APAKAH YANG KAMU CARI? by Pdt. Joseph Priyono (Ibadah raya 2 – Minggu, 29 mei 2016)

Yohanes 1:35-39

 

Yohanes 1:38

Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya:”Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?”

Pendahuluan

Sebelum Tuhan Yesus melayani, Yohanes Pembaptis telah lebih dahulu melayani sebagai pembuka jalan bagi pelayanan Kristus. Kemudian saat Tuhan Yesus hadir, Yohanes menunjukannya kepada murid-muridnya: “Lihatlah Anak domba Allah!” Melihat kehadiran Tuhan Yesus, seketika itu juga murid-murid Yohanes mengikuti Yesus. Mengetahui ada yang mengikutiNya, Tuhan Yesus menoleh ke belakang dan berkata: “Apakah yang kamu cari?”  Mengapa Tuhan Yesus bertanya apa yang kamu cari? Sebagai Tuhan, tidakkah Ia tahu bahwa ada orang yang mengikutinya?

Tuhan Yesus tentu tahu segala sesuatu sebab Ia adalah Tuhan yang maha tahu, namun jika Ia bertanya kepada dua orang murid Yohanes yang mengikutinya itu karena ada maksud dan tujuan yang Tuhan Yesus ingin dapatkan dari mereka.

Untuk memahami pertanyaaan Tuhan Yesus kepada dua orang murid Yohanes: “apa yang kamu cari?” Marilah kita melihat sistim sekolah kerabian Yahudi. Sekolah kerabian Yahudi berbeda dengan sekolah modern saat ini. Sekolah kerabian Yahudi memiliki ciri yang khas antara lain:

a. Murid bebas untuk memilih siapa gurunya demikian juga sebaliknya.

Biasanya bocah-bocah Yahudi sudah dididik Taurat dan kitab nabi-nabi sebelum mereka berusia 13 tahun. Rata-rata bocah-bocah Yahudi sudah menguasai separo lebih kitab Taurat dan kitab para nabi saat mereka berusia 13 th. Setelah berusia 13 th, mereka akan meninggalkan rumah untuk belajar kepada seorang rabi/guru Yahudi. Rabi-rabi biasanya akan memilih murid-murid yang paling cerdas untuk menjadi muridnya. Bagi mereka yang tidak terpilih, akan mencari guru yang lain.

b. Murid akan mengingat semua perkataan gurunya.

Tanggung jawab seorang murid adalah mengingat semua perkataan gurunya. Kegagalan mengingat perkataan guru adalah sebuah petaka karena menunjukan dia adalah murid yang tidak berprestasi.

c. Murid akan mempelajari bagaimana gurunya melayani.

Inilah yang membedakan pendidikan sekolah kerabian Yahudi dengan sekolah modern. Sekolah modern memindahkan ilmu dan pengetahuan, tetapi sekolah kerabian memindahkan kehidupan. Murid-murid belajar dari kehidupan sang rabi, khususnya cara mereka melayani.

d. Murid mencontoh hidup gurunya.

Sistim pendidikan kerabian Yahudi adalah keteladanan. Pelajaran tidak hanya disampaikan di kelas dalam bentuk pengajaran tetapi lebih banyak praktek dan memberikan contoh yang riil. Hal ini nampak jelas dalam pendidikan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bersama dengan murid-muridNya. Ia mengajar dengan memberikan teladan hidup. Dalam Yohanes 13, Tuhan Yesus mengajar kehambaan dan kerendahan hati dengan cara praktek langsung membasuh kaki murid-muridNya.

e. Murid dituntut mencari murid-muridnya sendiri

Biasanya murid-murid yang telah lulus akan membuka sekolah sendiri dengan cara mencari murid-murid baru yang akan dimuridkan kembali. Demikianlah berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi pendidikan yang dijalankan oleh orang-orang Yahudi.

Melihat betapa ketatnya sistim pendidikan Yahudi, itulah sebabnya Tuhan Yesus tidak segera menanggapi kehadiran dua orang murid Yohanes, sebaliknya Ia menoleh ke belakang dan bertanya:  Apakah yang kamu cari? Dari pertanyaan Tuhan Yesus ini kita dapat menarik beberapa pelajaran rohani yaitu:

  1. MOTIVASI

Sebelum menerima dua orang murid Yohanes menjadi muridNya, Tuhan Yesus ingin mengetahui motivasi mereka yang sesungguhnya. Apakah mereka benar-benar ingin menjadi murid Yesus atau hanya sekedar ikut-ikutan saja? Mengapa mereka rela meninggalkan Yohanes sebagai gurunya dan pergi mengikuti Tuhan Yesus?

Jika Tuhan Yesus ingin mengetahui motivasi dua orang murid Yohanes yang mengikutiNya, Tuhan tentu ingin melihat motivasi pengiringan kita kepadaNya. Apakah motivasi kita mengiring Dia? Sadarilah Tuhan melihat hati dan motivasi kita.

1 Tawarikh 28:9

Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.

1Samuel 16:7

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Ada banyak motivasi pengiringan seseorang kepada Tuhan. Alkitab memberikan beberapa contoh motivasi yang salah dalam mengiring Tuhan.

a). Mengikut Yesus karena roti

Yohanes 6:26

Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Kelihatannya orang banyak ini mengikut Yesus, tetapi motivasinya salah. Sebab mereka mengikut Yesus bukan karena ingin menjadi muridNya, tetapi karena mereka telah kenyang makan roti. Motivasi mereka adalah perut. Hal ini terbukti ketika Tuhan Yesus berbicara tentang roti yang turun dari sorga yaitu diriNya sendiri satu persatu mereka meninggalkanNya.

Yohanes 6:66

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Adakah di antara kita yang mengikut Tuhan karena roti? Kita mengiring Tuhan karena hal-hal yang bersifat jasmaniah. Datang kepada Tuhan karena ada kebutuhan-kebutuhan jasamani. Ini adalah motivasi yang salah dan sangat rapuh. Sebab jika Tuhan tidak menolong dan memenuhi kebutuhan kita, kita gampang kecewa akhirnya meninggalkan Tuhan. Atau jika Tuhan sudah menolong kita, kita juga akan tinggalkan Tuhan karena merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

b). Agar dilihat manusia

Matius 23:5 

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;… (Matius 6:1)

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat melakukan semua pelayanan dengan motivasi yang salah yaitu untuk dilihat manusia. Pelayanan dijadikan show, ajang untuk pamer dan panggung pertunjukan agar orang lain melihatnya dan memuji-muji mereka. Orang yang demikian tidak mendapat upah kerajaan Allah sebab mereka telah mendapat upah dari manusia.

Mari kita lakukan semua bentuk pengiringan dan pelayanan kita kepada Tuhan bukan sebagai pertunjukan melainkan demi kemuliaan Tuhan. Dilihat tidak dilihat manusia kerjakanlah dengan segenap hati dan segenap kekuatan kita karena Tuhan yang tidak terlihat pasti akan memberi upah.

Motivasi yang benar

a). Melakukan segala sesuatu karena kasih

1Korintus 16 : 14 

Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!

 

Inilah motivasi yang benar yaitu KASIH! Segala yang ada dalam dunia ini dapat berubah, tetapi kasih itu kekal. Kasih adalah landasan yang kokoh untuk kita mengiring Tuhan dan melayani sesama. Kasih akan memampukan kita mengatasi segala rintangan dan bertahan dalam penderitaan. Rasul Paulus dalam 1Korintus 13:1-3, menyebutkan bahwa tanpa kasih semua yang kita lakukan adalah sia-sia. Itulah sebabnya Tuhan menegur jemaat Efesus karena kehilangan kasih yang semula. (Wahyu 2 : 2-4)

Tuhan tidak tertarik dengan kehebatan dan kebesaran pelayanan seseorang yang tanpa kasih, Tuhan lebih tertarik kepada orang-orang biasa yang melakukan pelayanan yang biasa tetapi dengan kasih yang besar. Lakukanlah semua pelayanan, pekerjaan dan penyembahan dengan kasih.

Ada contoh yang baik yang ditulis dalam Lukas 7:36-50

Dikisahkan ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Melihat apa yang dilakukan oleh wanita ini, Tuhan Yesus berkata : Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Rupanya wanita ini berbuat banyak kasih, karena ia telah menerima banyak kasih dari Tuhan. Dosanya yang banyak telah diampuni. Mengapa kita gagal mengasihi? Karena kita gagal mengalami kasih. Semakin banyak kita mengalami kasih Tuhan akan semakin banyak pula kita akan mengasihi Tuhan. Orang yang sedikit menerima kasih, sedikit pula menyalurkan kasih. Jika kita gagal menyalurkan kasih Tuhan, jangan-jangan kita sudah gagal untuk menikmati dan merasakan kasih Allah.

 b. Melakukan segala sesuatu demi kemuliaan TUHAN

Inilah motivasi yang benar. Apapun yang kita kerjakan harus digerakan dan didorong untuk kemuliaan nama Tuhan. Kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki adalah datangnya dari Tuhan, semua berkat, talenta keahlian bahkan harta kekayaan yang kita miliki adalah pemberian dan anugerah Tuhan, sebab itu semua harus digunakan untuk kemuliaan Tuhan, bukan yang lain.

1 Korintus 10:31 

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

c). Melakukan segala sesuatu dengan hati nurani yang murni

Motivasi selalu berhubungan dengan hati nurani. Hati nurani yang murni melahirkan motivasi yang benar. Sebaliknya kalau hati kita tidak murni, motivasinya juga menjadi tidak murni. Lakukanlah segala sesuatu “apa adanya” bukan “ada apanya”. Jangan cari keuntungan pribadi dibalik pelayanan yang kita lakukan kepada Tuhan.

 

2 Korintus 2:17 

Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.

  1. KOMITMEN

Selain Tuhan Yesus ingin mengetahui motivasi pengiringan kedua murid Yohanes yang mengikutiNya, Tuhan Yesus juga ingin mengetahui “komitmen” mereka. Itulah sebabnya Tuhan Yesus bertanya: apa yang kamu cari? Dengan kata lain Tuhan bertanya demikian: apakah benar kalian memiliki komitmen untuk menjadi muridKu? Mengikut Tuhan Yesus butuh komitmen bukan sekedar ikut-ikutan. Seorang murid rabi Yahudi dibutuhkan komitmen karena mereka akan meninggalkan keluarga, rumah dan orang tua, lalu tinggal bersama gurunya. Mereka tidak lagi memiliki kebebasan dan hidup menurut aturan yang ditetapkan gurunya. Tanpa komitmen yang kuat seseorang bisa gagal menjadi murid.

 

APAKAH ARTI KOMITMEN?

a. Tekad atau Ketetapan Hati

Komitmen bukan sekedar pengakuan kosong yang keluar dari mulut seseorang. Komitmen adalah sebuah tekad atau ketetapan hati. Komitmen adalah pernyataan yang lahir dari hati seseorang yang dibuktikan dalam tindakan berapapun harganya. Orang yang berkomitmen, rela mati demi komitmen yang telah dibutnya.

Daniel 1:8 

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Daniel berketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya. Inilah komitmen, apapun resiko yang akan diterimanya. Demikian juga Sadrakh, Mesakh dan Abednego berkomitmen hanya menyembah Allah Israel, sekalipun harus masuk dapur api yang menyala.

Menjadi murid Tuhan bukan sekedar menjadi orang Kristen, rajin ke gereja atau rajin berdoa tetapi harus memiliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran. Tuhan mencari anak-anakNya yang memiliki komitmen untuk tetap mengasihiNya apapun yang terjadi.

b. Memandang ke depan

Filipi 3:13 

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

 

Komitmen artinya memandang ke depan. Orang yang memiliki komitmen tidak melihat masa kini tetapi masa depan, tidak melihat yang sementara tetapi yang kekal. Tidak sedikit kita lihat para penginjil rela menjadi martir bagi Kristus sebab pandangannya tidak ditujukan kepada dunia ini tetapi kepada kerajaan Allah yang abadi. Seorang yang berkomitmen fokusnya adalah garis akhir.

Mari kita lihat contoh komitmen yang ditunjukan oleh seorang perserta lomba marathon internasional 1986 di New York yaitu Bob Willen. Bob Willen adalah seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya  karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan. Saat lomba dimulai, ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Lima km pertama telah berlalu, beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu, beberapa mulai  kelelahan dan memutuskan untuk berhenti dari lomba.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya.

Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob!  Ayo Bob ! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.

Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-lahan bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah  gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”

Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata “Saya bukan orang hebat. Anda tahu, saya tidak punya kaki lagi. Saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Saya hanya mencapai apa yang telah saya inginkan. Kebahagiaan yang saya dapatkan adalah dari proses untuk mendapatkannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastis. Tangan saya sudah hancur berdarah-darah, tapi rasa sakit di batin saya terjadi bukan karena luka itu melainkan ketika saya memalingkan wajah saya ke garis finish. Jadi, saya kembali fokus menatap goal saya. Saya rasa, tidak ada orang yang gagal dalam berlari marathon ini. Tidak masalah Anda mencapainya berapa lama, asal Anda terus berlari. Anda disebut gagal bila Anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum mencapai tujuan Anda.

Hal yang sama juga ditunjukan oleh Musa. Pandangannya ditujukan kepada upah kekal, sekalipun harus menderita bersama dengan umat Allah.

Ibrani 11:24-26 

Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.

c. Setia sampai Akhir

Matius 24:13 

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Komitmen artinya setia sampai akhir. Orang yang berkomitmen tidak berhenti di tengah jalan, walaupun banyak halangan yang merintangi langkahnya. Mereka akan terus bergerak maju sampai akhir hidupnya. Bagaimana dengan anda?

Tuhan Yesus telah menunjukkan komitmenNya sampai akhir hidupnya. Jalan salib tidak menghentikan langkahNya untuk menyelesaikan tugas Bapa yaitu menebus dosa isi dunia.

Yohanes 4:34 

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Penutup

Apakah yang kamu cari? Apakah benar kita anak-anak Tuhan yang sejati? Apakah kita memiliki motivasi yang benar dan memiliki komitmen yang kuat untuk mengikut Yesus? Marilah kita teguhkan kembali pengakuan iman kita kepada Yesus bahwa “SEKALI YESUS TETAP YESUS.” Berkomitmenlah apapun yang terjadi.

Mazmur 73:26

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap,

gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

Tuhan memberkati. KJP!!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s