Natal dan Raja yang melayani – Pdt. JS. Minandar (IBadah Raya – Minggu, 20 Desember 2015)

Matius 20:28

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

PENDAHULUAN

Kisah ini bukanlah kisah Natal, namun relevan dengan Natal yang kita rayakan. Yesus berumur 30 tahun saat itu, dan ayat ini berawal dari ibu anak-anak Zabedeus, yaitu ibu dari Yohanes dan Yakobus yang memohon agar Yesus menempatkan Yohanes dan Yakobus pada posisi terhormat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus saat Yesus memerintah sebagai Raja.

KARAKTER KERAJAAN ALLAH

Menanggapi permintaan ibu Yohanes dan Yakobus, Yesus menjelaskan bahwa karakter kerajaan Allah bertolak belakang dengan karakter kerajaan Dunia.

Pejabat Kerajaan Dunia

Pejabat kerajaan dunia menjalankan tugasnya dengan menggunakan filosof “Panjat Pinang”. Artinya demi mencapai kemenangan dan merebut hadiah-hadiah yang berada di punjak, seorang pemanjat pinang tidak segan-segan melengserkan atau menyeret orang yang berada di atas mereka. Cara demikianlah yang dipakai oleh pejabat kerajaan dunia ini, dengan menyeret atau menjatuhkan orang yang posisinya berada diatas mereka demi mencapai kedudukan tertinggi. Mereka memerintah dengan tangan besi, mereka memperbudak bawahan serta mengejar materi dan menuntut fasilitas; gaji yang besar; tunjangan. Cara-cara demikian sangat berbeda dengan cara kerja pejabat kerajaan Allah.

Pejabat Kerajaan Allah

Pejabat kerajaan Allah harus memerintah seperti Yesus, yaitu dengan tidak mencari jabatan atau kedudukan, tetapi menanggalkan kedudukanNya sebagai Allah, merendahkan diri dan turun ke dunia menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari ancaman maut atau neraka, Filipi 2:6-8.

Filipi 2:6-8:

  • Filipi 2:6, menjelaskan bahwa Yesus adalah Allah, yang berkuasa di bumi dan di sorga dan atas alam semesta. Tetapi Yesus tidak mempertahankan posisinya sebagai Allah melainkan mengambil rupa sebagai manusia.
  • Filipi 2:7, Yesus mengosongkan diri-Nya sendiri. Dalam bahasa Yunani ditulis KENOSIS. Artinya: Yesus melepaskan seluruh atribut ke AllahNya dan meninggalkan kedudukan-Nya sebagai Demi keselamatan manusia Yesus rela untuk Kenosis. Sebab jika Yesus tidak melepas ke AllahanNya, maka tidak ada seorang pun yang sanggup mendekat kepada Yesus. Contoh Keluaran 34:29-35: setelah Musa berjumpa dan bercakap-cakap 40 hari dengan Allah di atas gunung Sinai, Musapun turun dari gunung Sinai serta berkumpul kembali dengan Harun dan bangsa Israel. Tetapi mereka tidak dapat melihat wajah Musa sebab kemuliaan Allah melekat pada kulit wajah Musa. Oleh sebab itu, Musa harus menutup wajahnya. Dapat dibayangkan jika Yesus datang dengan kemuliaanNya maka semua manusia pasti mati melihat kemuliaanNya. Sebab tidak ada yang dapat tahan melihat kemuliaan Allah.
  • Filipi 2:8, Dalam keadaan manusia, Yesus mengambil posisi sebagai seorang hamba. Kata hamba, dalam bahasa Yunani, ditulis DOULOS yaitu seorang yang berstatus sebagai seorang “budak belian”. Mereka lebih rendah dari seorang pembantu. Mereka tidak memiliki hak untuk menolak perintah sang tuan. Sebab itu bagi Yesus, tidak ada kata “tidak mau” atau “tidak bisa” terhadap perintah Bapa. Saat Bapa perintahkan Yesus untuk turun ke dunia dan menjadi manusia, Yesus taat dan tunduk kepada perintah Bapa. Begitu juga saat IA di Getsemani, Yesus sempat ungkapkan keinginan-Nya untuk luput dari salib karena Yesus melihat begitu dahsyatnya penderitaan karena Dosa yang harus IA tanggung. Tetapi Yesus tidak akan pernah mampu berkata tidak dalam melakukan perintah Bapa bagi keselamatan umat manusia. Yesus hanya bisa berkata “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak Bapa.”

Teladan inilah yang seharusnya kita ikuti sebagai pejabat kerajaan Allah yang akan memerintah bersama Yesus. Dengan kenosis dan mengambil sikap hamba (doulos) dalam setiap segi pelayanan kita di muka bumi.

Pada umumnya manusia memiliki gengsi, harga diri, ingin dipuji, dihormati dan ingin jadi yang utama. Semua itu Yesus lepaskan dan dengan rendah hati Yesus menawarkan diri untuk mengambil kutuk dosa yang seharusnya ditanggung manusia. Yesus membawa kutuk itu ke Calvary, serta menimpakan kutuk itu pada diri-Nya sehingga setiap orang yang percaya kepadanya bebas dari kutuk. Sehingga kita dapat hidup bebas dari kutuk dosa dan menerima kehidupan kekal.

Inilah makna Natal yang sesungguhnya “Calvary” dengan berkat yang kita terima, kita dapat hidup dalam kekekalan bersama Yesus. Kolose 2:14 “Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” Ayat ini menjelaskan bahwa dosa atau pelanggaran manusia seperti surat hutang yang dicatat dalam selembar kertas. Setiap kali seseorang melakukan dosa, maka dosa itu akan menjadi hutang yang tercatat. Bila tidak terlunasi maka harus menanggung hukuman yaitu neraka kekal. Hutang-hutang tersebut tidak dapat dibayar dengan kebaikkan yang kita kerjakan, karena manusia sudah berdosa. Jadi apapun yang manusia lakukan akan memproduksi dosa. Hanya Yesus, Raja di atas segala raja, sudah melunasi hutang dosa dengan memakukannya di atas kayu salib tanda pelunasan hutang. Hanya Yesus yang tidak pernah berbuah dosa karena IA adalah Allah yang kudus.

Pelayanan Yesus pun tercermin dalam sikap hidupNya sehari-hari. Contoh: Yohanes 13:4-10, hari-hari terakhir, saat Yesus bersama murid-muridNya. Yesus membasuh kaki murid-murid :

  • Yohanes 13:4a “Lalu bangunlah Yesus dan menangalkan/melepas jubah-Nya

Cara duduk orang Israel zaman dahulu seperti orang yang setengah berbaring. Oleh sebab itu, dicatat bahwa Yesus bangun dari kenyamananNya dan melepas jubahNya. Hal ini merupakan gambaran bahwa Allah dari sorga, melihat manusia sedang diseret oleh maut menuju kebinasaan. Maka Yesus tidak mempertahankan posisi-Nya sebagai Allah, sebaliknya Yesus melepas jubah ke AllahanNya dan menjelma menjadi manusia seperti kita, jika tidak maka semua manusia akan mati.

  • Yohanes 13:4bIa mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya”.  Mengikat kain pada pinggang merupakan pekerjaan seorang pelayan atau Posisi itulah yang Yesus ambil saat Yesus menjadi manusia. Demi melakukan pekerjaan penyelamatan bagi umat manusia. Yesus tidak menempatkan diri-Nya pada posisi yang mulia dan istimewa. Melainkan Yesus ambil sikap sebagai hamba yang melayani.

  • Yohanes 13:5Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi dan membasuh kaki murid-murid.” Yesus memposisikan diri sebagai hamba dan membasuh kaki murid-muridNya. Inilah puncak pelayanan Yesus, Ia rela mati di kayu salib. Sehingga kita yang dulunya najis oleh karena dosa dan kejahatan, dibasuh oleh darah Kita menjadi orang-orang yang kudus dan berkenan di hadapan Allah.

  • Yohanes 13:6-8 Petrus berusaha untuk menolak pelayanan Yesus yang hendak membasuh

Pada saat Yesus akan membasuh kaki para Murid, Petrus menolaknya sebab ia merasa risih. Bagi Petrus, Yesus adalah Tuhan, Raja dan Guru Agung yang mulia. Yesus tidak layak untuk membasuh kakinya. Tetapi Yesus tetap berlutut di bawah Petrus serta mencuci kaki Petrus kemudian melap kaki Petrus dengan kain yang terikat di pinggangnya. Yesus menjelaskan kepada Petrus bahwa orang yang menolak untuk dibasuh oleh Yesus, orang tersebut tidak akan menerima warisan dengan Yesus di sorga. Hal tersebut memberi pengertian kepada kita, bahwa seseorang yang sudah mendengar injil tetapi tidak merespon bahkan menolaknya, tidak akan masuk dalam kerajaan Surga untuk menerima warisan bersama Yesus.

  • Yohanes 13:12 “Sesudah membasuh, Yesus mengenakan pakaian dan kembali ke tempatNya Hal tersebut memberi pengertian bahwa, setelah Yesus basuh dosa dan kejahatan umat manusia dengan darahNya di atas kayu salib. Yesus buktikan Dia adalah Allah, Yesus bangkit dari kematian dan Yesus naik ke sorga, duduk di takhta-Nya semula. Sebab Yesus – Raja atas segala raja; Tuhan atas segala tuan. Seperti Yesus mengenakkan kembali pakaiannya serta kembali ke

APA YANG KITA LAKUKAN?

Bagi kita yang sudah dibasuh dan memiliki waris bersama Yesus di dalam sorga, yang harus kita lakukan menurut Yohanes 13:14 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;”

Beberapa pengertian tentang saling membasuh kaki:

  1. Saling merendahkan diri
  2. Jangan ada yang menyombongkan diri
  3. Saling melayani dan terlibat dalam pelayanan. Jika Yesus mau melayani kita, kita juga harus melayani yang lain.

Jadi setiap orang percaya yang sudah dibasuh oleh darah Yesus, Dia sadar bahwa dirinya bukan tuan; penguasa dan bukan penonton di gereja. Melainkan Imamat Rajani yaitu para pelayan Tuhan.

ORANG YANG TERLIBAT PERISTIWA NATAL

Perhatikan tokoh-tokoh Natal, semua ambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan:

a. Lukas 1:38, Maria beri hidupnya dan masa depannya bagi Yesus.

b. Matius 1:24 Yusuf melepas egonya dan memberikan hidupnya untuk mendampingi Maria.

c. Lukas 2:20, Para gembala melayani Yesus dengan pujian dan penyembahan.

d. Matius 2:11, Para majus melayani Yesus dengan memberi harta yang mereka miliki, yaitu emas, kemenyan dan mur.

e. Lukas 2:25-32, Simeon (lansia), melayani Tuhan secara total.

  • Ayat 25, Simeon melayani Tuhan dengan cara hidup benar dan saleh. Dan Simeon melayani Tuhan dalam kesetiaan menantikan Yesus.
  • Ayat 27, Simeon melayani Tuhan dalam pimpinan Roh Kudus.
  • Ayat 28, Simeon menyambut Yesus, mendukung pekerjaan Tuhan sesuai dengan potensi dan kekayaan yang dimiliki.

f. Lukas 2:36-38, Hana, seorang nabiah berusia 84 tahun, memilih untuk tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal dan memberi hidupnya untuk Tuhan. Spesifikasi pelayanan Hana adalah doa dan puasa.

Yesus adalah seorang raja yang bukan hanya duduk di tahta serta membiarkan manusia binasa. Melainkan IA adalah Raja yang melayani umatnya, maka hendaklah kitapun saling melayani satu dengan yang lainnya. Natal adalah karya penyelamatan Allah bagi manusia, terimalah sang Natal itu. Nikmati indahNya pembebasan surat hutang yang sudah Yesus kerjakan dan kiranya sukacita Natal menjadi bagian kita. Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s