MENJADI MISKIN DI HADAPAN ALLAH oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 29 OKTOBER 2017)

Matius 5:1-3

Khotbah Yesus di bukit adalah sebuah khotbah yang sangat terkenal dan banyak diingat orang dan murid Yesus sebab berisi cara hidup pengikut Yesus yang sejati. Dan dari sekian banyak rangkaian khotbah dengan topik-topik tertentu, Yesus memulai dengan menyampaikan 8 ucapan bahagia. Itu sebabnya di tempat Yesus memberi makan banyak orang, dibangun sebuah gereja. Jangan sampai kita berpikir khotbah tentang berbahagia miskin dihadapan Allah adalah menjadi miskin secara ekonomi, seperti beberapa kelompok yang melakukan hal-hal tersebut dengan tidak memiliki apapun karena ingin mentaati firman ini dengan tafsiran yang salah. Karena banyak ayat yang menjelaskan  kepada kita bahwa Allah berjanji untuk memberkati anak-anakNya. Jadi Allah berjanji memberkati umatNya sebab Allah rindu memberkati mulai dari kanak-kanak sampai orang-orang tua. Mazmur 138:1-6 dan Lukas 24:50-51, Yesus memberkati semua orang dan juga saat kenaikan Yesus ke soranga, Yesus dalam posisi memberkati bahkan sampai saat ini Yesus memberkati. Inilah janji berkat, bukan kemiskinan. Jadi jika demikian apa yang dimaksud berbahagia orang yang miskin? Artinya, meskipun dalam keadaan sakit dan menderita, diberkati dan kaya, serta sehat dan tak kekurangan apapun, jadilah miskin di hadapan Allah.

ARTI MISKIN DIHADAPAN ALLAH

Orang miskin adalah orang yang tidak dapat memenuhi kehidupannya meskipun  sudah dengan berbagai upaya, sehingga ia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dengan kemampuannya sendiri. Dari sini kita mengerti bahwa menjadi miskin dihadapan Allah adalah sebuah sikap rohani, jangan di hadapan manusia. Inilah sebuah sikap orang yang benar-benar rohani di hadapan Tuhan. Suatu sikap yang bijak, benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat memenuhi kebutuhannya kalau Tuhan tidak menolong, karena kekayaan dan pengertahuan dunia tidak kekal.

Sikap menjadi miskin dihadapan Tuhan akan tereksperesi dalam kehidupan, artinya orang akan mengetahui dan melihat. Terlihat lewat kesetiaan beribadah karena ia sadar saat ia beribadah ia sedang membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Termasuk orang yang miskin dihadapan Allah akan ditunjukkan dalam kesetiaan berdoa yaitu dimanapun berada membutuhkan Tuhan bukan berdoa saat ada jadwal doa di gereja.

RIWAYAT HIDUP SAUL

Saul adalah raja pertama dari bangsa Israel. Banyak orang yang beranggapan bahwa Saul adalah seorang yang jahat bahkan ada yang beranggapan bahwa Saul orang jahat, diangkat Allah untuk memimpin Israel. Kemudian Saul dihukum oleh Allah dan digantikan orang yang berkenan kepada Allah. Ini tafsiran yang salah sebab Allah memilih orang yang baik dan benar. Saul mengawali perannya sebagai raja dengan cara yang benar dan berkenan dihadapan Allah, 1 Samuel 10. Hanya ia tak merasa miskin di hadapan Allah. 1 Samuel 10:1 – Tuhan sudah memfasilitasi Saul dalam kepemimpinannya.

  1. Bukti sebagai raja yang diurapi

Dengan cara menyelamatkan umat Allah dari musuh yang ada disekitarnya. Saul membuktikan dengan cara menyelamatkan bangsa israel dari musuh-musuh di sekitarnya. Perhatikan 1 Samuel 11, Nahas orang amon mengancam akan mencungkil mata kanan orang Israel yang tinggal di Yanes Gilead. Nahas artinya adalah ular, berkonotasi negatif. Gambaran iblis mengacam umat Allah dan mengincar mata akan untuk membuat pandangan kita tidak tertuju pada hal-hal rohani sehingga kehidupan hanya fokus pada hal duniawi.

Saat Saul mendengar ancaman tersebut, Saul bertindak dengan mengerahkan tentara untuk melawan Nahas sehingga penduduk Yabesh Gilead luput. Terbukti Saul baik di hadapan Tuhan dan berharap kepada Tuhan.

  1. Menjadi manusia baru

1 Samuel 10:2-6, minyak urapan yang dituangkan Samuel di kepala Saul bukan cuma ritual pelantikan. Tapi bukti bahwa Allah benar-benar menyertai Saul. Orang yang miskin di hadapan Allah pasti Tuhan membekati. Saul mengalami kepenuhan Roh Kudus seperti nabi. Dikatakan Saul berubah menjadi manusia lain, 1 Samuel 10:10. Sejak minyak urapan dituangkan atas Saul, maka Saul menjadi seperti nabi. Ia turut kepenuhan seperti nabi. Saul menjadi pemimpin yang ideal: jabatannya adalah raja tetapi kelakuannya seorang nabi. Karena Saul merasa miskin di hadapan Allah.  Ada 3 jabatan di Israel:

  • Imam , pengantara antara manusia dengan Allah
  • Nabi, juru bicara Allah
  • Raja, Pemimpin umat

  1. Seorang yang rendah hati

1 Samuel 10:15,16 – Paman Saul tidak turut hadir waktu Saul dilantik sebagai raja. Sepulangnya pelantikan, pamannya menanyakan ia dari mana. Ia mengatakan pergi mencari keledai dan pergi bertemu Samuel. Pamannya kehilangan keledai dan menyuruh orang untuk mencarinya. Pamannya bertanya apa yang Samuel sampaikan kepada Saul ketika sedang mencari keledainya. Saul mengatakan bahwa keledainya sudah ditemukan. Saul tidak menceritakan soal pelantikannya, ia hanya cerita soal keledai yang ditemukan. Karena menjadi miskin di hadapan Allah, Saul jadi orang yang miliki karakter ilahi yaitu rendah hati.

Ketika  dilantik Saul tidak sombong dam merasa dirinya hebat. Sebaliknya ia bersembunyi di barang-barang, 1 Samuel 10:22. Tetapi Samuel seorang nabi, ia tahu dimana tempat Saul bersembunyi.  Orang yang diberkati dan tinggi rohaninya pasti akan memiliki rendah hati.

  1. Tidak mudah tersinggung dan sakit hati ketika dihina

1 Samuel 10:27,  orang dursila sama dengan preman, menghina Saul dengan komentar negatif dan tidak membawa upeti atau persembahan kepada Saul tetapi Saul pura-pura tuli. Saul dapat mengendalikan diri karena ia menjadi miskin dihadapan Allah.

  1. Memiliki roh pengampunan

1 Samuel 11:12, 13 – ada rakyat yang ingat bahwa ada yang melecehkan Saul, tetapi Saul justru mencegah pembunuhan atas orang dursila tersebut sebab ia tidak memiliki dendam.

MENGAPA SAUL MENJADI JAHAT

Saat kita percaya kepada Yesus maka ada kehidupan yang baik tetapi mengapa tidak menjadi semakin utuh dalam kehidupan kita? Seperti Saul yang seharusnya menjadi semakin baik tetapi justru merosot keadaannya dan berubah menjadi jahat. Ia mencoba membunuh Daud karena ia merasa diri kaya dihadapan Tuhan. Dahulu ia beribadah dengan sungguh dan mencari Tuhan, tetapi sesudah ia sukses ia tidak lagi mencari Tuhan dan kemudian mencari dukun. Terlihat dari ratapan Daud setelah Saul mati, 2 Samuel 1:21. Para tentara israel rajin naik ke gunung untuk ke Gilboa membawa pedang dan perisai untuk digosok dengan minyak sebab jika tidak digosok akan berkarat dan rapuh. Tetapi Saul malas dan tidak melakukannya. Rajinkan diri beribadah dan berdoa lebih banyak. Cari Tuhan dan baca firman Tuhan dan menjadi kuat dalam Tuhan.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s