MENGHANCURKAN KEPUTUSASAAN – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 Juli 2018)

Nehemia 4:10
Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Bahkan terkadang apa yang tidak diinginkan dan dihindari malah terjadi, sebaliknya yang diharapkan tidak terjadi. Inilah fakta hidup! Musim akan terus berganti mengiringi perjalanan hidup kita. Pada musim panen kita akan berbahagia dan penuh tawa, sebaliknya saat musim berubah menjadi gelap, kelam dan kelabu hidup kita dipenuhi duka dan penderitaan.  Pada musim yang terakhir inilah kadang-kadang kita tidak tahan untuk melewatinya. Persoalan yang terjadi seolah-olah sudah berada diambang batas kemampuan untuk menanggungnya, sehingga tidak jarang seseorang mengalami keputusasaan.

Menurut media online ada beberapa fakta yang menunjukan bahwa karena beban hidup yang berat membuat seseorang berputus asa hingga berujung bunuh diri.

  • Jawa Pos-27 Juni 2018 – Putus Asa, Pemuda Ini Akhiri Hidup dengan Nenggak Apotas
  • com -Kamis, 05 Juli 2018 – Sakit Tak Kunjung Sembuh, Ngatimin Gantung Diri
  • Tribun Batam-26 Juni 2018 – Gadis yang hanya disebut bermarga Li ini tewas karena meloncat dari atas gedung dengan wajah putus asa.

Keputusasaan bukan saja menyergap manusia di “zaman now”, ribuan tahun yang lalu keputusasaan telah merasuki hidup manusia sejak manusia jatuh dalam dosa, tidak terkecuali kepada bangsa pilihan Allah yaitu Israel. Pada zaman nabi Nehemia seluruh bangsa Yehuda juga mengalami keputusasaan saat mereka hendak membangun kembali tembok Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan. Lihatlah apa yang mereka katakan dalam Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Upaya membangun kembali tembok Yerusalem ternyata tidaklah mudah, sebab bukan saja ketersediaan sumber daya yang terbatas, tetapi juga tantangan dari bangsa-bangsa sekitar Yerusalem yang ingin menghambat bahkan menggagalkan pembangunan kembali tembok Yerusalem. Di sana berdiri Sanbalat, Tobia Orang Amon, orang Arab, dan orang Asdod mengolok bangsa Yehuda yang sedang membangun tembok Yerusalem. Dibawah tekanan dan kesulitan yang besar pada akhirnya mereka menyerah dan putus asa. Serentak mereka berkata : “… Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

Apakah yang menyebabkan bangsa Yehuda putus asa? Dari ayat pokok di atas kita dapat melihat beberapa penyebab bangsa Yehuda putus asa.
1. Kelelahan
Perhatikanlah perkataan mereka. Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot..” Pembangunan tembok Yerusalem telah menguras tenaga mereka. Berhari-hari mereka bekerja siang dan malam mengangkat puing-puing reruntuhan namun sepertinya puing-puing tidak berkurang. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, seluruh tenaga dan daya telah dihabiskan hingga akhirnya mereka kelelahan. Tidak ada lagi tenaga dan kekuatan yang tersisa untuk terus mengangkat kembali puing-puing reruntuhan. Beban pekerjaan yang besar dan banyak telah membuat bangsa Yehuda kelelahan dan kehabisan tenaga.

Berhati-hatilah dengan kelelahan, karena kelelahan adalah akar keputusasaan. Saat tenaga telah terkuras, daya makin menurun dan kekuatan telah habis, keputusasaan akan segera menyergap kita. Jangan biarkan kelelahan menghabisi hidup Anda. Jika Anda lelah datanglah kepada Tuhan yang memberikan kekuatan baru bagi anak-anakNya.

Yesaya 40:30,31
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Kata : menanti-nantikan TUHAN dalam bahasa Ibrani ditulis menggunakan kata “Kavah” yang berarti: to bind together by twisting. Seperti dua utas tali yang dipilin menjadi satu, sehingga kekuatan menjadi satu, mengganda, dan makin perkasa. Itulah keadaan orang yang melilitkan diri kepada Tuhan, kekuatan Tuhan akan menyatu dalam dirinya. Jika anda lelah kavahlah dengan Tuhan, disana anda akan menemukan kekuatan baru, pemulihan dan kesegaran.

2. Beban berat
Nehemia 4:10 : Berkatalah orang Yehuda:  “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.“

Rupanya keputusasaan bangsa Yehuda bukan saja disebabkan kelelahan yang mereka alami, tetapi juga karena beban pekerjaan yang sangat banyak. Siang malam mereka mengangkut puing tetapi puing-puing tidak berkurang. Gunung-gunung reruntuhan sepertinya menggandakan diri sehingga tidak habis-habis untuk dibuang.

Kehidupan selalu memberikan beban kepada kita, kadang-kadang beban itu sangat berat dan besar sehingga kita tidak mampu menanggungnya. Untunglah kita punya Tuhan yang peduli kepada kita. Ia memanggil kita yang berbeban berat untuk menerima kelegaan dan kelepasan.

Matius 11:28
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

3. Menyerah
Ketika kelelahan menyergap, beban menumpuk pada akhirnya bangsa Yehuda menyerah dan putus asa. Itulah yang dialami bangsa Yehuda, mereka menyerah, tidak sanggup lagi melanjutkan pembangunan tembok Yeruslam.

Dalam hidup ini kita bisa salah, kita bisa gagal, kita juga bisa kalah, tetapi jangan pernah menyerah. Jika kita salah, kita masih bisa memperbaikinya, jika kita gagal kita masih dapat mengulangi kembali bahkan jika kita kalah kita masih bisa mencoba kembali. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah. Percayalah selalu ada jalan bagi mereka yang bertahan.

Presiden Joko Widodo pernah berkata: “bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat sulit, jadi jangan menyerah.”

Keluar dari KEPUTUSASAAN
Di tengah keputusasaan yang mendera bangsanya, Nehemia berdiri mengajak umat untuk bangkit, terus membangun, jangan menyerah. Apa yang ia lakukan saat bangsa Yehuda mengalami keputusasaan?

1. Berseru kepada Allah
Nehemia 4:4
Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.

Nehemia berseru kepada Allah, ia memanggil Tuhan yang berkuasa untuk menolongnya. Jika segala usaha terasa sia-sia, segala pintu tertutup, manusia tidak lagi mendengarmu, datanglah kepada Tuhan, berserulah kepadaNya, telingaNya selalu terbuka  bagi seruan anak-anakNya.

Tuhan tidak pernah menutup telingaNya bagi kita, semua yang berseru kepadaNya selalu didengarNya.

Matius 20:30  – Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!”

 Mat 15:22  – Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”

 Yeremia 33:3  – Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.

2. Teruslah Bekerja
Nehemia 4:6
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Seberat apapun yang kita alami jangan menyerah, teruslah bekerja. Lakukanlah yang saudara bisa lakukan, yang tidak bisa kita kerjakan serahkanlah kepada Tuhan. Sekalipun kelihatan kecil dan tak berarti teruslah bekerja, sebab dari yang kecil akan melahirkan perkara-perkara yang besar.

3. Pandanglah TUHAN
Neh 4:14
Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

Jika kita melihat beban yang kita alami, persoalan yang kita tanggung, kita akan menjadi lemah dan putus asa. Saatnya angkat kepala anda dan lihatlah Tuhan yang maha besar dan dahsyat. Melihat ke bawah, saudara hanya melihat masalah, melihat ke atas saudara akan melihat Tuhan yang mengatasi masalah yang kita alami. Sebab itu jangan menyerah!

2Tawarikh 15:7
Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”

Tuhan memberkati. GBU.KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s