MAHKOTA SEBAGAI UPAH – oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 24 Juni 2018)

Wahyu 3:11
“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”

PENDAHULUAN
Iman kepada Yesus menjadi jaminan bagi orang percaya untuk diselamatkan (masuk sorga) dan kita akan menerima upah atau pahala yang wujudnya adalah mahkota yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Keselamatan tidaklah bergantung pada status sosial atau keburukan atau kejelekan kita di masa lalu. Keselamatan yang kita terima adalah tanpa syarat, karena keselamatan adalah pemberian dan kita hanya dapat menerimanya lewat iman kita kepada Yesus. Sebaliknya bagi yang menolak atau tidak percaya kepada Yesus akan binasa (masuk neraka). Dengan lain kata Keselamatan adalah karya (hasil kerja) Allah bukan karena usaha (hasil kerja) kita sebagai manusia. Ini merupakan ajaran yang sangat fundamental. Karena Yesus mengasihi kita maka Ia mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Dia menggantikan posisi kita, mati menanggung dosa kita agar kita tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yohanes 3:16; Efesus 2:8,9).

Ada seorang yang bertanya kepada saya, jika karena kasih-Nya, Yesus telah rela berkorban untuk menyelamatkan kita, apakah kita kemudian boleh dengan bebas berbuat dosa lagi? Karena pengampunan Yesus tersedia bagi kita? Ada ajaran yang mengajarkan demikian, sehingga dengan tegas saya jawab, tidak boleh! Seorang yang telah diselamatkan Yesus adalah orang yang percaya dan mengalami lahir baru, dimana hidup yang lama yang penuh dosa telah berlalu dan hidup yang baru telah datang (2 Korintus 5:17).

Bukti seorang yang telah lahir baru adalah ia membenci dosa, dan mengasihi kebenaran / kesucian.
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Keselamatan yang Yesus kerjakan seharusnya membuat kita mengabdikan diri sepenuhnya kepada kebenaran.

UPAH – PAHALA (KEMULIAAN)
Kalau keselamatan kita terima secara cuma-cuma dengan iman, apakah upah atau pahala juga kita terima secara cuma-cuma? Tentu saja tidak sebab untuk mendapat upah atau mahkota kemuliaan, kita harus kerja (melayani), itu sebabnya saudara dihimbau agar tidak jadi jemaat penonton, melainkan melibatkan diri dalam pelayanan.

Agama yang diciptakan manusia memiliki konsep keselamatan yang berbanding terbalik dengan yang diajarkan firman Allah. Mereka mengajarkan bahwa perbuatan baiklah yang menghasilkan keselamatan. Konsep yang benar adalah sesuai dengan yang diajarkan firman Allah yaitu satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menerima pemberian Allah yaitu Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat.

Di sorga nanti orang yang melayani Yesus selama hidupnya akan menerima upah yaitu mahkota, tentu saja jumlah mahkota yang diterima bisa berbeda satu dengan yang lain. Namun ada juga orang yang masuk sorga namun tidak menerima mahkota sebab selama hidupnya tidak melayani Tuhan, seperti yang dialami penjahat yang disalib bersama Yesus.

PEGANGLAH YANG ADA PADAMU
Dalam Wahyu 3:11 “Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
Apa yang harus dipegang? Yang dimaksud Yesus adalah keselamatan. Modal yang kita perlukan adalah iman kepada Yesus.

“Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu…!
Artinya, kita harus sungguh-sungguh pegang/pertahankan keselamatan yang telah kita terima. Kalau kita kehilangan iman, yaitu iman yang menjamin kita masuk sorga, maka kita bukan hanya kehilangan upah/ pahala yaitu mahkota, tetapi kita akan kehilangan yang paling utama yaitu keselamatan kekal. Kita tahu orang yang tidak diselamatkan, tempatnya bukan di sorga melainkan di neraka.

ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN PELAYANAN
Kita yang percaya dan diselamatkan punya peluang untuk mendapat mahkota dari Tuhan, asal kita bersedia melayani Tuhan, dan Tuhan tidak membeda-bedakan orang yang mau melayani.

Beberapa Contoh :
Matius 10:42
“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

1 Korintus 3:8,9
“Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Paulus umpamakan jemaat, tempat kita melayani dalam dua gambaran, antara lain:

  • Ladang Allah
  • Bangunan Allah.

Orang yang melayani Tuhan digambarkan seperti seorang petani yang menabur dan menyiram benih yang ditanam. Banyak jemaat mengira bahwa pelayanan menabur dan menyiram benih firman Tuhan itu hanya tugas hanya hamba-hamba Tuhan! Namun sesungguhnya Firman Tuhan yang kita telah terima, kita bisa tabur kepada orang lain. Ketika kita berbicara tentang nilai-nilai firman Allah kepada orang lain, saat itu kita juga telah menabur. Ada upah yaitu mahkota yang Allah sediakan bagi yang sudah bekerja.

 MENYIRAM BENIH
Orang yang melayani Tuhan juga digambarkan sebagai orang yang menyiram, yaitu menyiram benih yang sudah ditaburkan. Benih itu sudah ditaburkan oleh gembala atau hamba Tuhan di gereja namun benih itu harus disiram. Benih yang disiram akan segar, tumbuh besar, kuat dan berbuah. Sebagai keluarga Allah, apakah yang kita perbuat bagi saudara-saudara seiman? Kita harus memperhatikan tentang ucapan kita. Lewat apa yang kita ucapkan sebenarnya kita sedang menyiram benih iman dalam diri orang lain. Karena itu perhatikan apakah kita mengeluarkan ucapan yang menyegarkan atau racun mematikan? Apakah ucapan kita membuat rekan kita bertumbuh imannya atau justru mematikan imannya? Apakah kita sudah menaruh perhatian kepada saudara seiman kita yang lemah dan memberi kekuatan atau sebaliknya? Ini bukan tanggung jawab hamba Tuhan semata melainkan semua anak Tuhan sebagai saudara seiman. Apa yang kita ucapkan haruslah seperti seorang yang sedang membangun bukan meruntuhkan. Paulus bergembira atas kedatangan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus yang memiliki ucapan yang memberi kesegaran bagi dirinya dan juga jemaat. (1 Kor. 16:17)

MENGHADAP TAHTA  PENGADILAN KRISTUS
Kita harus melayani karena kita semua akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Inilah pendorong mengapa orang percaya melayani selama hidup di dunia ini.

2 Korintus 5:10 “Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang yang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”

Ada orang yang mengajarkan bahwa pada saat Yesus datang kedua kali, semua orang termasuk yang percaya Yesus, harus menghadap tahta pengadilan Kristus untuk diadili dan dilihat perbuatannya baik atau jahat lalu Tuhan akan tentukan sorga atau neraka! Ini adalah ajaran Sesat! Bagi kita yang sudah terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat tidak akan dihakimi lagi. Arti yang benar adalah saat Yesus datang kedua kali adalah :

  • Orang percaya yang sudah mati akan dibangkitkan dan yang hidup akan diubahkan lalu kita akan diangkat, menyongsong Tuhan di angkasa.
  • Di angkasa, kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus, bukan untuk diadili, masuk sorga atau Tetapi…
  • Di hadapan tahta-Nya, Allah akan menentukan berapa besar pahala (berapa mahkota) yang akan kita terima. Dan…
  • Kita akan terima pahala (mahkota) atau tidak, hal itu ditentukan ber-asarkan pelayanan yang sudah kita lakukan, apakah pelayanan kita lakukan BAIK atau JAHAT.
  • Perbuatan pelayanan kita Baik atau Jahat disini, bukan masalah melakukan perbuatan kebaikan atau perbuatan kejahatan. Tetapi masalah MOTIVASI (tujuan atau maksud) kita dalam melayani atau melakukan sesuatu bagi Tuhan.

1 Korintus 3:10-15, motivasi seseorang melayani seperti bahan yang pakai dalam membangun sebuah bangunan:

  • Apakah pelayanan kita, kita buat dari bahan emas, perak dan batu permata -> dengan KASIH.
  • Atau apakah pelayanan kita, kita buat dari bahan kayu, rumput kering dan jerami -> tanpa KASIH.

MAHKOTA YANG AKAN KITA TERIMA

  1. Mahkota Kehidupan, Yakobus 1:12.
  2. Mahkota Yang Tak Dapat Binasa (Abadi), 1 Korintus 9:24-27.
  3. Mahkota Sukacita yaitu Kemegahan, 1 Tesalonika 2:19-20; Filipi 4:1.
  4. Mahkota Kebenaran, 2 Timo 4:5-8.
  5. Mahkota Kemuliaan, 2 Petrus 5:2-4.
  6. Mahkota Pemenang, Wahyu 3:11.
  7. Mahkota Kesetiaan, Wahyu 2:10b; 6:9.

Wahyu 4:9-11, tahta Yesus berada di tengah. Dan akan ada 12 tua-tua. Selain keselamatan, maka mahkota akan menentukan posisi (kita di ring berapa) kita duduk di hadapan tahta Yesus. Dalam memuji, menyembah Allah, kita akan melepas mahkota kita dan menaruh mahkota kita di hadapan Allah sebagai penghormatan bagi Tuhan Yesus Kristus.

AYAH – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 1 – Minggu, 24 Juni 2018)

Kalau Gembala sering mengutip bagian-bagian dari ayat-ayat ini:
Lukas 11:28 – Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 – Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Pagi hari ini saya ingin mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:
Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja kita, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Hari Ayah yang dirayakan banyak negara di setiap hari Minggu ke-3, bulan Juni.

Kalau di Indonesia, “Hari Ayah Nasional” dirayakan setiap tanggal 12 November, meskipun banyak dari Anda yang mungkin baru tahu. Karena memang lebih “terkenal” perayaan Hari Ibu. Tetapi setidaknya merayakan bagaimana seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya adalah sesuatu yang spesial. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”, Keluaran 20:12.

Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus, Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.

  1. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah.

Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah, Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik, Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1
I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like
(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night
(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

And you tell me that you’re pleased
(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

And that I’m never alone
(Dan ku tak pernah sendiri)

REFF
You’re a good good father
(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are
(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you
(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am
(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

VERSE-2
I’ve seen many searching for answers far and wide
(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

But I know we’re all searching
(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

For answers only you provide
(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

‘Cause you know just what we need
(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

Before we say a word
(Bahkan sebelum kami meminta)

REFF
You’re a good good father
(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are
(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you
(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am
(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

BRIDGE
Because you are perfect in all of your ways
(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us
(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways
(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us
(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

VERSE-3
Oh, it’s love so undeniable
(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

I, I can hardly speak
(Aku, aku kehabisan kata-kata)

Peace so unexplainable
(Damai, yang sukar dijelaskan)

I, I can hardly think
(Aku, aku sampai tak habis pikir)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still
(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

Into love, love, love
(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

BACK TO REFF

APAKAH YANG KAMU CARI? Seri 24 “DATANG DAN TINGGAL BERSAMA”- oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 Juni 2018)

Yohanes  1 : 35-39

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya. ” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Menjadi kristen bukanlah sekedar menjadi seorang pengikut tetapi menjadi seorang murid. Ada perbedaan besar antara seorang pengikut dan murid Kristus.
1. Pengikut mengetahui tentang Yesus, tetapi murid menjadi seperti Yesus.
Menjadi seorang murid Tuhan bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menjadi seperti Yesus. Sayangnya banyak orang kristen puas karena mengetahui tentang Tuhan, bahkan bangga kalau makin banyak tahu firman Tuhan. Banyak orang kristen bermegah diri, karena telah lulus kelas pendalaman alkitab dari tingkat pertama hingga akhir. Itu baik, tetapi persoalannya adalah apakah pengetahuan alkitab yang banyak membuat kita semakin menyerupai Yesus? Kekristenan bukan masalah seberapa banyak kita tahu firman tetapi seberapa banyak kita menyerupai Yesus. Semakin banyak firman yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin “persis” dengan Yesus. Ingatlah! Seorang murid dipanggil untuk menjadi sama dengan gurunya.

2. Pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.
Perbedaan kedua antara pengikut dan murid adalah “Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.” Mengambil keputusan adalah langkah awal menjadi pengikut Yesus. Seseorang harus memutuskan dulu dalam dirinya untuk meninggalkan hidup lama dan mempercayakan dirinya sepenuhnya didalam kuasa Tuhan Yesus. Tetapi keputusan tanpa komitmen adalah sia-sia dan kebohongan. Firman Tuhan berkata: orang yang bertahan sampai kesudahannya yang akan selamat. Pertobatan itu keputusan, tetapi kesetiaan adalah komitmen. Pertobatan dan percaya harus dibarengi kesetiaan hingga akhir. Jadi tidak sekedar mengambil keputusan tetapi kita harus berani mengambil komitmen. Komitmen artinya bukan sekedar menjadikan Yesus yang pertama dalam hidup kita, Yesus harus menjadi yang satu-satunya.

3. Pengikut menjalin hubungan, murid membangun keintiman
Seorang murid dari rabi Yahudi selalu tinggal bersama gurunya. Bukan saja tinggal, mereka juga akan selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Hal ini dimaksudkan agar antara sang guru dan murid tidak sekedar terhubung tetapi membangun keintiman. Tuhan merindukan hubungan dengan anak-anaknya bukan hubungan yang ala kadarnya, basa-basi, ataupun biasa-biasa, lebih dari itu Ia merindukan keintiman seperti keintiman antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan ingin hubungan yang akrab dengan anak-anakNya.

4. Pengikut fokus kepada hasil, seorang muris fokus kepada proses.
Inilah alasan mengapa murid harus tinggal bersama sang guru. Seorang murid tidak dihasilkan secara spontan, tetapi melalui proses panjang.

Seorang murid dihasilkan melalui proses.
Saat Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk mengikutiNya itu berarti Ia mengundang mereka untuk mengikuti seluruh proses pemuridan. “Marilah dan kamu akan melihatanya” artinya: marilah ikuti seluruh proses yang akan Aku berikan kepadamu. Murid tidak dihasilkan secara instan, dibutuhkan proses, tahapan, yang harus dijalani sampai tuntas. Layaknya seorang yang sedang menempuh pendidikan sekolah melewati kelas demi kelas demikianlah proses pemuridan yang dikerjakan Tuhan Yesus.

Mengapa seorang murid menjalani proses?
1.
Standar Tuhan
Di sekolah umum kita mengenal istilah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seorang murid dinyatakan berhasil apabila mereka mendapatkan nilai ulangan/nilai tes melampaui atau sama dengan standar nilai yang ditetapkan di KKM. Bagi murid yang tidak mendapat nilai sama atau dibawah KKM mereka diwajibkan untuk melalukan tes ulang atau remidial. KKM adalah standar yang wajib dipenuhi oleh seorang murid. Apakah standar seorang murid Kristus?

a. Menurut apa yang baik pada pemandanganNya.
Yeremia 18:4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

b. Mengikuti TeladanNYA
1Yohanes 2:6
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

c. Serupa dengan DIA
Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

2. Proses menentukan bobot, nilai, harga, kadar dan kualitas.
1Petrus 1:7
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Selain menentukan standar seorang murid, proses juga digunakan untuk menentukan kualitas, kadar, nilai dan bobot seorang murid. Proses yang benar, kesesuaian dengan tahapan dan langkah-langkah, serta prosedur yang tepat akan menghasilkan produk yang berkualitas. Bagaimana proses itu dijalankan akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kualitas hidup Yesus
Jika kita memperhatikan Alkitab ternyata kualitas kehidupan Yesus adalah sebuah produk yang muncul karena Dia pernah menjejakkan kaki pada setiap “tempat pemprosesan.” Sebagai Allah, Tuhan Yesus adalah pribadi yang sempurna, tetapi saat Ia datang ke dunia menjadi Anak Manusia, Ia merelakan diriNya larut dalam tempat pemprosesan yang Bapa tetapkan. Dari perkataanNya kita dapat melihat kerelaanNya menjalani proses kehidupan.

Mari kita perhatikan Matius 3:15 : “Biarlah itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kata “biarlah itu terjadi” menunjukan kesiapan Tuhan Yesus  untuk menjalani proses agar seluruh kehendak Bapa digenapi dalam diriNya. Sebagai sang penebus dosa, Dia tidak perlu dibaptis karena Ia tidak berdosa dan tidak akan pernah berdosa. Namun demi menggenapi seluruh kehendak Allah, ia merelakan diriNya menjalani proses dibaptis oleh Yohanes pembaptis. Kehidupan Tuhan Yesus diawali dengan melarutkan diri dalam proses, dijalani dari proses demi proses dan diakhiri dengan menuntaskan proses kehidupan sebagai penutup dari misi kehadiranNya di bumi ini. Di ujung hidupNya, Tuhan Yesus membiarkan proses Bapa tetap terjadi atasNya. Matius 26:54 – Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak dapat lepas dari proses kehidupan. Menghindari proses hanya membuat hidup kita bernilai rendah, tanpa bobot, kurang dari standar dan tidak berkualitas. Bersiaplah menjalani proses Tuhan, agar seluruh kehendak Allah digenapi dalam hidup kita. Bukankah tujuan hidup kita adalah melakukan kehendakNya? Setiap tempat pemprosesan selalu menyimpan kehendak dan maksud Allah untuk dikerjakan. Relakanlah diri Anda untuk larut dalam aliran pemprosesan Tuhan sampai seluruh kehendakNya terjadi dan digenapi atas diri kita.

MEMAHAMI PROSES TUHAN
Yesaya 28 : 23- 29
Untuk memahami cara Tuhan menjalankan proses pembentukan dalam diri kita, marilah kita melihat melalui Yesaya 28:23-29. Dalam perikop ini diberikan judul “Kebijaksanaan Tuhan”, artinya bahwa proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam diri anak-anakNya, selalu dilakukan dengan cara-cara yang bijaksana, baik dalam ketepatan waktu, ukuran dan tempat. Untuk itu marilah kita melihat bagian demi bagian dari ayat-ayat ini.
a. Waktu
Ayat 23 – 24
Pasanglah telinga dan dengarkanlah suaraku; perhatikanlah dan dengarkanlah perkataanku! Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur?

Seorang petani tentu sangat faham dengan waktu/musim. Karena ketepatan mengenal waktu atau musim akan menentukan hasil yang akan dituai. Petani tahu kapan membajak, menabur dan menuai. Tidak ada petani yang setiap hari membajak atau mencangkul ataupun menyisir. Petani yang benar akan menjalankan proses dengan tepat. Pertama tanah akan dibajak atau dicangkul, kemudian ditaburkan benih, diperlihara dengan pupuk atau disiram, hingga akhirnya menuai.

Demikianlah cara Tuhan memproses kita. Ada waktu hidup kita dibajak atau dicangkul. Pada tahap ini tentu kita semua merasakan kesakitan dan rasa tidak nyaman. Kita tidak bisa menghindar dari proses ini, sebab tanpa dibajak atau dicangkul tanah tidak dapat ditaburi. Ini berarti tidak akan ada hasil tuaian. Sebab itu jalanilah proses Tuhan dengan sukacita, Dia selalu tepat waktu dalam menjalankan kehendakNya. Segala sesuatu terjadi indah pada waktunya.

b. Tempat
Ayat 25 – Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya?

Kebijaksanaan Tuhan yang kedua dalam menjalankan proses hidup adalah sehubungan dengan tempat. Seperti bangsa Israel yang menanam benih pada tempat-tempat yang tepat demikianlah Tuhan membentuk hidup kita. Tuhan memakai setiap tempat untuk memproses hidup kita. Contohnya adalah bangsa Israel. Tuhan menggunakan 42 tempat persinggahan dari Mesir ke Kanaan untuk membentuk karakter bangsa Israel. Demikian juga dengan Yusuf. Hidupnya sangat menarik karena untuk meluncurkannya ke istana, Tuhan ijinkan Yusuf singgah diberbagai tempat pemprosesan. Mula-mula Yusuf ada di rumah Bapa, suatu tempat yang menyenangkan karena menjadi anak yang dikasihi bapa. Kemudian Tuhan melemparkannya ke sumur kering. Keadaan yang terbalik dari rumah bapa. Di sumur kering, segala kenyamanan dilucuti, diganti dengan penderitaan dan sengsara. Namun rupanya tempat ini juga belum cukup bagi Yusuf. Dari sumur kering, Yusuf digiring ke Mesir menuju tempat baru yaitu rumah Potifar. Yusuf berfikir rumah Potifar lebih baik dari pada sumur kering, tetapi ternyata ia salah. Dari rumah Potifar ia diseret masuk ke dalam penjara. Suatu tempat yang tidak pernah muncul dalam benak dan angan-angannya. Tetapi justru dari penjara, Yusuf berjalan menuju istana raja. Setiap tempat pemprosesan yang disinggahi Yusuf sangatlah penting karena dari tempat-tempat itulah yang menghantarkan Yusuf meraih mimpinya seperti yang Tuhan nyatakan sejak di rumah bapanya.

Tuhan pasti membawa kita di setiap tempat pemprosesan seperti yang Dia inginkan. Jangan takut dan kecil hati sebab yang penting bukan “dimana” Anda berada tetapi dengan “siapa” Anda berada. Lebih baik di sumur kering bersama Tuhan dari pada di istana tanpa Dia. Dimanapun tempatnya asal bersama denganNya kita akan menikmati damai dan sejahtera.

c. Berat ringannya pukulan.
Ayat 27-28 – Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur.

Para petani Israel mengerti benar tata cara mengeluarkan biji jintan atau gandun dari sekamnya. Jintan hitam akan diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, sedangkan Jintan putih dipukul-pukul dengan tongkat. Untuk gandum mereka giling dengan jentera gerobak dengan kudanya. Ini adalah aturan yang harus mereka taati, salah menggunakan cara yang tepat bisa-bisa menghancurkan jintan dan gandum.

TUHAN mengerti batas kemampuan setiap anak-anakNYA. Ia tidak akan menjalankan prosesnya melampaui kekuatan kita. Tuhan memperlakukan kita dengan cara, ukuran dan saat yang tepat. Segala yang kita alami diukur dengan ketepatan cara dan ukuran yang mampu kita tanggung.

1Korintus 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Sikap kita dalam menjalani proses Tuhan.
Yesaya 64:8
Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

 Sekalipun prosesnya terasa berat dan menyakitkan, jangan pernah menghindari atau menolaknya. Menghidari dari prosesNya hanya akan memperlambat tujuan dan kehendakNya digenapi. Percayalah Tuhan berdaulat atas hidup kita, Dia tahu batas kemampuan kita. Tuhan pasti memperlakukan kita sesuai dengan batas ukuran kita. Menyerahlah pada kehendakNya, ijinkan segala prosesnya terjadi sampai seluruh rencanaNya digenapi atas diri kita. Tuhan memberkati. GBU, KJP!

KUASA IBADAH – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 17 Juni 2018)

Saya memiliki kerinduan untuk Bp, Ibu, Saudara mengalami hadirat Tuhan saat beribadah sehingga ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Saudara datang beribadah, pulang serta mengalami Tuhan yang akan membawa perubahan sikap hidup kita dalam menjalani keseharian kita.

Kita sudah melihat di beberapa tempat di luar negri, bahwa ada gereja yang dijual dikarenakan tidak ada lagi jemaat yang hadir dalam ibadah tersebut. Entah apapun keadaan latar belakangnya, amat disayangkan jika melihat keadaan berikut bahwa ada gereja yang dijual dan dipakai untuk rumah peribadatan kepercayaan lainnya.

Di beberapa negara maju, masyarakat yang hidupnya dimanjakan dengan perkembangan teknologi, banyak diantara mereka merasa tidak perlu lagi mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka. Semua yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan dan keseharian mereka, semua dapat dibantu dan diselesaikan oleh teknologi. Dampak kedepannya, kita akan melihat bahwa banyak orang yang tidak lagi memerlukan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Implikasi lainnya, kita akan mendengar mereka berkata bahwa apakah masih relevan kita harus datang ke gereja? Bukankah jika Tuhan hadir dimana-mana, itu berarti kita bisa beribadah di rumah dengan bantuan teknologi (hanya ingin mengungkapkan kemalasan mereka yang merasa bosan beribadah di gereja).

Lalu sebenarnya, apakah yang kita cari jika kita pergi beribadah ke gereja? Mengapa orang yang ke gereja, juga sama seperti orang dunia ketika menghadapi berbagai masalah? Apakah sewaktu mereka ke gereja, sama sekali mereka tidak mengalami kuasa Ibadah itu?

Mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, untuk menemukan jawaban dari semua pertanyaan di atas?
1. Apakah mereka hanya beribadah secara rutinitas sebagai orang Kristen?
Apakah tanda-tandanya bahwa ibadah jemaat hanya sebagai rutinitas saja? Tandanya adalah mereka tidak mengalami kuasa ibadah yaitu jamahan kuasa Tuhan lewat hadirat dan Firman-Nya yang mengubahkan kehidupan mereka. Alkitab berkata untuk menjauhi orang-orang yang demikian.

2Tim 3:5 Secara lahiriah (form/morphosis) mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya (Power/Dunamis). Jauhilah mereka itu!

Orang-orang seperti ini yaitu yang beribadah namun tidak mengalami kuasa ibadah, pengaruh mereka lebih kuat untuk menarik orang lain menjadi pengikut mereka. Sebaiknya untuk menjauhi mereka.

Bacalah ayat 2-4, bagaimana jahatnya sifat dan karakter yang mereka miliki dapat kita lihat dalam daftar ini: Mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka membual dan menyombongkan diri, mereka menjadi pemfitnah, berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

2. Apakah mereka beribadah karena desakan kebutuhan Jasmani / lahiriah?
Orang-orang yang demikian biasanya tidak bertahan ketika diperhadapkan dengan persoalan dan disiplin Firman Tuhan.

Yoh 6:24-26,  Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Jelas sekali bahwa Yesus melihat mereka mencari diri-Nya hanya untuk perkara-perkara jasmani, bahkan dalam Yohanes 6:15, mereka memaksa untuk menjadikan Yesus sebagai raja mereka, yang dapat menjamin kebutuhan hidup mereka.

Yoh 6:60-69, Terbukti ketika mereka mendengar perkataan Yesus yang keras tentang Roti Hidup, semua murid-murid Yesus berkata bahwa perkataan Yesus keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya. Namun hati Yesus mengetahuinya, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Yesus mengingatkann mereka bahwa Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Yesus katakan adalah roh dan hidup.

Ayat 66-69, Firman Tuhan mengatakan bahwa mulai dari waktu itu banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus. Yesus memberi tantangan kepada para muridNya dengan berkata: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Salah satu murid-Nya yang bernama Simon berkata kepada Yesus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Akhirnya kualitas pengiringan mereka kepada Yesus menunjukkan bukti untuk tetap setia mengikuti-Nya, apapun tantangannya.

3. Apakah kualitas ibadah mereka/ pergi ke gereja karena memiliki kerinduan ingin mengalami perjumpaan dengan pribadi-Nya?
Pertayaan selanjutnya, apakah memang harus di gereja kita dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Bukankah Tuhan ada dimana-mana?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari sejenak kita membaca Kisah Para Rasul 15:16-18. “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.”

Dalam rencana besar Allah di akhir zaman, Allah akan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh. Saya percaya satu-satunya sarana yang Tuhan pakai adalah Gereja-Nya yang bukan sekedar personal namun juga bersifat korporat melalui Gereja lokal di masing-masing tempat.

Meskipun Tuhan dapat hadir di manapun, kita tetap harus menghargai kehadiran Tuhan di gereja lokal (tempat Tuhan berkarya membangun kembali ‘Pondok Daud’ yang telah roboh itu) saat kita beribadah bersama-sama.

Kita juga dapat memperhatikan pengakuan iman yang ke-16 dari ke17 pengakuan iman GPdI yang menyatakan bahwa kita percaya pertemuan-pertemuan ibadah, wajib dilaksanakan secara tetap dengan khikmat dan sukacita. (Kisah Para Rasul 2:25; Keluaran 23:25; Ibrani 10:25; Mazmur 47:2; 100:1-5; 134:2; 150:1-5).

Sebab itu, kita percaya gereja secara fisik adalah sarana yang dapat dipakai untuk membangkitkan kesadaran Jemaat akan kehadiran Tuhan. Itu sebabnya juga, mengapa jemaat begitu respek ketika mereka hadir di gereja. Yang kami harapkan dari dalam iman adalah bahwa jemaat terus mempertahankan kesadaran akan Tuhan itu, bukan saja ketika mereka ada di gereja, namun juga kemanapun mereka pergi, aktifitas apapun yang mereka lakukan, mereka tetap memiliki kesadaran akan Tuhan dan takut akan Tuhan.

NAMUN MENGAPA ADA YANG TIDAK MENGALAMI KEHADIRAN TUHAN SAAT MEREKA BERIBADAH?
Letak kesalahannya adalah jemaat yang hanya beribadah dengan tubuh dan jiwa saja, sedangkan roh mereka sama sekali tidak terlibat. Sedangkan Roh Kudus bekerja / berurusan dengan roh kita saat kita beribadah, Roma 8:16. (Lihat fungsi Tubuh, Jiwa Dan Roh dalam catatan Khotbah saya di Mahanaim Magazine (ERANAN ROH KUDUS DALAM IBADAH, Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Mei 2018).

BAGAIMANA KITA DAPAT MENGALAMINYA DAN TERUS MENERUS MENGALAMINYA?
Sederhananya untuk kita dapat mengalami hadirat-Nya, kita harus terus-menerus memiliki kesadaran akan Tuhan, bukan hanya ketika ibadah di gereja saja, namun disepanjang waktu.

1Tes 5:6,8 – Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.

1Pet 5:8-10 – Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Kita perlu terus-menerus memiliki kesadaran ini; bukan hanya sadar bahwa Tuhan ada, namun juga sadar bahwa Iblis juga ada, dan setiap saat dapat datang untuk menggodai dan berusaha menjatukan, menghancurkan.

Perlunya kita memiliki kesadaran akan Tuhan dimanapun kita berada:

  1. Dia ada dimana saja, Kejadian 28:16; Mazmur 139
  2. Ketika sendirian, Yes 6:1-9
  3. Di antara 2 dan 3 orang yg berkumpul, Matius 18:20
  4. Di dalam Ibadah, 1 Kor 14:25

Bagaimana kita lebih jauh dapat mengalami kehadiran Tuhhan setiap kali kita beribadah?

  1. Mempersiapkan diri sebelum beribadah
  2. Mengekspresikannya melalui Pujian Penyembahan
  3. Mengekspresikannya melalui pelayanan
  4. Sampai orang mengakuinya
    (lihat juga penjelasannya dalam Mahanaim Magazine dengan Judul MENGALAMI TUHAN DALAM IBADAH – Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 April 2018)

PRINSIP HIDUP YANG BERKEMENANGAN (SERI 5) – PENGIKUT KRISTUS YANG GIAT (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Juni 2018 oleh Pdt. Gideon Santoso)

I KORINTUS 15:58
“ Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

Pendahuluan
Ayat ini dimulai dengan kalimat “ Karena itu…” artinya ayat ini menjadi kesimpulan dari apa yang dibicarakan dalam ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 1-57.  Paulus sedang berbicara tentang apa yang dapat binasa dan apa yang tidak dapat binasa.  Paulus juga berbicara tantang apa yang akan terjadi kedepan kepada kehidupan setiap pengikut Kristus, yaitu tentang kebangkitan tubuh dan kemuliaannya.  Apa yang kita kerjakan saat ini, itu akan berpengaruh pada kehidupan yang dijanjikan Allah.  Untuk mendapat apa yang Tuhan janjikan, yaitu kemuliaan dalam kebangkitan tubuh kita, maka kita harus mengerjakan hidup yang berkemenangan. Untuk itulah Rasul Paulus menghimbau segeralah kerjakan dengan giat apa yang harus kita kerjakan didalam Tuhan, sebab waktunya sudah semakin singkat.

Keselamatan diberikan gratis oleh penebusan Yesus, tetapi untuk mempertahankan keselamatan dan juga pahala, itu tidak gratis tetapi diperlukan perjuangan.  Ada pepatah mengatakan lebih mudah seseorang untuk menerima keselamatan di dalam Yesus, dari pada mempertahankan keselamatannya itu.

7 PRINSIP HIDUP BERKEMENANGAN
“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia”  (1 Korintus 15:58 ).

Dari ayat di atas khususnya yang digaris bawahi, kita dapat mengetahui 7 prinsip tersebut, yaitu :
1. Kasih (dua kali dibahas )
2. Berdiri teguh
3. Jangan goyah
4. Giatlah selalu
5. Dalam pekerjaan Tuhan
6. Dalam persekutuan dengan Tuhan
7. Jerih payahmu tidak sia-sia.

GIATLAH SELALU
Ini merupakan prinsip yang ke-4 dalam urutan 7 prinsip hidup berkemenangan. Semua orang dapat memiliki rasa antusias atau giat dalam melakukan sesuatu, tapi jarang ada yang tetap pada posisi yang selalu giat.

Filipi 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir .”

Keselamatan yang kita peroleh dengan cuma-cuma dari Tuhan bukan otomatis mengunci hidup kita menjadi “Sekali selamat tetap selamat.”  Keselamatan itu harus dijaga dan dipertahankan dengan penuh tanggung jawab. Mengapa ? Lukas 22:31,32 “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Keselamatan harus dikerjakan dengan giat, bukan hanya dipelihara dan dipertahankan saja tetapi juga dikerjakan dengan giat untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan melalui pelayanan. Sebab Iblis akan mencoba dengan berbagai cara untuk menggugurkan iman kita sehingga kehilangan keselamatan itu.

GIAT, didalamnya mengandung arti : rajin, terus-menerus,  semangat/antusias, bertanggung jawab.  Apa yang membuat antusias orang percaya menjadi pudar dan tidak lagi menjadi giat ? Roma 12:11, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Yang membuat kendor/redup semangat kita sehingga tidak lagi giat adalah padamnya nyala roh antusias kita.

Beberapa hal yang membuat padam api semangat/antusias :
1.
Kecewa
Yoh 6:66 – Banyak murid-murid Tuhan diluar 12 murid yang mengundurkan diri karena kecewa. Mereka kecewa karena Yesus menegur mereka yang hanya mementingkan makanan jasmani tanpa berpikir tentang makanan rohani yang dapat membawa kepada kehidupan kekal.

Yoh. 21 : 2,3 – Petrus dan murid-murid lainnya mengalami kekecewaan dan kembali kepada kehidupan lamanya sebagai penjala ikan. Mereka hilang semangat karena Yesus yang mereka harapkan ternyata mati disalib, tetapi mereka lupa bahwa Yesus mati untuk bangkit kembali. Kekecewaan dapat melanda siapa saja, kecewa terhadap pasangan, teman, gereja bahkan kecewa kepada pendetanya dan banyak kekecewaan lainnya.

2. Konflik
Konflik bisa terjadi karena benturan pendapat yang berbeda yang menimbulkan perbantahan. Jika tidak disikapi dengan kedewasaan rohani, iblis akan mengambil keuntungan untuk memecah belah dan memadamkan semangat pelayanan.

Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah.” Persungutan dan perbantahan sering terjadi karena ketidakpuasan, tidak puas dengan kebijakan, tidak puas dengan pembagian tugas dan banyak hal tentang ketidakpuasan. Untuk dapat menggenapi nasehat Paulus  untuk tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah, maka  setiap anak Tuhan harus memiliki roh penundukkan diri terhadap otaritas di atasnya. Yesus sebagai Allah tunduk pada otoritas orang tuanya ketika Ia menjadi manusia, demikian juga dalam pelayanan Yesus selalu tunduk pada otorita Bapa-Nya meski dalam ke Allahan kedudukan-Nya setara dengan Allah.  Seseorang yang sulit untuk tunduk pada otoritas yang memimpinnya akan mudah tersulut konflik dan roh pemecah belah sehingga memadamkan kemurnian semangat pelayanannya.

3. Penderitaan / Tekanan
Yohanes pembaptis sempat pudar semangatnya pionirnya ketika alami tekanan dan penderitaan di penjara. Ia meragukan ke-Mesias-an Yesus sehingga mengutus muridnya untuk mempertanyakanNya, apakah benar Dia Mesias yang selama ini dinantikan, atau masih menuggu yang lain  (Lukas. 7:18-20).

Petrus murid Tuhan yang paling berani, rontok keberaniannya dan semangatnya ketika menghadapi tekanan. Ia menyangkal Tuhan sampai tiga kali.  Petrus tidak mampu hadapi penderitaan dan aniaya seperti  yang dialami Yesus, Matius 26:69-75.

4. Intimidasi dan Ancaman
Elia Nabi besar ternama, yang mampu menurunkan hujan dan api dari langit, seketika lenyap keberanian dan kepercayaannya ketika menghadapi intimidasi dan ancaman dari wanita Izebel (I Raja 19). Ternyata tidak ada orang yang kebal goncangan mulai dari jemaat awam sampai selevel nabi besar seperti Elia. Intimidasi dan ancaman dapat menghancurkan semangat dan rasa percaya diri dalam pelayanan.

5. Direndahkan / Diremehkan
1 Timotius 4:12 “Janganlah seorangpun  menganggap engkau rendah  karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Pada dasarnya tidak ada seorangpun yang mau diremehkan atau direndahkan meskipun ia seorang yang miskin, tetapi merendahkan dan meremehkan merupakan sejata yang efektif Iblis untuk meluluhlantakan semangat orang percaya dalam mengiring Tuhan.

Dari ayat di atas, Rasul Paulus menunjukkan kepada kita beberapa hal orang dapat dihormati atau sebaliknya dapat diremehkan. Orang dapat jadi teladan, dihormati atau malah sebaliknya dapat diremehkan dari perkataannya (ucapannya), kelakuannya atau tingkah lakunya, dalam kasihnya baik kepada Tuhan dan sesama, dalam kesetiaannya dan terakhir dalam kesuciannya, baik secara moral , maupun integritasnya jujur dan dapat dipercaya.  Apapun akibat yang membuat semangat pengiringan dan pelayanan kepada Tuhan menjadi pudar harus segera diatasi. Jika hal ini dibiarkan sampai berlarut, akan berakibat lebih fatal lagi.

 Wahyu 3:16 “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”

Kondisi yang lebih parah dari semangat yang pudar dan tidak lagi giat bagi Tuhan, adalah suam-suam kuku, tidak panas, tidak dingin dan dimuntahkan Tuhan. Dimuntahkan artinya dikeluarkan dari bagian tubuh Kristus, tidak lagi menjadi bagian dari tubuh Kristus.

NYALAKAN KEMBALI  APIMU
Bagaimana kita dapat mengalami pemulihan untuk kembali giat mengerjakan keselamatan kita di dalam Tuhan?  Kita dapat melihat kembali apa yang dikatakan Yesus kepada Simon Petrus.

Lukas 22:31,32 “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

a. Insaf
Artinya menyadari bahwa selama kita diam dalam tubuh jasmani ini dan selama kita masih hidup dalam dunia ini, kita selalu menghadapi banyak tantangan, perbedaan selalu ada, benturan akan selalu ada, namun semua itu merupakan proses pendewasaan rohari kita, melatih kita untuk tetap berpegang kepada aturan dan kebenaran Tuhan, ibarat besi menajamkan besi. Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan manusia semua punya kelebihan tetapi semua juga ada kekurangannya.

b. Berdoa
Minta hikmat dan kebijaksanaan Tuhan dalam menyikapi semua yang kita hadapi.

c. Kuatkanlah
Sebelum menguatkan orang lain yakinlah bahwa kita terlebih dulu sudah menang dan kuat menghadapi masalah apapun kita tetap kuat, giat dalam Tuhan. Kuatkanlah saudara-saudara yang lain untuk tetap tegar dan giat di dalam Tuhan.

KARAKTER ALLAH – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 17 Juni 2018)

Banyak dari kita pernah mendengar istilah karakter, dan kalau saya tanyakan mungkin sebagian besar dari kita yang hadir tidak yakin apa sebenarnya karakter itu. Karakter berasal dari Bahasa Yunani “charaktēr” (tanda, kualitas yang berbeda – alat untuk memberi tanda) diturunkan dari kata kerja “charassein” (mempertajam, membuat alur, mengukir). Jadi secara singkat, karakter adalah kualitas pribadi yang membuat Anda berbeda dari yang lain. Dalam bahasan Kristen tentu kita mengenal Galatia 5:22-23 sebagai daftar buah Roh yang ditulis Rasul Paulus. Tetapi kita bisa lihat ini juga sebenarnya adalah karakter pengikut Kristus, yang membedakan kita dari dunia.

Kembali ke sejarah bahasan tentang karakter. Secara sederhana dulu orang menggolongkan karakter orang berdasarkan “cairan tubuh” yang dominan, sehingga keluar istilah: sanguinis, plegmatis, koleris, melankolis. Tetapi teori ini sebenarnya sudah tidak kekinian lagi. Karena perkembangan Psikologi terbaru menggolongkan (istilahnya) 24 “kekuatan karakter” kedalam 6 nilai kebaikan yang muncul disepanjang zaman.

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggung jawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

Seseorang dan karakternya akan mengundang ekspektasi dari orang yang disekitarnya. Misalnya orang yang bijaksana, diharapkan suka belajar, dan punya sudut pandang yang baik. Semua dari kita adalah kombinasi yang unik dari kekuatan-kekuatan karakter ini. Saya percaya semua kekuatan karakter ini ada lengkap pada “karakter” Tuhan (dengan sengaja saya beri tanda kutip karena istilah ini adalah bentuk personifikasi kita terhadap Tuhan). Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan satu per satu kepada Anda.

Tetapi mari kita mulai dengan ini, kalau Allah punya kelengkapan kekuatan karakter, berarti manusia juga diciptakan dengan kekuatan-kekuatan karakter dan nilai-nilai kebaikan. Lalu apa guna itu semua? Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, namun kemudian berujung pada hasil yang tidak sesuai. Lalu apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Sekali lagi saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Kekuatan “karakter” Allah yaitu Kasih saya rasa menjadi yang paling menonjol. Ada satu lagu rohani “kontroversial” yang menggambarkan kekuatan karakter Allah, tetapi yang terbesar adalah kasih-NYA. Judul lagu ini “Reckless Love”.

VERSE-1:
Before I spoke a word, You were singing over me
(Sebelum aku bisa berkata, KAU telah bernyanyi atasku)

You have been so, so good to me
(KAU begitu sangat baik bagiku)

Before I took a breath, You breathed Your life in me
(Sebelum aku bisa bernafas, KAU telah hembuskan nafas hidup-MU dalamku)

You have been so, so kind to me
(KAU begitu sangat memperhatikanku)

REFF:
Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God
(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

Oh, it chases me down, fights ’til I’m found, leaves the ninety-nine
(Kasih itu mengejarku, berjuang hingga kuditemukan, meninggalkan 99 yang lain)

I couldn’t earn it, and I don’t deserve it, still, You give Yourself away
(Aku tak dapat mengusahakannya, dan aku tak layak mendapatkannya, tetapi ENGKAU tetap memberi hidup-MU)

Oh, the overwhelming, never-ending, reckless love of God, yeah
(Oh betapa luar biasa, tak terbatas, Kasih Allah yang berani)

VERSE-2:
When I was Your foe, still Your love fought for me
(Saat aku masih menjadi musuhmu, Kasih-MU tetap berjuang bagiku)

You have been so, so good to me
(KAU begitu sangat baik bagiku)

When I felt no worth, You paid it all for me
(Saat aku merasa tak berharga, KAU bayar semua bagiku)

You have been so, so kind to me
(KAU begitu sangat memperhatikanku)

BACK-TO-REFF THEN BRIDGE

BRIDGE
There’s no shadow You won’t light up
Mountain You won’t climb up
Coming after me
(Tak ada gelap yang tak KAU terangi
Gunung yang tak KAU daki
Mencari diriku)

There’s no wall You won’t kick down
Lie You won’t tear down
Coming after me
(Tak ada penghalang yang tak Kau robohkan
Kebohongan yang tak Kau bukakan
Mencari diriku)

BACK TO REFF

Bisakah Anda lihat semua karakter-NYA dari lagu di atas?

  • Kebijaksanaan (Wisdom): kreatifitas, keingintahuan, suka belajar, punya sudut pandang.
  • Keteguhan hati (Courage): keberanian, ketekunan, kejujuran, antusiasme.
  • Kemanusiaan (Humanity): kasih, kesopanan, intelegensi sosial.
  • Keadilan (Justice): tanggung jawab sosial, kerjasama, kesetaraan, kepemimpinan.
  • Menahan Diri (Temperance): pengampunan, rendah hati, hikmat, pengendalian diri.
  • Melebihi Akal (Transcendence): menghargai keindahan, syukur, optimis, humor, rohani.

Saya melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersama-NYA-lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan Anak-NYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Anda menunjukkan karakter Anda yang seharusnya serupa dan segambar dengan DIA. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepada-NYA, sungguh menyenangkan Hati-NYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Karakter Allah itu sebenarnya Anda miliki, kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

Godbless

PENGIKUT YESUS YANG MENANG – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 10 Juni 2018)

Wahyu 3:11-13

PENDAHULUAN
Setelah kita membahas tentang pengikut Yesus yang tekun dan taat melakukan Firman maka hari ini kita membahas tentang pengikut Yesus yang berkemenangan. Ini merupakan pembahasan terakhir tentang jemaat di Filadelfia. Kita akan mengawalinya dengan melihat perkataan Yesus dalam Wahyu 3:11-13, “Aku datang segera!”

 Kalimat ini sering salah dipahami oleh beberapa gereja yang mengaitkannya dengan peristiwa pengangkatan (rapture). Mereka berpendapat kedatangan Yesus yang kedua dapat terjadi kapan saja dan akan mengangkat orang-orang percaya, ini adalah pengertian yang keliru. Apakah Yesus akan datang secara tiba-tiba, seperti seorang pencuri bagi orang percaya? Tentu saja tidak. Yesus datang seperti pencuri adalah bagi pengikut antikris yang tidak percaya kepada Yesus. Ada banyak ayat yang dapat dijadikan referensi untuk menjelaskan hal ini. Salah satunya dalam Kisah Para Rasul 3:21, Petrus berkata… “Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.” Artinya, Yesus akan tetap berada di sorga. Yesus tidak akan datang kedua kali untuk menjemput kita sebelum terjadi apa yang disebut “PEMULIHAN SEGALA SESUATU”.

Apa yang sebenarnya dipulihkan?

1. Tanda-tanda / Peristiwa-peristiwa yang Mendahului Kedatangan Yesus Kedua Kali.

Sebelum Yesus datang kedua kali ada peristiwa-peristiwa yang harus digenapi terlebih dahulu. Peristiwa-peristiwa ini terjadi secara global atau meliputi seluruh dunia (triple seven). Dimulai dengan pembukaan 7 meterai, yaitu :

  • Meterai 1, Kuda Putih: penginjilan oleh kuasa Roh Kudus
  • Meterai 2, Kuda merah (Perang dunia I dan II)
  • Meterai 3,Kuda Hitam yaitu Kelaparan
  • Meterai 4, Kuda Hijau kuning (Wabah Penyakit)
  • Meterai 5, Penganiayaan Orang Percaya
  • Meterai 6, gempa bumi dan bencana alam.
  • Meterai 7, Pernikahan Rohani Gereja dengan Yesus.

Kemudian akan ada peniupan 7 sangkakala.  Sangkakala 5-7 adalah teriakan “Celaka, celaka, celakalah..” dan setelah itu sangkakala terakhir adalah saat dimana Yesus datang kedua kali dan orang-orang percaya akan dibangkitkan. Dan Yesus akan menuangkan 7 cawan murka bagi pengikut antikris.

2. Gereja Disempurnakan
Pengikut Yesus tidak terus dalam seperti sekarang, dimana banyak kekurangan dan kelemahan, akrab dengan dosa. Gereja Tuhan akan dilengkapi, pengikut Yesus akan bertumbuh menjadi sempurna atau menjadi Gereja Sempurna.

Kedatangan-Nya sudah sangat dekat, sebab itu Yesus memberi peringatan:

1. Aku Datang Segera!
Artinya kita harus siap menyongsong kedatangan Yesus kedua kali dengan cara :
a). Lengkapi yang kurang
b). Perbaiki yang salah, dalam menyambut kedatangan Yesus kedua kali.

2. Peganglah Apa yang Ada Padamu
Apa yang harus kita pegang? Tidak lain ini adalah iman, pengharapan dan kasih.

  • IMAN

Jangan sampai kehilangan iman. Yesus telah nubuatkan hal ini dalam Lukas 8:28, bahwa dunia akan mengalami krisis iman! Tetapi kita haruslah tetap kuat dalam iman di hadapan Tuhan, sebab imanlah yang menentukan keselamatan kita. Pegang iman dengan teguh dan jangan mau ditukar dengan apapun.

  • PENGHARAPAN

Ibrani 6:19 “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”

Sauh (Jangkar) digunakan dalam sebuah kapal (perahu) untuk berlabuh. Sauh juga dipakai untuk memanjat tebing yang curam. Dalam hidup ada banyak kondisi menggoncang jiwa dan membuat seseorang bisa putus asa dan bunuh diri, namun bagi kita yang terus berpegang pada pengharapan kepada Yesus akan mampu melewatinya. Tanpa pengharapan, kita tidak akan sampai pada posisi Yesus yang sudah mendahului kita di dalam kemuliaan.

  • K A S I H

Kalau kita tidak memiliki kasih semua yang kita lakukan adalah sia-sia (1 Korintus 13:1-3). Prestasi apa pun yang kita buat dalam pelayanan kita, bahkan sampai menyerahkan nyawa kita sekalipun, semuanya menjadi sia-sia dan tidak memberi dampak apa-apa bagi diri kita. Yang paling mengerikan, kalau kita tidak memiliki kasih, kita tidak dikenal oleh Yesus, bahkan kita dinyatakan sebagai pelaku kejahatan, (Matius 7:21-23). Tetapi yang paling utama yang harus kita pegang adalah penurutan kita akan firman.

  • PENURUTAN AKAN FIRMAN TUHAN

Dalam Wahyu 3:10, ada janji Perlindungan dan Keselamatan bagi mereka yang menuruti Firman Tuhan. Mengapa menuruti firman Tuhan begitu penting dalam menantikan dan menyongsong kedatangan Yesus kedua kali? Apa yang diperoleh jika kita menuruti Firman Allah :

1). DILINDUNGI
Banyak bentuk perlindungan Tuhan bagi orang yang menuruti firman Tuhan dengan cara yang benar. Bukan hanya diselamatkan dan masuk sorga, melainkan dilindungi artinya diluputkan dari Antikristus, (Wahyu 12:6,14).

2). DIBANGKITKAN
Kedatangan Yesus akan disusul dengan peristiwa kebangkitan orang percaya yang telah mati, (1 Tesalonika 4:16).

3). DIUBAHKAN
Setelah masa 3,5 tahun pemerintahan Antikristus, Yesus akan datang dari sorga dan turun ke angkasa, dan Pengikut Yesus Yang Sejati (Gereja Sempurna) akan diubahkan (1 Tesalonika 4:17).

4). DIPOSISIKAN SEBAGAI SOKOGURU
Ini akan digenapi dalam Kerajaan 1.000 Tahun damai, khususnya Langit dan Bumi Baru, Wahyu 3:12a  “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan SOKOGURU di dalam Bait Suci Allah-Ku.”

Apa maksud Bait Suci Allah-Ku? Apakah kemah Tabernakel (Gereja)? Perhimpunan orang percaya atau gereja sempurna (Wahyu 21:3)? Tentang sokoguru, sebenarnya akan lebih jelas, bila kita pelajari Wahyu 21:9-27 secara detil tentang makna semua gambaran yang tersirat di dalamnya. Dalam konstruksi bangunan ada tiang penopang yang disebut sebagai sokoguru, demikian halnya Jemaat yang bertindak sebagai sokoguru adalah jemaat yang dengan setia menopang pekerjaan Tuhan dalam gereja lokal.

Kesimpulan
Hal terpenting yang harus kita wariskan kepada generasi anak cucu kita, adalah iman yang disertai ketaatan pada firman dan kepedulian terhadap pelayanan. Selama kita tetap setia maka Allah akan membawa kita pada posisi-posisi yang mulia.