Pujian dan Penyembahan – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 18 Maret 2018)

Apakah pujian dan penyembahan sudah menjadi sesuatu yang Mekanik? Hanya pengisi acara sebelum penyampaian Firman Tuhan? Atau hanya sebuah Liturgi yang membosankan?
Sudah hal yang terbiasa bagi kebanyakan orang Kristen jika hari Minggu, mereka akan datang beribadah ke gereja. Mereka sudah hafal urutan acara-acara apa saja yang ada sepanjang ibadah berlangsung. Beberapa yang tidak terlalu menyukai ‘acara’ pujian penyembahan, mereka memilih untuk datang terlambat, nyanyi sebentar kemudian langsung berdoa untuk mendengarkan Firman Tuhan. Apa yang terjadi? Apakah acara Pujian penyembahan tidak lagi merupakan hal yang menarik bagi jemaat? Apakah mereka berpikir dan merasa bahwa acara pujian penyembahan di gereja tidak ada manfaatnya bagi mereka?

Tentunya hal ini harus menjadi koreksi yang dalam bagi setiap gereja yang menyelenggarakan acara pujian dan penyembahan mereka. Apakah yang gereja kerjakan dalam memuji dan menyembah Tuhan adalah sesuatu yang sudah memang harus berjalan demikian (mekanik, acara, liturgi)?

Penting atau Tidakkah Pujian Penyembahan?
Bagi yang sudah mengalami kuasa Pujian Penyembahan, mereka akan mengatakan bahwa hal itu sangat penting; sebaliknya bagi yang tidak pernah mengalami kuasanya, Pujian Penyembahan hanyalah sesuatu pengisi acara sebelum acara puncaknya yaitu Pemberitaan Firman Tuhan.

Pertanyaan besarnya adalah “Mengapa ada perbedaan, sama-sama orang Kristen yang beribadah, namun ada yang mengalami kuasa Pujian penyembahan dan ada yang tidak mengalaminya sehingga menganggapnya kurang penting?”
Apakah gereja sudah memperlengkapi seluruh pelayan Tuhan dan jemaat secara keseluruhan untuk memiliki pemahaman yang sama tentang hal ini? Jika memang sudah, marilah kita segarkan kembali pemahaman kita mengenai hal ini.

Sebuah koreksi besar harus dilakukan oleh Gereja, mengapa hal ini terjadi? Apakah memang benar bahwa Pujian Penyembahan yang kita lakukan sudah menjadi hal yang mekanik, sekedar acara atau hanya sebuah Liturgi dan tidak ada ‘kehidupan atau pewahyuan’ didalamnya?

Jawaban pertanyaan di atas adalah dalam bentuk pertanyaan lagi: Apa motivasi kita datang ke Gereja / Ibadah? Untuk mendapatkan Berkat atau Memberi Sesuatu? Rata-rata orang yang datang beribadah menginginkan hidupnya diberkati karena ia telah beribadah. Tidak ada salahnya, berharap untuk diberkati, karena memang hal itu adalah janji Tuhan untuk kita, Keluaran 23:25-26. Namun jika rohani kita dewasa, kita akan melakukan yang sebaliknya. Sebelum mendapatkan berkat Tuhan, bukankah seharusnya kita lebih dulu mempersembahkan sesuatu yang mulia kepada-Nya.

Apakah uang merupakan hal yang utama dalam ibadah yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan?
Menurut pendapat saya, uang ada diurutan paling bawah yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan. Hal yang terutama adalah bagaimana memperkenankan hati Tuhan terhadap diri kita. Apa yang layak kita persembahkan kepada-Nya ketika kita menghadap kehadirat-Nya? Bukankah Dia Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan, sang Pemilik segalanya?

Bagaimana kita memperkenankan hati-Nya saat kita datang beribadah khususnya saat kita memuji dan menyembah Dia?
1.
Dengan Ucapan Syukur
Mazmur 100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

Alasan yang terutama ada di ay. 5, Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Kiranya kita mengingat semua kebaikan Tuhan atas kehidupan kita. Bukankah semua keberadaan kita adalah karena pertolongan Tuhan? Tuhan juga sudah menolong keluarga, usaha pekerjaan, kesehatan kita, bahkan pergumulan atas persoalan kita. Dengan apa kita dapat membalasnya?  Tuhan rindu kita membawa semua ucapan syukur kita saat beribadah kepada-Nya, khususnya saat kita sedang memuji dan menyembah Dia.Mazmur 50:14,23, Bawalah semua kepada-Nya dengan segenap hati. Tuhan berkenan dan senang untuk kembali memberkati kita.

2. Dengan Puji-Pujian Sukacita dan Sorak Sorai.
Mazmur 100:1-3, Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Bawalah Puji-pujian dan sorak sorai kita kepada Tuhan, karena IA layak menerimanya. Pujilah Dia dengan segala Keberadaan-Nya.

Pujilah semua yang kita ketahui tentang siapakah Dia yang tertulis dalam Firman-Nya. Itu sebabnya juga mengapa kita harus suka membaca Alkitab. Tanpa hal tersebut, kita ‘miskin’ pengetahuan tentang diri-Nya. Dalam Mazmur 100:3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Wahyu 4:11, Wahyu 5:12,13

3.Dengan mempersembahkan Tubuh, Jiwa dan Roh sebagai persembahan yang hidup dalam ibadah kita, Roma 12:1.
Artinya dalam ibadah kita perlu melibatkan seluruh unsur kehidupan kita, tubuh, jiwa dan roh kita. Tubuh adalah kesadaran akan lingkungan dimanan kita berada; jiwa adalah kesadaran tentang keberadaan diri kita; roh adalah kesadaran tentang kehadiran Tuhan dimana kita berada. Kita tidak sekedar mengetahui bahwa Tuhan hadir, tetapi kesadaran kita akan kehadiran Tuhan, menimbulkan respek kita yang tinggi akan penghormatan kepada kehadiran-Nya (Hati yang takut akan Tuhan). Sehingga hal tersebut mempengaruhi cara kita dalam beribadah khususnya dalam memuji dan menyembah Dia.

Jadi ketika kita memuji dan menyembah Tuhan, cobalah roh kita meresponi dan menanggapi pimpinan Roh Kudus-Nya. Cobalah untuk memuji dan menyembah-Nya dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita. Seperti itulah ‘Hati yang menyembah’.  Sebuah hati yang selalu mencari kesenangan Tuhan, bagaimana kita selalu melakukan kehendak-Nya.

4. Materi kita (Uang dan persembahan-persembahan berupa material)
Setelah kita tahu bagaimana cara ibadah yang berkenan dan bahwa menyenangkan hati Tuhan adalah hal yang terutama, persembahan materi kita barulah tercium seperti persembahan bau yang harum, disukai dan berkenan kepada Allah.

Filipi 4:18  Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

Selamat Beribadah. Milikilah kesadaran yang tinggi akan kehadiran-Nya ditengah-tengah ibadah kita. Hal itu membawa rasa hormat yang tinggi ketika kita beribadah. Baik sewaktu persiapan kita untuk beribadah, saat kita memuji dan menyembah Dia, saat kita mendengar Firman-Nya dan saat kita membawa persembahan materi kita kepada-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s