YESUS ANAK DOMBA ALLAH – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 7 Mei 2017)

Yohanes 1:29-34

PENDAHULUAN

Dalam ayat kebenaran firman Tuhan yang kita bahas hari ini, Yohanes Pembaptis memakai perumpamaan dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah.” Tujuannya agar pendengar bisa dengan mudah mengerti maksud firman Allah. Dalam beberapa injil sinopsis (Matius, Markus, Lukas) Yohanes pembaptis sering memakai perumpamaan, seperti:

  • Matius 3:10 – Kapak sudah tersedia pada akar pohon.

Kapak berbicara tentang penghukuman sedangkan orang percaya digambarkan seperti sebuah pohon yang diharapkan menghasilkan buah. Jika kita sebagai orang percaya tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan maka sudah tersedia kapak penghukuman bagi kita.

  • Matius 3:12 – Mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung

Orang percaya yang berbuah digambarkan seperti bulir gandum yang berharga yang harus dikumpulkan dan dibawa ke lumbung. Demikian orang yang berkenan kepada Tuhan suatu waktu akan dikumpulkan Tuhan dan dibawa ke tempat menyenangkan yaitu sorga. Sebaliknya anak Tuhan yang tidak berbuah akan menjadi seperti sekam yang tidak berguna sehingga dibuang dan dicampakkan.

 

  • Lukas 3:5 – Lembah akan ditimbun, gunung dan bukit akan menjadi rata.

Hidup orang Kristen harus seperti tanah yang rata dan lurus bagi Tuhan. Sebab itu ada lembah yang harus ditimbun artinya ada bagian kosong dalam diri kita yang perlu diisi dengan nilai yang berharga. Bukan dengan materi atau perkara dunia melainkan dengan hal rohani. Demikian halnya dalam hidup kita juga ada bukit atau gunung yang menggambarkan dosa atau hal yng tidak berkenan, kita harus ijinkan Tuhan meratakannya dengan Firman Allah yang sering kali keras.

  • Lukas 3:17 – Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan pengirikannya.

Alat penampi sudah ada di tangan Yesus dan Ia siap memisahkan antara gandum dan sekam. Alat penampi itu bisa diartikan Firman Tuhan yang kita dengar saat beribadah ataupun ujian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, semuanya bertujuan untuk memurnikan hidup kekristenan kita.

  • Lukas 3:17 – Debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tak terpadamkan.

Kalau kita tidak memiliki kualitas kekristenan seperti bulir gandum yang bernilai melainkan seperti debu jerami yang tidak berharga maka kita akan dicampakkan dan dibakar dalam api yang tak terpadamkan yaitu neraka.

 

ANAK DOMBA ALLAH

Dalam Yohanes 1:29, Yohanes Pembaptis kembali menggunakan perumpaan dengan menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah. Apakah maksud Yohanes pembaptis menggambarkan Yesus sebagai Anak Domba Allah? Dalam masa perjanjian lama orang hidup dalam era ibadah tipologi (gambaran) dimana untuk menerima pengampunan dosa, diajarkan orang harus membawa korban, salah satunya anak domba. Setelah menyembelihnya dan mengambil darahnya untuk pengudusan maka bangsa Israel mengalami pengudusan oleh korban anak domba itu. Namun pengampunan yang dikerjakan ibadah ini tidak kekal. Artinya korban domba diulangi setiap kali bangsa israel berbuat dosa. Ketika Yesus datang sebagai Anak domba Allah untuk melakukan pengudusan bagi kita ini terjadi sekali untuk selamanya.

Perkataan  Yohanes pembaptis tentang Anak domba Allah dapat kita hubungkan dengan pertanyaan Ishak dalam Kejadian 22:7-8, lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “di manakah anak domba untuk korban  bakaran itu?”

Ishak tidak tahu kalau dirinya-lah yang harus dikorbankan. Dan jawaban dari Abraham “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya..” Ini dari satu sisi adalah ucapan Iman dari Abraham.

PERTANYAAN ISHAK

Pertanyaan Ishak sebenarnya mewakili pertanyaan semua orang di dunia sebelum mengenal siapa Anak domba Allah yang mau menggantikan posisi kita. Sebab dalam Roma 6:23 “sebab upah dosa ialah maut.” Artinya semua orang yang berbuat dosa akan masuk neraka yang kekal. Menyadari akan hal itu maka muncul berbagai agama yang mengajarkan bagaimana bisa masuk sorga ketika hidup di dunia ini berakhir termasuk dengan perbuatan baik. Namun itu bukanlah solusi sebab tidak ada alat tukar bagi manusia untuk selamat dari maut termasuk dengan melakukan kebaikan. Karena kita tidak berdaya untuk melepaskan diri kita dari maut maka manusia mencari solusi bagi keselamatan dirinya. Muncul satu pertanyaan besar “Siapa yang bisa menyelamatkan aku dari kebinasaan?”

Ada orang yang merasa perjalanan hidupnya terhuyung-huyung tidak memiliki kepastian akan masa depannya (Amsal 24:11). Kita ada dalam sebuah kendaraan yaitu waktu. Waktu akan mengantar kita kepada kematian dan jika tidak punya solusi dengan dosa maka kita seperti orang yang akan dibantai dalam tempat pemancungan. Karena itulah Yohanes pembaptis mendeklarasikan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang akan menggantikan posisi kita.

Penjelasan Yohanes Pembaptis

 

Di gunung moria ada berbagai bukit salah satunya adalah bukit Golgota. Ketika Ishak bertanya kepada Abraham tentang dimana domba yang akan dijadikan korban maka ini menjadi pertayaan dari semua orang karena semua orang telah berbuat dosa dan membutuhkan keselamatan. Sekitar 2.000 tahun setelah peristiwa Abraham dan Ishak maka Yohanes pembaptis memperkenalkan kepada semua umat manusia domba pengganti yang diberikan Allah untuk menebus dosa semua manusia yaitu Yesus. Dialah yang mati di Golgota untuk menggantikan kita.

PERKEMBANGAN KORBAN DOMBA

Kejadian 4:4            Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 pribadi.

Kain dan Habel mempersembahkan korban, namun persembahan Kain tidak diterima karena tidak ada unsur darah, sedang Habel yang mempersembahkan domba yang terbaik dan ini diterima oleh Allah dan secara pribadi menjadikan Habel berkenan kepada Allah. Ini memberi pengertian bahwa kita diselamatkan dengan menerima Yesus dengan sungguh-sungguh sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Keluaran 12:3 Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 keluarga

Setiap kepala keluarga wajib mengambil seekor domba untuk dikorbankan bagi seisi keluarganya. Setiap anggota harus makan korban paskah ini dan darah Domba menjadi tanda untuk keluarga Israel. Ini memberi pengertian jika kita sudah menerima korban Domba keselamatan secara pribadi maka kita juga punya tanggung jawab memikirkan keselamatan keluarga kita baik anak, istri, suami, orang tua.

Imamat 16:33 Korban domba dilakukan untuk kebutuhan 1 bangsa

Bangsa Israel punya Imam besar yang mengadakan acara tahunan yaitu Grafirat besar, masuk ke ruang Maha kudus dan membawa korban darah lalu memercikannya ke tutup grafirat dan dosa seluruh Israel diampuni. Saat kita sudah diselamatkan maka kita tidak hanya memikirkan keluarga melainkan juga bangsa kita. Gereja harus berdoa bagi bangsa.

Yohanes 1:19 Korban domba utk seluruh dunia (umat manusia).

Korban Yesus cukup untuk keselamatan seisi dunia, karena itu kita harus memberitakan kepada semua orang agar mereka tahu keselamatan hanya diperoleh di dalam Yesus.

MENGHAPUS DOSA DUNIA

Kata “menghapus”, dalam bahasa Yunani ditulis AIRE, artinya: diangkat, dipikul dan dibawa pergi. Ketika kita percaya dan menerima Yesus dalam hidup kita maka Yesus mengangkat, memikul, memakukan dan membawa pergi serta membuang semua dosa-dosa yang dari dalam diri kita.

TENTANG DOSA

Sedang kata “dosa” ditulis tunggal. Ini memberi pengertian bahwa ada banyak macam dosa tapi dalam pandangan Allah tidak ada klasifikasi dosa. Artinya tidak ada dosa besar atau dosa kecil dan tidak ada dosa hitam atau dosa putih. Setiap dosa atau kesalahan adalah kejahatan atau pelanggaran di mata Tuhan. Pada saat kita percaya Yesus bahwa Yesus mati untuk menghapus dosa kita, pada saat itulah Yesus mengangkat; memikul; membawa pergi dan membuang semua dosa kita.

Yang Yesus ambil bukan hanya materi dosa (Mencuri,Membunuh dll), tetapi Yesus mengangkat; memikul; membawa pergi dan membuang semua prinsip dosa dari diri kita. Sehingga, kita bertumbuh semakin dewasa, sampai kita mencapai tingkat rohani di mana kita tidak ada keinginan untuk berbuat dosa lagi. Ini terjadi seiring pertumbuhan kekristenan kita, dimana kita mencapai kedewasaan rohani dan terlepas dari prinsip dosa.

I Korintus 13:11 “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang setelah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Ketika kita Kristen “kanak-kanak” maka kita masih berdosa dengan kata-kata dan pikiran kita, namun saat kita menjadi dewasa secara rohani maka perkataan, pikiran dan perasaan kita tidak lagi mengandung unsur dosa.

Secara jasmani kita bertumbuh menjadi dewasa secara natural, namun kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani secara otomatis melainkan kita perlu mengambil sikap untuk meninggalkan kondisi “kanak-kanak” yang masih hidup dalam dosa dan menuju kepada Manusia baru artinya menjadi sempurna dan bebas dari prinsip dosa. Untuk menjadi pengikut Yesus yang bertumbuh dan diubah dari hari ke sehari kita perlu menjadi dewasa dan sempurna seperti Yesus, sehingga tak ada lagi hasrat dalam diri kita untuk “berbuat dosa.”

Kolose 3:5-7 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.”

Sekalipun sudah ditebus darah Yesus namun masih ada dosa-dosa maka ini akan mendatangkan murka. Kita harus bersikap dewasa untuk mematikannya.

Kata “Matikan”, menurut American Standart Version (ASV): Put to death, diterjemahkan seperti tunas yang tumbuh kembali, dipetik agar mati sama sekali. Sikap seperti inilah yang harus kita miliki.

Kolose 3:8-9 “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,”

Selain mematikan kita juga harus membuang dan menanggalkan dosa. Kata “buanglah dan menanggalkan”. Dalam bahasa Yunani digambarkan seperti pakaian yang kita kenakan atau pakai dan menjadi gaya hidup kita. Tetapi sekarang pakaian lama itu harus kita tanggalkan atau tidak kita dipakai lagi dan kemudian mengenakan manusia baru kita seperti Yesus.

Kolose 3:10 “…dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diper-baharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya,”

Mengenakan Manusia Baru artinya seperti kita memakai baju. Sehingga baju itu jadi gaya hidup dan ciri khas hidup kita. Kehidupan baru atau cara hidup baru tanpa dosa, akan diperbaharui dari sehari ke sehari, sampai kita jadi pengikut Yesus yang benar, di mana prinsip dosa itu tak ada lagi dalam diri kita. Sehingga dosa, tidak lagi menjadi seperti beban; persoalan; pergumulan; peperangan; yang terus harus kita petik seperti tunas pohon. Atau harus kita tanggalkan seperti pakaian yang terus menerus kita harus tanggalkan dari diri kita. Ketika prinsip dosa itu sudah tidak ada lagi di dalam diri kita. Maka kita tidak punya keinginan atau hasrat lagi untuk berbuat dosa.

Yesus sudah menjadi korban bagi kita dan mengangkut semua dosa kita, sekarang adalah bagian kita untuk mengambil sikap untuk berkomitmen meninggalkan dosa dan menjadi dewasa dalam kerohanian dimana tidak ada lagi keinginan berbuat dosa dalam diri kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

 

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s