Mempertajam HIDUP seri 10 – Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3-Minggu, 13 Desember 2015)

Pendahuluan

Nilai dan kualitas hidup kita ditentukan dari ketajaman hati kita. Semakin tajam hati kita semakin berkualitas hidup kita. Sebaliknya hati yang tumpul akan menghasilkan kehidupan yang berkualitas rendah. Untuk itulah kita harus senantiasa mengasah hidup kita untuk selalu memiliki ketajaman dan kepekaan.

Selain itu, kita harus dipertajam hidup ini karena perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 7:20 mengatakan: “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”  Rupanya kekristenan tidak diukur dan dinilai dari aksesoris yang kita pakai, bukan pula dari banyaknya kegiatan gereja dan pelayanan yang kita lakukan. Kekristenan dinilai dari buah kehidupan yang kita hasilkan. Kita tidak perlu memberitahu kepada semua orang bahwa kita orang kristen, pengikut Kristus, mereka akan mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya dari buah kehidupan yang kita hasilkan. Kualitas buah kehidupan kita itu tergantung dari ketajaman hati kita. Hati yang baik akan menghasilkan buah yang baik, sedangkan hati yang jahat membuahkan kejahatan pula. Kita dikenal bukan dari apa yang kita miliki tetapi dari apa yang kita hasilkan dan bagikan kepada orang lain.

Bagian kehidupan yang harus kita pertajam adalah:

  1. Penglihatan/Mata
  2. Mulut/Perkataan
  3. Telinga/Pendengaran
  4. Otak/Pikiran
  5. Tangan/Perbuatan
  6. Watak/Karakter
  7. Hati

MUSUH-MUSUH KETAJAMAN HIDUP

Usaha mempertajam hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan sebab ada musuh-musuh yang akan menghalangi dan menghambat bahkan menghancurkan hidup kita agar tetap tinggal dalam ketumpulan. Musuh-musuh itu adalah:

A. KENYAMANAN

Hidup yang nyaman seringkali meninabobokan diri kita, sehingga usaha-usaha yang kita lakukan tidak segigih seperti dulu. Kenyaman adalah akhir dari kemajuan dan awal dari kemunduran.

B. KETAKUTAN

Musuh kedua dari ketajaman hidup adalah ketakutan. Tidak sedikit anak-anak Tuhan tetap tinggal dalam ketumpulan karena takut menghadapi rersiko, takut gagal dan takut masa depan. Rasa takut membuat mereka tidak pernah bergerak maju [dua bagian ini telah kita pelajari sebelumnya]. Musuh yang ketiga dari ketajaman hidup adalah:

C. KETIDAK[TAAT]AN

Apakah hubungan ketaatan dan ketajaman hidup? Ketaatan melahirkan ketajaman hidup, sedangkan ketidaktaatan membuahkan ketumpulan hidup. Jadi tajam atau tidak hidup kita itu tergantung dari ketaatan kita. Semakin taat, hidup kita akan semakin tajam, sebaliknya pemberontakan hanya membuahkan ketumpulan.

 

BAHAYA KETIDAKTAATAN

  1. Ketidaktaatan melahirkan KEMATIAN

Rom 6:23

Sebab upah dosa [ketidaktaatan] ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Firman Allah dengan tegas mengatakan bahwa upah dosa adalah maut/kematian. Apakah yang dimaksud dengan dosa? Yaitu segala bentuk ketidaktaatan. Dalam kitab Kejadian kita melihat bahwa akibat ketidaktaatan Adam, maka seluruh umat manusia mengalami kematian. Sejak saat itu manusia mati secara rohani dan jasmani bahkan mengalami kematian kekal. Syukurlah, sebab Tuhan Yesus sebagai Adam yang terakhir taat melakukan kehendak Bapa sehingga memberikan kehidupan kepada manusia.

Roma 5:19

Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Yohanes 3:36

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Kisah yang sama juga dapat kita lihat dalam keluarga Akhan – Yos 7:24-5. Akhan tidak taat, akibatnya seluruh keluarganya dibinasakan.

Umat Tuhan, berhati-hatilah dengan ketidaktaatan. Ketidaktaatan hanya menghasilkan kematian. Usaha, pekerjaan, berkat, damai, sukacita semua akan mati kalau kita hidup dalam ketidaktaatan.

  1. Ketidaktaatan menghacurkan masa depan.

1Sam. 13:13

Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.

Tuhan telah memilih Saul untuk menjadi raja atas Israel. Dari seluruh orang Israel hati Tuhan terpikat kepada Saul sekalipun ia berasal dari suku yang terkecil. Bukan hanya itu saja, Tuhan juga telah bermaksud menetapkan Saul dan keturunannya sebagai raja atas Israel. Sungguh masa depan yang indah dan penuh harapan, namun semuanya hancur berantakan, masa depan yang gilang gemilang gugur di tengah jalan karena ketidaktaatan Saul untuk melakukan kehendak Allah yaitu memusnakan orang Amalek.

Berapa banyak di antara kita yang gagal mengapai masa depan yang baik karena ketidaktaatan. Kenaikkan jabatan yang sudah didepan mata lenyap karena tidak taat. Perjanjian-perjanjian bisnis hilang karena ketidaktaatan. Dan banyak kesempatan baik lainnya gagal didapatkan karena ketidaktaatan. Sebab itu mulailah hidup dalam ketaatan.

  1. Ketidaktaatan membuat Prestasi, Persembahan, Kekayaan dan Kehormatan SIA-SIA

1Sam. 15:22

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

 

Saul pikir dengan mempersembahkan domba yang gemuk-gemuk, Tuhan akan senang. Oleh karena itu ia tidak tumpas domba-domba yang gemuk dan lembu-lembu yang tambun dengan alasan untuk persembahan kepada Tuhan. Ternyata Saul salah! Bagi Tuhan yang utama bukan persembahan tetapi KETAATAN. Tuhan lebih melihat hati kita daripada perbuatan, persembahan bahkan pelayanan kita. Lakukan segala bentuk persembahan dan pelayanan karena hati yang taat kepada TUHAN.

Prinsip yang sama ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus dalam Matius 7:21.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

  1. Ketidaktaatan menyebabkan Roh Tuhan mundur dari dalam diri kita

1Sam. 16:14

Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN.

Bahaya keempat dari ketidaktaatan adalah mundurnya Roh Tuhan dalam diri orang percaya. Jika dalam diri kita tidak lagi dipimpin oleh Roh Allah, maka yang memimpin hidup kita adalah roh iblis. Dapat dibayangkan apa jadinya kalau hidup kita dikendalikan oleh roh iblis. Iblis hanya menghasilkan kesengsaraan. Roh jahat memproduksi kejahatan.

PRINSIP KETAATAN

  1. Iman dibangun diatas dasar KETAATAN.

Mat. 7:24

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

Iman dibangun diatas dasar ketaatan. Saat kita melakukan firman Allah saat itulah kita sedang menumbuhkan iman. Semakin taat, semakin cepat iman kita bertumbuh. Sebaliknya ketidataatan membunuh iman.

Contoh: Abraham

Kej. 12:1

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; [apa respon Abraham terhadap firman Tuhan ini?]

Kej. 12:4

Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.

Abraham taat kepada firman. Ia melakukan tepat seperti yang Tuhan firmankan. Kemudian apa yang terjadi saat Tuhan meminta Ishak untuk dipersembahkan?

Ibrani 11:17-19

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Melihat perjalanan iman Abraham sangat mengagumkan. Pertama, Tuhan memerintahankan Abraham tinggalkan negerinya dan pergi ke tempat yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya. Abraham tidak tahu kemana tujuannya tetapi ia TAAT. Dalam ketaatannya menuju tempat yang Tuhan tujukan kepadanya, disanalah Abraham mengalami banyak pengalaman rohani bersama Tuhan yang memperkokoh imannya. Ia yakin Tuhan yang memanggilnya tidak pernah meninggalkannya. Semakin Abraham taat semakin kokoh imannya sehingga ketika Tuhan meminta Ishak untuk dikorbankan, baginya tidaklah sulit karena ia yakin Tuhan tidak pernah ingkar janji. Imannya terus bertumbuh, nyata dalam perkataannya: “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.”

Sebaliknya, ketidaktaatan adalah Ketidakpercayaan

Ibrani 3:18-19

Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Taat dan percaya adalah dua hal yang saling berkaitan. Jika kita percaya maka kita akan taat, kita taat karena kita percaya. Contoh sederhana adalah hubungan kita dengan orang tua kita. Mengapa anak-anak selalu taat perintah orang tua sekalipun kadang-kadang ia tidak mengerti apa yang diperintahkannya? Karena sang anak percaya kepada orang tuanya. Itulah sebabnya tidak perlu mengerti lebih dulu, ia selalu taat melakukannya. Anak percaya bahwa apa yang diperintahkan orang tuannya adalah baik. Sebaliknya kalau ada orang kristen tidak taat melakukan firman Tuhan, itu adalah tanda bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan. Jika ia percaya sungguh kepada Tuhan, maka ia akan melakukan kehendak Tuhan sekalipun itu sulit atau berat untuk dilakukan.

  1. Mengasihi = TAAT

Yohanes 14:23

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Yoh 15:10

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Prinsip kedua dari ketaatan adalah mengasihi sama dengan taat. Taat adalah tanda kasih. Kalau kita hubungan dengan prinsip pertama yaitu percaya dan taat maka antara kasih, percaya dan taat adalah saling berhubungan. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar

IMAN KASIH TAAT

Kasih adalah pintu masuk seseorang untuk percaya, kalau ia percaya ia akan taat. Semakin taat semakin banyak kasih yang ia terima. Jadi seberapa besar seseorang mengalami kasih Allah akan menentukan tingkat percaya dan ketaatannya kepada Tuhan.

  1. Setengah BENAR = tidak TAAT

Ketaatan tidak bisa setengah-setengah, ketaatan adalah mutlak, setengah taat sama dengan tidak taat. Mari kita perhatikan hidup Saul.

Perintah Tuhan kepada SAUL

1Samuel 15:2,3

Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.”

Yang dilakukan SAUL …….

1Samuel 15:9

Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.

Saul memang melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, tetapi tidak sepenuhnya. Ia menumpas seluruh rakyat, tetapi menyelamatkan raja Agag, ia membunuh semua binatang tetapi hanya yang buruk dan tidak berharga. Akibatnya Saul ditolak Tuhan karena ketidaktaatannya.

Penutup

Saudaraku, ketaatan menuntut totalitas dari hidup kita. Taat itu bukan setengah taat, atau sebagian taat, atau pilih-pilih, taat itu cuma satu yaitu semua, total, sepenuhnya. Inilah musuh dari ketajaman yaitu tidak taat. Saatnya mengasah kehidupan jadilah anak Tuhan yang taat. Mari kita akhiri tahun ini dengan kehidupan yang semakin tajam yaitu hidup dalam ketaatan. Tuhan Yesus memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s