APAKAH YANG KAMU CARI? – PERSEKUTUAN-Seri 11 oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1 – Minggu, 26 Maret 2017)

Yohanes 1: 35-39

“Rabi (artinya: Guru),  di manakah Engkau tinggal?” Yohanes 1 : 38

Seperti yang sudah kita pelajari, sekolah kerabian Yahudi mengharuskan seorang murid tinggal bersama dengan gurunya. Rumah sang guru dan alam luas merupakan ruang kelas favorit bagi pendidikan seorang rabi. Disinilah pemindahan ilmu pengetahuan dan impartasi kehidupan diberikan oleh sang guru kepada murid-muridnya. Semuanya mengalir secara alami dari hari ke hari siang dan malam.

Dua bagian terakhir yang sudah kita pelajari tentang makna pertanyaan dua orang murid Yohanes: “Guru [artinya guru] dimanakah Engkau tinggal? adalah tentang “pengenalan dan persekutuan”.

  1. PENGENALAN

Guru dimanakah Engkau tinggal? Menunjukan kerinduan kedua orang murid Yohanes untuk mengenal guru barunya lebih dalam lagi. Pengenalan kepada sang guru adalah landasan pertama bagi seseorang untuk menjadi seorang murid sejati. Kegagalan mengenal sang guru adalah kegagalan menjadi murid. Mengapa? Karena pengenalan melahirkan percaya, dan percaya memperanakan ketaatan. Tanpa mengenal benar kepada sang guru, murid-murid akan gagal mempercayai semua ajaran gurunya dan akibatnya mereka juga gagal mentaatinya.

Mengapa banyak orang kristen yang imannya tidak bertumbuh? Tua di gereja tetapi tidak menjadi dewasa dalam iman? Mereka mengeluh dan merasa berat untuk melakukan firman Tuhan? Persoalannya bukan karena kurangannya kemampuan untuk menyerap berita firman Tuhan tetapi kurangnya pengenalan kepada Tuhan. Kita tahu tentang Tuhan, tetapi tidak mengenalnya. Kita tahu cerita firman tetapi tidak mengenal Sang Firman. Sebab itu upaya terbesar yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah berusaha mengenal Tuhan dengan benar. Semakin mengenal semakin mudah kita percaya. Semakin kita percaya, semakin kita mentaatiNya.

Rasul Paulus adalah orang yang memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan. Akibat pengenalannya kepada Tuhan membuat dia menjadi seorang rasul yang radikal dalam pengiringannya kepada Tuhan. Dalam Filipi 3:8  mengatakan: Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Bagi Paulus semua yang ia peroleh dan miliki tidak ada artinya, dibandingkan dengan pengenalannya kepada Kristus. Semua adalah sampah! Bagaimana dengan kita? Pengenalan yang benar, menghasilkan murid yang radikal.

  1. PERSEKUTUAN

Makna kedua dari pertanyaan dua orang murid Yohanes: “Guru [artinya guru] dimanakah Engkau tinggal? Adalah: “Persekutuan”. Seorang murid tidak cukup hanya mengenal gurunya, ia harus hidup bergaul dengan gurunya dalam persekutuan yang erat. Pengenalan berbuahkan percaya, tetapi persekutuan melahirkan kuasa. Melalui persekutuan dengan sang guru seorang murid Yahudi akan menerima segala pengajaran, pengetahuan dan kuasa dari gurunya.

Sebagai murid Kristus, tidak cukup kita hanya mengenal siapa Yesus, apa yang telah dilakukan dan perkataan firmanNya. Kita harus bersekutu pribadi dengan Dia. Yesus berkata: ranting tidak dapat menghasilkan buah jika tidak melekat kepada pokoknya. Kristenan kita akan tumpul, kering bahkan mati, jika tidak menjalin hubungan dengan Dia dalam persekutuan pribadi.

Selain dua hal di atas, makna pertanyaan dua orang murid Yohanes: “Guru [artinya guru] dimanakah Engkau tinggal? juga mengandung pengertian tentang “Penyerahan.”

  1. PENYERAHAN

Seorang murid bukan sekedar seorang pengikut tetapi ia adalah seorang penurut, ia bukan seorang yang pasrah tetapi  seorang yang menyerah. Penurutan dan penyerahan dalam sistem sekolah Yahudi adalah hal yang mutlak harus dilakukan oelah seorang murid. Tanpa menyerah penuh kepada kehendak sang guru, seorang murid akan gagal menempatkan dirinya sebagai murid.

Harga Penyerahan Seorang Murid

Lukas 14 : 25-33

Tuhan Yesus telah menetapkan harga penyerahan seseorang untuk  menjadi murid Yesus. Dan harganya adalah:

1. Membenci Keluarganya

ay 26

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Apakah Tuhan Yesus sedang bercanda atau main-main ketika mengatakan hal ini? Tidak! Ia serius bahkan sangat serius untuk mengatakan hal ini. Seorang yang mau menjadi muridNya harus berani membenci keluarganya. Ia harus membenci bapaknya, ibunya, saudaranya laki-laki dan perempuan bahkan semua orang yang dikasihinya. Membenci yang dimaksudkan Tuhan Yesus disini bukanlah membenci dalam arti tidak senang yang penuh perlawanan tetapi membenci disini artinya menempatkan kasih kepada Tuhan Yesus melebihi dari kasih kita kepada keluarga yang kita kasihi. Kecintaan kita kepada Tuhan Yesus harus melebihi kecintaan kita kepada keluarga.  Jadi seorang murid harus lebih mencintai Tuhan dari pada keluarganya.

Mari kita lihat contoh dari kehidupan Bapa Abraham.

Kejadian 22:1,2

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Setelah menanti 25 tahun untuk mendapatkan seorang anak yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya, Abraham tentu sangat bersuka cita menyambut kelahiran Ishak. Hadirnya Ishak di tengah keluarga Abraham, dapat dengan mudah menggeser cinta Abraham kepada Tuhan. Untuk menguji cintanya kepada Tuhan, Allah mencobainya dan memperintahkan mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Ternyata cinta Abraham kepada Tuhan tidak dapat digantikan oleh apapun. Ia mengasihi Tuhan lebih dari kasihnya kepada anak dan keluarganya.

 

2. Membenci dirinya sendiri.

ay . 27

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Harga kedua yang harus dibayar oleh seorang murid adalah membenci dirinya sendiri. Menjadi seorang murid bukan untuk mencari kenyamanan dan menikmati kenikmatan dunia. Seorang murid adalah seorang yang berani membenci dirinya sendiri bahkan nyawa sekalipun ia berani korbankan.

Lihat pernyataan rasul Paulus setelah ia menjadi murid Yesus.

Kisah Rasul 20:24 

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Membenci diri sendiri itu artinya tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, melainkan hidup bagi Kristus.

Galatia 2:20 

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 

3. Melepasakan segala miliknya

ay 33

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

Mengapa seorang murid harus melepaskan segala miliknya? Sebab Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.

Matius 6:24 

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan yaitu Tuhan atau uang, Allah atau mammon. Kita tidak bisa berdiri di wilayah netral antara mengasihi Allah dan mencintai mammon. Saat kita mengasihi Allah, seharusnya kita membenci mammon. Sebaliknya jika kita mengasihi mammon maka itu berarti kita sedang membenci Allah.

Kalau kita menilik perjalanan gereja mula-mula, roh mammon, cinta akan uang adalah hal pertama yang diserang oleh rasul-rasul.

Kisah Rasul 4:34

Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Uang, kekayaan, mammon tidak menjadi tuan diatas kepala mereka, tetapi menjadi hamba dibawah kaki rasul-rasul. Jangan biarkan uang menjadi tuan atas diri kita, kalahkan roh cinta uang agar tidak menganggu  perjalanan menuju murid yang sejati.

Ayub adalah contoh yang baik dari seorang yang mengalahkan mammon dalam hidupnya.

Ayub 1:21

katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Tiga bahaya cinta akan uang

a). Ketidakpuasan

Pengkhotbah 5:10

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.

b). Kekuatiran

Pengkhotbah 5:12

Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.

 c). Menyimpang dari Ima

1Timotius 6:10

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Hidup hanya sekali dan sangat terbatas. Jangan sia-siakan hidup ini. Berserahlah kepada Tuhan dan jadilah muridNya. Seorang murid adalah seorang yang menyerah sepenuhnya kepada Allah. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s