PEMBUNUH RAKSASA, Seri 2 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 28 Oktober 2018)

1 Samuel 17

1 Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Pendahuluan
Beberapa Minggu yang lalu kita sudah belajar tentang pembunuh raksasa bagian pertama. Hari kita kita akan melanjutkan pembahasan tentang: “PEMBUNUH RAKSASA.”

Sekedar menyegarkan ingatan kita mari kita kembali melihat bagian pertama:
Raksasa adalah fakta, ia nyata dan jelas dalam kehidupan kita. Kehadirannya membayangi setiap langkah kita. Ia hadir dalam bentuk baru yaitu: ketakutan, keputusasaan, kegagalan,iri hati, dendam, penyakit, masalah, keluarga, keuangan, masalah anak-anak, kebencian, kemarahan, penderitaan dan lain-lain.

PEMBUNUH RAKSASA
Kabar buruk bagi kita semua adalah bahwa ada raksasa di depan kita, tetapi kabar baiknya kita dapat mengalahkannya. Bagaimana caranya?
1. Memilih mendengar suara TUHAN dari pada suara LAWAN (1Sam 17:10, 11)
Mendengarkan suara lawan membawa ketakutan, tetapi mendengar suara Tuhan memberi keberanian dan kemenangan. Daud memilih mendengar apa yang Tuhan katakan dari pada apa yang Goliat ucapkan.

2. Memilih MEMANDANG TUHAN dari pada MEMANDANG LAWAN (Kisah Rasul 2:25)
Beralihlah dari pandangan mata jasmani kita kepada mata iman. Mata kita melihat Goliat yang besar, tetapi iman kita memandang Tuhan yang lebih besar.

3. Tidak peduli SIAPA YANG DIHADAPI, tetapi SIAPA YANG MENYERTAI (1Samuel 17:45)
Kunci kemenangan bukan ditentukan ukuran lawan yang dihadapi tetapi “siapa” yang menyertai. Daud menang melawan Goliat, bukan karena kehebatannya atau kekuatan yang dimilikinya melainkan karena Tuhan menyertainya.

Tiga bagian ini telah kita bahas beberapa waktu yang lalu, sekarang kita akan masuk pada kunci ke empat seorang pembunuh raksasa.

4. Memperkatakan KEMENANGAN bukan KEKALAHAN.
Kemenangan seorang pembunuh raksasa ditentukan dari perkataannya. Mari kita lihat perkataan yang diucapkan Daud.

  • 1Samuel 17:32
    Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”
  • 1Samuel 17:37
    Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”
  • 1Samuel 17 : 45 – 47
    Ayat 46: “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.”

Kemenangan dalam peperangan dimulai dari perkataan.
Kemenangan seorang pembunuh raksasa dimulai dari perkataannya. Apa yang kita katakan itu yang akan kita dapatkan. Daud memperkataan kemenangan bukan kekalahan, kemampuan bukan kelemahan, keyakinan bukan keraguan, dia mengatakan berkat bukan kutuk.

Hidup kita dibentuk dari apa yang kita katakan. Setiap orang akan menuai buah dari perkataannya. Kita akan menikmati apa yang kita ucapkan. Sadarkah kita bahwa keadaan kita pada hari ini disebabkan oleh apa yang kita katakan kepada diri kita di masa lalu.

Kebenaran tentang perkataan.
1.
Perkataan seperti benih
Amsal 18:21
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Kata-kata seperti benih. Ucapan yang keluar dari mulut kita adalah seperti benih yang kita tanam, suatu kali kelak kita akan menuainya. Karena itu berhati-hatilah dengan ucapan/perkataan kita, sebab perkataan dapat mendatangkan kehidupan, tetapi kata-kata juga bisa menghasilkan kematian. Perkataan negatif menghasilkan kematian, perkataan positif mendatangkan kehidupan. Kita naik atau turun, diberkati atau dikutuk, maju atau mundur tergantung dari apa yang kita tabur melalui ucapkan kita.

2. Yang kita katakan itu yang Tuhan lakukan.
Bilangan 14:28
“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan, bahwasannya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Ku lakukan kepadamu”

Kata-kata kita bukan saja mempengaruhi hidup kita, tetapi juga mempengaruhi Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan bertindak berdasarkan kata-kata yang kita ucapkan dihadapanNya. Saat bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Mereka menista dan memperolok Tuhan dengan berkata bahwa mereka dibawa ke padang gurun ini agar mengalami kematian. Akibat perkataan ini seluruh angkatan yang keluar dari Mesir yang berusia 20 tahun keatas mati di padang gurun.

Kadang-kadang kita tidak menerima apa yang kita harapkan karena keinginan kita berbeda dengan ucapan kita. Kita ingin berkat, tetapi ucapan kita mengeluarkan kutuk, kita ingin kuat tetapi perkataan melemahkan, kita ingin sukses tetapi kata-kata kita sebaliknya. Dukunglah keinginan dan harapan kita dengan kata-kata kita yang benar, karena Tuhan bergerak dan bertindak berdasarkan perkataan kita.

Dalam Markus 7, Tuhan menolong seorang perempuan Siro-Fenisia berdasarkan kata-kata yang diucapkannya.

Markus 7:29
Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

3. Memberkati atau Mengutuk
Yakobus 3:9
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.

Berhati-hatilah dengan perkataan kita sebab perkataan kita mengalirkan berkat atau kutuk. Melalui ucapan kita dapat memberkati orang dan melalui ucapan yang sama kita mengutuki orang lain. Masa depan kita ditentukan oleh perkataan kita. Berkat atau kutuk yang kita nikmati tergantung kata-kata yang kita ucapkan. Bangunlah masa depan dengan ucapan berkat.

ATURAN PEMBUNUH RAKSASA BERKATA-KATA
Betapa dahsyatnya kuasa ucapan kita. Perkataan kita bisa mengangkat bisa juga menjatuhkan, perkataan kita bisa membangun bisa juga merobohkan, menguatkan atau juga menghancurkan. Lalu bagaimana seorang pembunuh raksasa berkata-kata?

1. Katakan yang TUHAN katakan.
Yosua 1:8
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Kepada Yosua, Allah memperintahkan agar jangan lupa memperkatakan apa yang Tuhan katakan yaitu taurat/firman Allah. Mengapa? Karena firman Allah adalah kebenaran, firman Allah memberikan kekuatan dan membangkitkan iman.

Ada banyak suara dan berita yang kita dengar setiap hari. Kadang-kadang kita tergoda untuk menyetujuinya sebagai kebenaran dengan cara mengatakannya. Seorang pembunuh raksasa, memilih mengatakan yang Tuhan katakan bukan yang orang katakan. Memang benar keadaan sedang sulit, susah dan penuh masalah, tetapi apakah yang Tuhan katakan dalam keadaan yang demikian? Dari pada mengatakan saya susah, saya sulit, saya penuh masalah katakanlah: “di tengah kesulitan, kesusahan dan berbagai masalah Tuhan memberikan kekuatan dan jalan keluar kepadaku.” Saat kita sakit, apakah yang kita katakan? Berkatalah seperti yang Tuhan katakan yaitu “oleh bilur-bilurNya kita disembuhkan.” Jadilah seperti Daud dan Yosua mengatakan yang Tuhan katakan.

2. Jika pikiran kita negatif, lebih baik DIAM
Tidak dapat dipungkiri, kadang-kadang pikiran kita negatif saat melihat kenyataan-kenyataan yang kita alami. Pikiran kita berkata, sulit, mustahil atau tidak mungkin. Jika ini yang terjadi, lebih baik diam dari pada kita terjerat dalam perkataan negatif. Amsal 6:2 berkata: “… Engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,”. Jangan sampai hidup kita terjerat dengan kata-kata negatif sehingga kita memakan buah perkataan kita.

Di dalam alkitab ada kisah tentang bangsa Israel merobohkan tembok Yerikho.
Yosua 6:10
Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! –maka kamu harus bersorak.”

Mengapa mereka dilarang bersuara sepatah katapun? Mereka dilarang agar mereka tidak terjerat dengan kata-kata negatif. Mari kita bayangkan kondisi bangsa Israel mengelilingi tembok Yerikho. Ini adalah cara yang aneh dan tidak masuk akal. Mana mungkin hanya mengelilingi saja tembok yang kuat dan tebal bisa roboh. Jika diperbolehkan bersuara atau berbicara, kira-kira apakah yang diucapkan bangsa Israel? Saya percaya, mereka pasti bersungut-sungut, memperolok Yosua bahkan Tuhan. Akibatnya mereka terjerat dengan perkataan mereka sendiri. Allah sangat paham sifat bangsa Israel, oleh sebab itu Tuhan suruh mereka diam dari pada terjerat dengan perkataan negatif dan sia-sia.

3. Jangan katakan keadaan Anda, katakanlah yang Anda inginkan
Mari kita lihat perbedaan perkataan Saul dan Daud.
Perkataan Daud – ayat :32
Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

Perkataan Saul – ayat :33
Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Saul mengatakan: keadaan, fakta, kenyataan, realita, tetapi Daud mengatakan: keinginan, yang diharapkan terjadi atas dirinya. Jika kita ingin melihat hari-hari baik terjadi atas hidup kita, ubahlah kosa kata kita, jangan katakan keadaan yang terjadi tetapi katakanlah yang diharapkan terjadi. Jadi jika kita sakit apakah yang kita ucapakan? Ucapkanlah yang diharapkan terjadi: saya sembuh, sehat, segar dan bugar. Saat susah ucapkanlah saya senang, bahagia dan gembira. Jika lemah katakanlah saya kuat, tangguh, perkasa, dll. Sekali lagi jangan katakan keadaan anda katakanlah yang anda harapkan. Ingat! Apa yang kita katakan itu yang akan datang menghampiri kita.

Penutup
Saat kita mengatakan yang baik, keadan mungkin belum berubah, tetapi kebaikan sedang datang. Saat kita berkata saya sembuh, penyakit mungkin belum hilang, tetapi kesembuhan sedang datang. Daud tidak tahu apa yang akan terjadi saat ia berkata: “Aku akan membunuh Goliat”, tetapi kata-kataanya membuka jalan menuju kemenangan. Ubahlah perkataan Anda, katakanlah yang Anda harapkan terjadi atas hidup anda. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s