JEMAAT YANG MELARAT, MALANG, MISKIN, BUTA DAN TELANJANG – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 Juli 2018 )

Wahyu 3:17

Minggu yang lalu sudah dibahas bagaimana kehidupan daripada jemaat Laodikia yang tidak panas atau tidak dingin, sehingga Tuhan akan memuntahkannya. Tuhan menegur begitu keras jemaat Laodikia karena kehidupan mereka karena Allah mengasihi jemaat ini. Kembali kita akan belajar dari jemaat di Laodikia. Selain jemaat ini suam-suam kuku dalam mengiring Tuhan, jemaat Laodikia juga merasa diri kaya secara jasmani dan rohani tetapi dihadapan Tuhan mereka tidaklah demikian. Dalam Wahyu 3:17a, menuliskan bahwa mereka tidak kekurangan apa-apa, mereka kaya dalam segala hal pada hal mereka melarat, miskin dan kekurangan.  Kita akan mengupas apakah yang Tuhan maksud bahwa jemaat Laodikia adalah jemaat yang  melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.

KATA “KAYA”
Jika diperhatikan dalam Wahyu 3:17a, jemaat Laodikia merasa diri kaya. Kata “KAYA” dalam bahasa Yunani dituliskan PLOUISIOS. Artinya, jemaat Laodikia  merasa diri kaya secara rohani. Bila kembali dibaca maka isi ayat tersebut demikian “Aku kaya (PLOUISIOS) dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa (secara rohani dan jasmani)”. Jadi jemaat Laodikia begitu sombong dengan kondisi mereka secara lahiriah maupun jasmaniah. Namun dalam pandangan Yesus berdasarkan Wahyu 3:17b,  jemaat Laodikia tidak mengetahui bahwa kondisi mereka di mata Yesus adalah melarat; miskin; buta dan telanjang. Jika dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang, apakah mungkin kita juga seperti jemaat Laodikia yang merasa kaya secara jamani dan rohani? Tetapi sebaliknya, di mata Yesus kita melarat, miskin buta dan telanjang. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan di mata Yesus. Kiranya Tuhan menolong sehingga keadaan kita tidak seperti jemaat Laodikia. Merasa dekat dengan Tuhan dan diberkati namun di mata Allah kita miskin.

2 Korintus 11:2,3 – menuliskan bagaimana Rasul Paulus begitu rindu melihat jemaat Korintus yang mengikut Yesus, tetapi masih berpegang pada berhala dan kepercayaan nenek moyang. Dan yang masih terikat dengan dosa karena hal tersebut mendatangkan cemburu. Kerinduan yang dimiliki oleh Rasul Paulus juga merupakan kerinduan setiap gembala karena gereja Tuhan, yaitu orang percaya digambarkan seperti mempelai wanita yang kudus dan berkenan. Itu sebabnya setiap jemaat dididik dengan firman Tuhan sedemikan rupa agar saat jemaat berjumpa dengan Yesus sang mempelai, jemaat tetap dalam keadaan kudus. Bukan menjadi malu berjumpa denganYesus (2 Korintus 11:3).

Jemaat Tuhan yaitu gereja Tuhan yang tidak menjaga dirinya melainkan dalam  keadaan miskin, buta, melarat dan telanjang, maka ketika Yesus sang mempelai pria berjumpa dengan gereja atau jemaat yang demikian, Tuhan Yesus akan berkata seperti dalam Matius 7:23 – Yesus tidak mengenal (menikah). Atau Yesus akan berkata seperti di Wahyu 3:16b – dimuntahkan.

5 KEKURANGAN JEMAAT LAODIKIA
1. MELARAT (TALAIPOROS)
Artinya, seorang yang kondisi fisik dan jiwanya tidak sehat karena tekanan dan kesedihan yang begitu menekan dirinya sebab tanggungan jiwa yang berat. Jadi melarat dalam pengertian ini adalah seperti seorang wanita Samaria yang sehat secara fisik karena ia mampu menimba air yang sumurnya begitu dalam (Yohanes 4:17,18). Tetapi meskipun fisiknya sehat, kondisi rohaninya sakit, karena ia campur adukan yang jasmani dan rohani bahkan korbankan yang rohani demi yang jasmani maka jiwa dan rohnya tertekan. Wanita Samaria tersebut sudah menikah dengan beberapa pria untuk puasakan dirinya. Tetapi tidak satupun diantaranya yang sanggup memenuhi kehausannya. Sampai suatu saat wanita Samaria berjumpa dengan Yesus sang air kehidupan yang sanggup memuaskan kerinduannya dan memuaskan kerohaniannya. Dan wanita tersebut meninggalkan kemelaratnnya dengan percaya Yesus.

2. MALANG (ELEEINOS)
Artinya, keadaanya sangat mengenaskan sehingga perlu dikasihani. Itu sebabnya Yesus menegur jemaat Laodikia karena Yesus kasihan dengan kondisi jemaat Lodikia yang malang. Dalam 1 Korintus 15:19,  jemaat Korintus ditegur oleh Rasul Paulus. Karena jemaat membuka pintu bagi guru-guru palsu yang mengajar jemaat fokus pada materi dan bukan rohani sebab guru palsu mengajarkan bahwa kebangkitan tubuh tidak ada, dan rohnya akan langsung ke surga. Jadi selama di dunia kita harus bekerja dan bekerja, utamakan hal jasmani karena sekali selamat tetap selamat. adahal itu ajaran yang sesat dan terus berkembang di zaman sekarang. Mereka pun mengajarkan bahwa “bukti Tuhan berkenan dan berkat secara rohani ukurannya berkat jasamani.” Jadi keintiman seseorang diukur dari berkat jasmani.

3. MISKIN (PTOCHOS)
Artinya, sekarat dan hampir mati rohaninya. Seperti seorang yang terbaring meringkuk dan menunggu mati karena tidak makan. Jadi Jemaat Laodikia tidak sadar akan kondisi rohaninya yang sekarang karena jemaat hanya fokus pada hal materi dan tidak lagi memperhatikan hal-hal yang rohani. Inilah alasan mengapa perlu setiap orang percaya mendengar firman Allah dan terlibat dalam ibadah raya dan kemah. Datang dan menikmati firman bukan hanya absensi dan tidak menerapkan firman Allah.

4. BUTA (TUPHLOS)
Artinya, tidak dapat melihat karena pandangan, pikirannya dan pendengarannya terfokus pada materi. Fokuslah pada ibadah karena fokus ibadah kita yaitu Yesus, bukan tim penilai dalam ibadah (2 korintus 5:7).

5. TELANJANG (GUMNOS)
Artinya oang yang tidak berpakaian, tidak berdaya atau tidak ada pertahanan sehingga tidak dapat membela diri. Kata telanjang ini juga merupakan hukuman zaman dahulu dengan cara ditelanjangi, suatu hukuman yang hina. Sebaliknya orang yang berjasa diberikan pakaian kebesaran yang bagus seperti:
– Yusuf (Kejadian 41:42)
– Daniel (Daniel 5:29)
– Mordekai (Ester 6:8-11)

Mereka mendapat pakaian kebesaran atas jasa yang mereka sudah perbuat. Demikian halnya, pakaian yang akan digunakan orang percaya saat menghadap Tuhan juga akan menentukan selamat atau binasanya seseorang. Bukan pakaian jasmani tetapi pakaian rohani seperti yang tercatat dalam Lukas 16:19-31. Perhatikan orang kaya dalam ayat 19-25, ia adalah orang percaya sebab Abraham memanggil dia anak. Secara lahiriah dia kaya, hal ini tampak dari pakaian yang ia kenakan, sedangkan secara rohani tidak demikian. Neraca hidupnya serong tetapi perhatikan dalam Lukas 16:24 yang rohani diurus setelah meninggal. Di neraka ia miskin dan melarat lalu mencari air dari atas. Tapi semua sudah terlambat. Jangan urus masalah rohani setelah meninggal, tetapi selagi hidup jangan fokus secara jasmani tetapi melarat secara rohani.

Kesimpulan
Oleh sebab itu, selagi masih ada kesempatan biarlah kita memeriksa diri apakah kita kaya dihadapan Allah. Minta pengampunan Tuhan jika saat ini kita sudah jauh dari Tuhan dan hadir ibadah tanpa menikmati pribadi-Nya. Jangan tunggu meninggal atau sakit baru bertobat. Tuhan kiranya memampukan kita terus berjalan dalam kehendakNya. Tuhan Yesus memberkati.

PRINSIP HIDUP YANG BERKEMENANGAN (SERI 6) – GIAT DALAM PEKERJAAN TUHAN – oleh Pdt. Gideon S. (Ibadah Raya 3-Minggu, 8 Juli 2018)

1 KORINTUS 15 : 58
“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.”

Dari ayat di atas kita dapat melihat ada 7 Prinsip hidup berkemenangan, yaitu:
1. Kasih (dua kali dibahas )
2. Berdiri teguh.
3. Jangan goyah.
4. Giatlah selalu.
5. Dalam pekerjaan Tuhan.
6.
Dalam persekutuan dengan Tuhan.
7. Jerih payahmu tidak sia-sia.

DALAM PEKERJAAN TUHAN
Inilah yang menjadi pokok bahasan yang kelima dalam seri keenam  7 Prinsip hidup berkemenangan.  Untuk menjadi orang Kristen yang berkemenangan, kita tidak boleh puas dengan cukup diselamatkan, selama kita masih hidup di dunia ini kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan giat dalam pelayanan. Pelayanan yang mendatangkan pahala atau mahkota kemuliaan bagi kita, adalah pelayanan dalam pekerjaan Tuhan. Pelayanan sehebat apapun di luar koridor pekerjaan Tuhan akan sia-sia. Setiap orang percaya harus memiliki pengertian yang benar dalam hal ini.

Ada banyak orang berpendapat bahwa untuk melayani dan berbuat baik kepada orang lain tidak perlu menjadi orang Kristen.  Hal ini benar tidak salah, bahkan banyak orang yang di luar Tuhan lebih giat dan lebih baik dari orang Kristen. Tetapi mengapa harus giatnya dalam pekerjaan Tuhan, bukankah giat diluar Tuhan juga bermanfaat dan ada berkatnya? Pekerjaan, pelayanan, kebajikan/perbuatan baik di luar Tuhan, tidak akan  mendapatkan pahala apapun.  Untuk lebih jelasnya kita lihat bagaimana tingkatan perjalanan dari iman.

2 Petrus 1:5 “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.”

 Dari ayat ini kita melihat bahwa iman kepada Yesus adalah dasar dari perbuatan kebajikan atau perbuatan baik, yang selanjutnya terus ditambahkan kepada pengetahuan sampai pada puncaknya kepada kasih yang sempurna sama seperti kasih Yesus (2 Petrus 1:5). Inilah proses perjalanan pengiringan kita kepada Kristus. Segala sesuatunya dapat berpengaruh kedalam kehidupan kekal jika didasari iman kepada Yesus, di luar iman kepada Yesus sia-sia.

Contoh:  KORNELIUS, Kisah 10:1,2
“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.”

Dari ayat tersebut kita dapat melihat daftar kebaikan yang luar biasa dari Kornelius yang jarang ditemukan dalam kehidupan orang kristen sekalipun.
1. Ia saleh.
2. Seisi rumahnya takut akan Allah.
3. Memberi banyak sedekah.
4. Senantiasa berdoa kepada Allah.

Namun semua hal yang baik dan positif yang dimiliki Kornelius yang juga rendah hati ini, hanya di sebut sebagai “orang yang mengamalkan kebenaran.” Perhatikan Kisah 10:35 : “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Karena Kornelius melakukan semuanya itu diluar pengenalan akan Yesus, tetapi Tuhan sangat berkenan kepada orang yang mengamalkan kebenaran, meski ia belum mengenal Yesus.

Contoh lain, Markus 12:28-34, tentang penilaian Yesus terhadap seorang ahli Taurat.  Dijelaskan dalam ayat ini, ada seorang ahli Taurat yang menanyakan hukum yang terutama kepada Yesus. Dan Yesus menjawab tentang hukum terutama itu, pertama kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat  itu kepada Yesus, Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa dan tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban sembelihan (Ay. 30-33).  Mendengar jawaban ahli Taurat itu apa tanggapan Yesus ?

Markus 12:34a – “Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadaNya : “ Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah…”

Jika Kornelius disebut sebagai orang yang mengamalkan kebenaran, Ahli Taurat itu disebut bijaksana karena mengerti hukum kebenaran.  Statusnya cuma “Tidak jauh dari Kerajaan Allah” tetapi tidak untuk masuk ke dalamnya. Apa artinya? Artinya adalah semua kebajikan, kesalehan dan doa Kornelius, dan juga pengetahuan tentang kebenaran dari ahli Taurat, tidak berfaedah bagi mereka dalam kekekalan, karena  di luar iman kepada Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi?  Mari kita lihat kembali dasar kehidupan yang memiliki nilai kekekalan.

2 Petrus 1:5
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan.”

 Yang menjadi dasar yang kuat adalah iman yang benar di dalam Yesus untuk melakukan kebajikan, pengetahuan dan sampai kepada kasih yang sempurna (2 Petrus 1:6). Jadi dapat disimpulkan bahwa: Semua kebajikan, kesalehan, penguasaan diri dan ketekunan Kornelius di luar iman kepada Yesus adalah sia-sia, tidak membawa dampak apapun dalam keselamatan dan kekekalan, demikian juga dengan pengetahuan tentang kebenaran yang dimiliki ahli Tauratpun menjadi sia-sia. Itulah sebabnya khususnya bagi Kornelius, Tuhan mengutus Petrus untuk menginjili Kornelius  sekeluarga untuk mengerti dan percaya Yesus sebagai Tuhan yang harus mereka percayai dan imani, setelah itu barulah giatnya Kornelius selanjutnya didalam pekerjaan Tuhan memiliki nilai kekekalan dan pahala.   Giat di dalam pekerjaan Tuhan artinya giat dalam pekerjaan yang dilandasi iman yang tertuju kepada Yesus, karena jerih lelah dalam pekerjaan yang baik diluar iman dan kepercayaan kepada Yesus akan sia-sia. Yohanes 14:6- Menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui Yesus .

Jika tidak berdampak pada keselamatan atau kekekalan bagi yang diluar iman kepada Yesus bagaimana dengan di bumi apakah sia-sia juga?  Jawabnya tidak . Mereka yang melakukan pekerjaan baik di luar iman kepada Yesus, berlaku hukum tabur tuai, Galatia 6:7. Apa yang mereka tabur juga akan mereka tuai.  Hukum tabur tuai berlaku di bumi, kebaikan yang mereka tabur akan mereka nikmati juga di bumi, makanya mereka juga diberkati, tetapi setelah kematian mereka tetap binasa, jangankan dapat pahala, selamat saja tidak karena diluar iman kepada Yesus. Tetapi bagi orang yang ada di dalam Kristus, mereka menerima balasan di bumi dan pahala atau mahkota kekekalan di sorga. Mengetahui kebenaran ini, seharusnya setiap orang percaya di dalam Yesus harus lebih giat melayani pekerjaan Tuhan.  Sekecil atau sesederhana apapun yang dapat kita kerjakan di dalam Tuhan ada pahala/upahnya di bumi dan di sorga. Matius 10 : 42- meski hanya secangkir air sejuk saja jika hal itu diberikan karena pekerjaan Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan upahnya.

Mari saudaraku sekalian, janganlah jadi orang percaya yang nganggur, layanilah Tuhan menurut kapasitas yang dapat saudara kerjakan bagi Tuhan, jangan sia-siakan waktu yang ada untuk meraih pahala sorgawi yang Tuhan sudah sediakan.

MENGHANCURKAN KEPUTUSASAAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 Juli 2018)

Nehemia 4:10
Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Bahkan terkadang apa yang tidak diinginkan dan dihindari malah terjadi, sebaliknya yang diharapkan tidak terjadi. Inilah fakta hidup! Musim akan terus berganti mengiringi perjalanan hidup kita. Pada musim panen kita akan berbahagia dan penuh tawa, sebaliknya saat musim berubah menjadi gelap, kelam dan kelabu hidup kita dipenuhi duka dan penderitaan.  Pada musim yang terakhir inilah kadang-kadang kita tidak tahan untuk melewatinya. Persoalan yang terjadi seolah-olah sudah berada diambang batas kemampuan untuk menanggungnya, sehingga tidak jarang seseorang mengalami keputusasaan.

Menurut media online ada beberapa fakta yang menunjukan bahwa karena beban hidup yang berat membuat seseorang berputus asa hingga berujung bunuh diri.

  • Jawa Pos-27 Juni 2018 – Putus Asa, Pemuda Ini Akhiri Hidup dengan Nenggak Apotas
  • com -Kamis, 05 Juli 2018 – Sakit Tak Kunjung Sembuh, Ngatimin Gantung Diri
  • Tribun Batam-26 Juni 2018 – Gadis yang hanya disebut bermarga Li ini tewas karena meloncat dari atas gedung dengan wajah putus asa.

Keputusasaan bukan saja menyergap manusia di “zaman now”, ribuan tahun yang lalu keputusasaan telah merasuki hidup manusia sejak manusia jatuh dalam dosa, tidak terkecuali kepada bangsa pilihan Allah yaitu Israel. Pada zaman nabi Nehemia seluruh bangsa Yehuda juga mengalami keputusasaan saat mereka hendak membangun kembali tembok Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan. Lihatlah apa yang mereka katakan dalam Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Upaya membangun kembali tembok Yerusalem ternyata tidaklah mudah, sebab bukan saja ketersediaan sumber daya yang terbatas, tetapi juga tantangan dari bangsa-bangsa sekitar Yerusalem yang ingin menghambat bahkan menggagalkan pembangunan kembali tembok Yerusalem. Di sana berdiri Sanbalat, Tobia Orang Amon, orang Arab, dan orang Asdod mengolok bangsa Yehuda yang sedang membangun tembok Yerusalem. Dibawah tekanan dan kesulitan yang besar pada akhirnya mereka menyerah dan putus asa. Serentak mereka berkata : “… Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Apakah yang menyebabkan bangsa Yehuda putus asa? Dari ayat pokok di atas kita dapat melihat beberapa penyebab bangsa Yehuda putus asa.
1. Kelelahan
Perhatikanlah perkataan mereka. Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot..” Pembangunan tembok Yerusalem telah menguras tenaga mereka. Berhari-hari mereka bekerja siang dan malam mengangkat puing-puing reruntuhan namun sepertinya puing-puing tidak berkurang. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, seluruh tenaga dan daya telah dihabiskan hingga akhirnya mereka kelelahan. Tidak ada lagi tenaga dan kekuatan yang tersisa untuk terus mengangkat kembali puing-puing reruntuhan. Beban pekerjaan yang besar dan banyak telah membuat bangsa Yehuda kelelahan dan kehabisan tenaga.

Berhati-hatilah dengan kelelahan, karena kelelahan adalah akar keputusasaan. Saat tenaga telah terkuras, daya makin menurun dan kekuatan telah habis, keputusasaan akan segera menyergap kita. Jangan biarkan kelelahan menghabisi hidup Anda. Jika Anda lelah datanglah kepada Tuhan yang memberikan kekuatan baru bagi anak-anakNya.

Yesaya 40:30,31
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Kata : menanti-nantikan TUHAN dalam bahasa Ibrani ditulis menggunakan kata “Kavah” yang berarti: to bind together by twisting. Seperti dua utas tali yang dipilin menjadi satu, sehingga kekuatan menjadi satu, mengganda, dan makin perkasa. Itulah keadaan orang yang melilitkan diri kepada Tuhan, kekuatan Tuhan akan menyatu dalam dirinya. Jika anda lelah kavahlah dengan Tuhan, disana anda akan menemukan kekuatan baru, pemulihan dan kesegaran.

2. Beban berat
Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda:  “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.“

Rupanya keputusasaan bangsa Yehuda bukan saja disebabkan kelelahan yang mereka alami, tetapi juga karena beban pekerjaan yang sangat banyak. Siang malam mereka mengangkut puing tetapi puing-puing tidak berkurang. Gunung-gunung reruntuhan sepertinya menggandakan diri sehingga tidak habis-habis untuk dibuang.

Kehidupan selalu memberikan beban kepada kita, kadang-kadang beban itu sangat berat dan besar sehingga kita tidak mampu menanggungnya. Untunglah kita punya Tuhan yang peduli kepada kita. Ia memanggil kita yang berbeban berat untuk menerima kelegaan dan kelepasan.

Matius 11:28
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

3. Menyerah
Ketika kelelahan menyergap, beban menumpuk pada akhirnya bangsa Yehuda menyerah dan putus asa. Itulah yang dialami bangsa Yehuda, mereka menyerah, tidak sanggup lagi melanjutkan pembangunan tembok Yeruslam.

Dalam hidup ini kita bisa salah, kita bisa gagal, kita juga bisa kalah, tetapi jangan pernah menyerah. Jika kita salah, kita masih bisa memperbaikinya, jika kita gagal kita masih dapat mengulangi kembali bahkan jika kita kalah kita masih bisa mencoba kembali. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah. Percayalah selalu ada jalan bagi mereka yang bertahan.

Presiden Joko Widodo pernah berkata: “bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat sulit, jadi jangan menyerah.”

Keluar dari KEPUTUSASAAN
Di tengah keputusasaan yang mendera bangsanya, Nehemia berdiri mengajak umat untuk bangkit, terus membangun, jangan menyerah. Apa yang ia lakukan saat bangsa Yehuda mengalami keputusasaan?

1. Berseru kepada Allah
Nehemia 4:4
Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.

Nehemia berseru kepada Allah, ia memanggil Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya. Jika segala usaha terasa sia-sia, segala pintu tertutup, manusia tidak lagi mendengarmu, datanglah kepada Tuhan, berserulah kepadaNya, telingaNya selalu terbuka  bagi seruan anak-anakNya.

Tuhan tidak pernah menutup telingaNya bagi kita, semua yang berseru kepadaNya selalu didengarNya.

Matius 20:30  – Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!”

 Mat 15:22  – Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

 Yeremia 33:3  – Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.

2. Teruslah Bekerja
Nehemia 4:6
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Seberat apapun yang kita alami jangan menyerah, teruslah bekerja. Lakukanlah yang saudara bisa lakukan, yang tidak bisa kita kerjakan serahkanlah kepada Tuhan. Sekalipun kelihatan kecil dan tak berarti teruslah bekerja, sebab dari yang kecil akan melahirkan perkara-perkara yang besar.

3. Pandanglah TUHAN
Neh 4:14
Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

Jika kita melihat beban yang kita alami, persoalan yang kita tanggung, kita akan menjadi lemah dan putus asa. Saatnya angkat kepala anda dan lihatlah Tuhan yang maha besar dan dahsyat. Melihat ke bawah, saudara hanya melihat masalah, melihat ke atas saudara akan melihat Tuhan yang mengatasi masalah yang kita alami. Sebab itu jangan menyerah!

2Tawarikh 15:7
Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

Tuhan memberkati. GBU.KJP!

Mengalami Kuasa Dalam Ibadah – Oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1 – Minggu, 8 Juli 2018)

1 Timotius 4:8

Rasul Paulus menyampaikan kepada Timotius bahwa ibadah adalah hal yang sangat berguna sehingga ibadah tidak ditinggalkan melainkan setia dalam mengikuti ibadah. Latihan badani juga berguna, tetapi hanya mencapai umur 80 sampai 90 tahun. Sedangkan ibadah, berguna sampai kekekalan dan berguna dalam segala hal. Ibadah juga mengandung janji Allah, yang diperoleh dengan datang ibadah. Dalam keadaan yang masih sehat inilah kesempatan terbaik untuk beribadah.

Menikmati kuasa ibadah bukan hanya di ibadah raya melainkan setiap jam-jam pertemuan ibadah seperti wadah dan keMah (Keluarga Mahanaim). Sehingga kita pun diberkati, bukan menjadi tim penilai dalam setiap pertemuan ibadah.

PELAYANAN YESUS
Dalam pelayanan Yesus, ada kesembuhan dan mujizat karena disana mereka bersekutu bersama. Dalam suatu pertemuan ada kuasa karena Yesus hadir. Jika Yesus hadir dalam ibadah maka kuasa dan mujizat akan dialami bagi mereka yang hadir. Dalam Kisah Para Rasul, para murid juga mengalamai kuasa ibadah dan semua orang juga yang datang beribadah atau bersekutu, mengalami kuasa Allah sehingga banyak diselamatkan dan disembuhkan. Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa kuasa ibadah tidak kita alami?

Matius 21:12
Dalam pasal ini, Yesus menyucikan bait Allah karena ada orang-orang yang mencari keuntungan dengan bersekutu  bersama para imam. Itu sebabnya Tuhan Yesus menegur mereka. Alhasil di ayat 14, orang yang datang karena sakit dan pulang menjadi sembuh. Tuhan Yesus pun menguduskan setiap orang yang percaya sehingga mujizat dan kuasa dialami dalam setiap pertemuan ibadah. Jangan sampai gereja kehilangan kuasa dalam ibadah karena kompromi dengan dosa. Itu sebabnya, setiap jemaat meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah sehingga kuasa dan mujizat kembali dinyatakan dalam ibadah.

Jika kita memperbaiki hidup dan bersungguh dalam hidup yang kudus maka mujizat dinyatakan, maka yang sakit disembuhkan dan yang bermasalah diberikan kekuatan serta sukacita.

Berikut adalah contoh orang yang mengalami kuasa dalam ibadah. Markus 5:25-34, wanita menderita 12 tahun pendarahan dan begitu menderita. Tetapi ia menjadi sembuh karena:

1. Ayat 27 – Cara ia mendengarkan Firman Allah
Titik awal terjadinya mujizat adalah cara mendengar Firman Tuhan. Alkitab tidak mencatat sejak kapan/seberapa banyak firman yang didengarnya. Mungkin sering mendengar tetapi sekedar mendengar. Detik itu, benih firman Tuhan yang pernah didengarnya tumbuh, imannya bangkit.

Bandingkan dengan Roma 10:17, iman timbul dari mendengar firman Tuhan. Tidak mendengarkan firman dengan baik maka tidak ada pertumbuhan bahkan makin melemah ketika dalam keadaan sukar. Jadi dengarkan firman Tuhan dan nikmati.

Mungkin kita sering mendengar dan membaca Firman tetapi tidak terjadi apa-apa sehingga kita mundur. Tetapi ada waktunya benih itu tumbuh, merubah, memulihkan dan menyembuhkan kita.Saat itulah kita alami mujizat. Namun kita tidak tahu Firman Tuhan yang kapan dan yang mana yang akan memberi mujizat. Oleh sebab itu marilah membaca dan mendengar Firman Tuhan sebanyak yang kita mampu.

2. Ayat 26 – Penyerahan total kepada Tuhan
Kuasa Allah dinyatakan dengan cara kita melakukan penyerahan total kepada kehendak Allah. Wanita pendarahan ini sudah gunakan kekutannya lebih dahulu dengan kekayaan yang ia miliki, tetapi saat ia serahkan kepada Tuhan, maka Allah bekerja.

Saat kita masih berharap kepada manusia, harta atau yang lainnya, mujizat tidak akan terjadi. Permasalahnnya, hati kita lebih tergantung kepada yang lain daripada bergantung kepada Tuhan. Contohnya saat kita sembuh dari sakit, yang kita ucapkan adalah nama dokter/obat yang kita minum.

Dalam Yeremia 1;5,7 – Terkutuk orang yang mengandalkan manusia dan hatinya menjauh dari Tuhan. Biarlah Allah bergerak dalam masa sukar,  maka mujizat Allah akan bekerja. Ketika wanita ini mulai percaya dan berharap kepada Tuhan, Tuhan turun tangan menolongnya. Pertolongan dari manusia tidak menghasilkan apa-apa bahkan menjadi lebih buruk, tetapi dengan Tuhan, mujizat terjadi.

3. Ayat 28,29 – Fokus kepada pribadi Allah
Wanita pendarahan ini fokus sembuh dan mencari obat-obatan. Tetapi saat imannya bertumbuh, ia merubah pemikirannya yaitu datang pada Yesus bukan hanya untuk mendapatkan kesembuhan melainkan beriman “asal kujamah saja jubahNya, maka aku sembuh”. Datanglah kepada Allah bukan hanya untuk mendapatkan berkat dan mujizat. Tetapi datanglah dengan kerinduan untuk menjamah pribadiNya sebagai sumber segala sesuatu maka berkata dan kesembuhan pasti akan dialami.

4. Ayat 30 – 32 -Masuk dalam hadiratNya
Pada saat itu Yesus dekat dengan banyak orang tetapi hanya mereka yang menyentuh Yesus dengan iman, yang akan mengalami kuasa Allah.  Seperti wanita pendarahan, karena ia datang dengan kerinduan dan penyembahan. Alamilah hadirat Tuhan dalam pertemuan ibadah. Sentuh Allah dengan iman, masuk dalam hadiratNya, maka ada kuasa Allah yang akan kita alami. Memuji dan menyembah dengan kesungguhan hati. Ada tindakan, seperti mengangkat tangan, mengeluarkan suara, bertepuk tangan dan menari bagi Allah bukan untuk dilihat pemimpin pujian atau jemaat bahkan gembala.

Kesimpulan
Oleh sebab itu, datanglah kepada Tuhan dengan kerinduan dan masuk dalam hadiratNya dengan kerinduan kepada Tuhan maka kuasa dan berkat Tuhan akan menjadi bagian kita. Nikmatilah jam-jam ibadah karena Allah hadir. Tuhan Yesus memberkati.

JEMAAT LAODIKIA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 1 Juli 2018)

WAHYU 3:14,15

PENDAHULUAN
Laodikia adalah kota yang terkenal di zamannya. Ada tiga ciri khas dari kota Laodikia yang membuat kota ini terkenal, yaitu:
1. Pusat Perbankan
2. Produksi Kain Wol Laodikia indah, lembut dan hitam keunguan.
3. Sekolah Kedokteran (Zeuxis dan Aleksander Filalethes).

Mentalitas Masyarakat Laodikia
Mental dan watak orang Laodikia sombong, karena secara umum orang Laodikia kaya, sebab secara umum pendapatan mereka besar. Pada tahun 61M, 31 tahun sesudah kematian Yesus, kota Laodikia diguncang oleh gempa yang hebat sehingga hancur. Namun penguasa kota menolak semua bantuan karena mereka merasa diri kaya dan mampu membangun kota Laodikia kembali. Prinsip hidup orang Laodikia, pantang ngemis (minta mengemis bantuan) kepada siapapun.  Selain itu orang-orang Laodikia juga sangat bangga dengan kecantikan dan ketampanan mereka sehingga mereka punya obsesi yang sama yaitu ingin dikagumi semua orang. Dan hal tersebut mempengaruhi kehidupan Jemaat. Jemaat yang seharusnya jadi teladan yang baik bagi mereka yang belum kenal Yesus, namun yang terjadi sebaliknya.  Masyarakat Laodikia (orang yang tidak mengenal Yesus) yang mempengaruhi jemaat.

BERDAMPAK KEPADA JEMAAT
Kemakmuran, kesejahteraan dan kemapanan hidup, membuat rohani jemaat Laodikia merosot.  Karena jemaat Laodikia lebih mengutamakan jasmani daripada rohani sehingga sikap mereka keji di mata Tuhan. Amsal 11:1b  “Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan…”. Jemaat lebih utamakan hal duniawi ketimbang yang rohani sehingga neraca mereka menjadi serong. Jemaat Laodikia bukan model “Pengikut Yesus Yang Sejati”. Pengikut Yesus Yang Sejati rela mengorbankan atau kehilangan materi bahkan mengorbankan nyawa untuk mendapat yang kekal. Jangan sampai keselamatan dan kebenaran itu hilang berlalu karena fokus kepada hal duniawi. Dalam alkitab ada daftar Pahlawan Iman. Ibrani 11:4-32, dimulai dari Habel sampai Samuel. Ibrani 11:36-40, tidak sedikit tokoh iman yang menyerahkan nyawa demi yang kekal. Secara fisik mereka tidak dapat hal materi karena Allah  menyediakan sesuatu yang lebih baik. Pada akhirnya Tuhan Yesus tegur, karena jemaat lebih peduli dengan materi.

Dalam Wahyu 3:15, ada 3 hal yang Tuhan Yesus sampaikan, yaitu (3 hal yang kita bahas tentang jemaat di Laodekia):
1. Aku Tahu Segala Pekerjaanmu
Yesus tahu kesungguhan kita dalam membangun rohani kita. Yesus melihat apakah kita mengutamakan nilai-nilai rohani dibandingkan nilai jasmani dalam hidup kita.

2. Engkau tidak dingin dan tidak panas
Kondisi jemaat di Laodikia, sama persis dengan kondisi alam, situasi dan lingkungan kota Laodikia, berkaitan dengan keadaan air di Laodikia. Perlu Saudara ketahui, kota Laodikia tidak memiliki sumber air. Untuk kebutuhan air, penduduk Laodikia bergantung kepada kota Hierapolis, di utara dan kota Kolose, di selatan.

  • Air dari Hierapolis mengalirkan air panas
  • Air dari Kolose mengalirkan air dingin

Ketika kedua sumber air ini bertemu atau bercampur di kota Laodekia. Air panas bercampur dengan air dingin. Air berubah menjadi: “suam-suam kuku.

Gambar:

Perhatikan gambar sebelah kiri, yaitu peta dari Laodikia dan sebelah kanan adalah gambar saluran air yang menggunakan batu. Betapa banyak biaya yang dikeluarkan karena pembuatan saluran air ini bukan hanya satu saluran.

Kondisi Rohani Jemaat Laodikia
Bukan hanya mental dan gaya hidup penduduk yang berpengaruh kepada jemaat. Tetapi keadaan alam Laodikia berpengaruh kepada rohani jemaat di Laodikia, yang suam-suam kuku.

Makna Rohani:
Air dari utara (dari atas) artinya: kekayaan, nilai-nilai rohani dari Allah (firman Allah/Roh Kudus).  Sedangkan air dari selatan (dari bawah) artinya, Kekayaan-nilai-nilai jasmani, materi atau duniawi.

Contoh: Yohanes 4:13,14 – Air dari atas (utara) adalah air yang Yesus janjikan, membawa keselamatan (kekal). Sedangkan air dari sumur (bawah) adalah hal-hal jasmani duniawi, (sementara). Arti Rohani, Memenuhi kebutuhan air dari bawah (sandang, pangan, papan). Tidak salah! Tetapi, demi air dari bawah (kebutuhan jasmani dan hal duniawi) perempuan Samaria korbankan Air Dari Atas (iman, kebenaran dan moral). Tetapi ketika Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Air Dari Atas, perempuan Samaria terima Yesus. Sebagai wujud pertobatannya, perempuan Samaria meninggalkan buyung (air dari bawah). Dan Yesus memakai perempuan Samaria menjadi Seorang Penginjil.

Berbeda dengan Ananias dan Safira, Kisah 5:1-11. Mereka adalah anak Tuhan di Yerusalem yang setia dan mengasihi Tuhan, Kisah 2-4. Hati mereka seperti air mendidih, sehingga seluruh jemaat berlomba-lomba untuk melayani Tuhan, Kisah 2:44-47. Semangat melayani dalam diri Yusuf, menular kepada Ananias dan Safira, sehingga mereka mendeklarasikan kerinduannya untuk berkorban (melayani Tuhan), Kisah 5:1-11. Setelah tanah hati mereka berubah menjadi uang, air dari atas (kasih Allah) yang tulus dan jujur serta semangat berkorban dalam diri Ananias dan Safira dirusakkan oleh air dari bawah yaitu keinginan akan uang dan hal duniawi. Akhirnya, Ananias dan Safira bukan hanya mencampur-adukkan ‘Air Dari Atas dan air dari bawah’. Mereka membuang air dari atas: kasih ilahi; kejujuran; kebenaran dan ketulusan lalu   menukarnya dengan air dari bawah: kebohongan; kepalsuan dan kejahatan.

3. Aku Akan Memuntahkan Engkau Dari Mulut-Ku
Melayani Yesus haruslah dengan kasih yang sungguh-sungguh; tulus; murni; jujur dan dengan motivasi yang benar. Kita merespon ucapan Yesus di salib, Yohanes 19:28c, ketika Yesus berkata: “Aku haus!”

Sebaliknya, yang dilakukan Ananias dan Safira adalah seperti memberi anggur asam yang memuakkan Yesus sehingga Yesus muntahkannya! Orang yang dimuntahkan, keadaannya seperti Ananias dan Safira – tidak ada harapan. Karena itu, hiduplah dalam Tuhan. Jangan suam-suam kuku tetapi tetap teguh dalam kebenaran firman Tuhan.