KORELASI KETAJAMAN HIDUP &PENGINJILAN by Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3-Minggu, 17 Jan 2016)

Pendahuluan

Gembala kita sudah mencanangkan bahwa fokus gereja kita pada tahun 2106 adalah: PENGINJILAN. Target yang ingin kita capai yaitu: 1 orang jemaat memenangkan 1 jiwa bagi Kristus. Ini dikerjakan bukan supaya gereja kita tambah besar karena jemaatnya bertambah, tetapi atas kesadaran bahwa waktunya makin singkat. Tidak lama lagi Tuhan Yesus akan datang kembali menjemput gerejaNya. Ini berarti bagi mereka yang tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya akan mengalami kematian kekal dalam api nereka. Untuk itulah penginjilan menjadi pekerjaan yang sangat mendesak bagi anak-anak Tuhan.

Korelasi Ketajaman Hidup dan Penginjilan?

Penginjilan dan ketajaman hidup adalah dua hal yang saling berhubungan. Dibutuhkan ketajaman hidup untuk seseorang melakukan penginjilan. Perlu kepekaan rohani untuk melihat kebutuhan jiwa-jiwa yang terhilang. Tanpa ketajaman kita hanya memperhatikan kebutuhan kita sendiri, tak peduli orang lain binasa. Mari kita perhatikan hubungan ketajaman hidup dan penginjilan.

  1. MATA / Penglihatan

Penginjilan dimulai dari mata yang tajam, yang mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 4:35: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”

Mungkin pada saat itu para murid sedang membicarakan tentang tuaian yang akan datang. Secara natural, petani Israel akan menuai 4 bulan kemudian sejak benih ditaburkan. Tuhan Yesus menggunakan fakta fisikal tentang tuaian untuk mengajar suatu pelajaran rohani bahwa ladang-ladang telah menguning siap untuk dituai. Ia sedang menjelaskan kepada para murid bahwa pekerjaan besar untuk mengumpulkan hasil panen terhampar di depan mereka, dan mereka harus mengerjakannya segera.

Yohanes 4:35 “… Lihatlah sekelilingmu …”

Ladang misi adalah sekeliling kita yaitu tempat dimana kita berada. Itu bisa berarti: di rumah, di tempat kerja, di sekolah atau lingkungan dimana kita berada. Melakukan penginjilan ke tempat yang jauh seperti ke pedalaman Papua, suku-suku terasing atau bahkan ke luar negeri tidaklah salah. Tetapi apakah kita sadar bahwa sesungguhnya Tuhan sudah menempatkan kita di ladang misi yaitu lingkungan kita. Pernahkan kita merenungkan, mengapa Tuhan menempatkan kita dalam lokasi tertentu dan bertemu dengan orang-orang khusus? Disana ada saudara kita, karyawan kita, relasi bisnis dll. Apakah tujuan Tuhan hanya menghubungkan kita dengan mereka hanya berurusan hal-hal jasmani atau ada rencana Tuhan yang lain yaitu menyelamatkan mereka? Saya yakin selain tujuan yang pertama, tujuan terakhir menjadi priortas Allah. Lakukanlah sekarang!

Berikutnya mari kita perhatikan kelanjutan perkataan Tuhan Yesus.

Yohanes 4:35

…. pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Ayat ini memberikan pengertian kepada kita yaitu:

A.Penuaian dimulai dari buah yang sudah menguning/masak

Injil diberitakan kepada orang-orang yang paling siap terima Injil. Yaitu mereka yang hatinya seperti tanah yang subur yang siap ditaburi benih. Hal ini dapat kita lihat melalui kerinduan atau minat mereka akan hal-hal rohani.

2 Korintus 4 : 3,4

Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

 

B. Inilah tahun kemurahan Tuhan (perkenanan) untuk menerima keselamatan.

Inilah masa penuaian. Panen raya telah tiba. Akan datang masa dan waktunya dimana kita tidak dapat lagi mencari keselamatan karena pintu kemurahan Tuhan sudah ditutup. Sebab itu marilah kita berlomba untuk memenangkan jiwa bagi Kristus, selagi Tuhan masih berkenan menyelamatkan jiwa-jiwa.

2Korintus 6:2

Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

 

C. Penginjilan harus dilakukan sekarang bukan nanti.

Murid-murid berkata: enam bulan lagi baru tiba masa panen, tetapi Tuhan Yesus berkata: sekaranglah waktunya. Jadi penginjilan harus dilakukan sekarang bukan nanti. Penginjilan adalah pekerjaan yang mendesak untuk dilaksanakan. Mengapa?

  • Kesempatan tidak datang dua kali.

Jangan buang kesempatan! Siapa tahu ini adalah waktu terakhir untuk berjumpa dengan mereka. Dalam Kisah Rasul 16 : 9,10, Rasul Paulus tahu persis cara memanfaatkan kesempatan yang Tuhan sedang bukakan baginya. Setelah menerima penglihatan itu, ia segera pergi ke Makedonia untuk memberitakan Injil.

  • Umur manusia terbatas

Penginjilan menjadi pekerjaan yang mendesak karena tidak seorangpun yang tahu batas umurnya. Sewaktu-waktu kita bisa meninggal dengan berbagai alasan. Rasul Yakobus berkata: Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.(Yak 4:14)

2.TELINGA yg mendengar jeritan jiwa-jiwa

Penginjilan tidak hanya membutuhkan mata yang mampu melihat kesempatan yang Tuhan bukakan bagi kita, penginjilan juga membutuhkan ketajaman telinga yaitu telinga yang mampu mendengar jeritan jiwa-jiwa. Untuk memahami hal ini marilah kita lihat – kisah Hagar dan Ismael dalam Kej 21 : 15-19.

Setelah diusir dari rumah Abraham, Hagar dan Ismail berjalan menyusuri padang gurun dengan berbekal roti dan sekirbat air. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

Inilah kondisi orang-orang yang belum bertemu dengan Yesus, mereka kehausan, sekarat, dan hampir mati. Hal ini dipertegas oleh Tuhan Yesus dalam sebuah gambaran yang dicatat dalam Lukas 16:23,24. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Jeritan kehausan orang-orang yang belum mengenal Yesus bukan saja dialami pada saat mereka di dunia ini, tetapi berlanjut sampai kepada kekekalan, jika mereka tidak menemukan air kehidupan selama hidupnya. Tidakkah Saudara mendengar jeritan mereka? Mereka perlu Yesus sebagai air kehidupan. (Yoh 4: 13-14)

Jangan tutup telinga Anda akan jeritan mereka, agar Tuhan juga tidak menutup telingaNya atas jeritan kita.

Amsal 21:13

Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

  1. MULUT yang memberitakan kabar baik.

Injil harus diberitakan agar manusia selamat. Untuk itulah diperlukan mulut yang tajam agar berita Injil yang disampaikan jelas dan benar. Tanpa pemberitaan tidak seorang pun mendengar Injil, dan jika mereka tidak mendengar Injil maka mereka tidak selamat.

Rom 10:14

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Jadilah seperti Andreas yang memberitakan kabar baik kepada Petrus saudaranya (Yoh 1:35-42). Atau jadilah seperti Wanita Samaria yang memberitakan Injil kepada seluruh penduduk Samaria(Yoh 4:39). Sudahkah kita memberitakan kabar baik? Mulai dari keluarga/saudara kita barulah kepada orang lain bahkan sampai ke ujung bumi.

Memberitakan Injil adalah Keharusan

1Korintus 9:16

Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.

  1. TANGAN

Ketajaman mata, telinga dan mulut kita tidak akan membuahkan apapun jika tidak memiliki ketajaman tangan. Ketajaman tangan merupakan tindakan yang kita lakukan dalam penginjilan. Ada dua ketajaman tangan yang penting saat melakukan penjangkauan jiwa yaitu:

a. Tangan yang TERBUKA (Penerimaan)

Tangan yang terbuka berbicara penerimaan kita kepada semua orang tanpa membedakan latar belakangnya. Inilah kunci sukses dalam memberitakan Injil. Tuhan Yesus menerima semua orang yang datang kepadaNya. Mulai dari anak-anak sampai kepada orang tua, dari orang biasa, nelayan sampai kepada para imam. Semuanya diterima dengan tangan terbuka oleh Tuhan Yesus. Bukan saja diterima, Tuhan Yesus bahkan dikenal sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 11:19)

Di dalam Yesus kita semua adalah satu yaitu satu keluarga kerajaan Allah.

Galatia 3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Gal 3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

b. Tangan yang BEKERJA (MELAYANI)

Lukas 10:2

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Tuhan membutuhkan tangan-tangan yang siap menjadi penuai jiwa-jiwa. Bersediakah Saudara menanggapi panggilanNya? Dengar jeritan hatiNya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit…” Saya berdoa, salah satu dari para penuai adalah nama Anda. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s