APAKAH YANG KAMU CARI? Seri 24 “DATANG DAN TINGGAL BERSAMA”- oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 Juni 2018)

Yohanes  1 : 35-39

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya. ” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Menjadi kristen bukanlah sekedar menjadi seorang pengikut tetapi menjadi seorang murid. Ada perbedaan besar antara seorang pengikut dan murid Kristus.
1. Pengikut mengetahui tentang Yesus, tetapi murid menjadi seperti Yesus.
Menjadi seorang murid Tuhan bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menjadi seperti Yesus. Sayangnya banyak orang kristen puas karena mengetahui tentang Tuhan, bahkan bangga kalau makin banyak tahu firman Tuhan. Banyak orang kristen bermegah diri, karena telah lulus kelas pendalaman alkitab dari tingkat pertama hingga akhir. Itu baik, tetapi persoalannya adalah apakah pengetahuan alkitab yang banyak membuat kita semakin menyerupai Yesus? Kekristenan bukan masalah seberapa banyak kita tahu firman tetapi seberapa banyak kita menyerupai Yesus. Semakin banyak firman yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin “persis” dengan Yesus. Ingatlah! Seorang murid dipanggil untuk menjadi sama dengan gurunya.

2. Pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.
Perbedaan kedua antara pengikut dan murid adalah “Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen.” Mengambil keputusan adalah langkah awal menjadi pengikut Yesus. Seseorang harus memutuskan dulu dalam dirinya untuk meninggalkan hidup lama dan mempercayakan dirinya sepenuhnya didalam kuasa Tuhan Yesus. Tetapi keputusan tanpa komitmen adalah sia-sia dan kebohongan. Firman Tuhan berkata: orang yang bertahan sampai kesudahannya yang akan selamat. Pertobatan itu keputusan, tetapi kesetiaan adalah komitmen. Pertobatan dan percaya harus dibarengi kesetiaan hingga akhir. Jadi tidak sekedar mengambil keputusan tetapi kita harus berani mengambil komitmen. Komitmen artinya bukan sekedar menjadikan Yesus yang pertama dalam hidup kita, Yesus harus menjadi yang satu-satunya.

3. Pengikut menjalin hubungan, murid membangun keintiman
Seorang murid dari rabi Yahudi selalu tinggal bersama gurunya. Bukan saja tinggal, mereka juga akan selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Hal ini dimaksudkan agar antara sang guru dan murid tidak sekedar terhubung tetapi membangun keintiman. Tuhan merindukan hubungan dengan anak-anaknya bukan hubungan yang ala kadarnya, basa-basi, ataupun biasa-biasa, lebih dari itu Ia merindukan keintiman seperti keintiman antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan ingin hubungan yang akrab dengan anak-anakNya.

4. Pengikut fokus kepada hasil, seorang muris fokus kepada proses.
Inilah alasan mengapa murid harus tinggal bersama sang guru. Seorang murid tidak dihasilkan secara spontan, tetapi melalui proses panjang.

Seorang murid dihasilkan melalui proses.
Saat Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk mengikutiNya itu berarti Ia mengundang mereka untuk mengikuti seluruh proses pemuridan. “Marilah dan kamu akan melihatanya” artinya: marilah ikuti seluruh proses yang akan Aku berikan kepadamu. Murid tidak dihasilkan secara instan, dibutuhkan proses, tahapan, yang harus dijalani sampai tuntas. Layaknya seorang yang sedang menempuh pendidikan sekolah melewati kelas demi kelas demikianlah proses pemuridan yang dikerjakan Tuhan Yesus.

Mengapa seorang murid menjalani proses?
1.
Standar Tuhan
Di sekolah umum kita mengenal istilah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seorang murid dinyatakan berhasil apabila mereka mendapatkan nilai ulangan/nilai tes melampaui atau sama dengan standar nilai yang ditetapkan di KKM. Bagi murid yang tidak mendapat nilai sama atau dibawah KKM mereka diwajibkan untuk melalukan tes ulang atau remidial. KKM adalah standar yang wajib dipenuhi oleh seorang murid. Apakah standar seorang murid Kristus?

a. Menurut apa yang baik pada pemandanganNya.
Yeremia 18:4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

b. Mengikuti TeladanNYA
1Yohanes 2:6
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

c. Serupa dengan DIA
Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

2. Proses menentukan bobot, nilai, harga, kadar dan kualitas.
1Petrus 1:7
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Selain menentukan standar seorang murid, proses juga digunakan untuk menentukan kualitas, kadar, nilai dan bobot seorang murid. Proses yang benar, kesesuaian dengan tahapan dan langkah-langkah, serta prosedur yang tepat akan menghasilkan produk yang berkualitas. Bagaimana proses itu dijalankan akan mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kualitas hidup Yesus
Jika kita memperhatikan Alkitab ternyata kualitas kehidupan Yesus adalah sebuah produk yang muncul karena Dia pernah menjejakkan kaki pada setiap “tempat pemprosesan.” Sebagai Allah, Tuhan Yesus adalah pribadi yang sempurna, tetapi saat Ia datang ke dunia menjadi Anak Manusia, Ia merelakan diriNya larut dalam tempat pemprosesan yang Bapa tetapkan. Dari perkataanNya kita dapat melihat kerelaanNya menjalani proses kehidupan.

Mari kita perhatikan Matius 3:15 : “Biarlah itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kata “biarlah itu terjadi” menunjukan kesiapan Tuhan Yesus  untuk menjalani proses agar seluruh kehendak Bapa digenapi dalam diriNya. Sebagai sang penebus dosa, Dia tidak perlu dibaptis karena Ia tidak berdosa dan tidak akan pernah berdosa. Namun demi menggenapi seluruh kehendak Allah, ia merelakan diriNya menjalani proses dibaptis oleh Yohanes pembaptis. Kehidupan Tuhan Yesus diawali dengan melarutkan diri dalam proses, dijalani dari proses demi proses dan diakhiri dengan menuntaskan proses kehidupan sebagai penutup dari misi kehadiranNya di bumi ini. Di ujung hidupNya, Tuhan Yesus membiarkan proses Bapa tetap terjadi atasNya. Matius 26:54 – Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak dapat lepas dari proses kehidupan. Menghindari proses hanya membuat hidup kita bernilai rendah, tanpa bobot, kurang dari standar dan tidak berkualitas. Bersiaplah menjalani proses Tuhan, agar seluruh kehendak Allah digenapi dalam hidup kita. Bukankah tujuan hidup kita adalah melakukan kehendakNya? Setiap tempat pemprosesan selalu menyimpan kehendak dan maksud Allah untuk dikerjakan. Relakanlah diri Anda untuk larut dalam aliran pemprosesan Tuhan sampai seluruh kehendakNya terjadi dan digenapi atas diri kita.

MEMAHAMI PROSES TUHAN
Yesaya 28 : 23- 29
Untuk memahami cara Tuhan menjalankan proses pembentukan dalam diri kita, marilah kita melihat melalui Yesaya 28:23-29. Dalam perikop ini diberikan judul “Kebijaksanaan Tuhan”, artinya bahwa proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam diri anak-anakNya, selalu dilakukan dengan cara-cara yang bijaksana, baik dalam ketepatan waktu, ukuran dan tempat. Untuk itu marilah kita melihat bagian demi bagian dari ayat-ayat ini.
a. Waktu
Ayat 23 – 24
Pasanglah telinga dan dengarkanlah suaraku; perhatikanlah dan dengarkanlah perkataanku! Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur?

Seorang petani tentu sangat faham dengan waktu/musim. Karena ketepatan mengenal waktu atau musim akan menentukan hasil yang akan dituai. Petani tahu kapan membajak, menabur dan menuai. Tidak ada petani yang setiap hari membajak atau mencangkul ataupun menyisir. Petani yang benar akan menjalankan proses dengan tepat. Pertama tanah akan dibajak atau dicangkul, kemudian ditaburkan benih, diperlihara dengan pupuk atau disiram, hingga akhirnya menuai.

Demikianlah cara Tuhan memproses kita. Ada waktu hidup kita dibajak atau dicangkul. Pada tahap ini tentu kita semua merasakan kesakitan dan rasa tidak nyaman. Kita tidak bisa menghindar dari proses ini, sebab tanpa dibajak atau dicangkul tanah tidak dapat ditaburi. Ini berarti tidak akan ada hasil tuaian. Sebab itu jalanilah proses Tuhan dengan sukacita, Dia selalu tepat waktu dalam menjalankan kehendakNya. Segala sesuatu terjadi indah pada waktunya.

b. Tempat
Ayat 25 – Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya?

Kebijaksanaan Tuhan yang kedua dalam menjalankan proses hidup adalah sehubungan dengan tempat. Seperti bangsa Israel yang menanam benih pada tempat-tempat yang tepat demikianlah Tuhan membentuk hidup kita. Tuhan memakai setiap tempat untuk memproses hidup kita. Contohnya adalah bangsa Israel. Tuhan menggunakan 42 tempat persinggahan dari Mesir ke Kanaan untuk membentuk karakter bangsa Israel. Demikian juga dengan Yusuf. Hidupnya sangat menarik karena untuk meluncurkannya ke istana, Tuhan ijinkan Yusuf singgah diberbagai tempat pemprosesan. Mula-mula Yusuf ada di rumah Bapa, suatu tempat yang menyenangkan karena menjadi anak yang dikasihi bapa. Kemudian Tuhan melemparkannya ke sumur kering. Keadaan yang terbalik dari rumah bapa. Di sumur kering, segala kenyamanan dilucuti, diganti dengan penderitaan dan sengsara. Namun rupanya tempat ini juga belum cukup bagi Yusuf. Dari sumur kering, Yusuf digiring ke Mesir menuju tempat baru yaitu rumah Potifar. Yusuf berfikir rumah Potifar lebih baik dari pada sumur kering, tetapi ternyata ia salah. Dari rumah Potifar ia diseret masuk ke dalam penjara. Suatu tempat yang tidak pernah muncul dalam benak dan angan-angannya. Tetapi justru dari penjara, Yusuf berjalan menuju istana raja. Setiap tempat pemprosesan yang disinggahi Yusuf sangatlah penting karena dari tempat-tempat itulah yang menghantarkan Yusuf meraih mimpinya seperti yang Tuhan nyatakan sejak di rumah bapanya.

Tuhan pasti membawa kita di setiap tempat pemprosesan seperti yang Dia inginkan. Jangan takut dan kecil hati sebab yang penting bukan “dimana” Anda berada tetapi dengan “siapa” Anda berada. Lebih baik di sumur kering bersama Tuhan dari pada di istana tanpa Dia. Dimanapun tempatnya asal bersama denganNya kita akan menikmati damai dan sejahtera.

c. Berat ringannya pukulan.
Ayat 27-28 – Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur.

Para petani Israel mengerti benar tata cara mengeluarkan biji jintan atau gandun dari sekamnya. Jintan hitam akan diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, sedangkan Jintan putih dipukul-pukul dengan tongkat. Untuk gandum mereka giling dengan jentera gerobak dengan kudanya. Ini adalah aturan yang harus mereka taati, salah menggunakan cara yang tepat bisa-bisa menghancurkan jintan dan gandum.

TUHAN mengerti batas kemampuan setiap anak-anakNYA. Ia tidak akan menjalankan prosesnya melampaui kekuatan kita. Tuhan memperlakukan kita dengan cara, ukuran dan saat yang tepat. Segala yang kita alami diukur dengan ketepatan cara dan ukuran yang mampu kita tanggung.

1Korintus 10:13
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Sikap kita dalam menjalani proses Tuhan.
Yesaya 64:8
Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

 Sekalipun prosesnya terasa berat dan menyakitkan, jangan pernah menghindari atau menolaknya. Menghidari dari prosesNya hanya akan memperlambat tujuan dan kehendakNya digenapi. Percayalah Tuhan berdaulat atas hidup kita, Dia tahu batas kemampuan kita. Tuhan pasti memperlakukan kita sesuai dengan batas ukuran kita. Menyerahlah pada kehendakNya, ijinkan segala prosesnya terjadi sampai seluruh rencanaNya digenapi atas diri kita. Tuhan memberkati. GBU, KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s