HATI YANG MENYEMBAH – Oleh : Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 30 September 2018)

Lukas 7:36 – 39 

Pendahuluan
Dikisahkan ada seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Sementara Yesus sedang makan datanglah seorang wanita berdosa membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Kisah ini adalah gambaran sebuah tindakan penyembahan. Penyembahan bukanlah tata cara atau ritual tetapi sikap hati. Wanita ini bukan orang baik, ia dikenal sebagai orang yang berdosa, tetapi sikap hatinya membuat ia berbeda dengan wanita yang lain. Sekalipun ia tidak diundang oleh orang Farisi, tetapi karena mendengar Yesus ada di sana, ia datang untuk menyembahNya. Seorang penyembah tidak mencari kenikmatan pesta dunia, penyembah tertarik kepada hatinya Allah.  Dari kisah ini kita dapat menarik beberapa pelajaran tentang penyembahan.

A. Penyembahan lahir dari pengalaman.
Penyembahan tidak dilahirkan oleh metode, cara, dogma, doktrin, ajaran, sistem, budaya gereja. Penyembahan lahir dari “pengalaman.” Mengapa wanita ini datang menyembah Yesus, sementara yang lain siap untuk makan? Semuanya ini terjadi karena ia memiliki pengalaman dengan Tuhan. Apa yang telah dia alami? Mari kita perhatikan  ayat 37:  Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Di kota itu ia dikenal sebagai perempuan berdosa.

Semua orang ingin terkenal, tetapi kalau terkenal sebagai wanita yang berdosa, siapa yang mau? Tentu ini adalah aib, beban, secara moral dia terhukum. Setiap mata memandangnya dengan tajam dan sinis. Setiap orang menghindari dan menjauh darinya, agar tidak dikenal sebagai teman perempuan berdosa. Tetapi perjumpaannya dengan Yesus, mengubahkan hidupnya. Yesus berbeda dengan yang lain. Yesus tidak menghukum, tidak menuduh dan menuding, Yesus tidak menghakimi sebaliknya Yesus menerimanya dan mengampuninya. PengampunanNya membuat hidupnya diubahkan, penerimaanNya membuat hidupnya diperbaharui. Sekarang ia merdeka, ia bebas, segala beban telah terlepas. Pengalaman inilah yang mendorong dia datang untuk menyembah Tuhan. Lihat ayat  47 sebagai kesimpulan sekaligus penegasan alasan mengapa ia menyembah:  Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Kasih dan pengampunan yang begitu besar, telah membuatnya tidak bisa diam untuk tidak menyembah Tuhan. KasihNya yang tak terbatas telah membawanya menjadi penyembah tanpa batas. Ia memberikan lebih dari semua orang yang dapat memberikan kepada Yesus. Ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya serta menyekanya dengan rambutnya. Ini adalah tindakan seorang penyembah yaitu memberikan dengan limpah.

Jadi seorang penyembah adalah orang yang mengalami Tuhan. Ketiadaan pengalaman dengan Tuhan adalah ketiadaan penyembahan. Keringnya penyembahan kepada Tuhan karena kita kering pengalaman bersama dengan Dia. Mengapa tidak mengalami Tuhan? Karena kita tidak mengenal Tuhan. Kita mungkin tahu tentang Tuhan, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mengerti tentang Tuhan membuat kita tahu, tetapi mengalami membuat kita kenal. Contoh seorang penyembah adalah Daud. Ia banyak mengalami Tuhan itulah sebabnya dalam kitab Mazmur, kita menemukan berbagai cara ia mengungkapan penyembahan.

Penyembahan lahir dari pengalaman bukan mengetahuan.
Mari kita bandingkan antara orang lari dan atlet lari. Keduanya sama-sama lari, tetapi tidak semua pelari adalah atlet. Mungkin ada orang yang lari karena dikejar anjing atau lagi mengejar maling, tetapi seorang atlet pasti berlari. Tidak semua nyanyian adalah penyembahan, juga tidak semua orang yang nyanyi adalah penyembah. Tetapi seorang penyembah akan mengungkapkannya dengan nyanyian dan pujian kepada Tuhan. Apa yang membedakan penyembahan? “Pengalaman.”  Seorang bisa bernyanyi karena tahu lagunya, tetapi seorang penyembah menyanyi karena pengalamannya bersama dengan Tuhan. Kiranya setiap pengalaman hidup yang kita alami bersama Tuhan menghantar kita untuk menjadi penyembah Tuhan.

B. Penyembahan adalah persembahan/ pemberian kepada Tuhan.
Ayat 37  “….. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.”

Penyembahan adalah persembahan. Penyembahan bukan apa yang kita terima, tetapi apa yang kita berikan. Apa yang kita persembahkan kepada Tuhan saat datang kepadaNya? Kita gagal menyembah Tuhan kalau kita datang ke gereja hanya untuk mencari berkat atau pertolongan. Penyembah tidak berfikir apa yang ia dapatkan tetapi apa yang dapat ia berikan.

Kepada orang Israel Allah perintahkan agar datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan hampa.

Ulangan 16:16, 17
Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”

Dalam kitab perjanjian baru kita juga diminta untuk mempersembahkan, yaitu:

  • Persembahan ucapan yang memuliakan-Nya
    Ibrani 13:15  Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
  • Persembahkan tubuhmu
    Roma 12:1  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

C. Penyembahan adalah ungkapan syukur karena kasihNya.
Ayat 38  Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya.”

Wanita ini menangis bukan karena masalah yang dihadapi, tetapi kekaguman akan kasih Allah yang ia rasakan. Ia sadar siapa dirinya sebenarnya. Ia adalah seorang wanita berdosa. Seharusnya ia mati karena dosanya yang banyak, tetapi karena kasihNya ia dibebaskan dan diampuni. Kasih Allah yang telah dialami membuatnya tidak dapat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dengan kata-kata. Ia hanya dapat mengungkapkannya dengan tetesan air. Air mata yang menetes deras adalah tanda syukur dan terima kasihnya kepada Allah yang telah membebaskannya.

Kita tidak bisa menyembah jika kita sudah kehilangan rasa kagum akan Tuhan. Tanpa kekaguman akan Tuhan semua yang terjadi kita anggap biasa. Saudara, coba ingat 20, 30, 40, atau bahkan 50 th yang lalu apa yang kita miliki? Bagaimana keadaan kita? Dulu, saat kita belum punya apa-apa, belum bisa apa-apa, kita sangat kagum dengan cara Tuhan bekerja, kita kagum dengan pertolonganNya, tetapi sekarang setelah semuanya ada, apakah kita masih memiliki rasa kagum kepada DIA? Kita tidak lagi memiliki rasa kagum dengan Tuhan. Itulah sebabnya kita sukar menyembah Tuhan karena kita kehilangan rasa kagum kepada DIA.

Tuhan mencari penyembah yang kagum akan pribadiNya, perbuatanNya dan kuasaNya.

Mazmur 51:19
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Penyembahan adalah kekaguman akan Tuhan.
Mengapa kekaguman penting? Sebab saat kita kagum akan Tuhan, kita akan mengatakan tentang sifat dan perbuatan Allah. Inilah yang menyukakan hati Tuhan. Wanita ini sudah tidak bisa lagi menyusun kata-kata, karena kebesaran dan kasih Tuhan yang dialami. Kekagumannya dinyatakan dengan tetesan air mata. Apakah harus menderita dulu baru kita kagum akan Tuhan? Apakah harus mengalami sakit? kecelakan? penderitaan? baru kita kagum akan Tuhan? Jangan tunggu malapetaka datang baru kita kagum akan Tuhan, kagumilah Dia setiap saat karena besar perbuatanNya atas kita. Ingatlah, siapa yang memberi nafas kita? Siapa yang memberi kehidupan? Jadikanlah semua ini alasan untuk mengagumi kasih Allah.

Kekaguman menentukan penghormatan. Kurangnya rasa kagum mengakibatkan menurunnya rasa hormat. Bangsa Israel pernah ditolak oleh Allah karena memberi persembahan tidak dengan rasa hormat.

Maleakhi 1:6 -8
Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.

Perhatikanlah apa yang dilakukan bangsa Israel. Mereka telah kehilangan rasa kagum kepada Allah akibatnya rasa hormat mereka kepada Tuhan juga menurun. Mereka membawa persembahan kambing/domba yang cacat, buta dan timpang. Tidak lagi memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Bagaimanakah dengan kita? Masih adakah hati yang kagum akan Tuhan di tempat ini? Saya merasa, kita sudah mulai kehilangan rasa kagum akan Tuhan. Kita lebih tertarik kepada pesta yang diadakan orang Farisi. Semua sudah diganti dengan acara, pertunjukan dan treatikal semata. Kita sedang membuat ibadah kita sebagai drama rohani dihadapan Tuhan. Kita lebih kagum kepada tampilan, khotbah, acara dari pada kagum kepada Tuhan atas perbuatanNya yang telah dikerjakan. Kita lebih sibuk mempersiapkan acara, dari pada mencari pribadiNya. Inilah saatnya kita kembali kepada hatiNya, melakukan apa yang paling diinginiNya yaitu menyembah dengan kekaguman dan penuh hormat. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s