Doa Kemenangan Iman, oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 Jan 2018)

1 Tawarikh 4:9-10

PENDAHULUAN
Tentunya di tahun 2018 ini kita punya banyak harapan, doa serta kerinduan untuk mengalami hal-hal yang baik. Seperti Firman Allah katakan, biarlah itu terjadi seperti Iman yang saudara miliki. Sekalipun Tahun 2018 masih merupakan sebuah rahasia, kita dapat belajar memandang segala sesuatu dengan mata iman. Disatu sisi, tahun 2018 ini sudah sebenarnya selesai ditangan Tuhan karena Dia tidak dibatasi oleh waktu. Tentu saja Ia menyelesaikannya dengan sangat baik, namun bagaimana menjalani hari demi hari Tuhan percayakan kepada kita dan tentu Ia ingin kita menjalaninya sesuai dengan rencanaNya.

Tahun 2018 Gereja kita memiliki tema “Tahun Pertumbuhan.” Itulah sebabnya perlu terlebih dahulu ada benih yang ditabur. Ini tidaklah mudah karena benih (Firman) yang ditabur ini akan berhadapan dengan berbagai tantangan (tanah yang keras, berbatu-batu dan juga semak duri) yang menghimpit benih sehingga tidak bertumbuh. Selain itu benih gandum yang ditabur dan mulai bertumbuh akan berhadapan dengan benih ilalang (Matius 13). Ada iblis yang sengaja menabur benih yang tidak baik agar iman kita terhambat dan tidak bertumbuh dengan baik. Tantangan akan terus ada namun iman kita harus tetap bertumbuh dengan doa kemenangan iman yang kita naikan. Kita akan belajar tentang doa kemenangan iman dari doa Yabes (1 Tawarikh 4:9-10).

Sungguh menarik karena nama Yabes seperti  tiba-tiba muncul dalam 2 ayat saja, lalu tidak diketemukan lagi di bagian manapun dalam Alkitab. Seolah nama ini tidak punya peran yang penting. Terkadang mungkin orang sering menganggap kita tidak berarti karena sepertinya kita bukanlah orang menonjol atau mungkin banyak kekurangan. Tetapi tidak bagi Tuhan, Dia melihat jauh kedalam hidup kita. Dia bahkan dapat mengangkat dan membuat kita bersinar, karena Dia melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Diawal kemunculannya, nama Yabes langsung bersinar (DIMULIAKAN). Apa yang dialami Yabes ini tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba melainkan melalui sebuah proses. Semua orang ingin berhasil tapi tidak semua orang ingin menjalani proses.

LATAR BELAKANG YABES
Yabes berasal dari suku Yehuda. Masa kecil dan masa mudanya penuh dengan penderitaan. Ini dapat dilihat dari nama yang diberikan oleh ibunya, Yabes (kesakitan). Namun Yabes telah menjadi seorang yang dimuliakan Allah (KABOD). Sesungguhnya dalam pribadi setiap orang percaya telah ada kemuliaan Allah namun tentu saja perlu tindakan/respon dari pribadi kita untuk memancarkannya. Yang perlu diingat adalah ketika kemuliaan Allah itu dipancarkan lewat hidup kita maka tujuannya bukanlah untuk menarik perhatian orang kepada pribadi kita tetapi justru menarik perhatian orang kepada Allah yang memberi kemuliaan itu. Yabes adalah seorang yang dapat mengatasi semua ‘Kesakitan’ dalam hidupnya sehingga dalam doanya, Ia mengalami KEMENANGAN IMAN. Doa yang dijawab telah teruji melewati proses-proses iman.

Yabes berproses dalam kemenangan Iman dalam beberapa hal :
1. Mengatasi penolakan kelahirannya.
2. Mengatasi ‘stigma’ melalui pemberian namanya.
3. Mengatasi kutuk/takdir masa depannya
Kita akan bahas satu per satu.

  1. Mengatasi penolakan kelahirannya.

Merupakan hal yang wajar bagi  wanita mengalami kesakitan saat melahirkan. Namun menjadi hal yang tidak wajar jika kesakitan ini kemudian dibebankan juga kepada anak yang dilahirkan. Orang tua tentu akan memberikan nama yang indah kepada anaknya namun dalam tidak dalam kisah Yabes, dimana ibunya memberi ia nama yang berarti kesakitan. Kita dapat berasumsi bahwa kelahiran Yabes sebenarnya tidak diinginkan. Dengan kata lain sebelum dilahirkan Yabes sudah tertolak. Menurut Psikologi Klinis, perasaan tidak nyaman akibat penolakan ibu nantinya akan tersambung ke otak bayi sehingga bayi di kandungan tahu bahwa kehadirannya ditolak. Akibatnya anak yang ditolak ini akan bertumbuh dalam ketidaknyamanan dan membenci dirinya bahkan kemungkinan terburuk adalah bunuh diri. Sekalipun tertolak, Yabes bisa menang atas pengalaman ini. Terlihat dari doa yang ia panjatkan. Kuncinya adalah ketika kita menyadari bahwa Allah tetap mengasihi dan tidak pernah melupakan kita, bahkan ketika orang tua atau orang terdekat kita menolak kita (Yesaya 49:15;43:4). Firman Allah-lah yang dapat meneguhkan bahwa kita berharga, dan tetap diterima.

  1. Mengatasi ‘stigma’ melalui pemberian namanya.

Stigma ini seperti noda atau sesuatu yang buruk yang disematkan kepada seseorang. Semua orang ibrani tentu tahu nama Yabes mengandung makna yang kurang baik. Dan Yabes harus bertumbuh dengan nama itu.

William Shakespeare berkata “Apa artinya sebuah nama? Kita dapat menyebut bunga mawar dengan nama yang berbeda, namun baunya tetaplah harum. ”Banyak orang masih menganggap bahwa dirinya adalah apa yang dikatakan oleh orang lain. Kalau kita tidak bisa menang atas jati diri kita maka kita juga akan merasa tertolak. Sekali lagi hanya Firman Tuhan yang dapat meneguhkan kita ketika merasa tertolak, seperti dalam Wahyu 2:17  “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat : Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.” Orangtua tentu punya harapan atau alasan ketika memberi kita nama namun itu tentu terbatas. Dihadapan Tuhan kita akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya bahkan di sorga Dia memberi kita nama yang baru.

  1. Mengatasi kutuk/takdir masa depannya

Takdir dapat diartikan sebagai destiny atau tujuan. Ketika Allah menciptakan kita sebenarnya saat itu pula Dia sudah selesaikan segala tujuan atau rencana yang baik bagi kita. Allah tidak merancang kita untuk dibinasakan melainkan diselamatkan. Namun demikian Allah juga tidak pernah menentukan pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup.

Yabes (Ibrani: יַעְבֵּץ – YA’BETS, secara harfiah: dia akan berduka, dia akan sengsaradalam tatanan bahasa inggris ini adalah Verb (kata kerja) Qal Imperfect (belum selesai) 3rd Maskulin (untuk laki-laki) Singular (untuk seorang).

Pemberian nama berisi suatu harapan untuk masa depan. Nama orang Ibrani biasanya mengandung arti dan sering kita temukan dalam bentuk kata kerja dalam tensis imperfect (belum selesai). Ini juga digunakan dalam nama Yesus dan bahkan Allah (Yehovah). Bentuk Imperfect diberikan kepada orang yang masih hidup atau eksis, dengan kata lain Yabes sejak awal sudah tahu akan mengalami sengsara di masa depan (sesuai arti nama). Namun Yabes berhasil mengatasinya. Kita dapat melihat ketika ia menaikan Doa kemenangan Imannya.

Ada beberapa contoh pribadi yang diberikan nama yang baru yang memiliki makna yang lebih baik seperti Abram menjadi Abraham; Simon menjadi Petrus. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih tahu siapa diri kita sebenarnya. Kisah lain tentang seorang pahlawan bernama Yefta. Anak seorang pelacur, dia ditolak oleh saudara-saudaranya dan pernah menjadi perampok. Tapi Tuhan tahu Yefta tidak ditakdirkan menjadi perampok melainkan seorang pahlawan yang gagah perkasa (Hakim 11:1-3). Yefta mungkin tidak menyadari bahwa didalam dirinya ada seorang pahlawan. Jika Yefta bisa menang dari kutuk yang diucapkan orang lain maka kita pun bisa.

Filipi 4:3
Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

Orang boleh menjelekkan atau merendahkan kita tetapi jika kita tahu bahwa nama/takdir kita adalah sorga maka kita tidak akan terpengaruh dengan apa kata orang lain.

Kesimpulan
1Taw 4:10 Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!”

Berkat itu bukan selalu soal materi melainkan berkat juga bicara tentang perkenanan Tuhan. Yabes meminta agar semakin hari semakin berkenan kepada Allah. Dan Allah MENGABULKAN permintaannya itu karena Dia meminta dan yakin Tuhan sanggup menolongnya.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s