Jemaat Tiatira – oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 8 Oktober 2017

Wahyu 2:18-29

 

PENDAHULUAN

Kota Tiatira terletak  di Asia Kecil, dan sekarang wilayah Asia kecil dikenal dengan negara Turki sedangkan nama kota Tiatira sekarang bernama Akhisar. Keadaan Jemaat Tiatira dalam kitab Wahyu, menggambarkan kondisi jemaat atau kekristenan  di tahun 500 – tahun 1500 Masehi. Orang Kristen pada zaman tersebut berada dalam pemerintahan yang dikuasai oleh kekaisaran Romawi. Kualitas jemaat di Tiatira saat itu sangatlah menyedihkan, karena  telah terjadi perzinahan rohani, yaitu Firman Allah dicampur-adukkan dengan ajaran sesat/ajaran setan-setan.

ARTI TIATIRA

Kata TIATIRA memiliki dua arti:

  • Anak perempuan
  • Perempuan penindas

Arti nama ini tidaklah kebetulan karena ada dua perempuan dalam Alkitab yang mempengaruhi jemaat Tiatira. Perempuan pertama memberi pengaruh baik (positif) tetapi perempuan kedua membawa pengaruh buruk (negatif). Kedua wanita itu ialah:

  1. L I D I A (Kisah Para Rasul 16:13-15)

Dalam Penginjilan yang ke-3 Rasul Paulus dan Silas datang ke kota Filipi. Mereka mencari dan menemukan sinagog atau rumah ibadah orang Yahudi. Disanalah Paulus dan Silas berjumpa dengan beberapa perempuan dan salah seorang adalah Lidia. Ia turut mendengarkan Firman yang disampaikan oleh Paulus. Pada umumnya orang Tiatira adalah penyembah berhala, namun ternyata saat Lidia pergi ke Filipi, dia sudah beralih keyakinan dari penyembahan berhala menjadi penyembah Allah Yehovah dengan menganut ajaran Yahudi/Yudaisme. Saat Lidia mendengar berita injil tentang keselamatan di dalam Yesus, Lidia kemudian memberi diri untuk dibaptis. Cinta mula-mula yang dialami membakar hatinya sehingga punya keinginan besar untuk melayani Tuhan (Kisah 16:15).

Catatan:

Menurut sejarah, setelah Lidia dan seisi keluarganya percaya Yesus, Lidia dan keluarganya menjadi cikal bakal (benih) berdirinya jemaat di Tiatira. Lidia mengalami pertobatan di Filipi namun dia tetap ingat akan kampung halamannya.

LATAR BELAKANG HIDUP LIDIA

Dari catatan singkat Kisah 16:13-15:

Lidia adalah seorang perempuan penjual kain ungu. Pada waktu itu jenis kain ungu hanya  bisa dibeli oleh orang kaya, sehingga dapat dikatakan Lidia adalah seorang pengusaha sukses yang mempunyai relasi dengan raja dan pejabat tinggi. Ada hal yang menarik jika kita perhatikan, nama suaminya tidak disebutkan, bahkan dia punya wewenang memaksa Paulus dan Silas untuk tinggal di rumahnya. Dengan kesuksesan dan sikap tersebut dapat kita katakan bahwa Lidia adalah seorang wanita yang otoriter, istri yang dominan dan berkuasa atas suami di rumah.

Itu adalah karakter Lidia yang lama. Setelah percaya dan menerima Yesus, Lidia bertobat dan mengalami kelahiran baru. Lidia mengalami pembaharuan hidup yang luar biasa. Sikap tunduk dan taat Lidia kepada Firman Tuhan, dipraktekkan dalam rumah tangganya. Lidia tidak lagi berkuasa atas suami, sebaliknya tunduk kepada otoritas suaminya sehingga tidak heran Tuhan memakainya dengan luar biasa sehingga menjadi cikal bakal berdirinya jemaat di Tiatira.

SUAMI ISTERI DALAM RUMAH TANGGA

Ada hal penting yang dapat dipelajari oleh suami dan isteri dari Firman Tuhan untuk dipraktekan dalam hidup berumah tangga, (Efesus 5:22-33). Firman Allah menegaskan posisi suami dan isteri dalam rumah tangga adalah sederajat/setara. Karena itu suami tidak boleh memandang rendah isteri begitu juga sebaliknya. Tetapi dalam setiap institusi harus ada pemimpin atau yang mengepalai. Sorga adalah sebuah institusi disana ada Bapa, Yesus dan Roh kudus ketiganya setara namun Bapa berperan sebagai pemimpin. Hal ini telihat ketika manusia berdosa maka Yesus tunduk dan taat melakukan kehendak Bapa untuk turun ke dunia menjadi penebus. Demikian seharusnya di Bumi, keluarga sebagai Institusi pertama yang dibangun oleh Allah menerapkan hal yang sama. Kedudukan suami dan isteri dalam rumah tangga adalah setara namun suami berperan sebagai kepala. Tuhan sendiri telah mengatur kewajiban suami dan istri menurut kebenaran firman Tuhan.

KEWAJIBAN SEORANG ISTERI

Tunduk Kepada Suami

Efesus 5:22 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.”

Bila kewajiban ini tidak dilaksanakan maka rumah tangga dapat mengalami kehancuran, semua anggota keluarga baik suami, isteri, anak-anak akan mengalami dampaknya. Tidak ada berkat jika kita menentang Firman Allah.

Setelah manusia jatuh dalam dosa maka ada tantangan bagi para Isteri untuk melakukan kewajibannya, perhatikan ayat berikut :

Kejadian 3:16b

“…dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan  ia akan berkuasa atasmu.”

Kata BERAHI dalam bahasa Inggris : “and you will desire to control your husband but he will rule over you”

Ini berarti seorang istri akan punya hasrat yang besar untuk mengontrol suaminya, ternyata naluri ini ada dalam diri semua wanita sebagai sebuah hukuman dan ini harus dilawan. Inilah yang Tuhan inginkan yaitu tidak ada dalih bagi seorang Isteri, ia harus tunduk terhadap otoritas suami.

Tetapi sebaliknya seorang suami tidak boleh menyalahgunakan ayat ini untuk bersikap otoriter terhadap istri karena seorang suami pun harus melakukan kewajibannya.

KEWAJIBAN SEORANG SUAMI

Mengasihi Isteri

Penundukan isteri pada suami, tidak berarti suami dapat berkuasa sesuka hati dan hanya mementingkan dirinya sendiri, sebaliknya :

Efesus 5:25

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan  diri-Nya baginya”

Efesus 5:28

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri. Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.”

Sebagai pemimpin, suami harus hidup, berperilaku serta memimpin sama seperti Yesus memimpin,  yaitu dengan “kasih”. Dalam cara hidup berumah tangga jangan tampilkan egoisme diri, mementingkan diri sendiri dan memaksakan kehendak sehingga istri terlihat tidak berarti. Suami haruslah tampilkan karakter Kristus dimana ada kasih, ada pengampunan bahkan mampu mengasihi isteri seperti dirinya sendiri.

Apabila seorang suami telah hidup,berperilaku seperti Yesus dan memimpin keluarga sama seperti Yesus tetapi sang isteri tidak mau tunduk kepada pimpinan suami maka sang isteri itu  sedang mengikuti cara hidup dari wanita kedua yaitu :

  1. I Z E B E L

Wahyu 2:20

“Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.”

Kalau kita gagal bersikap seperti Lidia maka kita akan mengikuti atau terpengaruh karakter dari Izebel.

Izebel memang hidup di zaman perjanjian lama, namun Roh Izebel ada dan hidup di segala zaman sehingga bisa menguasai siapa pun. Kalau tidak hati-hati hal ini bisa terjadi dalam hidup berjemaat maupun keluarga.

SIAPAKAH IZEBEL?

I Raja 16:29-33 menceritakan bahwa Izebel adalah anak perempuan Etbaal, raja Sidon (raja kafir), yang dinikahi oleh Ahab, raja Israel. Ini menjadi satu pembelajaran bagi para orang tua yang akan menikahkan anak agar tidak menikahkan anaknya dengan orang yang tidak percaya.

Pernikahan Ahab dengan Izebel membawa pengaruh yang buruk. Izebel membuat Ahab meninggalkan Allah dengan sujud menyembah dewa Baal. Bahkan Izebel juga mempengaruhi Ahab, membuat mezbah dan kuil Baal di Samaria (ibu kota Israel). Bahkan pengaruh Izebel kepada suaminya (Ahab) tidak berhenti sampai di sini melainkan lebih jauh ia juga berkuasa dalam keluarga dan bangsa.

BERKUASA DALAM KELUARGA

Pengaruh buruk Izebel :

  1. Izebel telah mempengaruhi anak-anak Ahab, dan bangsa Israel.

Dalam Kitab 1 Raja 22:52-54 Ahazia anak Ahab melakukan kejahatan di mata Tuhan dan hidup dalam dosa seperti yang dilakukan oleh ayahnya, ia melakukan penyembahan berhala dan bahkan membawa seluruh orang Israel ke dalam dosa. Harus kita ingat bahwa rumah tangga yang tidak diatur dengan baik dimana ada suami yang otoriter atau istri yang ingin berkuasa akan sangat berdampak kepada anak.  Anak-anak berkaca pada apa yang dilakukan oleh orang tua, mereka meneladani apa yang dilakukan orangtua.

  1. Pengaruh buruk Izebel yang kedua adalah mempengaruhi keputusan suami (1 Raja 21:1-19)

Ahab meminta agar Nabot, orang Yizreel untuk tukar guling kebun anggur milik Nabot atau dibeli. Nabot menolak usulan Ahab,  sebab kebun anggur itu warisan leluhurnya. Arti secara rohani dari keputusan Nabot adalah berkat Tuhan tidak boleh ditukar dengan apapun, bagi kita keselamatan juga merupakan berkat Tuhan yang tidak boleh kita tukar.

Mazmur 16:5

“Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.”

Karena Ahab tidak bisa menguasai tanah milik Nabot itu, maka Izebel mengambil alih dan mengatur siasat jahat dengan cara memfitnah Nabot. Nabot akhirnya mati dilempari batu (rajam) dan Kebun anggurnya diambil oleh Ahab karena Izebel. Isteri yang tidak tunduk kepada Firman Tuhan akan mempengaruhi suami dengan memberi masukan yang tidak baik.

MENGUASAI BANGSA ISRAEL

Pengaruh Izebel dalam rumah tangga Ahab, berdampak kepada pejabat dan seluruh rakyat Israel tunduk pada kepemimpinan Ahab, sekalipun hal itu bertentangan dengan firman Tuhan termasuk menyembah berhala. (1 Raja 18:20,21)

ROH IZEBEL DI JEMAAT TIATIRA

Roh Izebel yang ada di jemaat Tiatira, bisa mempengaruhi keluarga dan jemaat di akhir zaman jika isteri tidak tunduk kepada suami. Padahal suami sudah hidup sesuai firman Tuhan atau sebaliknya ketika ada suami yang tidak mengasihi isteri dan keluarga, dengan bertindak otoriter dan tidak melibatkan isteri dalam mengambil keputusan sehingga anak-anak dan rumah tangga menjadi korban. Inilah akibatnya keluarga tidak didirikan di atas dasar firman Allah.

Video dari cuplikan Film “Courageous” :

Kesaksian komitmen 4 orang bapak dalam jemaat yang berkomitmen untuk membangun pernikahan dan mengasihi keluarga dan anak-anak, walaupun di masa kanak-kanak mereka hidup dalam bimbingan orang tua yang salah. Peranan seorang Ayah sebagai pemimpin dalam rumah tangga kembali ditegaskan. Seorang Ayahlah yang bertanggung jawab membawa keluarganya baik istri dan anak untuk hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.

 

Kesimpulan :

Suami Istri yang menjalankan kewajiban masing-masing untuk tunduk pada kebenaran Firman Tuhan maka rumah tangga mereka akan terhindar dari perpecahan atau kehancuran, sebaliknya itu mendatangkan berkat Allah atas rumah tangga tersebut sehingga ada damai dan sukacita.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s