PENGUASAAN DIRI DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 9 Oktober 2016)

2 PETRUS 1:5 – 9

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barang siapa tidak memiliki semuanya itu, menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.”

PENDAHULUAN

Rasul Petrus, mengingatkan kepada kita bahwa perjalanan hidup orang percaya tidak boleh berhenti sampai pada iman saja, tetapi harus dikerjakan terus dengan menambahkan pada iman kita dengan unsur-unsur rohani seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:5-9.

Wujud Pertumbuhan Kualitas Jemaat menurut  II Petrus 1:5-8 adalah:

Dimulai dari IMAN sebagi dasar, kemudian bertumbuh kepada KEBAJIKAN selanjutnya kepada PENGETAHUAN > PENGUASAAN DIRI > KETEKUNAN > KESALEHAN > KASIH AKAN SAUDARA-SAUDARA > KASIH AKAN SEMUA ORANG – Menjadi sempurna sama seperti karakter Yesus.

IMAN adalah dasar kerohanian kita, dan iman yang benar adalah iman kepada Yesus Kristus. Diluar iman kepada Yesus adalah bukan iman yang benar.

Galatia 3:26  “ Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Apakah iman saja tidak cukup untuk menyelamatkan orang percaya ?

Dalam kontek keselamatan dan hidup kekal, iman sudah cukup sebab keselamatan adalah pemberian Tuhan kepada semua orang percaya, dengan catatan orang percaya itu meninggal tidak lama setelah menerima Yesus sebagai juru selamatnya.   Dalam Injil Lukas 23:42,43 – Salah satu penjahat yang di salib bersama Yesus, ia percaya kepada Yesus pada detik-detik terakhir menuju kematiannya, dan Yesus mengatakan kepadanya bahwa pada hari itu juga ia kan bersama-sama dengan Yesus ke Firdaus. Artinya ia diselamatkan, dosanya diampuni karena ia memilih percaya Yesus.

Bagi kita yang masih hidup, harus mengerjakan keselamatan yang sudah kita terima dari Tuhan, dengan terus bertumbuh kepada kesempurnaan, hal ini penting karena dengan demikian kita akan :

  • Mendapatkan pahala/kemuliaan disorga.

Untuk mendapatkan keselamatan, kita tidak perlu mengusahakannya, karena keselamatan diberikan gratis buat kita oleh Tuhan ketika kita percaya. Tetapi untuk kelak kita dapatkan kemuliaan atau pahala sorgawi tidaklah gratis. Itu harus diusahakan oleh setiap orang percaya selagi menjalani masa hidupnya di dunia dengan terus bertumbuh kerohaniannya dalam melayani pekerjaan Tuhan di bumi. Berbeda dengan orang yang percaya Yesus tetapi mati sebelum melakukan perjalanan rohani dalam melayani Tuhan, ia memang mendapatkan keselamatan tetapi di sorga ia tidak menerima mahkota kemuliaan sorgawi. Dalam kerajaan 1000 tahun damai di bumipun ia tidak ikut memerintah bersama Kristus, tetapi ia hanya akan menjadi rakyat biasa, sebagai penduduk sorgawi orang-orang kudus.

  • Menjadi gereja yang sempurna luput dari masa pemerintahan anti Kris.

Selain untuk mendapatkan kemuliaan dan pahala sorgawi, bertumbuh menjadi sempurna dalam Kristus, akan meluputkan kita dari masa pemerintahan anti Kris, karena hanya gereja Tuhan yang sempurnalah yang disingkirkan dari ancaman antiKris. Sementara orang yang percaya yang tidak  mengerjakan keselamatannya dengan tidak bertumbuh dalam kesempurnaan karakter Kristus, mereka akan ditinggalkan dan harus mempertahankan imannya yang menjadi miliknya dihadapan antiKris. Iman menjadi dasar keselamatan kita, tetapi iman harus bertumbuh kepada Kebajikan.

 

KEBAJIKAN  –  Adalah merupakan bukti seorang yang beriman :

  1. Bukti perubahan hidup

Korintus. 5:17.  – “ Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Salah satu bentuk dari Kebajikan adalah adanya perubahan hidup dari orang yang beriman kepada Yesus, kebajikan bentuk inilah yang menjadi buah pertama dari pertobatannya, bahwa ia sudah tidak lagi seperti hidup lamanya, tetapi kehidupan yang baru dalam Yesus sudah menggantikannya.

  1. Perbuatan baik

Bentuk kebajikan yang kedua adalah , perbuatan baik. Bagi orang percaya perbuatan baik  adalah bukti bahwa mereka sudah hidup dalam keselamatan Tuhan, hidupnya sudah diubahkan, sehingga ia berbuat yang baik bukan lagi yang jahat.  Berbeda dengan orang dunia, mereka berbuat baik agar mendapat keselamatan. Ini salah besar sebab dosa tidak dapat dibayar dengan kebaikan.

KEBAJIKAN  kepada PENGETAHUAN

Pengetahuan disini adalah pengetahuan firman Tuhan yang benar. Tujuannya untuk membimbing orang pada kebenaran;  tidak mudah disesatkan oleh pengajaran lain diluar Injil;  Sanggup membedakan mana kebenaran Allah dan hal yang duniawi.

PENGETAHUAN  kepada PENGUASAAN DIRI

Penguasaan diri adalah suatu tahapan dimana karakter Ilahi menjadi gaya hidup orang percaya. Penguasaan diri yang dimaksud adalah kemampuan atau kesanggupan untuk menahan sesuatu yang melawan kehendak Tuhan, seperti menahan kesombongan;  menahan amarah yang irasional, marah yang tidak wajar ;  menahan diri dari segala macam  ketamakan dan dosa.

PENGUASAAN DIRI

Banyak orang percaya gugur imannya pada fase ini karena tidak memiliki penguasaan diri, meskipun sudah memiliki pengetahuan firman Allah. Pada fase penguasaan diri inilah menjadi penentu apakah kita sanggup terus naik kepada karakter illahi menjadi sama seperti Kristus, atau jika kita gagal, maka kita akan stag, berhenti atau malah turun kembali menjadi gereja yang hanya berpegang kepada iman tanpa disempurnakan. Untuk kita bisa naik kepada ketekunan dan kesalehan kita perlu penguasaan diri, karena tidak mungkin dapat menjadi orang yang tekun dan saleh kalau kita tidak bisa menguasai diri.

Untuk masalah penguasaan diri inilah, Rasul Paulus memberikan peringatan kepada kepada jemaat Korintus tentang hal ini, dengan memberikan contoh bangsa Israel yang gugur imannya, karena ketidak mampuannya dalam menguasai diri, I Korintus. 10 : 6-10.

Apa saja kegagalan Israel dalam hal penguasaan diri ?

  1. I Kor 10:6 –  “ Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang mereka perbuat.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Israel :

  • Masih mengingat hal-hal yang ada di Mesir. Berbicara tentang kehidupan lamanya
  • Bil 11:4 – Menjelaskan bahwa mereka menolak makanan yang disediakan Tuhan (manna), dan menuntut daging.

Dosa Israel yang pertama ini adalah mereka tidak dapat menguasai diri terhadap kehidupan duniawi (hidup lamanya). Hal ini dipandang jahat oleh Tuhan, karena lebih menyukai makanan duniawi/daging , hal-hal yang jahat dari pada makanan rohani/manna.

  1. 1 Kor 10:7“ Dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka…….”

Mereka gagal untuk menguasai dirinya untuk tetap setia kepada Alllah, mereka memberontak terhadap Allah, dengan menyembah berhala.  Buat kita mungkin kita tidak terang-terangan menyembah berhala seperti bangsa Israel, tetapi coba perhatikan nasehat Paulus tentang hal ini :

1Timotius 4:7- “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

Tidak sedikit orang Kristen yang masih percaya hal takhayul dan dongeng yang bukan firman Tuhan. Ini sama dengan penyembahan berhala, mempercayai ramalan, mitos dan ramalan-ramalan yang bukan dari kebenaran firman Tuhan.  Kita harus waspada jangan sampai terjerumus pada kepercayaan yang hanya dongeng.

Bahaya di akhir jaman, dalam 2 Timotius 4:3,4 “Karena akan datang waktunya,orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. “

Jika kita tidak waspada dan tidak memeiliki penguasaan diri yang kuat terhadap daya tarik dongeng, bisa saja kita ikut terhanyut pada pola kepercayaan orang yang tidak lagi menghargai dan mempercayai firman Tuhan.

  1. 1 Kor 10:8 – “Janganlah kita melakukan percabulan seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.” (Bil. 25:1-18).

Israel menjadi tidak setia terhadap pernikahannya, karena gagal menguasai dirinya terhadap percabulan. Mereka berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Bahaya di akhir jaman selain penyembahan berhala adalah dosa percabulan, banyak orang menjadi tidak setia pada pasangannya. Didalam kitab Wahyu 12:4 – iblis yang digambarkan sebagai naga akan menyeret sepertiga bintang yang tidak lain adalah orang-orang pilihan Tuhan, mereka akan dijatuhkan dengan menyeret memakai ekornya. Kita tahu bahwa alat kelamin ular itu letaknya ada di ekor, tidaklah heran akan banyak orang gugur imannya karena dosa perzinahan.

  1. 1 Kor 10:9 – “Dan janganlah kita mencobai Tuhan seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.”  (Bil.21:5-6)

Israel gagal untuk tetap mempercayai Tuhan, sehingga tidak dapat menguasai dirinya untuk mencobai Tuhan. Mencobai Tuhan sama dengan tidak lagi percaya, menantang dan melawan Tuhan. Orang seperti ini imannya gugur dan menjadi bangsa ular yang tidak lain adalah iblis

  1. 1 Kor 10:10 – “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” (Bil.16:41- 49).

Israel gagal untuk tetap bersyukur, mereka tidak menguasai dirinya untuk puas menerima segala sesuatu yang Tuhan berikan.  Tuhan menginginkan setiap orang percaya untuk tetap mengucap syukur dalam segala keadaan, tetapi jika kita tidak dapat menguasai diri terhadap tekanan, persoalan dan rasa tidak puas, iman kita akan gugur dengan terjebak pada dosa persungutan.

Bagian terbesar dari bangsa Israel gugur di perjalanan menuju tanah perjanjian, kecuali Yusak dan Kaleb selebihnya adalah keturunan Israel yang berusia 20 th yang lahir di padang gurun.

Hal yang sama bisa juga terjadi terhadap kita Israel rohani, akan gugur imannya dalam perjalanan iman ke tanah Kanaan sorgawi.  Semua dapat terjadi jika kita tidak memiliki penguasaan diri. Topangan Roh Kudus kita perlukan untuk kita memampukan kita memiliki penguasaan diri yang kuat. Untuk itu setiap orang percaya yang mau kuat dalam perjalanan imannya menuju kesempurnaan haruslah penuh dengan Roh Kudus. Allah sudah mengaruniakan Roh Kudus bagi kita, karena Tuhan tahu bahwa kita tidak akan mampu dengan kekuatan kita untuk tetap kuat berjalan dengan iman menuju kesempurnaan karakter Kristus tanpa Roh Kudus. Tahapan kerohanian pada fase penguasaan diri adalah fase dimana orang percaya sudah harus mengalami kepenuhan Roh Kudus. Bagaimana dengan saudara?

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s