MEMBINASAKAN “DIRI SENDIRI” – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 6 November 2016)

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

(Lukas 9:25)

PENDAHULUAN

Kita mengetahui bahwa ada 2 jenis manusia yang dapat kita sebut sebagai manusia jasmani dan juga manusia rohani. Manusia jasmani memiliki keterbatasan untuk hidup yaitu 70-80 tahun (jika kuat), sedangkan manusia rohani bersifat kekal. Namun demikian kehidupan manusia rohani sendiri pada akhirnya akan berunjung pada dua tempat yaitu sorga atau neraka. Yang menarik dan penting untuk kita ketahui adalah dimana kelak kita akan berada? Apa di sorga atau justru di neraka? Hal ini sangat ditentukan dengan bagaimana cara kita menjalani kehidupan jasmani kita.

Bukanlah sebuah tindakan yang salah jika di waktu yang terbatas ini kita mengelolah dan merawat hidup jasmaniah kita dengan baik sehingga kita dapat memanfaatkan waktu hidup yang Tuhan berikan dengan optimal dan tentunya dengan bertanggung jawab sehingga setelah mengakhiri hidup jasmani ini kita tidak perlu menjalani kehidupan rohani yang menderita di neraka.

Di ayat 25, Yesus mengatakan bahwa apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia (materi) tetapi membinasakan diri sendiri. Tubuh jasmani kita butuh perawatan dan selama kita hidup di dunia kita perlu berbagai hal untuk melengkapi keperluan jasmani, namun janganlah kita abaikan yang Yesus katakan “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Bagaimana cara kita menjalani kehidupan jasmani saat ini dapat membuat kita “membinasakan diri kita” di neraka.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan membinasakan diri sendiri? Pada umumnya kita tahu bahwa membinasakan diri sendiri sama dengan merugikan diri sendiri, namun jika kita menggunakan istilah yang lebih ekstrim maka ini dapat kita sebut bunuh diri. Dengan demikian tindakan membinasakan diri sendiri bukan hanya merugikan diri sendiri  tetapi juga identik dengan: “Bunuh Diri”. Jangan sampai ini terjadi dalam hidup kita karena kita tahu bahwa tindakan bunuh diri adalah tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah (Tidak dibenarkan oleh Allah). Sebab orang yang membinasakan diri sendiri adalah orang yang hidupnya akan berakhir di neraka!

Alkitab kita mempertegas eksistensinya sebagai firman Allah dengan menuliskan secara lengkap masalah dalam hidup, termasuk memberikan contoh orang yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Tentu saja ini ditulis bukan untuk kemudian dicontoh melainkan untuk menunjukkan bahwasanya Allah tidak berkenan akan tindakan ini, karena Orang yang membinasakan diri sendiri atau kita sebut bunuh diri akan berakhir di dalam neraka.

 

Contoh orang bunuh diri dalam Alkitab :

  • Saul (I Samuel 31:1-5)

Saul yang berada dalam keadaan terdesak dalam sebuah peperangan kemudian mengambil keputusan untuk bunuh diri daripada dibunuh oleh musuh. Apa yang dilakukan oleh Saul ini kemudian diikuti oleh pengawalnya. Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa ada pengaruh dari seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya, ini pengaruh yang luar biasa sehingga tindakan bunuh diri pun diikuti oleh pengikutnya. Sesungguhnya kita pun adalah pemimpin, baik pemimpin keluarga, lingkungan masyarakat, di pekerjaan atau minimal sebagai pemimpin diri sendiri, karena itu janganlah kita melakukan sesuatu yang jusru membuat orang lain ikut masuk ke dalam pengalaman yang mengerikan seperti yang terjadi pada Saul dan pengawalnya.

  • Yudas, (Mat. 27:1-5)

Yudas adalah salah satu dari 12 murid Yesus, orang kepercayaan yang ditugaskan sebagai pemegang keuangan dan menyalurkan berkat bagi orang yang membutuhkan. Ternyata ia memiliki ketamakan akan uang (hal duniawi). Dia kemudian menjual Gurunya kepada para pemimpin yahudi dengan berpikir Yesus hanya sekedar ditahan, tidak terbayang kalau Yesus akan salib! Hal ini menyebabkan Yudas kemudian menyesal dan membawa uang tersebut untuk dikembalikan. Namun sayang dia ditolak oleh pemimpin yahudi. Akhirnya uang yang tadinya dianggap segalanya, tidak dia nikmati, dia sangat menyesal dan kemudian mengambil keputusan untuk gantung diri ( Kisah 1:16-20).

CARA BUNUH DIRI (Versi Manusia)

Ada berbagai cara yang dilakukan orang untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Contohnya dengan sengaja menabrakan diri ke mobil atau kereta yang sedang melaju, meloncat dari gedung, gantung diri, melakukan bom bunuh diri dan banyak cara-cara lainnya. Bahkan ada negara tertentu yang melegalkan aksi bunuh diri ini, dan istilah medis yang biasa mereka gunakan adalah euthanasia yaitu cara bunuh diri dengan mengalirkan obat tidur dan juga racun ke dalam tubuh! Cara ini banyak diminati karena dianggap sebagai cara mati yang paling tenang. Sebagai orang percaya kita tahu tidak ada satupun dasar atau alasan bagi kita untuk membenarkan tindakan bunuh diri, karena alamatnya sudah pasti neraka. Bunuh diri jangan dipandang sebagai jalan keluar, karena kenyataannya bunuh diri adalah jalan masuk ke dalam masalah yang tidak dapat terselesaikan selamanya yaitu penderitaan kekal di neraka.

VERSI LAIN BUNUH DIRI

Menurut versi manusia bunuh diri ialah tindakan mengakhiri hidup karena keinginan sendiri. Kita sudah mengerti bahwa bunuh diri adalah tindakan bodoh dan tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan yang bodoh dan naif itu, akan tetapi tanpa kita sadari setiap orang termasuk anak Tuhan sekalipun bisa melakukan tindakan bodoh (bunuh diri) ini menurut versi Firman Allah.

Apa maksud firman Allah tentang bunuh diri?

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawa-nya, ia akan kehilangan nyawa-nya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawa-nya karena Aku, ia akan menyelamatkan-nya.” Lukas 9:24

Ayat ini akan lebih kita mengerti dalam bahasa aslinya, dimana ada 2 kata dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk menjelaskan kata “nyawa” yaitu PSUCHE dan ZOE.

Sehingga Lukas 9:24 (menurut versi Yunani) akan berbunyi seperti ini :

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan psuche-nya, ia akan kehilangan psuchenya; tetapi barangsiapa kehilangan psuche-nya karena Aku (Yesus), ia akan menyelamatkan zoe-nya.”

Apa sebenarnya pengertian dari PSUCHE dan ZOE?

Psuche secara umum dapat diterjemahkan sebagai Hidup jasmani; nyawa; gengsi; perasaan; hajat hidup (harta; kedudukan; gaji; keluarga). Sedangkan ZOE berarti kehidupan yang kekal bersama Yesus  di dalam Kerajaan Sorga.

Melihat beberapa kasus yang terjadi banyak orang karena mengutamakan hal psuche yaitu gengsi; harta; jabatan; kesenangan, kemudian rela melakukan apapun sampai-sampai harus bertentangan dengan firman Allah bahkan mengorbankan keselamatan yang telah ia terima di dalam Yesus, inilah tindakan bunuh diri secara rohani berdasarkan versi Alkitab! Untuk orang seperti itulah Yesus berkata: Orang ini merugikan dirinya sendiri yaitu membinasakan dirinya atau membunuh dirinya sendiri.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25)

Jangan sampai karena ingin menjaga gengsi atau ingin berkelimpahan dalam psuche kita melakukan tindakan bunuh diri. Bukan bunuh diri secara jasmani melainkan bunuh diri secara rohani karena bertentangan dengan Firman Allah!

Ada beberapa contoh tindakan bunuh diri di hadapan Allah (versi alkitab):

  1. Takut Mati (Lukas 22:56-58)

Petrus yang ingin menghadiri pengadilan Yesus (suatu pengadilan yang tertutup karena orang yahudi tidak turut hadir), ia kemudian dikenali oleh seorang budak perempuan penjaga gerbang sebagai pengikut Yesus dan hal itu membuat Petrus ketakutan. Petrus yang diliputi rasa takut dianiaya (mati), kemudian berusaha mempertahankan nyawanya dengan cara menyangkal Yesus, bahkan sampai bersumpah tidak mengenal Yesus.

Perbuatan Petrus pada saat itu adalah sama dengan membinasakan diri sendiri (bunuh diri). Mengapa? karena pada saat itu dia sedang berusaha mempertahankan psuche nya. Ia ingin hidup (secara jasamani) lebih lama lagi namun sayangnya cara yang diambil adalah menyangkal Yesus. Petrus patut bersyukur karena Yesus berkemurahan dengan masih memberi kesempatan kepada Petrus sampai Petrus menyadari kesalahannya itu dan bertobat, sehingga sejarah mencatat perjalanan Petrus dimana ia memilih mempertahankan Yesus dan rela kehilangan nyawanya (psuhe) bahkan mati dengan cara disalib terbalik untuk mempertahankan Zoe (hidup kekal)-nya. Suatu saat mungkin kita pun sebagai pengikut Kristus akan di perhadapkan dengan situasi yang sulit dimana kita harus memilih menyangkal Yesus atau mati! Tetapi seandainya hal itu Tuhan ijinkan terjadi biarlah kita tetap memilih sekali Yesus tetap Yesus!

  1. Takut Kehilangan Kedudukan dan Materi, (Kisah 26:27-30)

Harus kita akui bahwa kebahagiaan hidup selama  didunia sering kita ukur dengan kedudukan dan materi yang kita miliki, bahkan tidak sedikit orang yang kemudian menjadikan kedudukan dan materi segala-galanya dalam hidup sehingga sangat takut untuk kehilangan kedudukan dan hartanya.

Alkitab kembali memberikan kita contoh dalam pribadi raja Agripa, dimana Rasul Paulus yang pada waktu itu dipenjarakan justru merasa bersyukur karena melihat pemenjaraan itu sebagai cara Tuhan baginya agar dapat memberitakan tentang Yesus kepada pejabat di istana bahkan kepada raja. Rasul Paulus pun dapat kesempatan menyaksikan tentang Yesus dan bahkan mengajak raja Agripa untuk percaya kepada Yesus, akan tetapi reaksi raja Agripa justru menolak Yesus.

Ayat 28  Agripa menjawab: “Hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi Kristen!”

Sebenarnya hati Agripa tertarik untuk percaya kepada Yesus, namun ia takut ketika dia menerima Yesus dia akan kehilangan kedudukannya sebagai raja sehingga lebih memilih mempertahankan psuchenya yaitu kedudukannya beserta keuntungan-keuntungan materi yang bisa diperoleh dengan status tersebut. Ketakutan untuk kehilangan kedudukan dan materi ini memantapkan hatinya menolak untuk percaya! Dan tindakan ini adalah sama dengan tindakan bunuh diri. Sebuah pelajaran bagi kita, seharusnya kita tidak mengorbankan yang rohani atau kekal untuk sesaat menikmati yang jasmani seperti jabatan atau harta.

Konsekwensi Bagi Orang Yang Takut Mengaku Yesus

Wahyu 21:7 “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku”

Wahyu 21:8“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yg tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”.

Secara khusus kita perhatikan dari ayat di atas terdapat kata penakut. Yang dimaksud adalah ketakutan menerima Yesus karena takut kehilangan hidup termasuk di dalamnya materi dan kedudukan, maka ini termasuk bunuh diri yaitu kematian kekal  atau kematian yang ke-dua.

  1. Malu (Lukas 9:26)

Lukas 9:26 “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.”

Hal mengaku Yesus adalah hal yang penting, walaupun kita berada pada posisi sebagai minoritas janganlah kita malu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat di tengah orang banyak. Selama bertahun-tahun rasa malu menjadi musuh dalam penginjilan dan jika ada pengikut Yesus, tetapi kemudian malu mengaku Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat itu sama dengan tindakan bunuh diri! (Lukas 9:25). Seharusnya dimanapun kita berada kita harus menyadari panggilan kita sebagai seorang saksi Kristus. Dengan berani mengakui dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat maka kita akan diselamatkan (Roma 10:9,10).

Kita mungkin tidak minum racun, mengantung diri atau cara bunuh diri lainnya tetapi ketika kita lebih mengutamakan perkara yang jasmani dan mengorbankan yang kekal maka itu sama artinya dengan bunuh diri, karena itu sekalipun dalam hidup ini ada penderitaan bahkan resiko kehilangan nyawa biarlah iman kita tetap kokoh untuk memilih hidup yang kekal, sekali Yesus tetap Yesus!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s