APAKAH YANG KAMU CARI? Seri – 19 “Datang dan Tinggal Bersama” – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Desember 2017)

Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal,

dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia;

waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan

Bagian pertama dari tema: “Datang dan Tinggal Bersama” telah kita pelajari bahwa pemuridan hanya dapat terlaksana jika murid-murid tinggal bersama gurunya. Hal ini sejalan dengan pola pendidikan yang diterapkan oleh orang-orang Yahudi dalam pendidikan reguler.

Kita tahu bersama bahwa ada 3 tingkat pendidikan bagi anak-anak Yahudi yaitu:

a. BETH-SEFER.

Sekolah tinggkat dasar bagi anak-anak yang berusia 5 – 10 tahun.

b. BETH-MIDRASH.

Tingkat yang kedua yaitu: Beth Midrash. Murid-murid di sekolah ini adalah lulusan terbaik dari Beth Sefer. Rata-rata usia mereka adalah 10 – 15 tahun.

c. BETH TALMUD/TALMID.

Ini adalah tingkat terakhir dalam pedidikan Yahudi. Mereka yang masuk sekolah ini disebut Talmidin.

PRINSIP PEMURIDAN TUHAN YESUS

Bertolak dari akar budaya pendidikan anak-anak Yahudi, Tuhan Yesus juga menggunakan pola yang sama untuk melakukan proses pemuridan. Dua orang murid Yohanes yang mengikutinya dari belakang segera datang dan tinggal bersama Tuhan Yesus.

Mengapa pemuridan harus tinggal bersama sang guru?

  1. Pengikut MENGETAHUI (to know) tetapi MURID : MENJADI (to be) seperti RABI-nya

Hasil akhir pemuridan adalah menjadikan setiap orang percaya tidak sekedar menjadi pengikut yang hanya “mengetahui” (to know) tetapi menjadi murid yang “menjadi” (to be) seperti Yesus. Setiap orang percaya dipanggil tidak hanya mengetahui tentang Yesus, tetapi harus menjadi seperti Yesus.

Roma 8:28,29

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 

TIDAK sekedar MENGENAL YESUS

Banyak orang kristen bangga karena merasa mengenal Yesus. Dia pikir lamanya menjadi orang Kristen membuatnya menjadi mengenal Yesus. Ternyata tidak! Menua di gereja bukan ukuran pengenalan akan Tuhan. Persoalan utamanya bukan mengenal Yesus atau tidak, tetapi apakah pengenalan kita membuat Yesus makin terkenal? Banyak orang kristen mengenal Yesus, tetapi mengapa Yesus tidak semakin terkenal? Karena kebanyakan orang kristen hanya mengenal Yesus tanpa menjadi seperti Yesus. Dunia tidak dapat melihat Yesus hidup dalam diri orang percaya. Tanpa menjadi seperti Yesus mustahil Yesus makin terkenal. Sekali lagi: “Jangan hanya mengenal Yesus, tetapi buatlah Yesus makin terkenal.”

Tanda Kelulusan

Lukas 6:40

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

 

Inilah perbedaannya ukuran kelulusan antara sekolah reguler dengan pemuridan Yesus. Sekolah reguler menandai kelulusan dengan ukuran bahwa seorang murid dinyatakan lulus apabila ia telah menyelesaikan seluruh pelajaran dengan hasil diatas atau sama dengan standar kelulusan. Bagi Yesus kelulusan tidak diukur dengan nilai tetapi “sama dengan gurunya.” Perhatikan kembali Lukas 6:40 – Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Jadi pelajaran itu selesai jika seorang murid menjadi sama seperti gurunya. Kelulusan tidak diukur dengan nilai dan angka, tetapi perilaku dan karakter.

MENJADI SEPERTI YESUS

Dalam hal apakah kita menjadi seperti Yesus?

1.Melihat seperti Yesus melihat

Bagian pertama yang akan kita pelajari tentang menjadi/serupa dengan Yesus adalah melihat seperti Yesus melihat. Bagiamana cara Tuhan Yesus melihat?

a. Ia melihat sampai kedalaman hati.

1 Samuel 16:7

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Tuhan tidak terpesona dengan tampilan lahiriah. Ia menentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat yang melakukan tindakan agamawi sebagai pertunjukan.

  • Memberi sedekah, Mat 6 : 3,4. Contoh: Lukas 12 : 41 – 44
  • Berdoa, Mat 6 : 6 . Contoh : Lukas 18 : 9-14
  • Berpuasa, Mat 6 : 17, 18

Oleh sebab itu janganlah kita menilai seseorang dari tampilan luarnya, tetapi dari hatinya. Harga diri dan nilai seseorang  tidak ditentukan dari tampilannya tetapi dari karakternya. Tampilan luar bisa menipu, pura-pura dan kamuflase tetapi manusia batiniah adalah asli dan abadi.

b. Ia melihat dengan belas kasihan

Pandangan Yesus yang kedua adalah melihat dengan belas kasihan. Dimana saja dalam situasi apa saja cara melihatnya seseorang atau orang banyak selalu dilandasi dengan belas kasihan. Segala yang dikerjakan digerakan oleh belas kasihan kepada jiwa-jiwa. Beberapa ayat firman Tuhan tentang belas kasihan.

Matius 9:13

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan  persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Matius 9:36

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Great Commission dan Great Compassion

Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada gerejaNya (Great Commision) Matius 28:19-20. Untuk dapat menjalankan amanat agung ini gereja harus memiliki belas kasihan yang agung (Great Compassion). Pemberitaan Injil harus berjalan berdampingan dan beriringan dengan belas kasihan. Amanat agung tanpa belas kasihan menjadi tumpul, sedangkan belas kasihan tanpa amanat agung adalah pemborosan. Memiliki salah satu saja adalah ketimpangan, yang hanya membuat perjalanan gereja terseok-seok. Gereja Tuhan harus berjalan dalam belas kasihan untuk  menuntaskan amanat agung.

KUASA BELAS KASIHANLukas 10: 25-37

Dari kisah seorang Samaria yang murah hati ini kita dapat menarik beberapa pelajaran tentang kuasa belas kasihan. Minimal saya melihat ada tiga kuasa belas kasihan.

1. Belas Kasihan menghasilkan TINDAKAN

Ayat. 34 

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Mengapa imam dan orang Lewi yang tidak menolong orang yang dirampok? Bukan karena mereka tidak “mampu” tetapi mereka tidak “mau”. Ketiadaan belas kasihan yang menyebab seorang Imam dan orang Lewi tidak menolongnya. Terlepas kemampuan seorang Samaria, belas kasihan telah menggerakannya untuk menolong orang yang dirampok ini. Jadi ternyata orang yang memahami kebenaran, belum tentu bersedia melakukan kebenaran, tetapi mereka yang memiliki belas kasihanlah yang akan bertindak menolong sesamanya.

  1. Belas Kasihan melahirkan PENGORBANAN

Ayat. 35

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Bukan saja uang yang ia korbankan, tetapi juga waktu dan tenaganya. Perjalanannya harus tertunda sejenak, waktunya terbuang bahkan uangnya harus berkurang demi menolong yang dirampok. Semuanya ini dapat terjadi karena hatinya dipenuhi belas kasihan. Bagi mereka yang memiliki hati penuh belas kasihan apapun dapat dikorbankan demi menolong orang lain.

  1. Belas Kasihan artinya Mengasihi SESAMA MANUSIA bukan MANUSIA YANG SAMA dengan kita

Ayat 36

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

Belas kasihan tidak pernah memihak atau pilih kasih, belas kasihan itu artinya mengasihi semua dengan ukuran kasih yang penuh tanpa membeda-bedakan.

NATAL ADALAH BELAS KASIH ALLAH KEPADA MANUSIA

Yohanes 3 : 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sadarkah kita bahwa hadirNya Yesus sebagai sang natal adalah wujud belas kasihan Allah. Layaknya seperti seorang Samaria yang baik hati turun dari keledainya, Yesus Putra Allah yang Maha Tinggi telah turun ke dalam dunia ini menjadi sama seperti manusia untuk menebus dosa kita.

Doa saya kiranya belas kasihan Allah turun melimpah atas hati Bapa dan Ibu, sehingga hidup kita dipenuhi belas kasihan Allah. Seiring datangnya hari raya Natal, marilah kita bagikan belas kasihNya kepada semua orang agar dunia juga dipenuhi dengan belas kasihan Allah.

Tuhan memberkati. KJP!!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s