EVALUASI KEHIDUPAN seri 2 – MEMELIHARA IMAN (Ibadah Raya 3 – Minggu, 15 Oktober 2017)

2 Timotius 4:7

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

 

Pendahuluan

Dalam ayat ini Rasul Paulus sedang mengevaluasi diri dalam hidupnya. Evaluasi itu penting untuk memperbaiki kesalahan, mengetahui kekurangan atau kelemahan yang ada dan agar dapat bertindak dengan benar dan tepat.

Menjelang kedatangan Yesus yang kedua kali, setiap orang percaya perlu evaluasi kehidupan rohaninya karena yang tahu kondisinya adalah pribadi yang bersangkutan.  Apa saja yang perlu kita evaluasi dalam hidup kita?  Dalam 2 Tim 4:7, ada 3 hal yang telah dicapai Paulus:

  1. Telah mencapai garis akhir
  2. Telah memelihara iman
  3. Telah mengakhiri pertandingan dengan baik

Dalam pembahasan pertama telah dijelaskan tentang:

I.TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR

Mencapai garis akhir berarti :

  • Tetap dijalur yang ditentukan, tidak memakai jalur lain atau jalan pintas
  • Tidak menyimpang, fokus pada jalan yang ditentukan Tuhan, menang terhadap semua godaan
  • Menyelesaikan semua lintasan, artinya tidak ada lintasan yang tidak dilewati tetapi semua dilewati secara tuntas.

Kehidupan kita digambarkan seperti sebuah pertandingan lari yang tidak tahu kapan finisnya. Semakin lama kita berada di arena kehidupan ini, kita harus berlari dengan sungguh-sungguh dan benar. Mengapa ?  Karena masih ada kemungkinan kita bisa dikalahkan dan tidak sampai pada garis akhir.

II. MEMELIHARA IMAN

Untuk membahas tentang memelihara iman, kita perlu melihat apa yang tertulis dalam Ibrani.3:14 “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.”.

Dalam ayat ini, ada dua hal yang menarik untuk kita mengerti:

  1. Karena kita telah mendapat bagian di dalam Kristus”

Maksudnya adalah pada waktu seseorang mengambil keputusan untuk percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus, maka ia sudah mendapat bagian didalam Kristus.

Bagian apa yang didapatkan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus?

  • Keselamatan, Yoh 3:16 – Pada waktu seseorang percaya kepada Yesus dan menjadikannya sebagai Tuhan dan juru selamatnya, maka orang itu sudah menerima keselamatan tidak harus menunggu nanti kalau sudah di sorga.
  • Dibangkitkan dari kematian, 1 Tesalonika 4:14-16 – Orang yang percaya Tuhan mendapat jaminan kebangkitan kembali untuk menerima tubuh yang baru dalam kemuliaan.
  • Kehidupan kekal, Yoh 3:16 – Kehidupan kekal sudah menjadi bagian orang yang ada didalam Kristus, selagi ia masih hidup dalam dunia ini.

Tetapi tidak berhenti sampai disini, bagian kedua dalam surat Ibrani. 3:14 ,selanjutnya dikatakan:

 

  1. “…asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.”

Artinya, keyakinan iman kita harus dipegang teguh sampai pada akhirnya, agar kita tetap dapat memiliki apa yang sudah bagian kita itu. Dipegang teguh sampai pada akhirnya dapat berbicara tentang dua hal :

a. Sampai Tuhan Yesus datang kedua kalinya. Ini akhir secara global bagi seluruh kehidupan di dunia ini

b. Sampai kematian menjemput. Hal ini berbicara tentang akhir dari kehidupan masing-masing orang percaya di dunia ini.

Karena kematian itu tidak ada yang dapat mengetahui kapan datangnya, maka setiap orang percaya harus memelihara imannya agar tidak kehilangan apa yang sudah seharusnya ia dapatkan itu. Iman menjadi kunci keselamatan dan semua bagian yang sudah Tuhan tentukan bagi kita. Dalam surat Filipi 2:12 – dikatakan “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…..”

Kata “Kerjakan keselamatanmu“ mengandung arti :

  • Mempertahankan iman.

Iman harus dipertahankan apapun tantangan dan godaan yang harus dihadapi orang percaya, jangan sampai iman lepas dan terhilang.  Bagi Tuhan tidak ada istilah sekali selamat tetap selamat,  untuk selamat pertahankan iman kita sekalipun nyawa taruhannya.

  • Memelihara iman.

Selain dipertahankan, iman kita juga harus dipelihara lewat pengajaran firman Tuhan, untuk itu kita harus merajinkan diri beribadah dengan taat dan senantiasa ada dalam persekutuan dengan Tuhan.

  • Meningkatkan iman pada kesempurnaan.

Karena kita masih hidup dalam dunia ini, maka selain dari mempertahankan dan memelihara iman kita, iman juga harus disempurnakan. Bagaimana kita menyempurnakan iman kita? Praktekkan apa dalam hidup kita segala sesuatu yang kita imani dari firman Tuhan, itulah yang menyempurnakan iman kita.

Mengerjakannya dengan “Takut dan gentar.” Keselamatan karena iman kita itu semuanya harus dikerjakan dengan takut dan gentar.  Apa maksudnya?

Kata “Takut“ dalam bahasa Yunani = PHOBOS, artinya takut yang tidak bersifat membinasakan melainkan rasa hormat yang disertai ketakutan yang mengendalikan dan memulihkan yang menuntun kepada kesucian moral iman yang benar. Takut berbuat dosa, takut membuat Tuhan kecewa  yang jelas akan membawa konsekuensi kehilangan keselamatan kita. (Maz. 5:8; 85:10; Ams.14:27; 16:6.)

MEMELIHARA IMAN

Inilah hal kedua dari pembahasan evaluasi kehidupan kita. Ada hal yang menarik tentang iman yang harus kita pelihara, dalam surat Yudas 1:20. Ditulis demikian “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”.

Jika berbicara tentang iman, kebanyakan orang umumnya orientasinya kepada Mujizat; Kesembuhan Ilahi; Doa yang dijawab; Kemenangan atas masalah; Pertolongan yang ajaib dan satu hal lagi tentang mengusir setan. Semuanya ini benar dan nyata dapat terjadi dalam kehidupn orang percaya karena iman. Tetapi Iman yang suci seperti yang dikatakan oleh Yudas tidak berhenti pada hal-hal yang menguntungkan orang yang percaya saja. Ada sisi lain yang harus dihadapi oleh orang percaya yang justru menuntut dan menyedot semua kepemilikan kita.

Contoh: ABRAHAM

Dalam surat Ibrani 11:17 dikatakan “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia yang telah menerima janji itu rela mempersembahkan anaknya yang tunggal.”

Abraham karena imannya tidak sedang mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi justru Tuhan yang meminta sesuatu dari dirinya, dan yang Tuhan minta tidak main-main, sesuatu itu adalah pribadi yang begitu disayangi dari semua milik Abraham. Ia rela kehilangan apapun dalam hidupnya asal yang satu itu tetap dapat ia miliki, dialah Ishak anak satu-satunya yang diperoleh dengan mujizat dan itulah yang diminta Tuhan dari Abraham. Tidak ada catatan bahwa Abraham protes, bahkan bertanya pun tidak. Apa yang membuat Abraham begitu tegar, kuat dan tetap mempercayai Allah? Kerelaannya-kah? Ya, itu memang ditulis dalam ayat ini, tetapi bukan itu yang menjadi jawabannya, tetapi karena imannya.  Abraham tetap tidak berubah imannya meski anak satu-satunya harus dikorbankan, karena imannya tetap ia jaga, Abraham tidak menjadi kecewa karena permintaan Tuhan itu, tetapi ia tetap mempercayai Allah penuh tanpa syarat.  Bagaimana jika Tuhan meminta sesuatu yang sangat berharga dihidup saudara dengan tiba-tiba seperti yang terjadi pada Abraham? Apakah saudara akan kecewa, tidak lagi beribadah dan meninggalkan Tuhan? Masih sanggupkah saudara tetap memelihara iman saudara, tidak goyah dan tetap mempercayai Tuhan ?

AYUB

Pengalaman Ayub ditulis dengan sangat jelas puncaknya dalam  Ayub 2:9,10

“Maka berkatalah istrinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?…..”

 

Jika Abraham diminta satu hal saja, tidak demikan dengan Ayub. Tuhan menginjikan Iblis untuk mengocok iman Ayub dengan merampas habis-habisan semua kepemilikannya bahkan semua orang yang dikasihinya. Semua kekayaannya lenyap dalam satu hari, dalam satu hari juga ke 10 anaknya mati mengenaskan. Dapat kita bayangkan Ayub harus menghadapi bukan 1 peti tapi 10 peti mati anaknya dalam satu kali upacara penguburannya, satu saja kehilangan anaknya orang tua akan begitu sedih dan pilu menghadapinya, apalagi Ayub. Puncaknya, istri satu-satunya orang yang paling dekat sebagai satu-satunya orang yang diharapkan dapat menguatkan dan menghiburkan dirinya, justru memperberat bebannya, bukannya menguatkan imannya tetapi justru mendorong Ayub untuk berbalik melawan Allah dengan menyuruh Ayub mengutuki Allah dan mati saja. Bagaimana jika hal ini menimpa hidup saudara, masih bertahankah iman saudara, masihkah tetap mempercayai Allah ?

Lihat bagaimana Ayub menyikapi semuanya itu dengan imannya dari kalimat yang ia ucapkan “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?…..” Pertanyaan Ayub tidak dijawab istrinya yang imannya sudah rontok, kitalah yang harus menjawab pertanyaan Ayub.  Apakah dengan iman, kita hanya mau menerima yang baik saja dari Tuhan seperti mujizat, kesembuhan, pertolongan yang ajaib dan berkat-berkat lainnya? Bagaimana jika Tuhan sebaliknya meminta banyak hal untuk kita berikan kepada Tuhan, yang berarti menjadi sesuatu yang buruk pada keadaan kepemilikan kita  seperti kepada Ayub dan Abraham, apakah juga kita mau menerimanya? Kekuatan dan luar biasanya Ayub bukan pada fisik atau ketahanan tubuhnya, tetapi pada imannya yang kuat, ia tetap menjaga imannya untuk tidak goyah.

 

Kita lihat bahwa Iman yang suci justru menyedot semua kepemilikan kita bagi Tuhan, bahkan pada satu titik tertentu sampai  kepada nyawa kita. Seperti yang terjadi pada diri Stefanus. Dalam  Kisah 7:59 “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya : Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

Stefanus dirajam dengan batu, aniaya yang mengerikan, yang merenggut nyawanya karena imannya kepada Kristus. Stefanus tidak terlihat takut dan gentar tapi justru menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Bagaimanan jika hal ini juga terjadi dalam hidup saudara, masihkah terpelihara iman saudara, tetap bertahan sampai akhir ?  Akan datang saatnya seperti apa yang dikatakan Yesus. Matius. 10:28. – “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa, takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh didalam neraka.”

 

Tuhan memberi peringatan bahwa akan ada orang-orang percaya yang diberi karunia untuk alami hal ini, dan hanya orang-orang yang tetap memelihara imannya dengan kuat yang sanggup melewati semuannya itu dengan kemenangan.

 

Kesimpulan

Hanya orang yang berkomitmen memelihara iman yang sejati, yang dapat bertahan menghadapi situasi apapun dalam hidupnya, sampai kepada nyawanya sekalipun imannya tidak akan berubah. Sekali Yesus tetap Yesus.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s