APAKAH YANG KAMU CARI Seri 12 “MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA” – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2-Minggu, 30 April 2017)

Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.

” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal,

dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia;

waktu itu kira-kira pukul empat.

 

Kehadiran Tuhan Yesus telah membuat perubahan besar kepada dua orang murid Yohanes pembaptis. Secara spontan mereka meninggalkan Yohanes pembaptis kemudian pergi mengikut Yesus.  Dengan rasa haus dan kerinduan yang dalam mereka dengan terus terang menjawab pertanyaan Yesus: “apa yang kamu cari?” Rabi (artinya guru) dimanakah Engkau tinggal? Murid-murid bukan ingin melihat seperti apa tempat tinggal Yesus. Apakah rumah Yesus besar atau kecil? Di kota atau di desa? Bukan! Mereka menanyakan tempat tinggal Yesus karena mereka ingin menjadi muridNya.

Bagian terakhir yang sudah kita pelajari tentang makna pertanyaan murid-murid Yahanes pembaptis; “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” adalah:

 a. pengenalan

b. persekutuan

c. penyerahan

Pada pagi hari ini, kita akan melanjutkan pembahasan kisah ini dengan tanggapan Yesus terhadap pertanyaan murid-murid Yohanes. Mari kita perhatikan dialog antara Tuhan Yesus dan murid-murid Yohanes pembaptis yang mengikut dari belakang.

Yesus : “Apakah yang kamu cari?”

Murid Yohanes : “Rabi (artinya: Guru), dimanakah Engkau tinggal?”

Yesus : “Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Jawaban Tuhan Yesus kepada murid-murid Yohanes ini memberikan pengertian kepada kita beberapa hal yaitu:

  1. Penerimaan Total

Dengan  berkata: “Marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti Tuhan Yesus menerima kedatangan dua orang murid Yohanes. Tuhan Yesus tidak mempersoalkan asal usul mereka, kecakapan yang mereka miliki atau bahkan keluarga dan latar belekang mereka. Sebaliknya dengan kedua tangan yang terbuka Tuhan Yesus menerima mereka apa adanya.

Seperti Tuhan Yesus menerima kedatangan dua orang murid Yohanes, Ia juga menerima semua orang yang datang kepadaNya.

Dalam dunia ini ada banyak penolakan. Ada anak-anak yang ditolak saat mendaftar sekolah karena dianggap kurang pintar. Tidak sedikit anak-anak remaja dan pemuda ditolak dalam pergaulan karena dianggap tidak level, kurang gaul atau bahkan tidak satu ras/suku. Para pelamar kerja ditolak karena dianggap tidak memadai atau kurang cakap. Dan entah sudah berapa banyak anak-anak yang lahir ditolak oleh orang tuanya karena berbagai alasan. Ada seorang ibu yang rela membuang anaknya karena tidak menghendaki kehadirannya. Mungkin masalah ekonomi, lahir di luar nikah atau anaknya lahir cacat. Dengan berbagai alasan seseorang bisa menolak kita, tetapi tidak dengan Tuhan Yesus. Dia menerima kita apa adanya.

Yesaya 49:15

Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Yohanes 6:37

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Dengan tangan terbuka Tuhan Yesus menerima setiap orang yang datang kepadaNya, bahkan yang sudah rusak sekalipun Ia tetap menerimannya. Sebesar apapun kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan tidak akan pernah merubah cinta dan kasihNya kepada kita. Sebab untuk itulah  Ia datang yaitu memanggil orang berdosa.

Markus 2:17

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Banyak orang merasa tidak layak untuk datang kepada Yesus, karena keadaannya yang berdosa. Semakin banyak ia berdosa semakin tidak layak datang kepadaNya. Ini sikap yang salah, sebab Tuhan Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa bukan orang yang merasa benar.

1Timotius 1:15

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

  1. Undangan untuk menjadi murid.

Jawaban Tuhan Yesus: “marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti  Ia menerima dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk menjadi muridNya. Ingat, dalam sistim sekolah kerabian Yahudi seorang guru memiliki kuasa untuk menerima atau menolak seseorang menjadi muridnya. Dengan berkata “marilah…” adalah tanda penerimaan bagi murid Yohanes yang mengikutiNya dari belakang.

Setiap orang percaya dipanggil bukan hanya sekedar “mengakui” tetapi “mengikuti”. Kekristenan memang diawali dari percaya dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi kekristenan tidak boleh hanya bertumpu pada pengakuan saja tanpa ada ketaatan. Pengakuan yang benar selalu dikuti dengan perbuatan yang benar pula, Panggilan Tuhan kepada kita bukan saja untuk Keselamatan. Kita terima melalui “pengakuan” tetapi kedewasaan dihasilkan melalui penurutan.

Apakah artinya menjadi seorang murid?

Dalam bahasa Yunani seorang murid disebut “Mathetes” artinya:

a. Seorang yang belajar, (Matius 11:29, Matius 28:19)

b. Pengikut atau penganut. (Matius 4:19, 9:9, 19:21; Lukas 5:11)

Dari arti kata “Mathetes” dapat kita simpulkan bahwa seorang murid adalah seorang yang belajar meneladani kehidupan Yesus.

1Yohanes 2:6

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

  1. Undangan untuk menerima dari sang guru

Pada umumnya seorang murid yang sedang belajar berawal dari ketidaktahuan dan ketidakbisaan. Melalui belajar mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan yang tidak bisa menjadi bisa. Dalam keadaan kosong, bodoh, murid-murid akan menerima ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh sang guru. “Marilah dan kamu akan melihatnya” itu berarti bahwa Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes untuk menerima pengajaran, pengetahuan, hikmat, kuasa dan kehidupan dari Yesus.

Seperti murid-murid Tuhan Yesus yang diperlengkapi sebelum mereka pergi melayani, demikian juga kita sebagai gereja Tuhan. Tuhan ingin memperlengkapi kita sebelum kita pergi menjangkau dunia.

Kegagalan memberi karena kegagalan menerima.

Tanpa menerima sesuatu dari Tuhan kita akan gagal memberikan apapun kepada sesama. Kita harus menerima terlebih dahulu dari Tuhan, barulah kita dapat mengalirkan kepada yang lain. Dalam Markus 6 : 35 – 44, adalah kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki. Yang menarik dari kisah ini adalah saat dimana murid-murid angkat tangan tidak mampu memberi mereka makan karena tidak ada persediaan makanan. Dari tangan seorang anak kecil mereka mendapati lima roti dan dua ekor ikan sebagai bekal ia makan. Tetapi apalah artinya untuk orang sebanyak ini? Memang tidak ada artinya! Lalu apa yang kemudian terjadi? Lima roti dan dua ekor ikan diberikan kepada Yesus.

Ayat 41

Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Puji Tuhan! Setelah murid-murid menerima roti dan ikan dari tangan Tuhan Yesus, mereka membagi-bagikannya kepada orang banyak dan alkitab menulis, semua orang makan sampai kenyang bahkan sisa dua belas bakul. Sekali lagi kita harus menerima dulu dari Tuhan, barulah kita bisa membagikan kepada orang lain. Tanpa menerima dariNya, kita gagal membagikan apapun kepada orang lain.

Contoh lain yang dapat kita pelajari dari prinsip ini adalah Kisah kakak beradik Maria dan Marta yang ditulis dalam Lukas 10:38-42. Maria, ia duduk dekat Tuhan, ia mendengar suaraNya membiarkan Tuhan melayaninya. Maria menerima firmanNya dan membiarkan Tuhan memenuhi hidupnya sebelum ia berdiam untuk melayani. Berbeda dengan Marta. Marta sibuk melayani tanpa terlebih dahulu menerima dari Tuhan. Akibatnya Marta marah-marah, melayani dengan persungutan.

Bapak, Ibu dan sdr/i, kapan terakhir kali kita menigijinkan Tuhan melayani kita. Sang Guru mengajar dan memenuhi kita dengan kasihNya? Jadilah seperti Maria, duduklah dulu di kaki Tuhan, injinkan DIA mengisi hidup kita agar kita dapat membagikan kepada orang lain. Sebab itu dengarlah suaraNya: “marilah dan kamu akan melihatnya.” Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s