APAKAH YANG KAMU CARI seri 15 “UNDANGAN UNTUK MENGIKUTI TELADANNYA” – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 16 Juli 2017 )

Yohanes 1: 35-39

 

Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.

” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal,

dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia;

waktu itu kira-kira pukul empat.

 

“Marilah dan kamu akan melihatnya” Hal ini memberikan pengertian kepada kita yaitu:

  1. Penerimaan Total
  2. Undangan untuk menjadi murid
  3. Undangan untuk menerima dari sang guru
  4. Undangan untuk mempercayaiNya sepenuhnya
  5. Undangan untuk menderita bersamaNya

 

Lima bagian di atas sudah kita pelajari sebelumnya, sekarang kita memasuki makna yang keenam yaitu:

Undangan Untuk Mengikuti TeladanNYA

 “Marilah dan kamu akan melihatnya” Ini artinya bahwa Tuhan Yesus sedang mengundang murid-murid untuk menerima pengajaranNya dan melihat/menyaksikan apa yang Ia kerjakan. Inilah yang membedakan pendidikan yang dilakukan sekolah umum dengan sekolah kerabian Yahudi, khususnya permuridan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Yesus mengajar bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan contoh dan tindakan nyata. Tiga setengah tahun Yesus bersama dengan murid-muridNya agar mereka tidak hanya memperhatikan ajaranNya tetapi juga gaya hidup yang Yesus praktekkan. Inilah KETELADANAN!

Yesus megajar dengan keteladanan

Dalam seluruh catatan Injil cara Tuhan Yesus mengajar lebih banyak menggunakan contoh, teladan dan praktek langsung ketimbang disampaikan dengan kata-kata. Pengajaran Yesus yang menonjol hanya terdapat dalam Matius 5 – 7, selebihnya Ia mengajar dengan cara pratek lapangan mempraktekkan keteladanan kehidupan.

Yohanes 13:15 

sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Arti kata Teladan : Yunani : Hupodeigma artinya contoh, pola, salinan, tiruan, gambaran, model. Inilah cara Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya. Ia memberikan contoh, pola, gambaran, model agar murid-muridNya dapat dengan mudah mengerti dan memahami ajaranNya. Caranya mengajar berbeda dengan cara orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengajar. Yesus mengajar dengan keteladanan, tetapi orang Farisi dan Ahli Taurat mengajar hanya dengan kata-kata, tanpa keteladanan.

Mat 23:1-3

Ayat 1  Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

Ayat 2  Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Ayat 3  Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Indonesia Krisis Keteladanan

Keteladanan telah menjadi barang yang langka di negeri kita. Para pemimpin tidak lagi menunjukan teladan yang baik bagi masyarakat. Mereka yang disebut sebagai “Yang Terhormat” karena menduduki tempat-tempat yang terhormat sebagai wakil rakyat, tetapi menunjukan perilaku yang tidak terhormat. Demikian juga mereka yang disebut “Yang Mulia” tetapi tindakannya tidak semulia namanya. Hukum dijualbelikan dan kebenaran diputarbalikan. Indonesia krisis keteladanan.

Gerakan “Revolusi Mental” yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo adalah upaya untuk mengembalikan jiwa keteladanan bangsa Indonesia seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Seorang pemimpin itu harus “Ing ngarso sun tuladha.” Pemimpin yang baik harus memimpin dengan keteladanan. Pemimpin harus memberi contoh yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Mengapa perlu keteladanan

  1. Teladan : kekuatan terbesar dan harga sesungguhnya dari kepemimpinan

Kekuatan terbesar dan harga sesungguhnya dari kepemimpinan bukanlah terletak pada tingginya jabatan yang diemban seseorang, bukan pula pada tingginya kedudukan ataupun besarnya kekuasaan yang dimiliki seseorang  tetapi pada keteladanannya. Banyak orang memiliki kedudukan yang tinggi tetapi gagal memimpin karena ketiadaan keteladanan.

Tuhan Yesus memimpin dengan keteladanan. Ia melakukan lebih dulu sebelum meminta orang lain melakukannya. Kesuksesan Tuhan Yesus memimpin karena keteladanan yang diberikan kepada murid-muridNya.

1Yohanes 3:16 

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Inilah keteladanan terbesar dalam diri Tuhan Yesus. Ia menyerahkan hidupNya lebih dulu bagi kita sebelum meminta murid-muridNya untuk berkomitmen menyerahkan hidupNya bagi Allah.

Keteladanan menjadi nilai dasar dalam pemuridan dan kepemimpinan. Untuk itulah setelah meneladani kehidupan Yesus, rasul Paulus menasehatkan anak rohaninya yaitu Timotius agar memimpin dengan keteladanan.

1 Timotius 4:12 

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

  1. Setiap orang memerlukan model untuk diikuti

Yohanes 13:14 

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;

Karena setiap orang memerlukan model untuk diikuti, maka para pemimpin wajib memberikan keteladanan yang baik. Kehancuran generasi akhir zaman karena mereka melihat model yang salah. Kegagalan orang tua menjadi teladan, menyebabkan anak-anak mencari model di luar rumah. Sayangnya, justru para public figure memberikan contoh yang salah, sehingga membuat anak-anak yang mengidolakan mereka menjadi salah.

Melihat sejarah bangsa Israel pada zaman raja-raja sungguh sangat memiriskan hati. 200 tahun mereka hidup dalam kehancuran moral yang parah karena ketiadaan keteladanan yang baik. Dimulai dari raja Yerobeam 1 yang meninggalkan jejak kehidupan yang jahat dan tidak takut akan Tuhan, melahirkan raja yang juga hidup dalam kejahatan (1 Raja 12-14). Raja Nadab (1 Raja 15) pengganti raja Yerobeam 1, juga bertumbuh menjadi raja yang jahat karena melihat pendahulunya hidup dalam kejahatan. Demikianlah seterusnya, Israel dipimpin oleh raja-raja yang jahat karena para pendahulunya meninggalkan teladan yang jahat. Raja Baesa, raja Ela, raja Zimri, raja Tibni, raja Omri, raja Ahab, raja  Ahzia, raja Yoram, raja Yehu, raja Yoahas, raja Yoas, raja Yerobeam, raja Zakharia, raja Salum, raja Menahem, raja Pekhaya, raja Pekah dan raja Hosea.  Total dari raja Yerobeam bin Nebat sampai raja Hosea ada 20 raja yang memerintah Israel dengan kejahatan karena warisan yang ditinggalkan pendahulunya.

  1. Keteladanan memberikan kehormatan

Matius 23:5-7

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

 

Orang Farisi dan ahli Taurat berfikir bahwa kehormatan akan mereka dapatkan melalui kedudukan dan jabatan yang mereka miliki. Itulah sebabnya mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat. Tetapi ternyata mereka salah. Kehormatan tidak didapat melalui jabatan dan kedudukan tetapi melalui keteladanan. Banyak orang menduduki jabatan tinggi tetapi tidak dihormati karena hidupnya tidak jadi teladan. Sebaliknya Tuhan Yesus tidak mencari jabatan dan kedudukan, Ia malah merendahkan diri, tetapi mendapat penghormatan yang tinggi. Mengapa? Karena Tuhan Yesus hidupnya jadi teladan.

Filipi 2:8,9 

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.

 

Seorang pakar kepemimpinan yang bernama John C. Maxwell membagi kepemimpinan dalam lima level kepemimpinan.

a. Hak/Posisi

Orang memimpin karena posisi/jabatan yang dimiliki.

b. Perkenanan

Orang mengikuti pemimpin karena senang melakukan hal tersebut.

c. Produktifitas

Orang mengikuti pemimpin karena apa yang pemimpin lakukan dalam organisasi.

d. Reproduksi

Orang mengikuti pemimpin karena apa yang pemimpin lakukan untuk mereka.

e. Hormat

Orang ikut karena SIAPA ANDA!! Inilah level tertinggi dalam kepemimpinan. Bisa jadi seseorang tidak lagi menduduki jabatan apapun tetapi orang-orang tetap mengikutinya karena rasa hormat kepada orang tersebut. Rasa hormat ini didapatkan karena keteladanannya.

  1. Kepemimpinan rohani tidak dapat memaksakan otoritasnya, Matius 20 : 25, 26

Para pemimpin atau pejabat pemerintahan dapat menggunakan otoritasnya untuk melakukan tindakan pendisiplinan. Tuhan Yesus mengatakan: pemimpin dunia memerintah berdasarkan otoritas/kuasa tetapi pemimpin rohani memerintah dengan cara melayani yaitu menunjukan keteladanan.

Hal yang sama ditegaskan oleh rasul Petrus bahwa pemimpin rohani, gembala, hamba Tuhan harus memimpin dengan cara menunjukan keteladanan.

1Petrus  5:3 

Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.

  1. Kekuatan mengajar bukan pada kata-kata, tetapi keteladanan

Yohanes 13:13 

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

Dalam filosofi orang  Jawa kata “Guru” mengandung arti digugu lan ditiru. Digugu artinya perkataan/ajaran sang guru harus bisa jadi pegangan/panutan. Sedangkan ditiru artinya jadi teladan/contoh.  Guru yang baik tidak hanya mengajar dengan kata-kata tetapi hidupnya harus jadi teladan. Apa yang diajarkan selaras dengan apa yang dilakukan.

Inilah kekuatan pengajaran Tuhan Yesus. Ia tidak hanya fasih berkata-kata, tetapi juga fasih dalam perbuatan. AjaranNya terlebih dahulu bagi diriNya sendiri kemudian menular kepada murid-muridNya. Ia berdoa terlebih dahulu sebelum mengajar dan meminta murid-muridNya untuk berdoa. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi mempraktekan tindakan kasih kepada orang banyak. Ia tidak hanya mengajari pengampunan tetapi mengampuni semua orang yang telah menganiaya dan menyalibkanNya.  Oleh sebab itu, pengajaran Yesus sangat berkuasa karena mengajar dengan keteladanan.

Markus 1:22 

Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

 

  1. Kebenaran ditangkap bukan diajarkan.

Pengetahuan diajarkan, tetapi kebenaran ditularkan. Sekolah hanya melepaskan pengetahuan tetapi pemuridan mengimpartasi kebenaran. Kebenaran bukan teori semata tetapi kehidupan nyata. Itulah sebab cara Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran kepada murid-muridNya dengan cara menunjukan contoh atau keteladanan. Bagaimana cara Tuhan Yesus mengajarkan tentang melayani kepada murid-muridNya? Ia tidak berteori, tetapi menunjukan cara melayani yang benar. Tuhan Yesus mengikat pinggangnya mengambil baskom dan kain kemudian membasuh kaki murid-muridNya. Inilah artinya melayani.

Penutup

I Petrus 2:21

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan (hupogrammos, contoh) bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (ichnos, bekas jejak kaki; teladan).

 

Sebagai anak-anak Tuhan yang meneladani Kristus, biarlah kita jadi teladan yang baik bagi orang-orang disekitar kita. Mulailah dari lingkungan yang terdekat yaitu keluarga kita. JADILAH ORANG KRISTEN TELADAN. GBU. KJP!

 

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s