JEMAAT DI SARDIS, oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 21 Januari 2018)

WAHYU 3:1,2

Ada 7 jemaat yang tercatat dalam Wahyu, salah satunya adalah jemaat di Sardis. Jemaat ini begitu jauh dari apa yang Tuhan harapkan karena sikap hidup mereka. Kata SARDIS dalam terjemahan bahasa inggris dituliskan “a few escape” artinya sekelompok kecil yang luput. Sedangkan dalam bahasa Lonian, subyek kata Sardis dituliskan “The prince of joy (raja sukacita).” Sedangkan kata “bintang” dalam Wahyu 3:1, sama artinya dengan Wahyu 2:1,8,12,18 yaitu gembala jemaat. Bintang ini bukan hanya ada di tangan Yesus tetapi juga milik Allah. Dalam 1 Tesalonika 5:12, Rasul Paulus memberi nasihat untuk:

  1. Menghormati, artinya jangan memandang rendah jemaat atau hamba-hamba Tuhan yang melayani karena mereka bekerja keras.
  2. Bekerja keras, hamba Tuhan bekerja keras memimpin jemaat agar jemaat mengerti firman Allah dan berjalan sesuai firman Penderitaan yang paling berat bagi hamba Tuhan adalah saat jemaat menyimpang dari kebenaran firman Tuhan atau meninggalkan Tuhan.
  3. Menegur jemaat, selain bekerja keras, hamba Tuhan juga menegur jemaat agar tidak melenceng dari kebenaran firman Tuhan. Namun kadang kala jemaat salah mengerti; tidak paham dan kecewa saat hamba Tuhan menjelaskan tentang kesalahan dan dosa.
  4. Menjunjung gembala jemaat. Dalam 1 Tesalonika 5:13a Rasul Paulus mengajarkan agar menjunjung hamba Bukan berarti hamba Tuhan tidak menerima masukan atau teguran, melainkan menjunjung dengan menopang pelayanan; memenuhi; mencukupkan kebutuhan hamba Tuhan sehingga dapat memusatkan perhatian melayani jemaat.
  5. Hiduplah damai seorang dengan yang lain, jangan ada prasangka buruk satu dengan yang lain sehingga muncul keretakan antara seluruh komponen jemaat yaitu penatua, diaken dan jemaat. Tetapi jika semua hidup rukun dan damai, Tuhan akan genapi janji-Nya dalam Mazmur 133:3, bahwa berkat akan dialirkan.

Tuhan Yesus menilai jemaat Sardis, bahwa mereka hidup tetapi sudah mati. Dalam Wahyu dituliskan “Engkau dikatakan/seperti hidup, padahal engkau mati!” Kata mati yang dimaksud bukan tentang keadaan fisik tetapi tentang hal rohani. Itu sebabnya akademisi menyebut jemaat di Sardis adalah zombie church (gereja zombie). Kata mati menekankan bahwa jemaat Sardis tidak memiliki keinginan untuk bertumbuh atau meningkat dan bertambah maju. Mulai dari iman, kebajikan sampai kasih agape (2 Petrus 1:5-8). Perhatikan gambar berikut

Kekristenan yang mati maka tidak akan memiliki keinginan untuk bertumbuh; untuk maju; untuk berkembang; untuk jadi berkat; untuk menolong orang miskin; untuk membantu yang kekurangan serta tidak meningkat menaiki tangga-tangga dalam 2 Petrus 1, seperti jemaat di Sardis. Sehingga pekerjaan atau pelayanan yang sudah dikerjakan dianggap mati oleh Tuhan. Jadi di tahun 2018, Tuhan mau ada perubahan dalam kekristenan kita bukan seperti jemaat di Sardis yang beraktifitas tetapi di mata Tuhan mereka sudah mati. Sesungguhnya sukacita Tuhan Yesus bukan hanya jemaat bertambah tetapi kekristenan merekapun bertumuh semakin dewasa.

YESUS TEGUR JEMAAT DI SARDIS
Dalam Wahyu 3:1, jemaat Sardis dikatakan seperti zombie, tampak hidup padahal sudah mati. Penyebab kematian rohani jemaat Sardis adalah karena mereka sudah merasa mapan dan nyaman sehingga tidak lagi pusing dengan hal-hal lain. Seperti jemaat yang aktif ke gereja tetapi tidak punya keinginan sedikit pun untuk bertumbuh. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berjalan kepada kematian Rohani. Itu sebabnya jemaat Sardis mendapatkan teguran yang begitu keras dari Tuhan Yesus . Ada juga nasihat yang Tuhan Yesus berikan yaitu:

  1. Bangunlah

Jemaat di Sardis diperintahkan untuk “Bangun” (jemaat Sardis hampir mati). Berarti jemaat di Sardis, masih memiliki denyut kehidupan. Perintah untuk bangun artinya, jemaat di Sardis harus memiliki kemauan untuk bangkit/ bangun karena mereka hampir mati. Hanya tinggal sedikit lagi mereka bertahan,  jika tidak ditanggulangi maka jemaat Sardis akan mati. Itu sebabnya Tuhan katakan agar jemaat bangun, artinya ada inisiatif untuk bangun bukan Tuhan yang membangunkan jemaat Sardis. Jadi keputusan untuk bangkit justru ada dalam diri seseorang.

Sebuah contoh dalam Lukas 15:18 tentang anak yang terhilang. Perhatikan dalam ayat 18, anak bungsu memiliki inisiatif bahwa ia akan kembali kepada Bapa dan ia siap dengan segala konsekuensi saat berjumpa dengan Bapanya. Ia bangun dan berdiri, inilah awal pemulihan dalam diri anak yang terhilang, yaitu saat ia memiliki keinginan untuk kembali pada Bapanya dan saat ia kembali, maka hubungan ia dengan Bapanya dipulihkan.

  1. Kuatkan apa yang masih tinggal yang hampir mati.

Nasihat kedua adalah menguatkan apa yang masih tinggal, seperti carang yang melekat pada pokok tetapi rengang demikian gambaran keadaan jemaat Sardis. Jika tidak kuat maka akan mati dan dipotong lalu dibakar.

CARA UNTUK MELEKAT
Firman Allah menjelaskan untuk melekat erat dengan Yesus, kita memerlukan:

  • Firman dan Roh Kudus
    Sebuah contoh dalam1 Raja-raja 19:1-8, Izebel mendengar nabi Elia telah membunuh 450 nabi Baal. Izebel mengancam untuk membunuh Elia. Ancaman Izebel membuat Elia kelihatan hidup tetapi mati. Elia minta supaya Tuhan mencabut nyawanya (minta mati). Elia pergi dan minta mati kepada Tuhan namun Allah tidak biarkan Elia. Maka Tuhan mengutus malaikatNya untuk menegur Elia untuk makan dan minum sehingga ia kuat berjalan 40 hari 40 malam ke gunung Allah. Pada zaman sekarang, makan sama artinya dengan mendengar firman Tuhan sedang minum artinya dipenuh dengan Roh Kudus. Perhatikan baik keadaan ini, bahwa kita perlu makan dua kali ganda. Artinya setelah makan firman Allah saat ibadah, jangan biarkan firman itu hanya dibiarkan dalam diri lalu dilanjutkan makan lagi pada ibadah di minggu berikutnya. Tetapi hendaknya firman itu direnungkan kembali seperti dicerna kembali sebab firman itu menguatkan – Mazmur 1:2. Dengan demikian kita akan menjadi jemaat yang kuat; berdaya tahan dan berkemenangan didalam Tuhan. Selain makan, minum dan diperbaharui oleh Roh Kudus, perlu ada hidup dan bertumbuh dalam doa, dimanapun  kita berada. Wahyu 12:6,14
  • Hidup dan bertumbuh dalam doa
    Sebagai pengikut Yesus yang sejati, selain mendengar dan renungkan firman Allah serta dibaharui dari hari ke sehari oleh Roh Kudus, kita harus bangun hubungan kita secara intim dengan Tuhan Yesus, dalam doa dan penyembahan. Efesus 6:18, jangan putus hubungan dengan Tuhan.
  1. Tidak berkualitas

Tuhan Yesus menilai kualitas pelayanan jemaat di Sardis “…tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan AllahKu.” Jemaat di Sardis bukan jemaat yang pasif atau tidak pernah melayani. Jemaat Sardis giat melayani, tetapi dalam pandangan Yesus tidak ada pekerjaan sempurna yang dikerjakan jemaat Sardis. Jadi meskipun jemaat lakukan hal-hal hebat namun Tuhan memandang pelayanan yang tidak lengkap (uncomplete). Dalam dunia bisnis, produk yang tidak sempurna akan jadi produk gagal. Jangan hanya sekedar ibadah tetapi lakukanlah pelayanan dengan lengkap.

PENYEMPURNA
Penyempurna pelayanan dihadapan Yesus adalah hidup didalam kasih. Jadi pelayanan yang berkualitas di mata Yesus, bukan karena kita mampu melainkan melayani dengan kasih. Memberi dengan jumlah besar, seperti orang Majus (Matius 2:11) dibandingkan Lukas 2:16-19 (para gembala). Pelayanan orang Majus itu baik dengan memberi, tetapi pelayanan gembala meski tanpa kekayaan namun karena kasih mereka merasakan sukacita. Ada orang yang melakukan mujizat; sembuhkan yang sakit; usir setan, Matius 7:21-23 dan Matius 25:24-30. Ada hamba yang tidak melayani karena cemburu dengan hamba-hamba yang memiliki talenta lebih. Yesus pun menolak dan tidak mengenal mereka karena mereka melayani tanpa kasih. Pada akhirnya hamba tersebut masuk dalam kegelapan. Jadi bila jemaat sampai dapat lakukan mujizat namun tidak ada kasih maka semua yang dilakukan akan menjadi kosong. Sehingga pelayan kita tidak diterima, jika tidak berubah maka pada akhirnya akan dimasukan kedalam kegelapan yang paling gelap yaitu masa Antikris.

Oleh sebab itu, kiranya iman kekristenan kita bertumbuh dan berkembang sehingga menerima upah dalam kekekalan. Pastikan kasih sebagai dasar pelayanan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s