APAKAH YANG KAMU CARI – Seri 10 (PERSEKUTUAN) – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 12 Februari 2017)

Yohanes 1 : 35-39

Pendahuluan

“Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” menunjukkan kerinduan murid-murid untuk  mengenal Yesus lebih dalam lagi.

Tanda seorang murid sejati adalah mengenal sang guru dengan benar. Banyak orang Kristen “mengetahui” tentang Tuhan, tetapi tidak “mengenal” Tuhan. Mereka tahu perkara-perkara tentang Tuhan, tetapi mereka tidak benar-benar mengenal Tuhan.

Selain pengenalan; “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” menunjukkan kepada kita tentang : PERSEKUTUAN.

Kalau kita menilik kembali sistim sekolah kerabian Yahudi, maka persekutuan merupakan syarat mutlak dalam proses pembelajaran. Seorang murid wajib tinggal bersama sang guru, karena dari sanalah mereka akan belajar tentang pengetahuan melalui kehidupan sang guru. Tanpa persekutuan mustahil seorang murid bisa belajar dari sang guru.

Mengapa diperlukan persekutuan?

  1. Pengenalan dibangun melalui Persekutuan

Murid-murid Yohanes sadar bahwa untuk mengenal Yesus lebih dalam mereka harus bersekutu denganNya. Untuk itulah mereka bertanya : “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?”

Persekutuan adalah jalan menuju pengenalan. Kita semua tahu tentang Bp. Joko Widodo. Dia adalah Presiden Indonesia saat ini. Tetapi apakah kita mengenal beliau? Tidak! Mengapa? Karena kita tidak pernah bersekutu dengan dia. Jangankan bersekutu bertemu pun kita belum pernah. Itulah sebabnya kita tidak mengenal Bp. Jokowi. Pengenalan hanya dilahirkan melalui persekutuan.

 

Yohanes 10:14 

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.

Apa yang menyebabkan domba-domba mengikuti gembalanya? Karena mereka mengenal suara gembala. Mengapa domba dapat mengenal suara gemabala? Karena antara domba dan gembala membangun persekutuan dari hari ke hari. Setiap hari, pagi dan sore, gembala menggiring domba ke kandang dan memanggil nama mereka satu persatu. Ini berlangsung sehari 24 jam, seminggu 7 hari dari bulan ke bulan. Itulah sebabnya domba mengenal betul suara mana yang harus mereka ikuti.

Sebagai murid Tuhan, apakah kita memiliki pengenalan yang benar tentang Tuhan Yesus? Pengenalan kita hanya terjadi sejauh persekutuan yang kita bangun dengan pribadiNya. Semakin erat kita membangun persekutuan denganNya semakin dalam pengenalan kita kepadaNya.

Mari kita melihat perbandingan pengenalan murid-murid sebelum dan sesudah melewati persekutuan.

a. Ketakutan vs Iman

Sebelum memiliki pengenalan yang benar tentang Tuhan Yesus, murid-murid merasa takut saat mereka diterpa badai di danau Galilea (Lukas 8:22-25). Tetapi setelah menjalani persekutuan dengan Tuhan selama 3,5 tahun mereka tidak lagi takut, sebaliknya dengan penuh iman dan keberanian untuk memberitakan Injil.

 b. Kenyamanan vs Penderitaan

Tanpa pengenalan yang benar tentang Yesus, murid-murid hanya mencari kenyamanan dan kesenangan diri sendiri. Itulah sebabnya saat Yesus menyampaikan penderitaan yang akan dialamiNya, murid-murid menolaknya dan menghindarinya. Setelah melewati persekutuan yang benar mereka tahu bahwa mengikut Yesus harus bersedia memikul salib. Murid-murid tidak lagi takut sebaliknya dengan berani menghadapi aniaya bahkan kematian sekalipun (Kis. 4:13).

c. Egois dan Hamba

Sebelum memiliki pengenalan murid-murid dipenuhi rasa egois. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan dipenuhi kesombongan, merasa diri yang paling besar (Luk 9:24). Tetapi setelah melewati persekutuan dengan Yesus hati mereka penuh dengan kerendahan hati. Kepada anak-anak Tuhan Petrus menyampaikan pesan tentang kerendahan hati dan berhati hamba. (1Pet.2 : 11-17)

 

  1. Pengenalan adalah tahapan

Pengenalan adalah sebuah proses. Bukan instant, karbitan ataupun dadakan. Pengenalan adalah tahapan, satu tingkat ke tingkat berikutnya. Kita dapat menemukan beberapa ayat firman Tuhan yang menunjukan bahwa pengenalan adalah tahapan.

1Yohanes 2 : 13, 14

Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Jelas sekali bahwa pengenalan kepada Tuhan memiliki tingkatan yang menunjukkan tahapan dari pengenalan akan Tuhan. Ada pengenalan tingkat anak-anak, kemudian tingkat orang muda dan akhirnya tingkat bapa-bapa. Seorang yang baru mengalami kelahiran baru, ia memiliki pengenalan tingkat anak-anak. Diharapkan seiring pengiringannya kepada Tuhan, pengenalannya kepada Tuhan akan bertumbuh hingga  mencapai pengenalan tingkat bapa-bapa. Rasul Paulus memberi tegoran kepada orang-orang Ibrani karena mereka tidak mengalami pertumbuhan pengenalan akan Tuhan, sekalipun telah lama mengikut Tuhan.

Ibrani 5:12

Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

Contoh : Orang banyak dan Murid-murid – Yohanes  6:66 – 68

Orang banyak : Mendengar perkataan Yesus -> MENGUNDURKAN DIRI

Murid-murid : Mendengar perkataan Yesus -> TINGGAL TETAP

Mengapa responnya berbeda? Jawabnya adalah “PENGENALAN”. Murid-murid memiliki pengenalan yang benar tentang Yesus. Oleh karena itu, mereka menerima firmanNya sekalipun keras.

  1. Persekutuan menghasilkan BUAH

Yohanes 15 : 5

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Sebagaimana ranting tidak dapat berbuah tanpa menempel pada pokoknya, pemuridan juga tidak akan berhasil jika tidak menempel pada gurunya. Persekutuan dengan sang Guru adalah penentu keberhasilan. Sekali lagi pendidikan rabinik dilakukan melalui hubungan/persekutuan antara murid dan sang guru. Seorang murid harus tinggal bersama di rumah sang guru hingga menamatkan pendidikannya.

Semua pencapaian, prestasi, pelayanan, berkat, kesuksesan tanpa PERSEKUTUAN dengan sang Guru adalah KEGAGALAN. Semua harus diawali dari Tuhan. Seorang murid datang dalam keadaan kosong, bodoh dan tanpa pengetahuan. Sang gurulah yang mengisinya dengan ilmu pengetahuan hingga penuh.

1Yohanes 4:10

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Kita harus menerima dari Tuhan lebih dahulu, baru setelah itu dapat melepaskan kasih kepada orang lain. Tanpa menerima dari Tuhan kita gagal melepaskan apapun kepada orang lain. Contoh: Wanita Samaria dan Zakheus. Kedua orang ini dapat membagikan kasih kepada sesamanya setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Dalam perjumpaan inilah mereka menerima kasih Allah, sehingga mampu membagikan kasih kepada orang lain. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menerima kasih dari Tuhan?

Perbandingan antara Maria dan Marta, Lukas 10 : 38 – 42

Gambar

maria-marta

Perhatikan tabel di atas. Tidak ada yang salah dengan Maria maupun Marta, tetapi cara yang dipilih Maria adalah cara yang terbaik. Maria memilih untuk menerima terlebih dahulu dari Tuhan sebelum berdiri dan melayani. Ia mendengarkan suaraNya, menanti arahanNya barulah melayaniNya. Sebaliknya Marta melayani dengan kekuatannya sendiri, ia tidak menerima apapun dari Tuhan akibatnya ia kelelahan, marah dan menyusahkan diri sendiri.

Sebagai murid Tuhan, sudah sepatutnya kita mendengarkan lebih dahulu dari Guru kita barulah melayaninya. Bangunlah persekutuan dengan pribadi dengan DIA barulah melayani. Tuhan memberkati.! KJP!

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s