API KEMURAHAN ALLAH – Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 3 – Minggu, 8 November 2015)

Keluaran 3 : 1-3

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya didalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata : Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?

 

Pendahuluan

Di dalam Alkitab selain api penghukuman, Allah juga memiliki api kemurahan. Mengapa panggilan Allah kepada Musa memakai semak duri? Apakah tidak ada tanaman lain yang lebih baik dari semak duri? Semua yang dituliskan dan dikisahkan dalam Alkitab itu bukan sembarang ditulis, tetapi semua merupakan hal yang diilhamkan Allah yang memilki makna dan tujuan Allah.

2 Timotius 3:16

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Jadi mengapa Allah pilih semak duri dalam panggilanNya kepada Musa, karena ada pengajaran buat kita orang percaya di jaman sekarang ini. Untuk mengerti tentang semak duri ini, kita harus mendapatkan kolerasi dari ayat lain dalam Alkitab.

KISAH ILUSTRASI TENTANG SEMAK DURI DALAM KITAB HAKIM-HAKIM

Hakim-hakim 9: 8-9

Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia dan pergi melayang di atas pohon-pohon ?

Diceritakan bahwa pohon-pohon di hutan sedang mencari raja. Tawaran pertama ditujukan kepada

a. Pohon Zaitun :

Pohon zaitun menolak karena tidak mau meninggalkan minyaknya sebagai jati diri dan kehormatannya, untuk menghormati Allah dan manusia.

Dalam Mazmur 128:3b – Dikatakan “….anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu.”

  • Pohon zitun berbicara tentang anak-anak muda.

Anak-anak muda biasanya gampang dibujuk dan disanjung untuk dijebak. Pohon-pohon berbicara tentang kuasa kegelapan yang membujuk umat Tuhan dengan tawaran yang menggiurkan untuk meninggalkan pelayanan kepada Tuhan.

  • Pohon zaitun menolak, dan tetap memilih melayani Tuhan dan sesama. Anak-anak muda harus waspada, iblis akan mencoba menjerat dengan tawaran yang memikat yang memberikan kebebasan agar kita lepas dan jauh dari Tuhan.

Karena pohon zaitun menolak, maka tawaran kedua ditujukan kepada pohon Ara.

b. Pohon Ara

Hakim 9 : 10,11

“Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara, marilah jadilah raja atas kami. Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang-layang di atas pohon ?

Pohon Ara dalam Mazmur 128:4 – Dikatakan: “Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan Tuhan.”

  • Pohon Ara disini digambarkan sebagai seorang suami (laki-laki) yang menghasilkan manisan, memproduksi hal-hal yang manis kepada Allah dan manusia.
  • Seorang suami harus menghasilkan hal yang manis, terutama bagi anak dan istrinya. Ada banyak suami yang kehilangan jati dirinya, bisa berlaku manis kepada orang lain diluar rumah, tetapi didalam rumah kepada anak dan istrinya kasarnya minta ampun. Suami yang diberkati adalah suami yang membuat keluarganya merasakan kasih dan perlindungan yang manis. Suami yang demikian akan mudah juga menjadi pribadi yang manis dalam melayani Tuhan.
  • Pohon ara menolak tawaran iblis, dan tetap pada karakternya yang manis untuk melayani Allah dan keluarga.

Karena pohon ara menolak, maka tawaran ditujukan kepada pohon anggur.

c. Pohon Anggur

Hakim 9 : 12,13

“Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami.” Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku yang menyukakan hati Allah dan manusia dan pergi melayang-layang di atas pohon-pohon ?

Pohon anggur dalam Maz 128:3a – Dikatakan :“….Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur, didalam rumahmu…..”

  • Pokok anggur berbicara mengenai para istri. Dikatakan Ia tumbuh subur di dalam rumahmu bukan diluar rumah. Permasalahan rumah tangga sering terjadi karena para istri tumbuh diluar, tetapi tidak menghasilkan apa-apa di dalam rumahnya sendiri. Adalah baik aktif di kegiatan gereja, tapi jangan lupakan tanggung jawab di rumahnya, harus ada keseimbangan. Tidak sedikit para suami dan anak-anak tidak mau percaya Tuhan meskipun istrinya atau ibunya seorang aktifis gereja, karena para istri atau ibu begitu luar biasa baiknya kalau di gereja, lembut dan penuh kasih sayang seperti malaikat, tetapi di rumahnya tidak ubahnya seperti singa betina yang sama sekali tidak membawa berkat bagi keluarganya.
  • Pokok anggur disini menolak godaan iblis untuk jadi raja. Ia tidak mau meninggalkan kodratnya sebagai buah yang manis,yang menyukakan Tuhan dan manusia.

Melihat tawaran kepada pohon-pohon yang menghasilkan buah ditolak, maka tawaran terakhir diberikan kepada semak duri yang tidak menghasilkan buah.

d. semak duri

Hakim 9 : 14-16

“Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku, tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon.”

  • Semak duri menggambarkan pribadi-pribadi yang congkak dan angkuh.
  • Kosong tidak menghasilkan buah apapun tapi congkak dan angkuhnya luar biasa.

Apa kata Tuhan tentang orang yang congkak dan angkuh ini ?

Ayub. 20 : 6,7. –Dikatakan :

“ Walaupun keangkuhannya sampai ke langit, dan kepalanya mengenai awan, namun seperti tahinya ia akan binasa untuk selama-lamanya; siapa yang pernah melihatnya, bertanya: Di mana dia?”

Di mata Tuhan orang yang angkuh dan sombong tidak lebih hanya seperti TAHI (kotoran), tidak berharga, jangankan dicari ditanyakan juga tidak. Betapa seringnya terjadi ancaman-ancaman dan pertentangan karena adanya semak duri yang angkuh dan sombong ini. Karakter semak duri cenderung tidak mau diajar, memberontak, serta menolak nasehat firman.

Karakter semak duri, dalam kitab Hakim-hakim menunjuk kepada pribadi Abimelekh anak dari Yerubaal nama lain dari Gideon.

  • Abimelekh adalah anak dari keturunan seorang hamba perempuan Yerubaal. Secara garis keturunan ia tidak punya hak untuk menjadi raja.
  • Ia berambisi untuk jadi raja dengan cara memberontak dan melawan semua saudaranya, dan membunuh 70 saudara seayahnya di atas satu batu. Hanya Yotam anak yang paling bungsu yang lolos, dialah yang membuat ilustrasi tentang semak duri yang jadi raja.
  • Abimelekh, Ia digambarkan seperti semak duri yang menjadi raja.

LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN SEMAK DURINYA MUSA ?

Semak duri sebenarnya adalah gambaran kita semua, yang memiliki sifat memberontak kepada Allah sejak jatuhnya Adam dan hawa kedalam dosa. Api Allah membakar semak duri, tetapi tidak hangus terbakar, karena Allah membakarnya dengan api kasihNya. Musa dipanggil Allah dalam pelariannya setelah membunuh orang Mesir. Semak duri tidak lain menunjuk karakter Musa yang keras tapi kosong, tapi semak duri itu dibakar dengan api kasih Allah sehingga tidak hangus terbakar.

Panggilan Allah juga berlaku bagi kita, panggilan untuk menerima kasih Allah, agar hidup kita yang tak berarti seperti duri, Tuhan ubahkan menjadi pohon yang berbuah. Firman Allah kadang seperti api membakar duri-duri dosa kita.

Bagaimana jika ada yang menolak api kasih Allah ? Maka orang itu akan benar-benar dibakar dalam api yang menghanguskan.

Wahyu 21:8 – Mengatakan :

“ Tetapi orang-orang penakut, orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang, inilah kematian yang kedua.”

Semua daftar orang-orang yang tercatat dalam ayat ini adalah mereka yang menyepelekan dan menolak panggilan api kasih kemurahan Allah. Api kasih Allah masih berlaku bagi siapa saja yang membutuhkan kasih dalam keselamatan dalam Tuhan, lewat pribadi Yesus Kristus, jangan sia-siakan, sebab kedatangannya kedua kali ke dunia ini tidak lagi membawa kasih tapi api penghakiman. Tuhan memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s