Tradisi Natal- Oleh: Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 18 Desember 2016)

Pada akhir tahun 300-an Masehi, agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang bukan Kristen pada saat itu, melainkan kelahiran dewa matahari .

Sebagai bagian dari perayaan kelahiran dewa matahari, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Jadi segala ornamen Natal yang sekarang banyak digunakan untuk menghias bukanlah inti dari Natal. Melainkan Yesuslah natal itu sendiri. Natal juga persiapan untuk menyambut tahun baru. Sebab di tahun yang baru pasti ada badai kehidupan yang menanti.

BERSAMA TUHAN MENGATASI BADAI

Badai sedang terjadi di Indonesia yaitu masalah kerukunan agama, terorisme. Keadaan dunia yang terjadi sekarang atas seijin Tuhan. Sebab Tuhan punya tujuan

dan tujuan Tuhan pasti baik. Roma 8:28 “untuk kebaikan kita….”

Apakah Badai?

Mazmur 107:23-32, badai adalah cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu. Berdasarkan ilmu pengetahuan, badai disebut juga siklon tropis oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat.

Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 20 km/jam sampai 220 km/jam. Badai bukan angin ribut biasa sebab kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah. Dan tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang.

Badai juga bisa diartikan suatu problema, masalah, pergumulan, persoalan besar yang sedang terjadi dan berlangsung cukup lama dan berpotensi menghancurkan hidup kita dan seluruh sendi-sendi  kehidupan kita. Sebuah kesaksian tentang 2 keluarga yang alami masalah perselingkuhan. Salah satu diantaranya tidak bertahan sehingga menjadi keluarga yang hancur bukan hanya pasangan suami istri yang hancur, tetapi anak-anaknya pun demikian. Lain sekali dengan keluarga yang satunya, tidak sama dengan keluarga pertama. Keluarga tersebut tetap bertahan dalam badai rumah tangga dengan doa. Sehingga keluarga tersebut alami pemulihan dan dapat kembali dipersatukan.

Badai dapat terjadi dalam kehidupan siapapun, meskipun dengan badai yang berbeda. Contohnya badai yang terjadi dalam kehidupan pribadi Yusuf dan kehidupan Maria. Maria mengandung sebelum menikah dengan Yusuf. Mereka harus kembali ke Bethlehem untuk pendaftaran yang diadakan kaisar Agustus. Tetapi badai belum reda, pada waktu Yesus berumur 2 tahun, Yesus hendak dibunuh oleh raja Herodes, sehingga mereka mengungsi sampai ke Mesir.

Cara menghadapi Badai

  1. Mengaku bahwa sebesar dan sehebat apapun kapal dagang milik kita, Tuhanlah yang empunya lautan.

Semua kesuksesan adalah berkat Tuhan. Hendaknya kita rendah hati dan tidak sombong apalagi merendahkan orang lain. Kita punya modal, kesempatan, ilmu. Namun manusia hanya berusaha dan Tuhanlah yang berkuasa untuk meredakan badai. Seperti halnya yang dialami oleh Yunus. Ketika ia mengakui kebesaran Tuhan maka badai Tuhan redakan, Yunus 1:9.

Demikian juga dengan Ayub. Ketika dalam badai, ia mengakui bahwa Tuhan yang memberi Tuhan juga yang mengambil. Dalam hidup ini, Tuhan yang memberi kekuatan untuk memperoleh kekayaan. Tuhan merancang untuk menggenapkan firmanNya – Ulangan 8:18-19. Dalam badai kita juga belajar taat dan menyadari bahwa Tuhan berkuasa atas hidupnya dan Yusuf belajar bergantung kepada-Nya.

  1. Tuhan pemilik badai, Dia berkuasa membangkitkan dan meredakan badai.

Mazmur 107:6, 13, 19

“Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.” (ay. 6)

“Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka.” (ay. 13)

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,” (ay. 19)

Dalam menghadapi badai maka selayaknya kita berseru kepada Tuhan lewat doa-doa kita atau lewat jam-jam doa yang diadakan oleh gereja, seperti doa rantai, menara doa, doa jumat dan  doa raya.

  1. JIKA Tuhan belum meredakan badai, jangan melawan badai yang datang dengan kekuatan diri kita, tetapi andalkan Tuhan

Markus 4:37-39, saat badai datang, berlindung pada batu karang, ay.28. Seperti Maria dan Yusuf berkata kehendak Tuhan yang jadi maka Tuhan akan nyatakan kuasaNya. Maka Tuhan akan berkata “Aku yang berperang ganti kamu, kamu diam saja.” Tuhan tidak akan memerintahkan apa yang kita tidak sanggup menjalaninya.

2 Petrus 1:3,  sebelum Dia teduhkan badai, Dia teduhkan badai di hati kita.

Yohanes 16:33, Aku telah mengalahkan dunia.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s