EVALUASI KEHIDUPAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 3 – Minggu, 11 Juni 2017)

2 Timotius 4 : 7

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

 

Pendahuluan

Dalam ayat ini Rasul Paulus sedang mengevaluasi diri dalam hidup pelayanannya. Evaluasi itu penting dan harus dilakukan oleh setiap orang percaya, karena dengan evaluasi kita akan dapat: memperbaiki kesalahan; mengetahui kekurangan atau kelemahan kita sehingga untuk selanjutnya kita dapat bertindak benar dan tepat. Menjelang kedatangan Yesus yang kedua kalinya, setiap orang percaya perlu mengadakan evaluasi kehidupan rohaninya. Apa saja yang perlu kita evaluasi dalam hidup kita ?

Dalam 2 Timotius 4:7 – Ada tiga hal yang telah dicapai Rasul Paulus :

  1. Paulus telah mencapai garis akhir.
  2. Telah memelihara iman.
  3. Telah mengakhiri pertandingan dengan baik.

TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR

Paulus mengatakan telah mencapai garis akhir, itu dapat berarti bahwa Paulus selama hidupnya tetap ada dalam jalur yang sudah ditentukan Tuhan; tidak menyimpang dan menyelesaikan semua lintasan demi lintasan sampai pada garis akhir dengan benar. Paulus menggambarkan kehidupan kita ini seperti sebuah pertandingan lari yang tidak tahu kapan finisnya dan hanya Tuhan yang tahu finis hidup seseorang. Semakin lama kita berada dalam lintasan arena kehidupan ini, kita harus berlari dengan sungguh-sungguh dan benar sesuai aturan, mengapa? Karena masih ada kemungkinan kita bisa digagalkan atau dikalahkan sehingga tidak sampai pada garis akhir. Ada musuh yaitu kuasa kegelapan yang memberi pengaruh agar kita keluar atau menyimpang dari garis iman yang telah ditentukan Allah.

Tidak sedikit orang percaya dalam perjalanan hidupnya tidak menyadari, bahwa dirinya sebenarnya sudah diluar jalur yang ditentukan Tuhan. Contohnya Jemaat Efesus dalam, Wahyu 2:2-3.( Lihat catatan khotbah Pdt. Yos Minandar  pada tanggal 4 juni 2017). Jemaat Efesus memiliki lima prestasi pelayanan yang diakui sendiri oleh Tuhan Yesus. Lima prestasi pelayanan itu adalah :

  • Jerih payah / kerja kerasnya dalam pelayanan sangat luar biasa.
  • Memiliki ketekunan yang mantap pantang menyerah.
  • Tidak mau kompromi dengan orang yang berlaku jahat, sehingga tidak mudah di dustai oleh rasul palsu.
  • Berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan.
  • Sabar dalam segala kesukaran dan penderitaan yang dihadapi.

Dengan melihat lima prestasi pelayanan yang sulit didapatkan di jemaat jaman sekarang ini, semua orang pasti menilai bahwa jemaat Efesus ini sungguh luar biasa baiknya. Kesiapan dalam melayani; pengorbanannya dan keteguhan imannya nyaris sempurna, tetapi ada yang tidak dapat dilihat manusia yang sangat diperhatikan Tuhan, apakah itu?

Perhatikan ayat selanjutnya dalam Wahyu 2:4 – Dikatakan : “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”  Ternyata jemaat Efesus tanpa disadari posisinya bukan lagi ada pada garis yang sudah ditentukan Tuhan, mereka melakukan semuanya itu tanpa kasih. Garis perjuangan iman kita dari awal sampai akhir adalah “Kasih”. Tanpa kasih semua prestasi pelayanan yang baik seperti apapun tidak ada artinya jika dikerjakan diluar garis yang ditentukan Tuhan ini.

Selanjutnya Tuhan memberi teguran dan kesempatan untuk jemaat Efesus, dalam Wahyu 2:5 – “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engakau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engakau lakukan, Jika tidak demikan, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau tidak bertobat.”

Posisi orang yang kehilangan kasih, bukan saja keluar dari garis ketentuan Tuhan tetapi dikatakan “Betapa dalamnya engkau telah jatuh.” Ia dikatakan telah jatuh dan kejatuhannya dikatakan begitu dalam. Sedalam apakah kejatuhan orang yang melayani tanpa kasih itu? Posisinya sama dengan orang yang belum bertobat, yaitu orang yang diluar Tuhan. Itulah sebabnya jemaat Efesus disuruh bertobat lagi dan memulai lagi dari awal sesuai aturan Tuhan. Jika jemaat Efesus berkeras hati tidak mau bertobat, maka Tuhan akan mengambil kaki diannya dari tempatnya. Kaki dian adalah pelita penerang dan ada tujuh pelita pada kaki dian yang berbicara tentang tujuh sidang jemaat dalam kitab Wahyu. Jika tidak bertobat dan kembali pada garis ketentuan Tuhan, jemaat Efesus kaki diannya akan diambil dan digantikan jemaat lain yang sesuai dengan aturan Tuhan. Kaki dian berbicara tentang jemaat lokal, tetapi dapat juga berbicara tentang kaki dian dalam kehidupan pribadi orang pecaya sebagai terang dunia ini.

Ada beberapa contoh tokoh Alkitab yang hidupnya menyimpang dari garis Tuhan, tetapi tidak mau bertobat sehingga kaki diannya diambil dan digantikan orang lain.

  • Raja Saul, 1 Samuel 28:16-18.

Saul dicabut kedudukannya sebagai raja dan digantikan oleh Daud, karena Saul yang dipilih Allah sendiri telah menyimpang dari garis ketentuan Tuhan. Ia memang melakukan perintah Tuhan, tetapi tidak dalam ketaatan sesuai garis yang diperintahkan Tuhan. Ia ditegur oleh nabi Samuel tetapi tidak mau bertobat, bukannya mencari Allah tetapi berbalik mencari dukun.

  • Yudas Iskariot, Kisah.1:16-20.

Jabatan Rasul sebagai kaki diannya dialihkan Tuhan kepada Paulus. Yudas yang telah terjerat ketamakan akan uang dan keluar dari garis ketentuan Tuhan dengan menjual Yesus hanya dengan 30 keping perak, menolak untuk bertobat. Kedudukannya oleh para rasul yang lain digantikan oleh Matias. Namun belakangan Matias tidak terdengar kiprahnya, tetapi Tuhan Yesus sendiri memilih Paulus untuk menduduki jabatan Rasul Tuhan itu. Baik Saul maupun Yudas mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan, namun gagal dalam menjalankan kehendak Tuhan karena telah menyimpang dari garis yang ditentukan Tuhan.

Bagaimana mereka bisa menyimpang? Menyimpangnya mereka bukan tanpa sebab , tetapi ada penyebabnya. Ibrani 3:13 – “ Tetapi nasehatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan hari ini, supaya jangan ada diantara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” Mereka menyimpang dan menjadi tegar hatinya untuk tidak kembali bertobat karena adanya tipu daya dosa.

MENJAGA DIRI TETAP DIGARIS YANG BENAR

Penting bagi setiap orang percaya untuk menjaga diri agar tidak keluar dari garis kebenaran Tuhan. Selain mengadakan evaluasi dalam hidup, kita juga dapat mencermati nasehat dalam surat yang ditulis oleh Yudas saudara Yesus secara jasmani. Yudas 1:11- “Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain, dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.”

Ada tiga tokoh yang disebutkan Yudas untuk kita belajar dari kejatuhan mereka yang memilih keluar dari garis kebenaran Tuhan. Apa dan bagaimana Kain, Bileam dan Korah itu?

  • JALAN HIDUP KAIN

Kain menjalankan kehidupan rohaninya tanpa iman yang benar, ia beriman tetapi dengan caranya sendiri. Dalam memberikan korban persembahan, Kain menolak aturan Tuhan. Setiap korban yang dibawa kepada Tuhan adalah korban domba karena melambangkan penebusan dosa manusia, tetapi Kain memakai caranya sendiri, ia tidak memakai domba tetapi hasil kebunnya.Persembahannya ditolak Tuhan, karena pengakuan iman seperti apapun tanpa tanda darah penebusan tidak akan pernah berkenan kepada Tuhan. Agama apapun yang mengaku beriman kepada Tuhan, tanpa ada tanpa darah penebusan anak domba (penggenapannya Yesus) agama itu sia-sia.

  • JALAN HIDUP BILEAM

Bileam mempraktekkan kehidupan pelayanannya untuk mencari keuntungan pribadi. Ia adalah seorang nabi yang dapat dibeli dengan uang sogokan. Kisahnya tertulis di Bilangan 22-24.

  • JALAN HIDUP KORAH

Korah adalah salah satu tokoh dan kepala suku Israel. Seharusnya ia menjadi contoh teladan, tetapi ia menolak otoritas Allah dengan memberontak kepada Musa hamba Allah. Korah tidak memiliki roh penundukkan diri terhadap otoritas Allah, ia memilih menyimpang dari garis Tuhan dan memberontak. Kisahnya ada dalam Bilangan 16.

Ketiga tokoh ini memang sudah tidak ada lagi, tetapi roh yang membuat mereka terjerat pada tipu daya dosa itu, masih berpengaruh sampai sekarang dan dapat merusak kesehatan rohani seluruh gereja Tuhan serta membuat gagal untuk mencapai garis akhir yang sudah ditentukan. Waspadalah dengan ketiga roh ini, sebab semua yang melakukannya dibinasakan oleh Allah.

Masih ada waktu bagi kita sebagai gereja Tuhan untuk mengevaluasi perjalanan iman kita. Dengan rela hati dan jujur, jika ada penyimpangan dalam pengiringan kita kepada Tuhan, bertobatlah dan kembali pada garis Tuhan. Gunakan waktu yang ada untuk setia beribadah, sebab dalam ibadahalah kita dikoreksi oleh pengajaran firman Tuhan. Pengajaran firman itu memurnikan dan meluruskan kita kembali pada garis kebenaran untuk kita mencapai garis akhir dengan kemenangan. Tuhan memberkati.

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s