukan kehendak Tuhan.

TUHAN YESUS
Bagi Tuhan Yesus yang utama dalam hidupNya adalah melakukan kehendak BAPANYA.

  • Lahir oleh karena Kehendak Bapa – Filipi 2 : 5 – 8
  • Dibaptis oleh Kehendak Bapa
    Matius 3:15 – Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.
  • Melayani oleh Kehendak Bapa
    Yohanes 4:34 – Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
  • Mati di salib oleh Kehendak Bapa
    Matius 26:39 – Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Teladanilah kehidupan Tuhan Yesus. Ia rela meninggalkan kenyamanannya di sorga demi melakukan kehendak BapaNya yaitu menebus dosa manusia.
2Korintus 8:9
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

b. Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain
Musa tentunya masih ingat penderitaan yang dialami bangsanya di Mesir. Di depan matanya, ia menyaksikan siksaan dan kerja paksa yang dibebankan Firaun kepada bangsa Israel. Namun semua keadaan itu tidak menggugah hati Musa untuk menolong bangsa Israel. Musa masa bodoh dengan sengsara umat Israel di Mesir kerena merasa hidupnya sudah nyaman.

Hal yang sama juga ditunjukan oleh Imam dan orang Lewi dalam kisah Orang Samaria yang baik hati. (Lukas 10 : 25 – 37) Apakah Imam dan orang Lewi tidak melihat orang yang sedang dirampok yang terbaring di pinggir jalan? Apakah mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolong? Imam dan orang Lewi melihatnya, mereka juga memiliki kemampuan untuk menolong, tetapi mengapa tidak mau menolong? Imam dan orang Lewi tidak peka terhadap kebutuhan seorang yang dirampok karena tidak mau kenyamanan hidupnya diganggu. Lagi-lagi masalahnya adalah “kenyamanan.”

Bahkan ada yang lebih parah lagi. Demi kenyamanan, seseorang rela mengorbankan orang lain. Contohnya adalah Daud (2 Samuel 11). Demi kenyamanannya hidup bersama Batsyeba, Daud korbankan Uria di medan perang.

MEMBONGKAR KENYAMANAN
Kenyamanan membuat hidup kita tidak menjadi tajam. Sebaliknya kenyamanan justru menumpulkan hidup kita. Hidup kita akan makin tajam, jika kita berani membongkar kenyamanan. Untuk membongkar kenyamanan mari kita belajar dari Musa.

Ibrani 11:24-26
Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.

a. Berpindah dari “Zona Nyaman” ke “Zona Iman”
Ayat 24 – Karena iman maka Musa….

Masa depan memang tidak selalu menjanjikan kecerahan, disana ada penderitaan, kesukaran dan seribu satu macam persoalan dan kesulitan. Selama kita hanya memandang tantangan dan kesulitan, kita tidak akan pernah maju. Kita akan selalu merasa nyaman dengan semua yang ada tetapi tidak pernah mengalami peningkatan kehidupan. Diperlukan keberanian untuk bertindak dengan iman agar hidup kita semakin tajam.

Matius 17:20
Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

b. Bertumbuhlah Dewasa
Ayat 26 – setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun.

Anak-anak selalu menginginkan kenyamanan, tetapi hanya orang dewasa yang berani meninggalkan kenyamanan demi sebuah perubahan. Untuk itu bertumbuhlah dewasa dalam kerohanian. Kedewasaan tidak diukur dari usia kita atau lamanya kita menjadi orang Kristen. Kedewasaan diukur dari kesediaan kita meninggalkan kenyamanan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Yohanes 21:18
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”

c. Bersedia menderita karena kebenaran
Ayat 25 – karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.

Kapak yang tajam hanya dihasilkan melalui pengasahan. Mata kapak harus beradu dengan batu asah yang kasar sehingga menjadi tajam. Penderitaan dan kesengsaraan adalah jalan menuju ketajaman hidup. Menghindari penderitaan dan sengsara berarti kita sedang membenamkan diri pada ketumpulan hidup.

1Petrus 3:14
Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. (1 Petrus 4 : 12 – 14)

d. Arahkan pandangan kita kepada UPAH kekal
Ayat 26
sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.

Orang-orang yang berani membongkar kenyamanan hidup adalah mereka yang memiliki ketajaman mata sehingga mampu melihat sampai kepada kekekalan. Mereka berani membayar harga demi upah yang akan datang, bukan kenikmatan sesaat.

2 Korintus 4:17, 18
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Rasul Paulus tidak takut alami penderitaan karena memandang kepada upah yang kekal. Sengsara, aniaya dan kelaparan telah mempertajam hidupnya untuk menjadi seorang rasul besar dalam Perjanjian Baru.
Sekaranglah waktunya bagi kita untuk terus mempertajam diri. Patahkan musuh yang pertama yaitu “KENYAMANAN”. Selamat berjuang, Tuhan memberkati – KJP

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s