Yesus Allah Yang Peduli, oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya- Minggu, 18 September 2016 )

Maz 22:1-2

Kita tahu bahwa lagu dalam kitab Mazmur 22 ditulis oleh Daud dan tentunya setiap Mazmur yang ditulis lahir dari pengalaman yang dialami oleh pemazmur itu sendiri, demikian halnya pada ayat 2 di tuliskan “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” Mazmur ini juga merupakan  nubuat yang menjelaskan kepada kita tetang pengalaman yang dari Yesus ketika di kayu salib, seperti Daud berseru demikian pula Yesus berseru dengan menggunakan bahasa aramic Eloi Eloi lama sabakh tani yang berarti Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku! Dengan demikian Mazmur ini dapat kita bahas dari versi seruan Daud maupun versi seruan Yesus di kayu salib.

Saat ini kita akan melihat dari versi seruan Daud, dimana dalam diri dan perasaannya pernah mengalami seolah-olah ditinggalkan oleh Tuhan. Dari pengalaman Daud ini mungkin akan mengundang pertanyaan dalam benak kita, apakah benar Tuhan adalah Tuhan yang suka meninggalkan umat-Nya? Jawabannya tentu saja tidak, karena kita dapat melihat dalam kitab Yesaya. Dia berkata sekalipun seorang ibu bisa melupakan anaknya tapi Aku tidak akan melupakan kamu (Yes 49:15). Jika demikian apa yang menjadi alasan bagi seorang Daud mengungkapkan perasaan hatinya kepada Tuhan dengan menulis kalimat “Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?”. Tentu saja pengalaman ini sering kita alami dalam pengiringan kita kepada Yesus. Banyak pengalaman buruk yang tidak sepenuhnya dapat kita mengerti terjadi dalam hidup ini sehingga kita merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli bahkan sudah meninggalkan kita.

Pengalaman demi pengalaman yang dilewati akhirnya membuat Daud menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dia. Pengakuan Daud ini kemudian diungkapkan dengan begitu indah dalam Mazmur 23 yang berkata “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Sudah seharusnya kita pun mengalami pengalaman seperti yang dialami Daud, dimana pada akhirnya kita sampai kepada suatu pengertian bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia adalah Gembala yang baik yang akan selalu ada bersama dengan dombaNya.

Ketika keadaan kesehatan, keuangan, keluarga, pekerjaan dan semua yang kita alami terlihat baik-baik saja , dengan mudahnya kita dapat mengangkat tangan memuji dan menyembah Tuhan seraya berkata Tuhan itu baik. Tetapi sebaliknya ketika kita mengalami pengalaman yang buruk, dimana semua yang tadinya serba baik dan indah berubah 180 derajat, maka pada umumnya kitapun mulai dihantui kegelisahan, perasaan cemas, bahkan tidak sedikit yang mulai meragukan Tuhan dan kemudian  berpikir apa benar Tuhan itu ada? Dan kalau Tuhan itu ada apakah Tuhan tidak melihat keadaan saya? mengapa saya dibiarkan Tuhan berjalan sendiri? Harus kita akui masih banyak kekeristenan yang hari-hari ini mengalami keadaan seperti ini. Seolah-olah Tuhan tidak ada, atau Tuhan mengabaikan dan terkesan tidak peduli terhadap keadaan kita yang terjepit, menderita dengan berbagai pergumulan hidup. Disaat-saat seperti itu sering kita bersikap sama seperti pemazmur “Allahku mengapa Engkau tinggalkan aku, mengapa aku berseru dan engkau tidak menolong aku?”

Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita alami ujian dan pencobaan seharusnya kita tetap tenang, jangan cepat berputus asa, apalagi sampai marah kepada Tuhan seperti nabi Yunus. Hal seperti itu tidak boleh terjadi, kita haruslah memiliki satu pengharapan yang tidak tergoyahkan sekalipun keadaan yang paling buruk terjadi dalam hidup kita! Mengapa? Sebab Allah yang kita sembah tahu dan Dia mengerti semua yang kita alami. Yesus bukan hanya melihat masalah kita melainkan Ia lebih tertarik untuk melihat apakah kita benar-benar beriman kepada Dia. Sampai tiba saatnya Dia akan menyatakan kuasaNya untuk membawa kita keluar dari masalah kita. Karena itu sangatlah perlu kita menjadi orang percaya yang memiliki ketegaran dalam menghadapi setiap situasi sulit dalam hidup kita.

Yesus yang kita sembah sesungguhnya adalah Allah yang sanggup menolong kita keluar dari masalah yang paling sulit sekalipun. Oleh karena itu bagi anak Tuhan tidak ada istilah “tidak ada solusi” sebab kita punya Allah yang sanggup membukakan jalan keluar bagi kita tak peduli sesulit apa masalah yang kita hadapi.

Kita akan melihat sebuah contoh didalam injil Matius 14:22-33, yang saya beri judul Yesus adalah Allah yang peduli. Disini dikisahkan setelah Yesus memberi makan kepada 5ribu orang , lalu menyuruh mereka pulang. Kemudian la menyuruh ke 12 murid untuk menyeberang mendahuluinya ke Betsaida. Yesus sendiri naik ke atas bukit untuk berdoa kepada Bapa. Saat dimana murid-murid mulai mendayung semua berjalan dengan lancar tapi ketika perahu telah berada ditengah danau, yaitu sekitar 2 atau 3 mil jauhnya (4,5 km), dengan kondisi malam yang gelap, mereka diterpa angin sakal serta ombak dan gelombang yang seolah-olah ingin menenggelamkan mereka.

Murid-murid merasa seperti tidak dipedulikan oleh Yesus yang sebelumNya justru menunjukan kepedulian dengan memberi makan kepada 5000 orang laki-laki ( belum termasuk perempuan dan anak-anak).Murid-murid bertanya-tanya apakah Yesus yang menyuruh mereka untuk menyeberang tidak peduli terhadap apa yg mereka alami? Mungkin mereka berkata dimana Yesus? Mengapa tidak menolong mereka?

Jika kita berada dalam situasi seperti ini maka ada 3 hal yang perlu kita pelajari :

  1. Yesus dekat dan memperhatikan

Mungkin keadaan kita tidak jauh berbeda dengan murid-murid yang sedang diombang ambing oleh masalah yang ingin menenggelamkan kita, namun jangan pernah berpikir Allah tidak peduli dan jangan pernah merasa diabaikan. Sesungguhnya Dia begitu dekat dan peduli terhadap kehidupan kita. Yesus adalah Allah yang omni presence (Maha hadir), omni potent (Maha kuasa), omni scient (Maha tahu) yang selalu peduli dan memperhatikan kehidupan kita.

Dalam Mat 14:25 “kira-kira jam 3 malam datanglah Yesus kepada mereka dengan berjalan di atas air.” Awalnya murid-murid berpikir mana mugkin Yesus mau peduli? Tapi kemudian Yesus hadir di kondisi malam yang pekat itu, dengan lain kata kegelapan tidak dapat menghalangi Yesus untuk melihat murid-murid yang sedang butuh pertolongan.

 Jarak yang jauh juga tidak dapat membatasi Yesus. Secara manusiawi Yesus yang berada di gunung tidak mungkin bisa dengan tiba-tiba datang kepada murid-murid yang berada di tengah danau kurang lebih 3mil jaraknya, dan bagaimana juga Yesus bisa tahu dengan persis kalau murid-murid sedang dalam keadaan bahaya? jawabannya ialah Yesus adalah Allah yang Maha hadir, Maha tahu dan Maha kuasa.  Kita harus pahami mujizatNya bukan hanya Yesus berjalan diatas air melainkan kehadiran Yesus! sesungguhnya Dia Allah yang peduli terhadap kita serta sangat mengerti keadaan kita dan dalam ke Maha kuasaan-Nya Ia sanggup melepaskan kita.

Kalau Tuhan ijinkan kita mengalami pengalaman yang buruk dalam hidup kita janganlah berpikir negatif sebab lewat masalah itu Allah mendidik kita untuk menjadi pengikut Yesus yang tegar kuat juga berdaya tahan dan bukan anak Tuhan yang cengeng.

Pengalaman hampir serupa juga dialami oleh murid-murid dan  mereka kembali berpikir negatif tentang Yesus. Dalam kisah kali ini Yesus ada bersama murid-murid di dalam perahu ( Mrk 4:35-41), kemudian mengamuklah taufan yang dasyat dan perahu itu mulai penuh dengan air. Murid-murid menjadi panik dan kembali menganggap Yesus tidak peduli dengan keselamatan mereka, dalam kondisi panik itu mereka membangunkan Yesus dan berkata dengan sinis guru Engkau tidak peduli kita binasa! (ayat 38). Bagaimana dengan kita? mungkin tanpa kita sadari tidak lewat perkataan melainkan dalam pikiran , kita mulai berpikir apa gunanya setia ibadah, melayani atau berkorban jika terus alami badai? Janganlah kita meniru murid yang belum dewasa dalam iman yang kemudian bersikap sinis dan kasar kepada Yesus. Apakah Yesus membiarkan murid-murid binasa?jelas tidak, itu bukanlah karakteristik Yesus, karena Ia Allah yang peduli dan bahkan rela turun kedalam dunia untuk mati bagi kita. Kepedulian ditunjukan oleh Yesus  dengan Ia menghardik angin itu agar diam (ayat 39) Yesus tidak pernah tidur, dia kenal masalah kita, dia mengerti dan merasakan apa yang kita rasakan.

Yesus berkata iman sebesar bji sesawi (berbicara Kedewasaan Iman) maka kita dapat memerintahkan gunung untuk pindah ke laut.  Demikian juga ketika kita dewasa dalam iman maka kita tidak akan berkata negatif tetang Tuhan melainkan kita bisa berkata pada masalah untuk jadi tenang seperti apa yg Yesus lakukan. Kalimat Yesus ketika menghardik angin itu agar tenang diidentikan dengan seorang tuan yang memerintahkan anjingnya untuk diam ini bicara tentang otoritas dan sesungguhnya otoritas itu juga di berikan kepada kita sehingga dengan otoritas Allah kita dapat berkata kepada masalah untuk tenang dan terselesaikan.

Zef 3:17a “Tuhan Allahmu ada diantara kita untuk memberi kemenangan”

Setelah melewati pengalaman itu kita dapat mengerti Tuhan ada diantara kita menjadi pahlawan yang memberi kemenangan

  1. Tuhan tidak pernah melupakan kita

Ketika kita menghadapi masalah layaknya seorang yang berperang melawan musuh maka yang akan berperang adalah Tuhan dan bukan kita.

Contoh ketika Bangsa Israel keluar dari tanah Mesir berdasar tuntunan Tuhan dibelokan ke arah laut teberau, suatu keadaan yang sulit karena dibelakang mereka ada tentara Mesir. Perintah Musa yang diterima dari Tuhan adalah jangan takut dan berdirilah tetap! ini seolah kontradiktif karena mereka sedang dikejar tapi justru disuruh berdiri tetap, apa maksudnya? Ini bukan berarti saat dikejar mereka harus diam saja, tapi maksudnya seluruh umat Israel jangan goyah imannya kepada Tuhan walaupun ada dalam kondisi yang tidak memungkinkan.

 Arti berdiri tetap adalah berpegang teguh pada pengharapan pertolongan Tuhan karena Tuhan tidak akan meninggalkan mereka, Ini juga yang harus kita lakukan saat hadapi masalah hidup. Berdiri tetap dan berkata saya yakin Tuhan menolong saya. Seperti Air laut terbelah dan Israel bisa selamat sedangkan musuh yang mengejar ditenggelamkan oleh Tuhan, maka tentu kita juga akan Tuhan selamatkan.Apapun yang kita hadapi yakinlah Tuhan tidak tinggalkan kita, bahkan kondisi apapun Tuhan kita tidak pernah menutup mata.

  1. Allah yang melakukan pembelaan terhadap kita

A. Yesus Memberi Kekuatan

Artinya Dia tidak berpangku tangan dan melihat kita menderita. (Rom 8:34) Yesus naik ke sorga , duduk di sebelah kanan Allah untuk memperhatikan kita, bahkan Ia memberi penolong bagi kita (Yoh 14:16).

Kita harus tanggung konseskuensi menjadi pengikut Yesus. Kita mungkin dikucilkan, dianiaya atau bahkan dibunuh! tapi dalam kondisi seperti ini Tuhan tidak berpangku tangan, karena Yesus akan memberi kekuatan lewat kuasa  Roh kudus-Nya kepada kita untuk mengalami kemenangan di dalam Dia.

 B. Tujuan Yesus naik ke sorga untuk memberi pertolongan

Contoh Elia : melayani di tengah bangsa Israel pada zaman Ahab, Raja Israel yang menyembah berhala karena istrinya Izebel.  Elia merasa ditinggalkan oleh Tuhan dan umatnya sehingga ia berdoa kepada Tuhan bahwa hanya tinggal dia seorang diri yang masih setia menyembah Tuhan. Apa Tuhan membiarkan dia seorang diri? Tentu tidak, Allah memberinya makan lewat seekor burung gagak , dan minum dari sungai kerit. Ketika burung gagak tidak datang lagi dan sungai sudah kering pun Tuhan tetap membawa dia untuk dipertemukan dengan seorang janda yang kemudian Tuhan pakai untuk memelihara Elia selama masa kekeringan.

 C. Dari sorga Yesus juga memberi pertolongan dengan mengirim Malaikat-Nya untuk mendampingi kita.

Malaikat dalam bahasa Ibrani “Malak” dan dalam  bahasa Yunani Angelous yang artinya pesuruh. Jadi Malaikat adalah makhluk sorgawi yang sengaja diutus Allah untuk melaksanakan semua yang diperintahkan Allah bagi kebaikan kita.

Ibrani 1:14 “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”

Karena kita sudah percaya kepada Yesus dan menerima jaminan keselamatan maka diutuslah malaikat yang adalah makhluk Roh untuk mendampingi kita supaya kita tetap dijamin keselamatannya.

Contoh: Sadrakh, Mesak, Abednego ketika dalam perapian yang bernyala-nyala Daniel 3:15-28.

Daniel ketika di gua singa (Dan 6:22-23)

Petrus lolos dari hukuman mati (Kisah 12:7)

 “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.”

 

Malaikat Tuhan ada dimana pun kita berada, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Walaupun berat masalah yang kita hadapi tapi ingat kita punya Allah yang berkuasa dan peduli terhadap kehidupan kita.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s