TERTANAM DALAM TUHAN – oleh Pdm. Steven Pioh (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 Oktober 2016)

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma,  akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.”

(Mazmur 92:13-16)

Ketika kita melihat sebuah pohon yang besar dengan  daun hijau yang lebat disertai buah yang banyak,tentu kita akan berpikir pohon ini bertumbuh dengan baik,  namun jika kita mau merenung lebih jauh maka kita akan semakin terkagum-kagum karena ternyata pohon yang besar itusebelumnya ada atau berasal dari sebuah benih. Menakjubkan karena benih yang kecil tapi dapat menghasilkanpohon yang  besar. Dapat juga kita katakan masa depan dari sebuah pohon sebenarnya ada di dalam benih itu sendiri.

Ibaratnya pohon tadi maka masa depan kita pun sesungguhnya sudah ada didalam benih kita sendiri yaitu hati atau iman kita.Oleh sebab itu kita perlu berhati-hati dengan memperlakukan benih yang ada di dalam kita.

Sebenarnya rahasia kita untuk bertumbuh dan berbuah dalam hidup  (bahkan menjadi gemuk dan segar) adalah harus tertanam dengan cara yang tepat.Karena sebagus atau sebaik apapun kualitas yang dimiliki sebuah benih kalau kita taruh dilantai benih itu tidak bisa buat apa-apa, dia tetap benih yang kecil. Tapi kalau di tanam dengancara yang benar ditempat yang benar maka benih itu akan pecah dan bertumbuh.

 

Menariknya Firman Tuhan juga mengibaratkan kehidupan manusia layaknya benih yang tertanam dan pohon bertumbuh.

Maz 92:13-14“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma,  akantumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita”

 

Mengapa dikatakan ditanam di bait TUHAN? Tertanam berbicara perihal iman. Alkitab menceritakan bahwa pada zaman dahulu , Bait Allah sudah menjadi pusat bagi banyak orang datang berkumpul untuk mendengarkan pengajaran Firman Allah yang mana ini menjadi titik awal seseorang mendapat iman. Rasul Paulus berkata bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus (Rom 10:17). Dengan mendengar firman Allah, merenungkannya serta diterapkan dalam kehidupan kita maka iman yang timbul tadi akan terus bertumbuh dalam hidup kita.

Dari kitab mazmur pasal 92 pemazmur mengumpamakan orang benar dengan dua jenis pohon yaitu pohon korma dan juga aras. Ada beberapa persamaan antara 2 pohon ini:

  • Kedua pohon tumbuhnya tegak ke atas
  • Kedua pohon tumbuhnya tinggi
  • Kedua pohon ini kuat.

 

  • Pohon Korma : Setelah biji (benih) korma di tanam, maka akan keluar akarnya yang terus menembus tanah untuk mencari air, bahkan hingga puluhan meter. Setelah mendapatkan air, barulah kemudian pohon korma ini mulai tumbuh (didekat pohon korma biasanya ada Oase/mata air).

Demikian kehidupan  orang benar akan memiliki akar iman yang kuat sehingga orang benar akan mampu tegar berdiri ditengah berbagai hambatan, dan akan mampu untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Bahkan menjadi berkat orang di sekitar (Oase).

  • Pohon Aras : dikenal sangat kuat dan tidak mudah lapuk. Semakin tua kayunya justru akan semakin kuat. Pohon ini juga tahan terhadap perubahan cuaca.Pada masa itu pohon aras sering dipakai untuk tiang penyangga istana bahkan Bait Allah.

Jika hidup kita diibaratkan bertunas seperti pohon korma dan tumbuh seperti pohon aras, maka kita sebagai orang-orang yang tertanam di dalam Tuhan akan menjadi orang yang memiliki kualitas Iman yang kuat, Iman yang teguh dan Iman yang terus mengalami pertumbuhan sekalipun cuaca hidup berubah. Badai serta panas teriknya persoalan hidup boleh datang silih berganti namun seperti pohon aras iman kita justru akan semakin kuat.

Apa yang terjadi terhadap orang yang hidupnya tertanam dalam Tuhan:

  1. Bebas dari kegagalan

Orang yang tertanam di bait TUHAN adalah orang yang mampu mengatasi kegagalan. Bukanlah orang yang takut gagal, melainkan orang yang mampu bangkit dari kegagalan dan berani mencoba lagi.

Harus kita akui tidak ada manusia yang tidak pernah gagal. Kita bisa belajar dari beberapa tokoh dunia Contoh:

  • Bill Gates. Pernahdrop-out dari Harvard dan gagal saat menjalankan bisnis pertama bernama Traf-O-Data. Bisnis itu gagal total namun kemudian ia mulai mengembangkan bisnis selanjutnya yang sukses, Microsoft.
  • Thomas A Edison,ia telah membuat 1000 percobaan gagal sebelum menemukan bola lampu.

Jadi gagal itu sesuatu yang normal, tetapi tinggal didalam kegagalan itu yang tidak normal, apalagi bagi seorang anak Tuhan.

Kalau memperhatikan tokoh-tokoh besar di alkitab, mereka pun adalah orang yang pernah mengecap kegagalan. Adam pernah gagal, Abraham pernah gagal, Musa pernah gagal, Daud pernah gagal, dan Petrus pernah gagal, bahkan menyangkal Yesus sampai 3 kali. Namun mereka menunjukan identitas sebagai orang yang tertanam di bait Tuhan yaitu tidak tinggal dalam kegagalan.

Pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba. Di satu sisi justru Tuhan sepertinya sangat suka memilih orang-orang gagal supaya dipulihkan dan kemudian menjadi orang-orang yang berhasil. Hidup kita ibarat bejana di tangan Penjunan Agung, yang lebih mengerti cara untuk membentuk kita menjadi lebih indah dan bermanfaat.

Yeremia 18:4  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”.

Kalau ada bejana yang rusak, maka bejana itu tidak langsung dibuang atau dimasukkan ke dalam tempat sampah, melainkan diolah kembali menjadi bejana yang baik, sesuai dengan pandangan tukang priuk itu.

  1. Mampu menjaga hati dari kesombongan.

Orang yang hidupnya tertanam di bait Tuhan juga adalah orang yang mampu menjaga hati. Baik saat sulit maupun saat bergelimpangan dengan keberhasilan hidup. Keberhasilan sering membuat orang mengalami kejatuhan. Banyak orang kalau pada saat susah, ia mencari Tuhan, tetapi pada saat senang, ia menjadi sombong dan meninggalkan Tuhan.

Contoh: Raja Uzia adalahraja yang paling muda di Israel pada zaman itu, umurnya 16 tahun pada waktu diangkat menjadi Raja.

2Taw 26:5  “Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil”.

2Taw 26:16  “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan”.

Menjadi sombong bukanlah karakter seseorang yang tertanam di bait Tuhan. Orang yang tertanam di bait Tuhan memiliki kesadaran penuh bahwa keberhasilan dan kesuksesan yang diraih bukan karena kekuatannya melainkan semata-mata karenaanugerah Allah. Jadi tidak ada yang perlu kita banggakan.

  1. Mampu mengatasi kepahitan.

Orang yang tertanam didalam Tuhan adalah orang yang  mampu mengatasi kepahitan hati. Sebaliknya orang yang jauh dari Tuhan tidak mampu mengelolah emosi dengan baik sehingga memilih menyimpan kebencian berlarut-larut dibanding melepas pengampunan.

Menyimpan kepahitan, itu seperti meniup api lilin kebahagiaan sampai padam, sehingga yang tersisa adalah roh yang hidup dalam kegelapan. Kepahitan mulai tumbuh ketika ada orang yang melukai hati kita (baik sengaja atau tidak). Jika kita terus memupuknya maka akan muncul sikap permusuhan dan penolakan untuk menghadapi kenyataan. Kepahitan itu akan mengakar semakin dalam dan semakin kuat.

Orang yang mudah tersinggung akan cenderung mencari-cari kesalahan dan melakukan pembenaran diri. Memelihara kebencian atau akar pahit sebetulnya adalah orang yang lemah dihadapan Tuhan.  Kepahitan bisa mempengaruhi kita secara fisik, emosional dan spiritual. Kepahitan itu seperti menyimpan asam ke dalam kaleng yang akan rusak adalah kalengnya, bukan isinya.

Jika hati kita dipenuhi kepahitan, maka Tuhan tidak bisa bersemayam di hati kita. Kekudusan bertolak belakang dengan Kepahitan. Ibrani 12:14

Alkitab mengajar bahwa orang yang tertanam di dalam Tuhan dapat menghindar dari Kepahitan. Ibrani 12:15

  1. Berpikiran positif.

Orang yang tertanam dalam Tuhan adalah orang yang mampu tetap berfikir positif saat menghadapi situasi sulit termasuk kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup.

Apa reaksi kita jika kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup?

(Contoh: harta milik, mobil, motor, rumah, anak, kesehatan, pekerjaan, dll)

Apakah kita tetap mengasihi Tuhan?

Kita dapat belajar dari tokoh Ayub.  Dalam satu hari dia kehilangan segala-galanya yang berharga dalam hidupnya, namun apa responnya sebagai orang benar?

Ayub 1:20  Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,

Ayub 1:21  katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Ayub 1:22  Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Ayub tetap mampu tetap berfikir positif karena ada firman Tuhan yang membangkitkan imannya untuk tetap bisa melihat semua yang terjadi dari sudut pandang Tuhan yang selalu punya rencana yang terbaik dibalik keadaan yang tidak baik sekalipun.

Kesimpulan :

Orang yang hidup di dalam Tuhan, adalah orang yang bertunas seperti pohon korma dan tumbuh seperti pohon aras. Walau dalam hambatan dan tekanan apapun Iman kita tetap kuat karena kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Sehingga kehidupan kita akan terus bertumbuh subur menghasilkan buah, dan menjadi berkat bagi banyak orang serta memuliakan nama TUHAN.(Rom 8:28)

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s