My Heart Longs For Christmas – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Natal Sore – Rabu, 25 Desember 2019)

Matius 2:9-12

PENDAHULUAN
Ada kerinduan yang begitu besar dalam hati para Majus untuk bertemu Yesus dan mempersembahkan yang mereka miliki bagi Yesus yaitu emas; kemenyan dan mur. Dan Yesus dapat merasakan kerinduan yang ada di hati para Majus saat itu. Sebab walaupun Yesus masih bayi, IA adalah pribadi badi Allah yang berdiam didalam diri manusia Yesus. Jadi Yesus tahu apa yang dirasakan oleh para Majus. Pertanyaannya adalah apakah saat ini Yesus dapat merasakan getaran kerinduan para majus yang sama, ada didalam diri kita? Karena ada sekian banyak orang percaya yang merayakan natal, adakah yang rindu mempersembahkan sesuatu bagi Yesus?

Mengenai persembahan, mungkin kita selama ini sudah memberikan persembahan kepada Allah berupa talenta, tenaga termasuk kekayaan kita. Namun yang Yesus rindukan bukan hanya persembahan itu saja, Roma 12:1. Yesus rindu kita memberikan persembahan yang terbaik adalah seluruh hidup kita, persembahan hidup yang berkenan kepada Allah sehingga saat Yesus datang kedua kali, kita didapati seperti  para  Majus  yang  mempersembahkan hidup bagaikan emas yang murni; kemenyan terbaik dan mur yang berharga dihadapan Yesus.

BAGAIMANA KONDISI KITA?
Kalau kita lihat diri kita, kira-kira seperti apakah kondisi kita?  Bila Yesus datang, apakah kita siap mempersembahkan diri kita, bagai emas murni, gambaran dari seorang perawan suci bagi Yesus mempelai laki-laki? 2 Korintus 11:2,3. Sebuah ilustrasi raja Salomo untuk menggambarkan Gereja Yang Kudus dan Tidak Bercacat. Dalam Amsal 25:4 “Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah benda yang indah (mulia) bagi pandai emas.” Sanga, adalah sejenis logam yang terkandung dalam logam mulia (emas – perak). Dan, STATUS SANGA, adalah menjadi KOTORAN, di dalam logam mulia. Artinya perhiasan yang masih mengandung sanga, perhiasan tersebut belum murni (masih kotor). Ada beberapa jenis logam sebagai sanga, tembaga, timah putih, besi dan timah hitam. Allah tidak ingin kehidupan orang percaya memiliki sanga atau justru menjadi sanga itu sendiri seperti bangsa Israel dihadapan Yesus. Yehezkiel 22:18,  Tuhan menyamakan Israel seperti sanga dituliskan “Hai anak manusia, bagiKu kaum Israel sudah menjadi sanga…; mereka seperti sanga perak.” Dihadapan Allah mereka seperti kotoran karena hidup yang tidak berkenan dihadapan Allah. Jadi, bagaimana kondisi kita? Apakah masih ada sanga ataukah kita yang menjadi sanga itu sendiri? Sanga harus dibuang.

Jika pandai emas yang malas, membiarkan sanga dalam logam mulia. Hasilnya, perhiasan tidak berkualitas dan nilai jualnya rendah. Sebaliknya pandai emas yang rajin, membuang sanga yang ada dalam logam mulia. Hasilnya, ia memiliki perhiasan berkualitas.

Rasul Paulus juga memberikan ilustrasi kepada Timotius untuk menjelaskan Gereja Yang Mulia – Sempurna dalam 2 Timotius 2:20. Bahwa dalam rumah terdapat berbagai jenis perabot, ada emas, perak, tapi ada  perabot  yang  terbuat  dari  bahan kayu dan tanah liat. Perabot mulia, diperuntukan bagi maksud mulia. Tetapi, perabot yang kurang mulia (kayu dan tanah liat), diperuntukan bagi maksud yang kurang mulia. Rumah yang besar dan perabot yang dimaksud bukan perabot yang jasmania melainkan:

  • Rumah yang besar, yang dimaksud adalah gereja lokal – jemaat
  • Perabot, yang dimaksud adalah diri kita dan anggota jemaat lainnya dalam gereja lokal.

Secara kasat mata, hampir tidak ada bedanya antara individu anggota  jemaat  yang satu dengan anggota jemaat lainnya dalam Jemaat  Lokal. Tetapi, Yesus sanggup melihat  dan  membedakan, mana jemaat yang berkualitas emas, perak dan mana anggota jemaat yang berkualitas kayu dan tanah liat. Jika kita menilai diri sendiri, kira-kira kualitas kita seperti apa di hadapan Yesus? Berapa lama kita ada di rumah yang besar? Sejauh mana perubahan yang saudara alami? Seharusnya kualitas rohani kita berubah jadi semakin mulia, bukan sebaliknya. Sebab rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:16, kualitas kita harus semakin bertambah. Bukan seperti rumah jasmani, yang dibeli. Contohnya perabot dari kayu, tanah liat (keramik) yang diletakkan di rumah. Berapa pun lamanya perabot itu diletakkan, ia tidak akan berubah jadi mulia. Sebaliknya, perabot itu bisa merosot, rusak bahkan hancur. Namun gereja Tuhan yang ada dalam  rumah yang besar yaitu, gereja lokal (Rumah Rohani – Rumah Pemulihan). Tidak sedikit orang, yang  pada awalnya ia percaya, kondisi rohaninya seperti tanah  liat  bahkan  seperti  lumpur. Tetapi  oleh  Firman  Allah  dan  Roh Kudus, diubah jadi mulia seperti  emas atau perak yang mulia.

SIAP DIPROSES
Sekarang, apa yang harus dilakukan supaya selama masih hidup/diberi waktu oleh Tuhan ada di rumah yang besar, yaitu gereja lokal, kita benar-benar diproses dan dibentuk Tuhan menjadi perabot yang mulia dan diperuntukan bagi maksud yang mulia? 2 Timotius 2:21, Perhatikan kalimat “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat.” Jadi untuk dapat menjadi perabot yang mulia, maka kejahatan dan dosa harus dibersihkan dengan firman Allah dan Roh Kudus. Oleh karena itu, saat beribadah jangan perhatian kita dialihkan dengan apapun termasuk handphone. Sebab firman yang didengar akan menyadarkan kita dan saat kembali ke rumah serta beraktivitas, kita ingat firman tersebut serta melakukannya. Roh kudus memampukan untuk melaksanakan. Dan bila terus dilakukan, lambat laun hidup kita semakin serupa dengan Kristus karena kejahatan dan dosa, seperti sanga yang membuat kualitas hidup kita kotor serta merosot dan firmanlah yang menguduskannya.

KUALITAS GEREJA SEMPURNA
Kitab Wahyu menjelaskan tentang Gereja Sempurna dalam Wahyu 21:2 dengan dua gambaran:

  1. Seorang Pengantin Perempuan yang berdandan untuk melayani suaminya, Efesus 5:27.
  2. Kota Yang Kudus, yang bernama Yerusalem Baru, Wahyu 21:10.

Seperti apa kemuliaan Kota Yang Kudus, bernama Yerusalem Baru, yaitu Gereja Sempurna? Perhatikan Wahyu 21:16-22:
1. Kota empat segi, Wahyu 21:16
Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan Ia mengukur kota itu dengan tongkat itu dua belas ribu mil; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama. Bentuknya seperti ruang maha kudus yang ada di Tabernakel, suatu tempat dimana Allah bertahta. Jadi gereja sempurna adalah tempat Allah berdiam, disana ada kemuliaan dan kekudusan Allah.

2. Tembok kota, Wahyu 21:18
Tembok itu terbuat dari permata Yaspis dan kota itu sendiri  dari  emas  tulen, bagaikan kaca murni.

3. Dua belas pintu, Wahyu 21:21,22
Kota itu memiliki dua belas pintu gerbang dan masing-masing memiliki satu mutiara dan jalan-jalan kota itu emas murni bagaikan kaca bening. Mutiara memiliki nilai yang sangat tinggi karena prosesnya. Mutiara tercipta karena ada butiran-butiran pasir yang masuk dalam kerang. Ketika kerang itu terisi dengan pasir maka ia akan membungkus dirinya dengan cairan yang khusus sehingga lambat laun menjadi mutiara. Penderitaan yang kita alami selama hidup di dunia ini akan membentuk kita menjadi gereja yang berkualitas dan mulia.

Biarlah hati kita terus merindukan Yesus dan hidup dalam kehendak Tuhan sehingga lewat proses yang dihadapi kualitas kita semakin mulia dan digunakan untuk maksud yang mulia. Penderitaan adalah jalan menjadi sama seperti Yesus. Semakin mulia dan indah dihadapan Tuhan menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali.

NATAL ADALAH IMPLIKASI ALLAH DIAM DI ANTARA KITA – oleh Pdt. Yohanes Praptowarso – Ungaran (Ibadah Natal Pagi – Rabu, 25 Desember 2019)

Yohanes 1:14


Dalam Yohanes 1:14 dituliskan bahwa Allah berdiam di antara kita. Apakah maksudnya? Dan dikatakan bahwa firman yang adalah pencipta kehidupan telah menjadi manusia. Firman ini tidak sekedar lewat, melainkan tinggal bersama-sama dengan manusia. Firman itu tinggal menunjukkan waktu yang tidak singkat karena ia bersama-sama dengan kita maka firman itu mengenal apa kebiasaan yang kita lakukan, sifat, karakter, masalah dan sakit penyakit yang dialami oleh manusia.

Sekali lagi, Allah tinggal bersama kita, yaitu Manusia Allah menjamin keselamatan sekarang dan yang akan datang. Dalam Ibrani 4:14-15, dituliskan bahwa Yesus sang firman yang menjadi manusia adalah Imam Besar yang turut merasakan segala hal yang kita alami. Itulah mengapa dalam Ibrani 4:16, bila kita menghampiri Yesus maka kita akan mendapatkan pertolongan tepat pada waktunya. Jadi keselamatan yang kita terima bukan hanya nanti saat Yesus datang kedua kali, melainkan sekarang pun kita dapat menikmati keselamatan. Ia menyembuhkan kita dari sakit dan menolong dalam masa kesukaran, tepat pada waktunya.

Dalam 2 Korintus 12:2-4 dituliskan “Aku tahu tentang seorang Kristen empat belas tahun yang lampau–entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya–orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga( was caught up to the third heaven/NASB) . Aku juga tahu tentang orang itu, –entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya —  ia tiba-tiba diangkat  ke Firdaus  dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Ini adalah pengalaman rasul Paulus, dimana orang Listra merajam dia dengan batu. Dalam kondisi itu menyaksikan diangkat ke langit ke tiga. Terjemahan NASB menuliskan “The third heaven” atau bahasa tepatnya adalah “Langit Yang Ke tiga”. Bahasa jelasnya disebut Firdaus, sebagai tempat asal Imam Besar kita memulai melintasi segala langit.

The Third Heaven

  • Langit Yang Pertama
    Adalah dunia yang kita hidupi dengan panca indera kita. Segala sesuatu yang dapat dilihat dengan mata kepala kita, yang dapat diraba dengan tangan, yang dapat didengar melalui telinga dan dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan manusia.
  • Langit Yang Kedua
    Adalah sebuah kehidupan yang tidak dapat dilihat dengan mata jasmani manusia, tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan teknologi, namun nyata mempengaruhi kehidupan kita di langit yang pertama saat ini.
  • Langit Ketiga
    Adalah lintasan kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia, sekarang dan yang akan datang.  Dan Yesus selalu ada di semua lintasan langit itu sampai saat ini sebagai Imam Besar Agung yang memberikan pertolongan tepat pada waktunya untuk kita.

Manusia-Allah Menjadi Juru Syafaat Kita
Yohanes 1:51 “Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Jadi malaikat memiliki tugas untuk melayani manusia. Mereka tidak maha hadir seperti Allah, mereka diutus untuk memberikan pesan Allah. Dan Yesus sebagai Imam Besar kita menjadi juru syafaat bagi kita, sehingga melalui Yesus kita berdoa kepada Allah, maka malaikat akan diperintahkan untuk melayani kita, menjaga dan melindungi karena Yesus. Perhatikan Daniel 10:11; Ibrani 1:14; Kisah 10:1-3 dan Lukas 15-25. Malaikat turun dan naik dengan intensitas yang sangat tinggi kepada Anak Manusia karena: “He always lives to make intercession for them.” (Ibrani 7:25).

Manusia- Allah membaptis dengan Roh Kudus
Selanjutnya Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Teologi pantekosta yang kita yakini adalah menerima baptisan Roh kudus. Sekalipun kita sudah menerima berkat dan mujizat, namun itu bukanlah yang terbaik. Sebab pemberian yang terbaik dari sorga adalah Roh Kudus  (Lukas 11:13). Matius 3:11 – Yesus membaptis kita dengan Roh Kudus dan api. Artinya Roh Kudus adalah pribadi Allah yang lain dan menunjukkan kuasa.

Efesus 5:18, Rasul Paulus memberi nasihat agar kita harus penuh Roh Kudus bukan mabuk dengan anggur. Jika seorang ingin mabuk, ia harus meminum minuman dalam jumlah yang banyak. Demikian untuk penuh dengan Roh Kudus harus membiarkan Roh Kudus memenuhi ia sampai melimpah. Dan seorang yang mabuk durasinya paling lama 24 jam. Untuk mabuk kembali, ia harus minum lagi. Roh Kudus harus kita alami setiap hari dan memenuhi kehidupan kita sampai melimpah-limpah.

Ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, maka ia akan menjadi orang yang menang setiap hari, sebab Tuhan beserta dengannya.

Janji Bagi Yang Menang – Wahyu 3:5

  • Barangsiapa menang ia akan dikenakan pakaian putih: artinya ada pakaian kebenaran bagi yang sampai langkah terakhir tetap setia kepada Tuhan.
  • Namamu tidak akan dihapus : orang yang menang namanya tidak akan dihapus.
  • Aku akan mengaku namanya dihadapan Bapa-Ku : ini bentuk penghormatan tertinggi yang TUHAN berikan bagi orang yang menang.

Dia Allah Imanuel, yang memberikan kemenangan bagi kita. Sebab ia tinggal bersama-sama dengan kita serta mengetahui segala yang kita butuhkan, rindukan dan alami. Tuhan Yesus memberkati.

MEMILIH YANG TERBAIK – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 22 Desember 2019)

PENDAHULUAN
Alkitab mencatat reaksi, sikap dan perbuatan yang dilakukan orang terhadap Yesus setelah mereka mendengar atau melihat secara langsung kelahiran Yesus. Reaksi, sikap dan perbuatan orang-orang pada saat itu adalah cerminan dari apa yang dilakukan orang terhadap Yesus di akhir zaman. Kita perhatikan kisah natal, yaitu tentang reaksi, sikap  dan perbuatan  para orang Majus, raja Herodes dan Imam-imam kepala sehubungan dengan kelahiran Tuhan Yesus, Matius 2:1-12.

ORANG MAJUS
Menurut Herodotus (sejarawan) kata Majus berasal dari kata: Madai atau Magoi yaitu salah satu suku yang ada di Kerajaan Persia (Irak) yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai imam di Persia (Irak). Sebab itu mereka juga disebut atau diberi gelar “para bijaksana.” Sikap para Majus terhadap Yesus ketika para Majus tahu dari bintang yang mereka lihat, bahwa telah lahir seorang Raja di atas segala raja, inilah yang mereka lakukan:
1. Tidak menunda waktu
Mereka meninggalkan negeri mereka dan mencari Sang Jalan; Kebenaran dan Hidup yaitu Yesus Raja diatas segala raja. Mereka tidak menunda-nunda waktu. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak sekali-kali menunda-nuda waktu atau kesempatan yang Tuhan beri kepada kita. Kalau tidak, kita akan menyesal selamanya. Sebab waktu atau kesempatan seperti es batu, dipakai atau tidak, ia akan meleleh dan hilang lenyap, Yesaya 55: 6,7.

2. Bersedia berkorban
Para Majus telah melihat bintang, dimana saat itu Yesus, Raja di atas segala raja dilahirkan, Matius 2:2. Tetapi mereka baru bertemu Yesus setelah Yesus berumur 2 tahun. Matius 2:16 menjelaskan bahwa mereka berjumpa Yesus di rumah bukan lagi di kandang yang merupakan tempat Yesus lahir. Diperkirakan jarak tempuh yang mereka korbankan adalah selama 2 tahun untuk bertemu dengan Yesus. Jadi berapa dana yang mereka harus keluarkan untuk perjalanan, konsumsi, akomodasi selama 2 tahun mereka mencari Yesus? Semua mereka lakukan hanya untuk bertemu sang juruselamat yaitu, Yesus Kristus. Demikian halnya, menjelang kedatangan Yesus kedua kali, Yesus mencari Gereja-Nya (orang percaya) yang mencari dan mengasihi Yesus dengan sungguh-sungguh, yaitu mengasihi Yesus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan segenap kekuatannya berjuang bagi Yesus berapa pun harganya (Markus 12:30).

3. Tidak malu mengaku Yesus bahkan rela mati demi Yesus
Para Majus tidak malu mengaku Yesus di depan Herodes dan orang-orangnya. Matius 2:2 “…dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Namun, menjelang Yesus datang kedua kali, banyak orang yang malu bahkan takut mengaku Yesus sebagai Tuhan. Bahkan ada yang menyembunyikan identitasnya karena malu dikenal sebagai orang Kristen. Maka konsekuensi yang diterima Markus 8:38 “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah Angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Orang yang malu mengaku Yesus, maka Yesus pun malu untuk mengakui dia di hadapan Bapa kelak dalam kemuliaan-Nya.

4. Para Majus rela syahid karena Yesus
Matius 2:3 “Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.” Kata: TERKEJUT dalam terjemahan KJV dituliskan “Troubled – bermasalah”. Lebih jelasnya dalam terjemahan NIV dituliskan “Disturbed –  terganggu; terusik.” Jadi kalau kita baca kisah selanjutnya dalam Matius  2:8  bahwa Herodes menyuruh para Majus ke Betlehem, katanya: ”Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Para majus diperintahkan untuk kembali mendatangi Herodes, padahal Herodes bukan bertujuan menyembah Yesus. Tetapi, Herodes menyuruh para Majus untuk datang kembali kepada Herodes, karena:

  • Herodes ingin mendapat informasi lengkap tentang Raja (Yesus) untuk membunuh Yesus.
  • Menyuruh para Majus untuk kembali kepada Herodes, bukan Herodes ingin menyembah Yesus tetapi Herodes ingin membunuh para Majus. Sebab Herodes terganggu oleh sikap dan iman para Majus yang tidak menyembah Herodes, melainkan menyembah Yesus.

5. Para Majus adalah pengikut Yesus sejati
Kerinduan, kesungguhan, ketulusan, kesetiaan, pengorbanan, keberanian yang begitu besar dalam diri para Majus untuk bertemu dan menyembah Yesus adalah gambaran pengikut Yesus yang sejati yaitu,  Gereja Yang Sempurna. Sebab tanpa beban, para Majus sebelum pulang ke negerinya, mereka bermaksud untuk menemui Herodes sesuai pesan Herodes. Tetapi dalam Matius 2:12, mereka diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes dan pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain bukan kembali pada Herodes.

GEREJA SEMPURNA DISINGKIRKAN
Seperti catatan di atas, bahwa para Majus menggambarkan tentang pengikut Yesus yang sejati atau gereja sempurna. Sedangkan Herodes adalah gambaran Antikris, yang berusaha membunuh pengikut Yesus. Sebab menjelang kedatangan Yesus kedua kali, akan datang penguasa dunia yaitu antikristus. Seluruh bangsa dan negara di dunia akan ada di bawah kekuasaannya. Salah satu target atau ambisi penguasa dunia – antikristus adalah “tidak  ada  yang  boleh  menyembah  YESUS, kecuali menyembah iblis dan antikristus.”

Wahyu 13:4 “Dan mereka menyembah naga (Iblis) itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang (antikristus) itu. Dan mereka menyembah binatang (antikristus) itu sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang (antikristus) ini? Dan siapakah yang dapat  berperang melawan dia?”

KEKEJAMAN ANTIKRISTUS
Setiap pengikut Kristus yang tidak mau tunduk kepada perintah binatang yaitu (antikristus) akan dianiaya sampai ia mau menyembah antikristus atau bertahan dan alami syahid, Wahyu 13:10. Tetapi bagi “pengikut Yesus sejati” (Gereja Sempurna) yang kualitas pengiringannya sama seperti para Majus akan diluputkan dari kekuasaan antikristus. Dengan cara pengikut Yesus yang sejati (Gereja Sempurna) akan disingkirkan ke padang gurun, bebas dari kekuasaan antikristus, Wahyu 12:6. Dengan cara apa Gereja Sempurna disingkirkan? Perhatikan Wahyu 12:14 – dengan kekuatan sayap dari burung nasar, yaitu kekuatan supranatural yang dari Allah. Dan di padang gurun, dipelihara Allah seperti orang Israel dipelihara Allah di padang gurun.

Sebaliknya, jangan sampai ada jemaat yang kekeristenannya seperti para Imam dan Ahli Taurat hebat dalam pengetahuan firman Allah. Perhatikan Matius 2:4 menuliskan “Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi. Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Jadi, walaupun mereka tahu dengan detil tentang Mesias (Yesus), mereka tidak mau mencari dan menyembah Yesus karena sebagai orang percaya, mereka tidak mau pikul salib  dan menyangkal diri, Matius 16:24, seperti orang majus yang mencari Yesus.

Pilihan ada di tangan kita, pilihlah yang terbaik yaitu seperti orang Majus yang mencari Yesus dan pada akhirnya akan diloloskan dari maut, yaitu dari kekejaman Herodes yang merupakan gambaran Antikristus.

KEPENUHAN ALLAH DI DALAM YESUS – Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 Desember 2019)

Kolose 2:9-12

PENDAHUUAN
Beberapa minggu lalu sudah dibahas tentang ajaran sesat yang berusaha menyesatkan dan menawan orang percaya dengan berbagai ajaran, antara lain menurut Kolose 2:8:

  1. Filsafatnya yang kosong dan palsu
  2. Ajaran turun- temurun
  3. Roh-roh dunia
  4. Tidak menurut Kristus

Jadi ajaran sesat ini begitu menarik namun kosong. 1 Korintus 12:2 menuliskan bahwa ajaran mereka dapat membelenggu atau mempesona. Oleh sebab itu, perlu iman kita bertumbuh didalam Kristus, bukan hanya sekedar percaya saja.

MENGAPA KITA HARUS TOLAK?
Mengapa harus hati-hati supaya tidak mudah terseret oleh ajaran-ajaran; peraturan-peraturan; isu-isu yang tidak sesuai ajaran Kristus? Karena guru-guru palsu bertujuan menawan; menyesatkan dan menyeret jemaat agar keluar dari Kristus dan tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.”

Apakah yang dimaksud Paulus “Di dalam Dia-lah (Yesus) berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan Allah”? Tentu kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia berbeda dengan binatang. Allah menaruh dalam manusia hati nurani, yang membuat manusia menyadari bahwa ada Sang Pencipta yang menciptakan segalanya, yaitu Sang Maha Kuasa dengan berbagai panggilan atau sebutan diciptakan oleh manusia. Selain itu manusia memiliki kesadaran, naluri atau hati nurani, sehingga ketika manusia melakukan dosa, hati nuraninya menuduh dirinya bahwa ia telah bersalah/berdosa kepada Yang Maha Kuasa dan suatu saat ia akan dituntut.

USAHA MANUSIA
Rasa takut dalam diri manusia inilah yang mendorong manusia untuk mencari dan mendekati penguasa alam semesta, agar ia tidak dihukum. Maka munculah berbagai kepercayaan atau agama, filsafat dan ajaran dengan beragam ritual dengan harapan agar mereka bisa luput dari hukuman. Tetapi solusinya bukanlah dengan usaha manusia untuk mendekati Allah, sebab semua manusia telah berdosa dan tidak layak dihadapan Allah.

Paulus katakan kepada jemaat Efesus dalam Efesus 2:8,9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri.” Firman Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa selamat dari hukuman  dengan usaha atau mengerjakan sesuatu agar Allah membebaskan manusia dari maut. Dosa dalam diri manusia tidak mungkin bisa diselesaikan oleh manusia yang roh-nya; jiwa-nya tubuh-nya kotor karena dosa. Sebab manusia berdosa tak mungkin bisa membersihkan diri dari dosa dengan usaha dan perbuatan.

Solusinya hanya oleh dengan Allah yang tidak berdosa yang dapat menyelesaikan dosa manusia, hanya Allah yang suci, kudus dan tidak berdosa. Sebab itu Yesus berkata dalam Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang  percaya  kepada-Nya  tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Hanya oleh kasih Allah yang besar seseorang mendapat keselamatan bukan usaha manusia.

YANG DILAKUKAN ANAK TUNGGAL ALLAH
Apakah yang telah dilakukan Yesus, Anak Tunggal Allah dalam menyelesaikan masalah dosa? Perhatikan Kolose 2:9 “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke Allahan.” Artinya, Allah yang penuh, yaitu seutuhnya – sempurna, berdiam (berkemah) dalam tubuh manusia, dan tinggal bersama-sama manusia (berimanuel). Jadi manusia Allah yaitu Yesus berkemah dalam tubuh jasmania seperti manusia.

MENGAPA ALLAH HARUS JADI MANUSIA?
Kalau Allah tidak menjadi manusia dengan Allah tidak berdiam secara jasmaniah dalam tubuh Yesus, Allah tidak akan bisa menyelesaikan dosa umat manusia di bumi. Sebab itu, oleh kematian Yesus di atas kayu salib ada jalan bagi manusia untuk mengakhiri masalah yang tak terselesaikan yaitu dosa. Dalam Yohanes 3:16 kata Yesus kepadanya “Akulah  jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Jadi dari ayat tersebut dijelaskan beberapa hal bahwa Yesus adalah:

  • JALAN, artinya jalan satu-satunya untuk menyelesaikan dosa hanya Yesus.
  • KEBENARAN, artinya untuk menjadi benar di hadapan Allah, adalah iman kepada Yesus, sebab oleh Yesus kita dibenarkan dihadapan Allah.
  • HIDUP, artinya hidup untuk masuk ke dalam sorga dan menikmati hidup kekal bebas dari hukuman solusinya hanya Yesus.

PENUTUP
Yohanes 1:16  “Karena dari kepenuhan-Nya (kesempurnaan Yesus sebagai Allah), kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;” Kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan dan kedatangan Yesus ke dua kali. Kita terima karunia demi kasih karunia (jasmani, jiwani dan rohani) selama di dunia sampai dalam kemuliaan.

Yohanes 1:17  “…sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Oleh Taurat yang dibawa Musa – kita disadarkan bahwa kita sudah berdosa dan harus dihukum. Tetapi, oleh kasih karunia dari Yesus kita dibebaskan dari dosa dan upah dosa yaitu maut/neraka. Taurat tidak memberi solusi untuk menyelesaikan dosa, tetapi kasih karunia adalah diri-Nya, yaitu Yesus diberikan kepada semua manusia.

Firman Allah menuliskan dalam Yohanes 1:18 bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Yesus yang memperlihatkan Bapa dan Roh Kudus secara utuh. Jadi tak ada yang bisa melihat Allah (Bapa), Roh  Kudus di bumi dan di sorga. Tapi kita bisa melihat Allah, yaitu Bapa dan Roh Kudus secara utuh dalam bentuk/wujud fisik yaitu Tuhan Yesus Kristus (Kolose 2:9).

Perhatikan gambar! Allah tidak dapat dilihat, namun manusia sadar adanya Allah. Namun karena tidak mengetahui Allah seperti apa dan kehendakNya, maka manusia berinisiatif dengan cara mereka sendiri untuk menghampiri Allah. Dan cara mereka tidak ada yang berkenan dihadapan Allah.

Jalan yang benar adalah melalui iman kepada Yesus dan kita dibenarkan dalam Yesus lewat iman kita. Oleh sebab itu, kiranya iman kita tetap berakar dan bertumbuh didalam Kristus dan semakin kuat menjelang kedatangan-Nya.

PENGARUH AJARAN SESAT – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 8 Desember2019)

Kolose 2:6-8

PENDAHULUAN
Dalam Kolose 2:6-8, setiap orang percaya dinasihati agar  “tetap didalam Yesus.” Artinya, kita harus menjadi pengikut Yesus yang sejati, yang menaati firman Tuhan. Caranya kita harus berakar didalam Yesus dan tak tergoyahkan oleh pengaruh apapun. Sebab itu rasul Paulus mengingatkan agar kita berhati- hati terhadap pengaruh ajaran sesat yang semakin berkembang di akhir zaman. Khususnya berhati-hati dengan filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8).

FILSAFAT YANG KOSONG
Di zaman rasul Paulus melayan saat itu, dunia dikuasai oleh bangsa Yunani karena bangsa Yunani menguasai dunia dengan bahasa, ilmu pengetahuan (filsafat Yunani) dan budaya dan berbagai peraturan khususnya tentang cara hidup. Pada saat itu, ilmu pengetahuan (filsafat Yunani) telah  menjadi  seperti  illah (berhala) bagi masyarakat dunia.

Ada 4 filsuf yang terkenal, antara lain Homer, Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates disusul Plato kemudian Aristoteles, semuanya tewas dengan cara dihukum mati. Kemudian murid Aristoteles yang terkenal ialah Iskandar Agung membawa ajaran yang sudah ia terima dari sang guru sehingga kemana saja ia pergi, ia membawa gaya hidup, budaya dan ajaran/filsafat Yunani. Ia membangun kota di negara-negara yang dikuasainya dan diberi nama Iskandariah.

Berbicara tentang filsafat, firman Allah menjelaskan dalam Kolose 2:8, bahwa ajaran-ajaran mereka begitu menawan. Kata “menawan” mengandung arti memperlakukan pengikutnya sebagai budak filsafat, dengan cara memaksa untuk mengikuti ajaran-ajaran mereka. Sedang kata filsafat mengandung arti mencintai hikmat. Jadi dari segi moral, filsafat yang diajarkan (filsafat dunia) bukan dosa, tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, malah terkesan ajarannya luhur, baik, bijaksana, adil karena filsafat mengajar berbuat baik, amal, ibadah! Tapi ajaran yang baik dan bukan dosa itu menjadi dosa bahkan jahat di mata Tuhan, karena tanpa kita sadari, ajaran – ajaran  yang  diajarkan  membuat  kita terlepas, keluar bahkan terpisah dari Yesus. Sebab segala ajaran diluar Yesus, tidak berkenan dihadapan Allah. Yohanes 15:5c “…Sebab di luar Aku (Yesus) kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Inilah yang rasul Paulus sebut dengan istilah filsafat yang kosong. Oleh karena itu Firman Allah menghendaki agar kita menjadi pengikut Yesus yang sejati, yaitu pengikut Yesus yang taat dan tidak mencampuradukkan dengan cara mengikuti ajaran-ajaran yang lain. Layaknya seorang yang berjalan mengikuti tapak kaki secara presisi. Bukan seolah – olah kita ikuti jejak – jejak tapak kaki yang lain selain jejak tapak kaki yang Yesus tinggalkan, yaitu firman Tuhan. Sehingga kita berjalan bukan menurut jejak kaki Yesus, melainkan jejak kaki ajaran-ajaran diluar Kristus. Pesan firman Tuhan ini menjadi peringatan keras bagi setiap kita termasuk kepada setiap orang tua untuk memperhatikan perkembangan setiap anak kita yang hidup generasi modern. Sebab ajaran sesat sudah semakin berkembang khusunya dalam dunia internet.

Sebuah contoh dalam Alkitab mengajarkan kepada jemaat di Galatia (Galatia 3:1-5). Mereka sudah percaya Kristus dan masuk ajaran yang lain. Meskipun ajaran sesat secara literal nampaknya ajaran mereka tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab, sebab ajaran mereka tidak mengajarkan untuk mencuri, membunuh, berdusta, berzinah, mengingini milik orang, dan tidak menyembah berhala. Jadi ajarannya baik dalam perilaku dan perbuatannya sama dengan Alkitab yaitu tidak melakukan perbuatan jahat atau dosa. Tetap di mata Allah, segala ajaran yang bukan beriman kepada Yesus berarti ada di luar Kristus. Sebab setiap orang yang berada di luar Kristus akan berakhir dengan kebinasaan. Menurut Roma 8:1, hanya mereka yang ada dalam Kristus yang bebas dari hukuman.

MENURUT AJARAN TURUN TEMURUN
Ajaran sesat berusaha merampas Yesus yang sangat berharga dari diri kita. Karena ajaran sesat tidak menutup kemungkinan diwariskan secara turun-temurun oleh kaum keluarga. Namun pengikut Yesus yang sejati, tidak akan mewariskan kepada anak cucu ajaran yang bertentangan dengan firman Allah. Karena itu jugalah rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius sebagai gembala muda dalam 1 Timotius 4:1-6 untuk:

  • Ayat 6 – Mengajar jemaat agar berhati-hati dengan ajaran sesat.
  • Ayat 8 – berjalan sesuai tapak kaki Yesus dalam menjalani hidup kekristean, bukan hanya datang beribadah.

Karena kalau kita ingin hidup berkenan kepada Tuhan dan menjadi sempurna, tidak ada pilihan lain, kita harus tetap di dalam Yesus dan menolak ajaran turun-temurun yang bisa membuat kita keluar dari Yesus karena standar kita hanyalah firman Allah, 1 Tesalonika 4:1-8.

MENURUT ROH-ROH DUNIA
Bagian yang berikutnya adalah ajaran menurut roh-roh dunia. Ajaran menurut roh-roh dunia adalah ajaran spiritisme yaitu orang-orang yang bersekutu dengan hal-hal gaib atau mistis. Pengikut Yesus yang sejati adalah orang-orang yang telah mengerti dan menyadari bahwa ia harus menjauhkan diri dari roh-roh dunia yaitu hal-hal magic, gaib/spiritisme.

Perhatikan!
Ulangan 18:10,11 “Di antaramu janganlah didapati seorangpun  yang  mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya  perempuan  sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.”

Ulangan 18:12 “Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Tuhan, Allahmu menghalau mereka dari hadapanmu.”

Jadi jelas bahwa ajaran menurut roh-roh dunia bertentangan dengan kehendak Allah dan merupakan suatu kejijikan di mata Allah. Sebuah contoh dalam 1 Samuel 28:1-25, Saul binasa dengan mati bunuh diri, karena Saul memutuskan hubungan dengan Tuhan dan membangun atau mengikat hubungan dengan iblis (spiritisme).

KESIMPULAN
Jadi sangat jelas firman Tuhan disampaikan kepada setiap kita saat ini, untuk lebih waspada dengan ajaran sesat, yaitu filsafat yang kosong, ajaran turun-temurun yang diwariskan kepada anak dan cucu, termasuk ajaran dari roh-roh dunia karena ajaran itu ada diluar Kristus. Sebab jika kita tidak menjauhi ajaran-ajaran sesat ini, kita akan binasa dalam kematian kekal.

Oleh karena itu, baiklah kita menjadi pengikut Yesus yang sejati dengan mengikuti ajaran firman Allah secara tetap dengan mengikuti jejak kaki Yesus yaitu hidup didalam firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

JEMAAT TEGUH, KUAT DAN BERAKAR – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 1 Desember 2019)

Kolose 2:6-8

PENDAHULUAN
Dalam Kitab Kolose disampaikan bahwa rasul Paulus sangat bersyukur kepada Tuhan atas pertumbuhan jemaat di Kolose. Bahwa ia melihat, jemaat Kolose semakin bertumbuh didalam Tuhan. Meski demikian, rasul Paulus tetap berusaha menasihati jemaat di Kolose, agar tetap di dalam Yesus, kuat seperti pohon yang akarnya tertanam dalam sehingga iman pengharapan dan kasih jemaat kepada Yesus tidak bisa digoyahkan oleh apa pun juga. Khususnya pengaruh yang paling hebat dan berkembang di akhir zaman adalah pengaruh ajaran sesat.

Jadi rasul Paulus tidak mau jemaat menjadi lengah dalam pengiringan mereka kepada Yesus. Karena Iblis  tidak  pernah  berhenti  dan  tidak pernah  menjadi  lelah  menyeret  kita  dari Kristus untuk membinasakan kita, salah satunya melalui ajaran sesat. Perhatikan dalam Matius 24:24. Dikatakan bahwa mereka akan muncul dan sudah muncul sekarang, sehingga perbuatan mereka mampu menyesatkan orang pilihan yaitu setiap orang percaya termasuk para hamba-hamba Tuhan yang melayani. Dan kepada jemaat Efesus, rasul Paulus memperingatkan dalam Kisah Para Rasul 20:29, akan muncul serigala-serigala yang buas sehingga mereka binasa. Istilah mesias palsu, nabi palsu dan serigala-serigala adalah para ajaran sesat. Melihat kondisi yang demikian maka Tuhan memakai rasul Paulus untuk menasehati jemaat Kolose dan gereja Tuhan di akhir zaman agar tidak mudah terseret dan binasa. Apa sajakah nasihat firman Allah tersebut?

MENGINGATKAN JEMAAT
1. Tetap di dalam Dia (Yesus), Kolose 2:6
Nasihat yang pertama adalah bahwa setiap pengikut Kristus harus tetap didalam Yesus.  Kata “tetap” mengandung arti harus mengikuti jejak tapak kaki Yesus secara presisi atau secara tepat. Meskipun sudah ada 20, 50 atau 100 orang yang mengikuti Yesus, jejak-Nya tidak boleh berubah. Harus sama seperti jejak Yesus dan jejak yang ditinggalkan Yesus adalah firman Allah.

Tetap didalam Yesus juga mengandung arti hidup menurut tuntunan Roh Kudus, bukan keinginan daging (Roma 8:4).  Ingat penglihatan dari nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 1:7,9, bahwa mahluk itu berjalan lurus ke depan. Profil makhluk yang dilihat Yehezkiel dalam  Yehezkiel 1 tidak lain adalah profil Yesus, yang berjalan lurus di hadapan Bapa di sorga. Seperti yang dijelaskan dalam keempat injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Meskipun keempat injil ditulis dalam sisi yang berbeda tentang Yesus, namun semua injil menuliskan bahwa Yesus berkenan dihadapan Bapa (Matius 3:17). Jadi selama Yesus hidup di dunia ini, Yesus berjalan lurus dihadapan Bapa. Demikianpun dengan kita jika ingin tetap yaitu hidup kita berkenan di hadapan Bapa di sorga. Berakar artinya tidak mudah disesatkan, maka cara hidup kita harus berjalan seperti ketika Yesus hidup di muka bumi ini, yaitu berjalan lurus sesuai firman Tuhan. 1 Yohanes 2:6, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, (Yesus), ia wajib  hidup sama seperti Kristus telah hidup.”

2. Berakar di dalam Dia, Kolose 2:7
Dalam Alkitab, Tuhan Yesus banyak sekali menyinggung tentang akar. Sepeti yang tercatat dalam Matius 13:1-23, Yesus bicara tentang 4 jenis tanah, yang ditaburi benih (firman Allah). Tapi sangat menyedihkan, dari 4 (keempat) jenis tanah yang ditaburi benih:
a). Ada tanah yang sama sekali tidak terima benih
b). Akarnya tidak tumbuh sebab terhalang batu
c). Akarnya tumbuh, tapi mati terhimpit duri
d). Hanya satu tanah yang ketika ditaburi benih, tanah itu berakar, tumbuh dan berbuah 30 kali ganda; 60 kali ganda dan 100 kali ganda

Mengapa ada yang tidak berakar? Dalam Yohanes 15 dicatat tentang pokok anggur dan cabang yang tidak berbuah serta dikerat. Cabang yang tidak berbuah adalah cabang yang tidak melekat erat dengan batang, seperti pohon yang tidak berakar. Jemaat yaitu pengikut Yesus yang sejati, yang teguh dan berakar (berdaya tahan) adalah jemaat yang berjalan sesuai firman Tuhan. Dengan lain kata, pengikut Yesus yang sejati adalah jemaat yang setia dalam segala aspek hidup selama ia hidup di muka bumi.

Sebuah contoh dalam alkitab, seorang yang memiliki tanah hati yang tidak teguh serta berakar karena masih ada batu-batu penghalang dalam dirinya. Ia adalah seorang pelayan Tuhan bernama Ahitofel.

AHITOFEL
Ahitofel adalah pelayan semasa Pemerintahan Daud. Ia adalah penasihat Daud yang sangat handal dan dipakai Tuhan. 1 Tawarikh 27:33 “Ahitofel adalah penasihat raja (Daud); Husai orang Arkhi, adalah sahabat raja (raja Daud).” Tetapi, amat disayangkan, ketika Absalom (anak Daud) mengadakan kudeta dan melakukan pemberontakan kepada Daud, ayahnya, Ahitofel berpihak kepada Absalom dan memilih melakukan perlawanan terhadap Daud. Sehingga Daud melarikan diri dari Yerusalem (2 Samuel 15:13-37). Dalam pelarian itu Daud berdoa kepada Tuhan. Daud berdoa kepada Tuhan dalam 2 Samuel 15:31, agar Tuhan sekiranya menggagalkan nasihat Ahitofel.

Apakah nasihat Ahitofel pada Absalom? Nasihat pertama dalam 2 Samuel 16:22, Ahitofel menasihati Absalom untuk meniduri gundi-gundik Daud di atas sotoh dan dipertontonkan kepada umat Israel. Absalom mengikuti nasihat Ahitofel, sebab menurut 2 Samuel 16:23, nasihat Ahitofel sama dengan nasihat yang datang dari Tuhan. Nasihat kedua, dalam 2 Samuel 17:1-4, Ahitofel meminta12.000 tentara untuk menyerang Daud dan permintaannya disetujui, tetapi atas kehendak Tuhan, nasihat Ahitofel digagalkan oleh Husai sahabat Daud yang berpura-pura menjadi pengikut Absalom. Maka dalam suatu pertempuran (2 Samuel 18:1-18) Absalom mati, kepalanya tersangkut di pohon terbantin. Yoab, panglima perang Daud membunuh Absalom dengan 3 lembing  dan 10 pembawa senjata Yoab menikam dan memukuli Absalom sampai mati.

PENUTUP
Mengapa Ahitofel, orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bisa membelot seperti pohon yang tidak teguh dan tidak berakar? Jika diperhatikan nama Ahitofel, dalam bahasa Ibrani dituliuskan אחיתפל, mengandung arti: “Saudara laki-laki yang tawar hati (foolish).”

Kebodohan dan ketidaksetiaan Ahitofel tentu ada penyebabnya. Selidiki 2 Samuel 23:34. Dijelaskan Ahitofel memiliki anak bernama Eliam, yang adalah salah seorang pahlawan Daud, dan Eliam memiliki anak perempuan bernama Batsyeba, cucu Ahitofel (istri Uria). Tetapi, keluarga Batsyeba dan Uria dihancurkan oleh Daud, karena Daud telah meniduri Batsyeba. Dengan cara yang licik dan curang Daud membunuh Uria suami Batsyeba. Dengan demikian motif utama pengkhianatan Ahitofel terhadap Daud sehingga ia membelot kepada Absalom dan melawan Daud adalah karena roh kebencian, dendam, dan merasa sakit hati, sebab anaknya Eliam dan cucunya bernama Batsyeba, yang sudah mengabdi secara total kepada Daud telah dihancurkan oleh Daud sendiri. Daud pasti tahu bahwa Batsyeba adalah cucu Ahitofel.

Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa Ahitofel berusaha membalas Daud dengan perbuatan yang lebih kejam, yaitu dengan memberi nasihat kepada Absalom untuk meniduri gundik-gundik Daud di atas sotoh rumah, sehingga seluruh orang Israel bisa melihatnya (2 Samuel 16:20-22). Sebab itu, tidak heran kalau Daud mengalami ketakutan yang luar biasa ketika tahu Ahitofel bersekongkol dengan Absalom, anaknya, 2 Samuel15:31.

Perasaan sakit hati dan dendam yang telah menimbulkan pembalasan keji, sehingga Ahitofel begitu rapuh (tidak kokoh) seperti pohon yang tercabut dari akarnya lalu bergeser ke posisi  yang salah dan jahat di mata Tuhan. Ahitofel berkali-kali berusaha melakukan pembalasan tetapi gagal. Pada akhirnya Ahitofel merasa malu dan memilih bunuh diri dengan cara  gantung diri di rumahnya, 2 Samuel 17:23.

Ahitofel adalah model dari orang Kristen yang tidak kokoh kuat dalam Yesus, seperti pohon yang tidak berakar, hatinya seperti tanah berbatu. “Kita adalah pendusta besar dihadapan Tuhan, bila kita makan minum perjamuan suci, dimana kita mendapat pengampunan dari Tuhan Yesus, tapi kita sendiri tidak pernah bisa mengampuni orang lain.”

Iman dan Belas Kasihan – oleh Pdt. Heintje Talumewo, GPdI Getsemani – Manado (Ibadah Raya 3 – Minggu, 24 November 2019)

Dalam Matius 23:23, ada 3 hal yang penting yang disampaikan yaitu belas kasihan, iman dan kesetiaan. Iman dalam Yesus, menerobos hal-hal yang sukar dalam hidup. Contoh seorang wanita yang datang kepada Yesus dalam Matius 15:21-28. Wanita Siro Fenisia adalah wanita kafir. Namun imannya membawanya mengalami kuasa Allah. Dengan iman ia datang meminta belas kasihan Yesus. Ia melangkah kepada tangga kekristenan yang berikutnya. Tanpa mengetahui tangga selanjutnya, karena menyerahkan kepada kehendak Allah. Rasul Yohanes mengatakan bahwa yang mengalakan dunia adalah iman kita.

Ada 2 hal tentang iman:
1. Iman kepada Yesus (keselamatan)
2. Iman yang memindahkan gunung (pengharapan kepada Allah – kuasa Allah)

Dalam Galatia 3:14,  saat Yesus disalib yang terjadi:
1. Mengampuni kita dan masuk kerajaan Allah
2. Menyembuhkan
3. Memberkati
Semua diperoleh dengan iman.

Lewat iman dalam Yesus kita juga menerima berkat Abraham, yaitu:

  1. Bangsa yang besar
  2. Nama yang masyur
  3. Mulplikasi
  4. Kesehatan
  5. Berkat raja-raja
  6. Kemenangan atas musuh
  7. Berkat materi
  8. Berkat rohani
    Dan tanggung jawab kita, saat menerima berkat adalah miliki belas kasihan agar tidak menjadi sombong.

BELAS KASIHAN
Selain iman, poin yang kedua adalah belas kasihan Allah. Artinya,  selain kita memiliki iman, biarlah belas kasihan Allah yang terjadi. Artinya kehendak Allah yang terlaksana bukan kehendak kita. Jika Allah berkehendak mendengar doa dan melaksanakan apa yang kita imani, maka semua adalah kasih karunia. Inilah iman yang memindahkan gunung yaitu pengharapan kepada Allah.

Iman memindahkan gunung bukan hanya untuk kesenangan jasmani diaman kita beriman untuk kesenangan pribadi, sehingga mudah kecewa bila apa yang kita imani tidak terjadi.  Biarlah sebagai orang percaya, iman kita bertumbuh semakin dewasa didalam Kristus. Sehingga bila kita diberkati,  kita tidak melupakan bahwa ini adalah belas kasihan Allah atas hidup kita. Dan bila iman kita belum terjawab atau tidak terjadi, maka kita tidak menjadi kecewa bahkan meninggalkan Tuhan.

Milikilah iman seperti wanita Siro Fenisia,  yang mengalami mujizat sebab belas kasihan Allah. Ia tidak memaksa Tuhan dengan imannya melainkan Tuhan yang berkehendak. Dan oleh belas kasihan Allah ini juga, biarlah ada dalam hidup kita.

Berkat belas kasihan Allah
Dalam mempergunakan setiap berkat Allah jangan kita seperti:
1. Orang Isarel, mereka dibuang ke Babel karena egois, sebab mereka mengabaikan perintah Tuhan yaitu belas kasihan.
2. Para imam melupakan yang terutama yaitu belas kasihan.
3. Kisah orang kaya dan Lazarus. Orang kaya ini sudah menerima belas kasihan Allah dan berkat Allah tetapi lupa untuk memberikan belas kasihan kepada orang lain.

Kiranya iman kita terus bertumbuh dalam Kristus, bukan lagi untuk hal jasmani kita beriman.  Dalam hal rohani juga kita meningkat. Masalah selalu ada, namun biarlah kehendak dan belas kasihan Allah yang terjadi. Tuhan Yesus kiranya menolong setiap kita untuk berjalan dalam iman dan belas kasihan Allah.

BERKAT DARI SUMBER HIKMAT seri 5: PERLIPATGANDAAN BERKAT – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 24 November 2019)

AMSAL 3:9-10

Amsal 3:9-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah adalah untuk dapat memuliakan Tuhan. Ada begitu banyak cara untuk memuliakan Tuhan, salah satunya “Berkat Kepemilikan.”

Kepemilikan disini diuraikan dengan jelas dalam dua jenis :
1. Hartamu
Yaitu semua jenis kekayaan yang dimiliki. Bisa berupa benda materi, tetapi termasuk juga non materi seperti kepandaian, keahlian, tenaga.

2. Hasil pertama dari segala penghasilanmu.
Ini yang disebut sebagai buah sulung atau hulu hasil. Bangsa Israel memberikan persembahan ini sebagai rasa hormat dan menghargai Tuhan, karena Tuhanlah yang memberikan berkat atas segala yang diusahakan bangsa Israel.

Tuhan memberi pernyataan tegas tentang kekayaan dan penghasilan pertama yang dipersembahkan kepada Tuhan. Selain dari yang tertulis pada ayat pokok di atas, juga tertulis dalam,  Lukas 6:38a “Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu…”

TENTANG HARTA
Harta, selain dapat dilipatgandakan lewat korban dan persembahan, juga merupakan ujian yang berat bagi pemiliknya.

Matius 6:27 “Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.”
Tuhan memberkati manusia dengan harta, tujuannya agar harta itu dapat menjadi alat untuk memuliakan-Nya, tetapi pada kenyataannya tidak sedikit orang justru menjadikan harta itu sebagai tuhannya, sehingga…

Matius 6:24 “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Mamon adalah sebuah istilah kata dalam bahasa Aram, yang artinya harta duniawi, yang dipresentasikan sebagai uang, karena semua yang menyangkut harta di dunia ini, selalu di nilai dengan uang. Tuhan tidak melarang kita untuk menjadi kaya dengan memiliki banyak uang karena selama kita hidup di bumi ini, kita sangat membutuhkannya. Uang dapat menjadi sahabat yang baik, jika kita mampu menguasai dan mengendalikannya.

Lukas 16:9 “Dan Aku berkata kepadamu, ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Dengan menggunakan Mamon/uang, kita dapat mengikat persahabatan dengan bebas untuk memberitakan kabar keselamatan dari Tuhan dan memuliakan nama Tuhan. Kita bisa bangun gereja, membeli semua fasilitas untuk beritakan Injil Tuhan. Sebaliknya jika uang menguasai dan memperhamba manusia, maka ia akan menjadi tuan yang kejam.

1 Timotius 6:10 “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Manusia menjadi lupa diri menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang memperbudaknya, sehingga menyimpang dari iman dan kebenaran firman yang berakhir pada kebinasaan.

 MULIAKANLAH TUHAN DENGAN HARTAMU
Harta itu relatif, bagi orang kaya uang, emas, jabatan dan benda-benda mewah itulah hartanya. Bagi orang sederhana, apa yang ada padanya itu sudah merupakan hartanya.  Memuliakan Tuhan dengan hartamu, tidak berarti kita tidak boleh menyimpan harta kita untuk keperluan anak cucu kita. Tetapi Tuhan mengajar kita untuk dapat mengelola berkat dengan bijaksana sesuai bagiannya.

Perhatikan 2 Korintus 9:10 “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran.”  

 Ada tiga hal tentang benih yang semuanya dari Tuhan dalam ayat ini, dimana Tuhan mengajar kita untuk mengelola keuangan kita :

  1. Benih untuk ditabur. Ini adalah modal dari Tuhan untuk diusahakan.
  2. Roti untuk dimakan. Ini adalah bagian dari hasil usaha yang dapat kita nikmati untuk dimakan dan disimpan.
  3. Benih untuk melipatgandakan. Yang ini adalah hasil tuaian dari benih yang ditabur, selain untuk dimakan, juga sebagian untuk diinvestasikan agar menjadi berlipat ganda. Ada dua jenis investasi disini :
    – Ditanam di bumi sebagai modal untuk mendapatkan hasil yang dapat dinikmati selagi hidup di bumi yang hanya 70-80 tahun saja.
    – Diinvestasikan ke Sorga, melalui pekerjaan Tuhan dan memuliakan Tuhan di bumi, yang nantinya kita akan dapatkan kembali sebagai pahala di sorga.

Perhatikan nasehat Tuhan: Yohanes 6:27a “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal……”

Jangan hanya mencari harta untuk jasmani saja, tetapi juga untuk hal yang kekal, sebab  Matius 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?  Ini bagi orang yang hanya menggunakan hartanya untuk kepentingan duniawi saja. Memang ia dapat menikmatinya selagi hidup yang hanya 70-80 tahun saja, tetapi ia binasa setelah kematiannya.

Matius 6:19-20 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

 Ada tiga musuh harta kepemilikan kita di bumi yaitu ngengat merusak pakaian, karat merusak logam termasuk  emas dan perak (Yak 5:1-3) dan pencuri kapan saja dapat menjarah harta kita. Tuhan mau supaya kita menyimpan atau menginvestasikan harta di sorga. Apakah ada Bank di sorga ? Bagaimana caranya? Segala sesuatu yang kita berikan bagi kepentingan pelayanan kepada Tuhan adalah investasi kita ke Sorga. Dari hal yang paling kecil dan sepele sekalipun Tuhan perhatikan.

Matius 10:42 “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu, Sesunggunya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Perhatikan yang yang menjadi perhatian bukan kepada siapa kita memberinya, tetapi kepada “karena ia murid-KU”. Jadi segala sesuatu yang kita berikan karena Tuhan, itu adalah investasi kepada kerajaan sorga.

Mengapa Tuhan memerintahkan agar harta kita dipakai untuk memuliakan Tuhan ?

  • Sudah menjadi tujuan Tuhan kita diberkati agar dapat digunakan bagi kemuliaan-Nya.
  • Agar kita dapat terus dipercaya mengelola berkat dari Tuhan.
  • Sebagai alat uji untuk mengetahui apakah kita lebih mengasihi Tuhan sebagai sang pemberi berkat atau lebih mengasihi berkat-Nya yang dipercayakan kepada kita. Ingat Matius 6:27 “Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.”

 Contoh: Matius 19:16-23, tentang seorang muda yang kaya datang kepada Yesus menanyakan, perbuatan baik apakah yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus memberikan ENAM perintah Allah kepada pemuda itu untuk dilakukan, yaitu jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,  hormatilah ayahmu dan ibumu,  kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Apa jawab dari pemuda kaya itu ?

Matius 19:20-22 “Kata orang muda itu kepada-Nya: Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang ? Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”

 Orang muda yang kaya itu dapat melakukan enam perintah Allah, tapi ketika diminta berkorban, ia tidak merespon. Mengapa? Ia lebih berpegang kepada hartanya yang hanya sementara daripada mempercayai Yesus sebagai pemilik berkat Itu. Apa sebenarnya yang Tuhan harapkan dari pemuda kaya itu? Sama seperti Yesus, nilai pegorbanannya.  Ketika kita memiliki nilai pengorbanan kepada Tuhan atas segala kepemilikkan kita, sebenarnya tidak ada yang berkurang dari apa yang kita miliki. Mengapa Yesus menilai persembahan janda yang miskin itu yang hanya dua peser dinilai lebih besar dari persembahan orang farisi yang kaya? Karena nilai pengorbanannya, bukan pada jumlahnya. Semakin kita mempercayakannya harta kita kepada Tuhan untuk kemuliaanNya, Tuhan akan lebih mempercayakan harta itu pada kita.

Amsal 3: 9-10 “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”

Lumbung berbicara tentang persediaan. Tuhan sanggup cukupkan sampai ke anak cucu.  Bejana pemerahan berbicara tentang hasil usaha, akan dilimpahi hingga meluap, artinya mendapat kelebihan. Kita diberkati untuk menjadi berkat, dan kita dipercaya untuk mengerjakan berkat yang dipercayakan untuk kemulian Tuhan, maka perlipatgandaan berkat Tuhan akan berlaku bagi kita. Jangan tunda apa yang Tuhan percayakan kepada kita tentang berkat yang Tuhan limpahkan, sebab akan datang waktu kita terlambat yaitu saat AntiKris berkuasa di bumi ini. Semua harta kepemilikan kita akan dirampas dan diatur oleh antiKris, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa bebas untuk menjual dan membeli tidak ada lagi kesempatan untuk mempersembahkan harta kita bagi Tuhan.

Wahyu 13:17 “..Tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.” Waktu sekaranglah waktu untuk menginvestasikan harta kita bagi kemuliaan Tuhan dan perlipatgandaan berkat menjadi bagian kita, sampai pada kekekalan.

Kebahagiaan Sejati – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 24 November 2019)

Hampir semua orang yang hidup di dunia ini ini tujuan hidupnya mencari dan memiliki kebahagiaan. Itu sebabnya mereka bekerja pagi, siang, sore sampai malam untuk mendapatkan sesuatu demi mencapai sebuah kebahagiaan. Namun apakah mereka memiliki kebahagiaan yang sejati?

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan hal jasmani/ lahiriah
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan hal-hal jasmani atau lahirnya kecantikan seseorang yang dapat membuatnya berbahagia. Namun fisik manusia dapat berubah seiring dengan perubahan tersebut sehingga hilang juga kebahagiaan yang didapat dari hal-hal fisik.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan materi
Kebahagiaan sejati tidak dapat diukur dengan materi sebanyak apapun materi yang dimiliki. Memang materi dapat memenuhi kebutuhan orang tersebut bahkan hal-hal yang menyangkut kesenangan seperti membeli sesuatu ataupun dapat berlibur untuk menikmati kebahagiaan. Namun kita harus menyadari bahwa materi sewaktu-waktu dapat hilang dicuri orang dan lain dan sebagainya. Seiring hal tersebut terjadi, hilang juga kebahagiaan yang sudah pernah didapatkan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan perasaan
Kebahagiaan sejati tidak juga didapat dari perasaan senang, gembira atau apapun yang kita bisa dapatkan. Mengapa? karena perasaan kita begitu cepat berubah seiring perubahan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan, kebahagiaan tersebutpun dapat berubah menjadi kesedihan.

Kebahagiaan sejati, tidak dapat diukur dengan kedudukan
Begitu juga dengan kedudukan yang bersifat sementara. Banyak orang meraihnya untuk memperoleh kebahagiaan, penghormatan, dihargai dan diakui. Namun pada kenyataannya setelah kedudukan tersebut hilang, hilang juga kebahagiaan yang ada.

Semuanya sementara
Kita harus mengakui bahwa hal-hal materi, fisik, lahiriah, jasmani, perasaan, kedudukan hanyalah sesuatu yang bersifat sementara, yang tidak dapat menjamin bahwa kebahagiaan yang kita miliki bersifat permanen.

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki hal-hal tersebut, apakah mereka pasti tidak berbahagia ? Belum tentu. Itulah sebabnya mengapa hal-hal tersebut tidak dapat menghasilkan kebahagiaan sejati.

Blessed – Diberkati
Dalam salinan bahasa Inggris kata berbahagialah disini disalin dengan menggunakan kata Blessed, yang artinya diberkati. Kata diberkati ini tidak terhubung dengan sumber yang berasal dari dunia ini tetapi dari Tuhan.

Dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan terhubung dengan spiritual kita yaitu roh manusia kita. Jadi jikalau kita mau mengalami kebahagiaan sejati perhatikanlah kebutuhan roh manusia kita.

Bagaimana memiliki “Kebahagiaan Sejati” menurut Mazmur 1 ini?
1. Jangan berjalan menurut nasihat orang fasik, jangan berdiri dijalan orang berdosa dan jangan duduk dalam kumpulan pencemooh.

Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan mungkin saja mendengar ada unsur kebahagiaan yang terdapat pada nasihat orang fasik atau juga karena melihat kebahagiaan dari cara hidup orang berdosa atau juga mendapat kesenangan ketika duduk dalam kumpulan pencemooh yang merasa dirinya lebih benar dari orang lain.

Namun nasehat firman Tuhan sangat jelas, untuk memiliki Bahagia yang sejati, kita jangan terpengaruh untuk berada dalam keadaan-keadaan tersebut yang coba ditawarkan dunia kepada kita.

2. Kesukaan/kebutuhan utama kita adalah Firman Tuhan.
Jadi jika berkat ada hubungannya dengan pribadi Tuhan dan Tuhan yang adalah roh itu selalu berhubungan dengan roh manusia kita maka jika kita ingin mengalami kebahagiaan sejati, kita harus mengisi kebutuhan roh manusia kita dengan Taurat Tuhan atau firman Tuhan.

Dalam firman Tuhan tertulis ‘yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan’. Kesukaan bukan hanya sekedar seperti sebuah tawaran yaitu bisa kita terima atau kita tolak. Kesukaan merujuk kepada sebuah kebutuhan yang mau tidak mau harus kita penuhi seperti orang yang membutuhkan makanan dan minuman untuk setiap hari. Jika untuk makanan jasmani saja kita membutuhkan makanan paling sedikit 3 kali sehari dan minuman kurang lebih 8 liter, lalu bagaimana dengan makanan rohani kita?

Apakah kita berpikir cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani kita hanya seminggu sekali? Bayangkan kekuatan apa yang kita bisa dapatkan dalam spiritual kita jika menyukai firman Tuhan hanya seminggu sekali. Sedangkan hampir setiap hari kita menemui dan dipenuhi banyak persoalan, pergumulan dan masalah dalam kehidupan. Darimana kekuatan kita untuk bisa bertahan dan menang menghadapi hal-hal tersebut?

Jadi untuk mengalami kebahagiaan sejati kita juga harus menyukai firman Tuhan setiap hari. Kita membutuhkan manusia roh kita kuat dan stabil untuk dapat mempengaruhi jiwa kita yang selalu mengalami tekanan perubahan yang berasal dari perubahan yang muncul dari hal-hal lahiriah atau jasmaniah. Sehingga jiwa kita dapat stabil ketika menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Satu-satunya yang ‘sangat-sangat’ stabil di dalam dunia ini adalah Firman Tuhan. Yesus berkata langit dan bumi akan berlalu tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu. Langit dan bumi akan tergoncang dan satu-satunya yang tetap stabil tidak akan tergoncang adalah Firman Tuhan yang hidup dan berkuasa.

3. Lebih lanjut kebahagiaan sejati didapatkan ketika kita merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam
Salah satu kebutuhan manusia roh kita yaitu firman Tuhan namun firman Tuhan yang kita dengar harus melewati banyak tantangan seperti ketika seorang penabur menaburkan benih firman Tuhan. Hanya satu jenis tanah yang baik dari 4 jenis tanah yang ada.

Demikian juga ketika kita mendengar firman Tuhan tantangan utamanya adalah bahwa tubuh kita tidak menyukainya. Apalagi ketika tubuh kita sedang lelah atau sakit, sulit bagi Firman itu untuk dapat sampai masuk ke dalam roh manusia kita. Belum lagi tantangan yang harus dihadapi dimana firman Tuhan yang kita dengar harus dapat menembus jiwa kita. Di dalam jiwa kita ada pemikiran-pemikiran logika manusia yang terkadang menolak Firman yang kita dengar dengan alasan yang logis. Belum lagi Firman itu harus menembus perasaan-perasaan kecewa, kepahitan dan luka-luka batin yang terdapat pada perasaan manusia. Jadi jalan keluarnya adalah (mau tidak mau) Firman yang kita dengar harus kita renungkan siang dan malam.

Merenungkan Firman sama seperti hewan Ruminansia (mamalia) memproses makanan yang dimakannya. Hewan ruminansia dapat mengunyah atau memamah makanannya melalui dua fase. Fase pertama terjadi pada saat awal makanan masuk, makanan hanya dikunyah sebentar dan masih dalam tekstur yang kasar. Selanjutnya makanan akan disimpan di dalam rumen lambung. Fase kedua yaitu ketika rumen sudah penuh, hewan ruminansia akan mengeluarkan makanan yang dikunyahnya tadi untuk dikunyah kembali hingga teksturnya lebih halus. Kemudian makanan akan masuk ke dalam lambung lagi untuk diteruskan ke usus halus yang berfungsi menyerap sari-sari makanan yang telah diproses di dalam lambung. Sari-sari makanan yang diserap kemudian diedarkan ke seluruh tubuh dan diubah menjadi energi.

Demikian juga seharusnya proses perenungan Firman sampai kepada Firman itu menjadi Rhema yang memberkati diri kita, yang memberi makan manusia roh kita untuk menjadi kuat dan sehat.

Beberapa langkah merenungkan firman antara lain:

  • Memikirkan Firman (think)
  • Mendeklarasikan Firman (declare)
  • Membicarakan Firman (talk)
  • Menyanyikan Firman (sing)

Contoh: Mazmur 1:3 (TB)
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

  • Setelah kita mendengar atau membaca ayat tersebut kita taruh dalam ingatan kita kemudian di manapun kita berada ada atau sedang melakukan apapun kita ingat kembali ayat tersebut mengucapkannya berulang-ulang dalam hati ataupun dengan suara yang kecil.
  • Setelah kita merasakan diberkati oleh ayat tersebut kita deklarasikan bagi diri kita dengan penuh keyakinan bahwa ayat tersebut mengingatkan kita bahwa orang yang mengalami kebahagiaan sejati, ia seperti pohon yang ditanam di tepi air.
  • Setelah kita merasa diberkati dengan ayat tersebut kita perlu membagikannya baik lewat sosial media ataupun membicarakannya dengan rekan-rekan kita di manapun kita berada.
  • Kita juga dapat menyanyikan ayat tersebut ketika kita sedang berdoa dan menyembah Tuhan sehingga ayat tersebut benar-benar tercerna sampai ke dalam manusia roh kita. Saya yakin dan percaya ayat tersebut menjadi hidup dan mulai menguasai hati dan pikiran kita yang berdampak pada tindakan kita yang sesuai dengan firman Tuhan.

Orang yang mengalami kebahagiaan sejati, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Keadaan dan situasi bisa berubah, semua musim kehidupan dapat terjadi pada orang benar, namun ia tetap mengalami kebahagiaan sejati, mengapa? Karena perenungannya firman Tuhan akan dapat melewatinya dengan penuh kemenangan.

Selanjutnya kualitas kebahagiaan dan kehidupan orang fasik begitu ringan. Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Mereka tidak akan tahan dalam ujian kehidupan, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; di penghujung dari semuanya, jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Ulangan 6:6-9 (TB)
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”