KUASA IBADAH – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 17 Juni 2018)

Saya memiliki kerinduan untuk Bp, Ibu, Saudara mengalami hadirat Tuhan saat beribadah sehingga ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Saudara datang beribadah, pulang serta mengalami Tuhan yang akan membawa perubahan sikap hidup kita dalam menjalani keseharian kita.

Kita sudah melihat di beberapa tempat di luar negri, bahwa ada gereja yang dijual dikarenakan tidak ada lagi jemaat yang hadir dalam ibadah tersebut. Entah apapun keadaan latar belakangnya, amat disayangkan jika melihat keadaan berikut bahwa ada gereja yang dijual dan dipakai untuk rumah peribadatan kepercayaan lainnya.

Di beberapa negara maju, masyarakat yang hidupnya dimanjakan dengan perkembangan teknologi, banyak diantara mereka merasa tidak perlu lagi mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka. Semua yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan dan keseharian mereka, semua dapat dibantu dan diselesaikan oleh teknologi. Dampak kedepannya, kita akan melihat bahwa banyak orang yang tidak lagi memerlukan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Implikasi lainnya, kita akan mendengar mereka berkata bahwa apakah masih relevan kita harus datang ke gereja? Bukankah jika Tuhan hadir dimana-mana, itu berarti kita bisa beribadah di rumah dengan bantuan teknologi (hanya ingin mengungkapkan kemalasan mereka yang merasa bosan beribadah di gereja).

Lalu sebenarnya, apakah yang kita cari jika kita pergi beribadah ke gereja? Mengapa orang yang ke gereja, juga sama seperti orang dunia ketika menghadapi berbagai masalah? Apakah sewaktu mereka ke gereja, sama sekali mereka tidak mengalami kuasa Ibadah itu?

Mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, untuk menemukan jawaban dari semua pertanyaan di atas?
1. Apakah mereka hanya beribadah secara rutinitas sebagai orang Kristen?
Apakah tanda-tandanya bahwa ibadah jemaat hanya sebagai rutinitas saja? Tandanya adalah mereka tidak mengalami kuasa ibadah yaitu jamahan kuasa Tuhan lewat hadirat dan Firman-Nya yang mengubahkan kehidupan mereka. Alkitab berkata untuk menjauhi orang-orang yang demikian.

2Tim 3:5 Secara lahiriah (form/morphosis) mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya (Power/Dunamis). Jauhilah mereka itu!

Orang-orang seperti ini yaitu yang beribadah namun tidak mengalami kuasa ibadah, pengaruh mereka lebih kuat untuk menarik orang lain menjadi pengikut mereka. Sebaiknya untuk menjauhi mereka.

Bacalah ayat 2-4, bagaimana jahatnya sifat dan karakter yang mereka miliki dapat kita lihat dalam daftar ini: Mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka membual dan menyombongkan diri, mereka menjadi pemfitnah, berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

2. Apakah mereka beribadah karena desakan kebutuhan Jasmani / lahiriah?
Orang-orang yang demikian biasanya tidak bertahan ketika diperhadapkan dengan persoalan dan disiplin Firman Tuhan.

Yoh 6:24-26,  Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Jelas sekali bahwa Yesus melihat mereka mencari diri-Nya hanya untuk perkara-perkara jasmani, bahkan dalam Yohanes 6:15, mereka memaksa untuk menjadikan Yesus sebagai raja mereka, yang dapat menjamin kebutuhan hidup mereka.

Yoh 6:60-69, Terbukti ketika mereka mendengar perkataan Yesus yang keras tentang Roti Hidup, semua murid-murid Yesus berkata bahwa perkataan Yesus keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya. Namun hati Yesus mengetahuinya, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Yesus mengingatkann mereka bahwa Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Yesus katakan adalah roh dan hidup.

Ayat 66-69, Firman Tuhan mengatakan bahwa mulai dari waktu itu banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus. Yesus memberi tantangan kepada para muridNya dengan berkata: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Salah satu murid-Nya yang bernama Simon berkata kepada Yesus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Akhirnya kualitas pengiringan mereka kepada Yesus menunjukkan bukti untuk tetap setia mengikuti-Nya, apapun tantangannya.

3. Apakah kualitas ibadah mereka/ pergi ke gereja karena memiliki kerinduan ingin mengalami perjumpaan dengan pribadi-Nya?
Pertayaan selanjutnya, apakah memang harus di gereja kita dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Bukankah Tuhan ada dimana-mana?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari sejenak kita membaca Kisah Para Rasul 15:16-18. “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.”

Dalam rencana besar Allah di akhir zaman, Allah akan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh. Saya percaya satu-satunya sarana yang Tuhan pakai adalah Gereja-Nya yang bukan sekedar personal namun juga bersifat korporat melalui Gereja lokal di masing-masing tempat.

Meskipun Tuhan dapat hadir di manapun, kita tetap harus menghargai kehadiran Tuhan di gereja lokal (tempat Tuhan berkarya membangun kembali ‘Pondok Daud’ yang telah roboh itu) saat kita beribadah bersama-sama.

Kita juga dapat memperhatikan pengakuan iman yang ke-16 dari ke17 pengakuan iman GPdI yang menyatakan bahwa kita percaya pertemuan-pertemuan ibadah, wajib dilaksanakan secara tetap dengan khikmat dan sukacita. (Kisah Para Rasul 2:25; Keluaran 23:25; Ibrani 10:25; Mazmur 47:2; 100:1-5; 134:2; 150:1-5).

Sebab itu, kita percaya gereja secara fisik adalah sarana yang dapat dipakai untuk membangkitkan kesadaran Jemaat akan kehadiran Tuhan. Itu sebabnya juga, mengapa jemaat begitu respek ketika mereka hadir di gereja. Yang kami harapkan dari dalam iman adalah bahwa jemaat terus mempertahankan kesadaran akan Tuhan itu, bukan saja ketika mereka ada di gereja, namun juga kemanapun mereka pergi, aktifitas apapun yang mereka lakukan, mereka tetap memiliki kesadaran akan Tuhan dan takut akan Tuhan.

NAMUN MENGAPA ADA YANG TIDAK MENGALAMI KEHADIRAN TUHAN SAAT MEREKA BERIBADAH?
Letak kesalahannya adalah jemaat yang hanya beribadah dengan tubuh dan jiwa saja, sedangkan roh mereka sama sekali tidak terlibat. Sedangkan Roh Kudus bekerja / berurusan dengan roh kita saat kita beribadah, Roma 8:16. (Lihat fungsi Tubuh, Jiwa Dan Roh dalam catatan Khotbah saya di Mahanaim Magazine (ERANAN ROH KUDUS DALAM IBADAH, Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Mei 2018).

BAGAIMANA KITA DAPAT MENGALAMINYA DAN TERUS MENERUS MENGALAMINYA?
Sederhananya untuk kita dapat mengalami hadirat-Nya, kita harus terus-menerus memiliki kesadaran akan Tuhan, bukan hanya ketika ibadah di gereja saja, namun disepanjang waktu.

1Tes 5:6,8 – Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.

1Pet 5:8-10 – Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Kita perlu terus-menerus memiliki kesadaran ini; bukan hanya sadar bahwa Tuhan ada, namun juga sadar bahwa Iblis juga ada, dan setiap saat dapat datang untuk menggodai dan berusaha menjatukan, menghancurkan.

Perlunya kita memiliki kesadaran akan Tuhan dimanapun kita berada:

  1. Dia ada dimana saja, Kejadian 28:16; Mazmur 139
  2. Ketika sendirian, Yes 6:1-9
  3. Di antara 2 dan 3 orang yg berkumpul, Matius 18:20
  4. Di dalam Ibadah, 1 Kor 14:25

Bagaimana kita lebih jauh dapat mengalami kehadiran Tuhhan setiap kali kita beribadah?

  1. Mempersiapkan diri sebelum beribadah
  2. Mengekspresikannya melalui Pujian Penyembahan
  3. Mengekspresikannya melalui pelayanan
  4. Sampai orang mengakuinya
    (lihat juga penjelasannya dalam Mahanaim Magazine dengan Judul MENGALAMI TUHAN DALAM IBADAH – Ibadah Raya 3 – Minggu, 22 April 2018)
Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s