PERILAKU ORANG YANG HIDUP TANPA KASIH – Oleh: Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 4 September 2016)

PENDAHULUAN

Dari kitab Yunus kita sudah memperlajari tentang pelayanan tanpa kasih dan melayani dengan kasih. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus, yang memiliki kepastian akan diselamatkan, kita harus mengekspresikan/menunjukkan kasih Yesus setiap hari. Dalam segala sendi kehidupan, apapun yang kita lakukan, baik kepada Tuhan maupun sesama harus dilandasi dengan kasih. Termasuk dalam hal beribadah kepada Tuhan, harus dilakukan dengan kasih. Baik saat memuji Tuhan, harus memuji dengan kasih bukan kebiasaan, demikian juga dalam mendengarkan firman Tuhan bahkan dalam memberi persembahanpun harus dilakukan dengan kasih.

Mari kita perhatikan nasehat firman Allah dalam Efesus 4:2-5.

Ayat 2

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

Siapapun kita, apapun jabatan dan kedudukan kita, hendaklah kita tetap rendah hati dan menunjukan kasih dalam hal saling membantu. Tuhan Yesus berkata: “orang miskin akan selalu ada padamu”. Artinya bahwa dari generasi ke genarasi kita akan selalu mendapati orang miskin dengan maksud agar kita dapat mengekspresikan kasih kepada mereka.

Ayat 3-6

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

Kasih ditunjukan dalam usaha membangun/memelihara kesatuan Roh didalam Kristus. Dalam persekutuan tidak dapat dihindari terjadinya kesalahan-pahaman, perselisihan bahkan pertengkaran, namun orang yang hidup dalam kasih tidak akan mengijinkan semuanya itu menimbulkan perpecahan. Sebagai anak-anak Allah yang hidup dalam kasih Kristus, marilah kita sepakat untuk menjaga kesatuan tubuh Kristus, khususnya keluarga besar GPdI Mahanaim.

Ayat 4-6

satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Sebagai tubuh Kristus kita sadar bahwa kita masih jauh dari sasaran ini, tetapi teruslah maju sampai kesempurnaan datang.

Perhatikan gambar berikut ini:

pembaharuan-budi

Hanya dengan korban Yesus kita diselamatkan (Efesus 2:8,9), tetapi dengan pembaharuan budi kita menuju gereja yang sempurna. Sasaran kekeristenan adalah menjadi sama seperti Yesus. Oleh karena itu, kita harus meningkat dari iman kepada:

  • Penguasaan diri

Jadilah anak Tuhan yang memiliki penguasaan diri. Dengan kata lain tidak bersumbu pendek. Tidak gampang emosi sebaliknya dapat mengendalikan diri.

  • Kelemahlembutan

Ekspresikan kasih dalam tindakan yang lemah lembut.

  • Kesetiaan

Jadilah anak Tuhan yang setia/loyal kepada Tuhan dan gereja. Setialah beribadah, setia juga dengan pasangan.

  • Kebaikan

Kebaikan adalah ciri dari anak-anak Tuhan. Kebaikan setiap anak Tuhan seharusnya dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

  • Kemurahan

Tunjukanlah kasih melalui kemurahan. Jadilah anak Tuhan yang murah hatinya seperti Bapa kita di sorga yang murah hati.

  • Kesabaran

Orang yang sabar dapat menguasai dirinya. Ia tidak mudah marah sekalipun dalam tekanan yang berat ataupun dalam situasi yang sulit.

  • Damai sejahtera

Setiap anak Tuhan harus membawa damai sejahtera dimana ada permusuhan dan pertikaian. Anak Tuhan tidak boleh membawa perpecahan tetapi kesatuan dan damai sejahtera.

  • Sukacita

Apapun keadaannya kita kita tetap bersukacita. Susah senang, sehat sakit selalu bersukacita.

  • Kasih

Inilah puncak perjalanan iman Kristen yaitu kasih. Kita harus bertumbuh hingga seperti Yesus yaitu kasih.

HIDUP TANPA KASIH

Jika puncak kekristenan adalah kasih, Yunus justru menampilkan gambaran yang berbeda. Yunus adalah gambaran seorang pengikut Yesus (orang Kristen) yang hidupnya tidak alami pembaharuan budi. Yunus tidak hidup dalam kasih Allah, tetapi ia hidup sebagai orang yang:

  1. Tidak Memiliki Penguasaan Diri

Yunus 4:4 Tetapi firman Tuhan: “Layakkah engkau marah?”

Yunus belum mencapai tingkat kekristenan rohani seperti yang Yesus inginkan, yaitu kasih. Hal itu terekspresi dari perilaku Yunus yang mudah marah. Mengapa Yunus mudah marah? Karena Yunus tidak memiliki: “Penguasaan Diri”

I Korintus 13:5

“Ia (kasih) tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Inilah yang Yesus kehendaki yaitu menjadi anak Tuhan yang tidak mudah marah tetapi memiliki penguasaan diri.

Berbeda dengan Yunus, ia cepat marah, bahkan karena kemarahannya kepada Tuhan yang menyelamatkan Niniwe, ia lebih baik mati.

Yunus 4:3

“Jadi sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

Karena Allah tidak hukum orang Niniwe, tapi mengampuni.

 

Catatan:

Tidak marah bukan berarti orang Kristen tidak boleh marah, sebab marah itu jahat, belum mencapai level rohani yang Yesus inginkan. Sama sekali tidak…! Ada istilah, yang disebut “Kemarahan Kudus!”

contohnya:

  • Yohanes 2:13-25

Yesus marah kepada imam dan orang Yahudi, bukan karena emosi, tapi karena kasih. Sebab orang Yahudi telah memanipulasi ibadah untuk mencari keuntungan. Sesuai dengan aturan Taurat, orang Israel harus datang beribadah kepada Tuhan dengan membawa persembahan, baik burung merpati/tekukur, domba maupun lembu/sapi. Semua persembahan yang dibawa oleh orang Israel harus kudus dan tidak bercatat cela. Untuk memastikan bahwa persembahan yang dibawa tidak ada cacatnya maka imam harus memeriksanya terlebih dahulu. Disinilah terjadinya manipulasi. Imam dengan mudah menentukan binatang korban ada cacatnya sehingga tidak layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dengan demikian orang yang akan mempersembahkan korban harus mengganti binatang korbannya dengan cara membeli binatang yang telah disediakan oleh imam-imam dan orang Yahudi di sekitar bait Allah dengan harga yang sangat mahal. Ujung-ujungnya para Imam dan orang Yahudi yang berjualan mendapat keuntungan yang banyak.

Demikian juga dengan uang persembahan. Persembahan di bait Allah menggunakan uang Syikal, sementara uang yang beredar di masyarakat adalah uang Dinar sebagai mata uang pemerintahan Roma yang menjajah pada saat itu. Agar dapat memberi persembahan, umat harus menukar uang Dinar menjadi Syikal dengan kurs yang sangat tinggi. Dengan demikian sang penukar uang meraup keuntungan yang besar sekali. Dalam kondisi seperti inilah Tuhan Yesus marah dan menjungkirbalikan meja-meja penukar uang dan semua barang jualan.

Galatia 3:1

Paulus marah kepada jemaat Galatia dan menyebut mereka “Hai orang-orang Galatia yang bodoh!” Paulus marah karena jemaat terhasut untuk kembali pada ajaran Taurat.

Tentang Kemarahan Kudus

Kemarahan kudus seperti yang Yesus dan Paulus lakukan ditulis dalam…

Mazmur 4:5

“Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa.”

Efesus 4:26,27

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Jadi kita boleh marah kalau kemarahan itu dilandasi dengan kasih, tidak menimbulkan dosa dan harus selesai sebelum matahari terbenam.

Kemarahan Tidak Berdasar Kasih, Kejadian 4:5

Kain marah pada Tuhan, sebab korbannya tidak diterima Tuhan, sedangkan persembahan Habel diterima. Karena Kain tidak bisa lampiaskan marahnya kepada Tuhan, Kain lampiaskan pada adiknya Habel dengan membunuh Habel. Ini kemarahan yang salah, karena didorong rasa cemburu/iri dan kebencian.

  1. Yunus Senang Melihat Orang Dihukum

Orang yang tidak memiliki kasih, orang tersebut senang melihat orang dihukum seperti Yunus. Yunus lebih senang Niniwe dimusnahkan dari pada diselamatkan.

Yunus 4:5

“Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.”

Pandangan orang yang tidak memiliki kasih, bertolak belakang dengan pandangan Allah. Allah ingin seisi dunia diselamatkan. Allah tidak ingin melihat ada seorang pun yang dihukum dalam neraka, sebab itu Allah utus Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, agar kita tidak dihukum di neraka, tapi diselamatkan (Yohanes 3:16)! Berbeda dengan Yunus. Yunus marah kepada Tuhan, keluar dari kota Niniwe, membangun pondok untuk menonton kota Niniwe dan penduduknya gelepar-gelepar dihukum Tuhan!

 

Orang Yang Memiliki Kasih

Orang yang hidup dalam kasih, hanya ingin membawa jiwa sebanyak-banyaknya bagi Kristus, agar orang itu tidak binasa. Ia tahu bahwa satu jiwa selamat sorga bersuka cita.

Lukas 15:7

Aku berkata kepadamu: “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat…”

  1. Yunus Lebih Mengasihi Perkara Duniawi dari Perkara Sorgawi

Karena Yunus tidak memiliki kasih, Yunus menjadi egois. Yunus hanya memikirkan keselamatan dan kesenangan dirinya sendiri, tetapi tidak peduli akan keselamatan dan nasib penduduk Niniwe. Demi menyadarkan Yunus, bahwa ia mementingkan diri sendiri; tidak ada empati dan belas-kasihan terhadap jiwa-jiwa, Allah membuat sebuah bahan perenungan bagi Yunus, Yunus 4:6-11.

Yunus 4:6

“Lalu atas penentuan Tuhan Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.”

Kalau Tuhan berkati kita, seperti Yunus diberi pohon jarak (hanya dalam satu malam), memenuhi semua kebutuhan kita, bahkan lebih! Sadarilah bahwa keberhasilan kita terjadi bukan karena kita hebat tetapi karena Tuhan. Ingatlah, Tuhan bisa memberi, Tuhan juga bisa ambil hanya dalam satu hari.

Yunus 4:7

“Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.”

Tuhan ijinkan ujian dan masalah dalam hidup kita.

 

 Yunus 4:8 “Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”

Setelah Yunus menyerah dan tidak berdaya, Allah mulai ajar Yunus.

Yunus 4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati!”

Perhatikan…! Saking bencinya Yunus kepada orang Niniwe: Yunus memilih marah sampai mati dari pada hidup dan melihat orang Niniwe diselamatkan!

Yunus 4:10,11

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

Yunus 4:11

Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Nasihat atau teguran Allah terhadap Yunus ini, seharusnya menjadi teguran bagi kita sekalian. Mengapa? Karena mengejar hal jasmani, kita rela korbankan hal rohani, bahkan keselamatan kita.

Matius 16:26

“Apa gunanya seorang memperolah seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Kita cenderung mengutamakan kenyamanan, seperti yang Yunus lakukan: mendirikan pondok untuk kenyamanan, dan karena anugrah Tuhan, Yunus diberi fasilitas pohon jarak untuk melengkapi kesenangannya! Tetapi berkat itu membuat Yunus, lebih mencintai materi dari pada keselamatan jiwa-jiwa. Berbeda dengan Tuhan Yesus (Filipi 2:5-8). Karena mengasihi kita, Yesus…

  • Rela tinggalkan sorga
  • Menjadi manusia
  • Mati di kayu salib untuk menyelamatkan seluruh umat manusia di dunia.

Penutup

Waktu; kekuatan; talenta; perhatian; uang, dan masih banyak potensi lainnya dalam diri kita, yang bisa kita gunakan untuk menyelamatkan satu jiwa bagi Kerajaan Allah. Oleh karena itu milikilah kasih Allah agar kita dapat mengasihi yang lainnya. Tuhan memberkati!!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s