HATI-HATI TERHADAP KEMALASAN DAN KEMURTADAN (Peringatan Ketiga) – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 20 Januari 2019)

Ibrani 5:11 – 6:6

PENDAHULUAN
Beberapa minggu yang lalu telah dibahas beberapa peringatan bagi orang percaya, yaitu:

  1. Bahwa setiap orang percaya harus memperhatikan dan jangan mengabaikan apa Tuhan firmankan. Sebab jikalau diabaikan atau lalai, kita dapat hanyut terseret arus yang menyeret kita kepada kebinasaan.
  2. Jangan sampai tidak masuk ke tempat perhentian yaitu, Kanaan sorgawi, karena tidak memiliki penguasaan diri terhadap godaan-godaan yang disodorkan Iblis.
  3. Berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat kita murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Dan poin ketiga inilah yang akan kita bahas selanjutnya, yaitu berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

PENYEBAB KEMURTADAN
Tidak menutup kemungkinan, seorang pengikut Yesus dapat murtad dan menyangkal bahkan menjadi pelawan Yesus karena orang tersebut “Lamban Dalam Mendengar Firman Tuhan.” Kalau kita baca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya nasihat-nasihat Tuhan Yesus dan para rasul serta kitab Wahyu, firman Allah banyak menekankan tentang hal “mendengar” sekaligus berbicara tentang lamban dalam mendengar.

Mungkin Saudara bertanya: Apa yang dimaksud “Lamban dalam mendengar firman Tuhan…?” Orang yang lamban dalam mendengar firman Tuhan, tentu saja bukan menunjuk kepada orang yang belum percaya kepada Yesus, yaitu orang yang menolak firman Tuhan. Bukan juga orang yang malas ke gereja, sehingga jarang mendengar firman Tuhan. Atau orang itu ke gereja, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan.

Kalau begitu siapa dan seperti apa orang yang disebut: Lamban dalam mendengar firman Tuhan? Orang yang lamban dalam mendengar firman Allah, sudah pasti orang tersebut adalah orang yang rajin ke gereja; aktif di jemaat bahkan kalau dengar firman Tuhan, mencatat, hafal firman Tuhan sehingga tidak menutup kemungkinan orang itu juga terlibat melayani Tuhan. Tetapi mereka hanya sebatas mendengar.

Jadi mereka mendengar Firman Allah hanya sebatas di telinga dan pikiran (jiwanya), sehingga ia faham atau mengerti firman Tuhan, bahkan mahir mengkhotbahkan firman Tuhan. Tetapi ia hanya dengar firman Tuhan dengan telinga dan pikirannya tetapi tidak dengan hatinya. Orang yang tidak memasukkan firman yang ia dengar dan ia mengerti ke dalam hatinya, ia tidak akan pernah bisa MENGASIHI firman Allah dan MELAKUKAN firman Allah.

Orang Kristen yang malas, yaitu orang Kristen yang hanya mendengar firman Allah tetapi tidak memasukkan firman itu dalam hatinya dan melakukan firman Allah tersebut, Yesus umpamakan seperti orang yang bodoh (bukan orang yang bijaksana). Dan orang yang bodoh Tuhan Yesus umpamakan seperti orang yang membangun rumah di atas pasir.

Baca dalam Matius 7:26,27 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Orang yang malas yaitu orang kristen yang cuma mendengar firman Allah tetapi tidak mencintai firman Allah, yaitu tidak mempraktekkan firman Allah dalam hidupnya, orang risten seperti itu sangat mudah untuk menjadi murtad.

MURTAD
Kata Murtad dalam bahasa Yunani: APOSTASIA dalam bahasa Inggris: Apostasy, yaitu ada orang yang awalnya percaya kepada Yesus dan berjuang bagi Yesus tetapi dengan kesadaran (sengaja) orang itu meninggalkan iman kepada Yesus sebagai sikap atau bentuk pengkhianatan atau pemberontakan kepada Yesus. Orang yang murtad ialah orang yang tidak punya kesempatan atau peluang untuk bertobat dan dipulihkan kembali. Itu sebabnya dalam Matius 7:27, digambarkan seperti rumah yang roboh diterpa angin, hujan dan banjir sehingga hebatlah kerusakkannya!

HEBATLAH KERUSAKANNYA
Pada umumnya kita lihat jikalau ada rumah roboh karena gempa atau banjir, tetapi reruntuhan rumah tersebut masih ada yang dapat dimanfaatkan (tiang; jendela; kusen; genting; batu bata) – berarti bagian rumah tersebut masih dapat diselamatkan atau dimanfaatkan. Namun, orang yang murtad digambarkan seperti rumah yang kena gempa liquifaksi, tanah tempat rumah itu berdiri tanahnya mencair, sehingga rumah itu roboh dan tenggelam terseret tanah yang mencair menjadi lumpur sehingga tidak dapat lagi diselamatkan atau dimanfaatkan – inilah yang dimaksud hebatlah kerusakannya. Inilah kondisi orang yang Murtad, mereka tidak dapat diselamatkan lagi. Oleh sebab itu, berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Sebuah contoh, yaitu Daud yang  adalah figur atau tipikal anak Tuhan sangat mencintai firman Tuhan. Dan saat Daud dengar firman Tuhan, Daud tidak hanya mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan pikirannya. Tetapi Daud memasukkan firman Allah itu di hatinya dan menerapkan firman Tuhan itu di hidupnya. Hal ini dapat kita baca dalam kitab mazmur yang Daud tulis Mazmur 119:159 “Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu.”

Daud Pernah Gagal
Sebagai manusia, Daud bukan orang yang sempurna, ia pernah gagal dalam melakukan firman Allah. 1 Samuel 24:1-12- mengisahkan bagaimana Saul dan 3.000 tentaranya berusaha menangkap Daud. Saul mendapat informasi bahwa Daud bersembunyi di sebuah gunung, di daerah En-Gedi. Maka Saul dan tentaranya pergi ke tempat tersebut untuk menangkap Daud. Sesampai di sana, Saul ingin buang hajat, lalu ia masuk ke dalam sebuah gua untuk membuang hajatnya. Tetapi Saul tidak tahu kalau di bagian gua yang lebih dalam ada Daud dan orang-orangnya yang sedang bersembunyi. Dengan santai Saul melepas jubahnya dan membuang hajat, tanpa mengetahui bahwa di bagian dalam gua itu ada Daud dengan tentaranya. Pada saat itu Saul benar-benar tidak berdaya. Ayat 5 – anak buah Daud menyuruh agar Daud tidak membuang peluang emas ini. Daud bangun dan dengan pedangnya ia potong punca jubah Saul. Tetapi setelah Daud memotong punca jubah Saul, lalu dikatakan dalam ayat 6 “Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul.”

ADA PERBEDAAN
Kalau kita baca dalam ayat 3, Saul berusaha mencari Daud untuk menangkap dan membunuh Daud, tetapi hati Saul enjoy alias nyaman-nyaman saja. Sedangkan ayat 5, Daud hanya memotong punca jubah Saul, tetapi Tuhan membuat hati Daud berdebar luar biasa. Mengapa ada perbedaan antara Daud dan Saul…?. Karena Daud mendengar firman Allah, dia renungkan firman Allah sampai mengerti. Tapi tidak sampai di situ. Firman Allah itu disimpan dalam hati, artinya firman Allah itu Daud praktekkan.

Perhatikan ucapan Daud di ayat 10, Daud telah menyimpan dan menghidupi firman Allah dalam hatinya bahwa: “orang yang berani menjamah orang yang diurapi Tuhan, orang tersebut tidak akan bebas dari hukuman?” Berbeda dengan Saul, dalam 1 Samuel 10, ketika Saul dilantik menjadi raja, Allah ubah karakter Saul menjadi baru dan sangat ideal sehingga Saul menjadi orang yang rendah hati, tidak mudah tersinggung lalu sakit hati. Memiliki roh pengampunan dan lain sebagainya. Namun dalam kisah ini Saul mengalami perubahan.

Perubahan Saul karena ia malas mendengar firman Allah. Bahkan Firman Allah yang ia terima, ia malas untuk memasukkannya ke dalam hati. Sebab itu Allah tidak mau mendengar permohonan Saul lagi, akhirnya Saul menjadi murtad dan tidak bisa diperbaiki lagi. Saul mengikuti suara Iblis dan bunuh diri!

KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang murtad dapat terjadi kepada orang yang rajin beribadah namun mereka tidak alami pertumbuhan. Karena mereka hanya sekedar rajin beribadah dan melayani, tetapi hatinya tidak bersungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Oleh sebab itu sebagai orang percaya biarlah kita hidup dengan sungguh-sungguh. Seperti Daud yang menyimpan firman dalam hatinya serta melakukannya. Dan firman Tuhan itu menjadi alarm bagi dirinya. Tuhan Yesus memberkati.

HAL KERAJAAN ALLAH – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Januari 2019)

Roma 14:17
“ Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus.”

Bagian awal ayat ini mengatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman….” Dalam Roma 14, Paulus membahas tentang jangan saling menghakimi dan menjadi batu sandungan, dalam masalah ini adalah soal makanan. Paulus menasehati kita, agar jangan sampai pekerjaan Tuhan dirusakkan hanya karena meributkan masalah jasmani yang bersifat sementara yaitu makanan dan minuman. Nasehat yang kedua jangan menghakimi saudara seiman. Betapa seringnya kita tanpa sadar sering menghakimi orang lain dengan penilaian yang salah. Sering kita menilai orang lain dari cara orang bertepuk tangan, cara makan dan kesukaan seseorang, kemudian kita menganggapnya tidak rohani, tidak alkitabiah hanya karena cara dan kesukaan yang berbeda dan tidak umum. Ada hal yang lebih penting yang harus dikejar dari pada meributkan semuanya itu, yaitu Kerajaan Allah.

Berbicara tentang Kerajaan Allah, ada yang berpikir Kerajaan Allah itu nanti, dinikmati kalau sudah sampai di Sorga bukan di bumi. Benarkah demikian? Kerajaan Allah memang ada di Sorga, tetapi suasana sorga dapat dinikmati di bumi ini.  Roma 14:17 – “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita oleh Roh Kudus.” Ada tiga prinsip pelayanan untuk menikmati Kerajaan Allah: Kebenaran ; Damai sejahtera dan Suka cita oleh Roh Kudus. Jika pengiringan dan pelayanan setiap orang percaya berpegang pada tiga prinsip ini, maka menurut Roma 14:18 – “Karena barang siapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.”

 KEBENARAN
Hal yang pertama adalah Kebenaran. Kebenaran menjadi hukum dan undang-undang sekaligus menjadi gaya hidup dan budaya warganya untuk menikmati semua fasilitas Kerajaan Allah. Matius 6:33 – “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.”  Kata “Carilah” adalah kata kerja berkesinambungan, artinya Terus-menerus mencari dengan cara memusatkan perhatian pada nilai-nilai rohani dari Kerajaan Allah. Sebagai contoh Matius 13:45 “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.” Seperti seorang pedagang yang dengan tekun terus-menerus mencari mutiara yang berharga sampai didapatkannya. Bagi manusia nilai tertinggi yang paling berharga dan harus dicari adalah : Keselamatan, yang diindentikan dengan Kerajaan Sorga.

DAN KEBENARANNYA
Bagaimana dengan kebenaran, bukankah tidak ada manusia yang benar dihadapan Allah? Roma 3:23, memang tidak ada manusia yang benar, yang ada adalah manusia yang dibenarkan oleh Tuhan, melalui iman percaya pada penebusan darah Yesus, Roma 3:24,28.  Oleh penebusan Kristus di salib, kita yang percaya dan menerima dikuduskan dan dibenarkan. Posisi inilah yang harus didapatkan. Dibenarkan karena pengampunan inilah yang dapat membawa orang ke dalam Kerajaan Sorga, inilah kebenaran dari orang yang akan mendapatkan Kerajaan sorga, karena tanpa pengampunan melalui penebusan darah Yesus, tidak ada satupun orang yang benar dan orang yang masih berada dalam ketidakbenaran karena dosa tidak mungkin dapat mencapai Kerajaan sorga. Semua warga Kerajaan sorga adalah orang-orang benar dan kudus, karena tanpa kekudusan tidak seorangpun yang dapat melihat Tuhan, Ibrani 12:14.

Selanjutnya keselamatan (Kerajaan Allah) yang kita peroleh harus terus dikerjakan sampai akhir. Filipi 2:12a – “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar….” Keselamatan yang diindentikan dengan Kerajaan Allah itu harus dikerjakan artinya harus dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh sampai akhir hidup kita. Kesungguhan dalam mengerjakan keselamatan kita itu diungkapkan dengan dua hal yaitu dengan “Takut dan Gentar.” Mengapa dengan takut dan gentar ? Karena keselamatan kita itu masih bisa hilang, Iblis dengan segala tipu dayanya terus mencoba mengugurkan iman kita. Takut karena menyangkut hidup kita dalam kekekalan. Gentar kalau hilang kita binasa.

Dimasa yang semakin singkat ini, Iblis akan terus berusaha menghancurkan iman orang percaya sebanyak mungkin sehingga kehilangan keselamatannya dengan berbagai cara, antara lain:

  • PENYESATAN

Penyesatan dapat melalui Nabi palsu, Mat 7:15; 24:11 – Ciri khas dari pelayanan nabi adalah bernubuat, nabi palsu akan menyesatkan banyak orang dengan nubuat-nubuatnya yang palsu, Guru-guru palsu, 2 Petrus 2:1.

– Guru pekerjaannya adalah mengajar, guru-guru palsu akan mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kalau toh mengajarkan firman, hanya separuh kebenaran firman tidak sepenuh kebenaran.

– Mesias palsu, Mat 24:24 – Mesias palsu atau Kristus palsu akan muncul dan mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib, untuk menyeret orang-orang pilihan Allah untuk disesatkan.

– Rasul palsu. 2 Kor. 11:13 – Rasul palsu akan menuntun dan mengarahkan benyak orang kepada banyak hal yang bertentangan dengan firman Tuhan.

  • GODAAN

Kekayaan dan kenikmatan dunia menjadi alat Iblis untuk menjatuhkan iman banyak orang percaya. Tidak sedikit orang yang meninggalkan Tuhan karena ingin cepat kaya, dan kenikmatan dunia yang membuat orang terlena dan terjerat kembali dalam kehidupan yang berdosa.

  • ANIAYA

Aniaya dapat dalam bentuk Dikucilkan, Yoh.12:42a ; Dicela ; Diitnah dan Aniaya fisik, Mat. 5:11. Semua ini akan dihadapi orang-orang percaya di akhir jaman. Setiap orang percaya harus berjuang untuk memelihara dan mempertahankan keselamatannya.

Selanjutnya bagaimana kita mengerjakan hidup kita yang sudah dikuduskan oleh Tuhan? Cari terus kebenaran Tuhan. Yohanes 17:17 – “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah Kebenaran.”  Hidup dalam dalam kebenaran (Firman Allah) itulah yang akan menjaga kekudusan kita. Firman Tuhan adalah konsumsi utama kita yang akan terus menguduskan kehidupan setiap orang percaya. Untuk hidup dalam kebenaran, kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi dipimpin juga oleh Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus. Yoh 16:13, Roh Kudus akan memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan taat dalam kebenaran. Hidup dalam ketaatan kepada Kebenaran itu juga akan menyucikan kita dan memampukan kita untuk hidup dalam kasih,1 Petrus 1:22. Selanjutanya, Hidup dalam kebenaran akan membuat setiap orang percaya merdeka dari intimidasi dosa. Yoh. 8:31-32. Rom, 3:23-24. Inlah salah satu bentuk dari suasana sorga yang dapat kita nikmati di bumi, yaitu kemerdekaan yang sejati karena Kebenaran.

PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH BERHARAP KEPADA TUHAN, BUKAN KEPADA SENJATA PERANG – Seri PEMBUNUH RAKSASA (Ibadah Raya 1 – Minggu, 13 Januari 2019 oleh Pdt. Joseph Priyono)

Tiga belas hari telah kita jalani tahun 2019, apakah yang sudah terjadi atas hidup kita? Saya percaya tahun baru 2019 ini memberikan harapan baru bagi kita. Disamping harapan-harapan baru yang akan terjadi di tahun ini, satu hal yang tidak dapat kita hindari dalam perjalanan hidup ini adalah hadirnya “raksasa” di sepanjang perjalanan. Tahun telah berganti, musim telah berubah, tetapi raksasa akan tinggal tetap menantang kita. Pada pagi hari ini, kembali kita akan mempelajari bagaimana caranya menjadi “Pembunuh Raksasa.”

Beberapa waktu yang lalu kita sudah pelajari rahasia kemenangan Daud melawan Goliat.
1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan, bukan suara lawan.
2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan bukan lawan.
3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
4. Pembunuh raksasa memilih memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.

Saat ini kita akan mempelajari kunci kemenangan Daud yang keenam.

Pembunuh raksasa memilih berharap kepada TUHAN bukan senjata perang

Kemenangan Daud atas Goliat didasarkan atas harapannya yang ditujukan kepada Tuhan bukan kepada kelengkapan senjata perang ataupun jumlah pasukan yang dimiliki.

Mari kita perhatikan harapan Daud kepada Tuhan.
1Samuel 17:38-40 

Ayat 38
Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.

Ayat 39
Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya.

Ayat 40
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

Sebelum berangkat berperang melawan Goliat, Saul menawarkan baju perangnya kepada Daud. Mengapa? Sebab selama ini baju perang itu telah menjadi harapan bagi Saul. Bagi Saul baju perang yang dia kenakan adalah perlindungan atas dirinya. Berulang kali Saul maju berperang, ia selalu aman berada dibalik baju perangnya. Itulah sebabnya Saul menawarkan perlindungan baju perang kepada Daud, tetapi Daud menolaknya. Mengapa Daud menolak baju perang yang diberikan Saul? Sebab bagi Daud, harapannya tidak ditujukan kepada baju perang. Bukan pula kepada senjata dan perlengkapan perang. Daud lebih berharap kepada Allah sebagai tempat perlindungan dan kubu pertahanannya.

Mazmur 46:2
Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

Pengalaman-pengalaman bersama dengan Tuhan di padang penggembalaan, menghantar Daud untuk menaruh harapannya hanya kepada Tuhan. Daud lebih percaya kepada Tuhan dari apapun yang ditawarkan Saul. Baju perang lengkap, senjata perang yang hebat, bukan jaminan kemenangan. Sekali lagi bagi Daud harapannya hanya kepada Allah yang memberi kemenangan. Kepada siapa kita menaruh harapan saat ini. Senjata perang atau kepada Tuhan? Berharaplah hanya kepada Tuhan yang sanggup melakukan segala sesuatu.

KUASA PENGHARAPAN
Bicara pengharapan bahwa pengharapan adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia, karena pengharapan adalah mesin penggerak manusia. Hidup kita bergerak karena masih ada harapan. Berikut ini beberapa kuasa dari pengharapan:

1. Pengharapan membuat orang bertahan dalam penderitaan.
Hanya orang yang memiliki harapan yang mampu bertahan hidup dalam ujian yang ringan maupun berat. Misalnya:

  • Orang tua rela bekerja keras banting tulang karena memiliki harapan kepada keluarganya.
  • Orang yang sakit kanker, bertahan dalam kelemahan dan kesakitan karena berharap datangnya kesembuhan.
  • Orang merantau tinggalkan keluarga, karena memiliki harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Hal yang sama juga dialami oleh rasul Paulus. Rasul Paulus tetap bertahan dalam pelayanan sekalipun mengalami berbagai penderitaan karena ada harapan akan upah yang kekal di kerajaan Allah.

1 Korintus 4:17-18
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

2. Pengharapan membuat orang berhasil
Kesuksesan masa depan di awali dari harapan. Harapan melahirkan usaha, ketekunan dan kesungguhan yang membuahkan keberhasilan.

  • Pedagang yang berharap sukses akan bekerja dengan sunguh-sungguh.
  • Atlet yang mengharapkan juara, akan berlatih sekeras mungkin.
  • Hanya penjual yang memiliki harapan akan berhasil menjual produknya.

3. Pengharapan memberikan keberanian.
Orang-orang yang memiliki pengharapan selalu hidup dalam keberanian. Mereka sadar bahwa dalam hidup ini ada tantangan yang dihadapi, ada kesulitan, bahkan penderitaan, namun semuanya itu tidak membuat mereka mundur ataupun berhenti, mereka terus mendorong maju menghadapi segala tantangan hidup.

Apa yang membedakan Daud dengan Saul dan seluruh orang Israel? Jawabnya adalah HARAPAN. Saul dan bangsa Israel tidak memiliki harapan untuk menang saat menghadapi Goliat, tetapi Daud percaya selalu ada harapan bersama Tuhan. Itulah sebabnya Daud tidak takut dengan kebesaran dan kekuatan Goliat. Daud maju menghadapi Goliat. Itulah kuasa pengharapan.

Hilangnya Pengharapan
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dapat kehilangan pengharapan. Itulah sebabnya tidak sedikit didapati orang-orang yang bunuh diri karena tidak lagi memiliki harapan dalam hidupnya. Hilangnya harapan adalah tanda matinya kehidupan. Dari media online news.detik.com, ada beberapa contoh orang-orang yang memilih mengakhiri hidupnya karena kehilangan harapan.

  • Santri Ponpes di Pasuruan ditemukan gantung diri berbaju koko. (10 Januari 2019)
  • Dalam sepekan, Ada 3 orang tewas gantung diri di Gunung Kidul. ( 6 Januari 2019)
  • Sudarsi nekat gantung diri, diduga terbelit masalah ekonomi (4 Januari 2019)
  • Pasutri di Tangerang tewas gantung diri (2 Januari 2019)

Inilah adalah fakta yang terjadi disekitar kita, bahwa hilangnya harapan adalah akhir dari kehidupan.

Yesus sumber Pengharapan
Dalam hidup ini bukan saja kita menjaga agar tidak kehilangan pengharapan, tetapi kepada siapa kita berharap itu lebih penting. Jika kita salah menaruh harapan, kita akan menemukan kekecewaan. Pengharapan sejati harus kita tujukan kepada Tuhan Yesus. Sebab barang siapa berharap kepada Tuhan, ia tidak akan dikecewakan.

Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ibrani 6:19
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.

Rom 5:5
Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Marilah kita melihat contoh-contoh orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan
1. Wanita yang sakit pendarahan 12 tahun (Markus 5:25 – 29)
Seharusnya wanita ini tidak lagi memiliki harapan, sebab telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Apa yang masih diharapkan? Tidak ada! Tetapi saat ia mendengar berita tentang Yesus, harapannya menyala kembali. Ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Dan saat ia menjamah jubah Yesus maka berhentilah pendarahannya dan ia sembuh dari penyakitnya.

2. Lazarus (Yohanes 11)
Ayat 21:  Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Marta berpikir, jika saja Lazarus belum mati maka masih ada harapan, tetapi sekarang sudah mati, tidak ada lagi harapan.

Di dalam Yesus selalu ada harapan, bahkan yang mati sekalipun Tuhan masih dapat menghidupkannya kembali.

Penutup
Adakah diantara kita sedang mengalami keadaan seperti wanita yang sakit pendarahan ini atau seperti Lazarus. Keadaan yang Saudara alami sepertinya memang tidak ada lagi harapan. Jangan menyerah, jangan putus asa, tetaplah bertahan, teruslah berjuang, didalam Yesus masih ada harapan. Yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus masih sanggup melakukannya.

Ayub 14:7-9 

Karena bagi pohon masih ada harapan : apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.

Sebagaimana pohon yang ditebang masih memiliki harapan untuk bertunas kembali demikianlah hidup kita. Seburuk, separah, sehancur apapun Tuhan sanggup memulihkan kembali. Percayalah pada firmanNya dalam Matius 12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Tuhan memberkati. KJP!!

WAKTUNYA SUDAH SANGAT SINGKAT – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Sulung – Minggu, 6 Januari 2019)

PENDAHULUAN
Bersyukur jika kita berada di tahun 2019,  tahun yang baru dan kesempatan baru bagi kita. Tetapi hal ini juga menyadarkan kita, bahwa paket waktu berkurang atau jatah waktu yang Tuhan berikan kepada kita makin berkurang 1 tahun. Keuangan dan kekayaan dapat kita hitung dan perkirakan namun waktu hidup tidak dapat diperkirakan. Kita perlu firman Tuhan untuk menasihati kita.

NASIHAT FIRMAN TUHAN
Dalam Efesus 5:15,16 dituliskan “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.”

Ada beberapa nasehat firman Tuhan yang dapat kita temukan dalam Efesus 5:15-16, yaitu:

* PERHATIKAN DENGAN SAKSAMA
Kalimat “Perhatikan dengan saksama” dalam bahasa Yunani ditulis AKRIBOS. Sedang dalam bahasa Inggris dituliskan Walk Circumspectly. Artinya berjalan dengan teliti dan hati-hati atau dengan sempurna dalam menjalani hidup kita. Jika dahulu kita pernah bertobat namun kembali hidup dalam dosa, firman Allah menasehati agar kembali memperhatikan dengan saksama kehidupan ini. Tahun 2018 mungkin dengan sembrono mempergunakan waktu, tetapi memasuki tahun 2019 kita harus Walk Circumspectly – melangkah dengan teliti, tapak demi tapak sesuai dengan firman Allah. Seperti arti kata “KRISTEN” dari kata CHRISTIANOS, yang artinya “mengikuti jejak langkah yang Yesus tinggalkan secara presisi, teliti dan saksama, yaitu “Firman Allah.”

Sebuah contoh dalam Kisah Rasul 18:26 , bahwa ada seorang anak muda bernama Apolos, ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat Yahudi atau non Yahudi (berhala). Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengar tentang keberaniannya, mereka membawa Apolos ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepada Apolos tentang jalan Allah, yaitu Firman Allah. Jadi kita perlu jalani hidup dengan teliti sesuai Jalan Allah (firman Allah) jangan sampai melenceng dari tapak kaki Tuhan Yesus sehingga hidup kita seperti orang Arif bukan bebal. Inilah poin berikutnya:

* JANGAN SEPERTI ORANG BEBAL TETAPI SEPERTI ORANG ARIF
Nasehat firman Allah yang kedua adalah kita menjalani hidup seperti orang arif. Sebab manusia tidak mengetahui tentang waktu, jadi perlu untuk kita gunakan kesempatan ini hidup seturut firman Tuhan. Namun terkadang tanpa kita sadari, kita sering melakukan perbuatan orang bebal. Seperti apakah yang dimaksud orang Bebal? Menurut Amsal 18:2a, orang bebal adalah orang yang tidak suka kepada pengertian. Jadi salah satu perbuatan orang bebal adalah “Tidak Suka” kepada pengertian. Untuk mengerti kata “tidak suka kepada pengertian”, perhatikan kembali Kisah Para Rasul 18:24-28 bahwa Apolos adalah seorang hamba Tuhan muda ia sangat mahir soal firman Allah, dan berani bersaksi  tentang Yesus. Tetapi Apolos hanya tahu tentang baptisan Yohanes Pembaptis. Ketika Priskila dan Akwila melihat Apolos, mereka terpanggil untuk membimbing Apolos, agar Apolos mengerti jalan Allah (firman Allah). Dengan hati tulus dan bijak Apolos menerima sepenuhnya firman Allah yang disampaikan  oleh Priskila  dan Akwila. Hasilnya di Kisah Para Rasul 18:27, Apolos menjadi hamba Tuhan yang sangat berguna bagi jemaat di Akhaya (Yunani). Sehingga Kisah Para Rasul 18:28, Apolos dapat membuktikan kepada orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias dari Kitab Suci (Perjanjian Lama). Dapat disimpulkan bahwa Apolos dengan rendah hati, tulus dan bijaksana, Apolos menerima didikan tentang jalan firman Allah sehingga ia mampu mengajarkan kepada orang-orang yang belum paham firman Allah. Apolos termasuk orang yang bijak. Setiap minggu kita mendengar firman Allah dan jika kita bijak seharusnya mempraktekkan apa yang sudah kita dengarkan. Seperti Apolos menerima dengan sepenuhnya, ia tidak sok pintar namun ia benar-benar menerimanya. Maka di ayat selanjutnya ditemukan bahwa Apolos sangat berguna bagi jemaat Yunani dan bagi jemaat Korintus ia adalah pengkhotbah favorit.

* PERGUNAKAN WAKTU YANG ADA
Poin selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah “Pergunakan Waktu Yang Ada” sebab waktu ini sangat singkat. Dalam terjemahan King James Version menuliskan “Redeeming the time” artinya tebuslah waktu. Artinya jika selama ini kita gunakan waktu untuk memuaskan nafsu; melakukan dosa; melakukan kejahatan; melakukan ketidakbenaran. Mulai saat ini, kita pakai waktu untuk  menebus waktu-waktu yang kita sia-siakan dengan cara: AKRIBOS – Walk Circumspectly yaitu menjalani hidup sesuai firman Allah dengan teliti langkah demi langkah, hari, minggu, bulan, tahun kita jalani hidup yang berkenan kepada Tuhan.

* KARENA HARI-HARI INI JAHAT
Maksud “hari-hari yang jahat” karena waktu yang singkat ini bukan hanya milik manusia melainkan iblis juga punya waktu yang pendek dan tidak lama lagi akan dihukum. Jadi dia berusaha merusak dan menghancurkan manusia. Wahyu 12:12  “….Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa: waktunya sudah singkat.”

WAKTU IBLIS YANG SINGKAT (PERHATIKAN GAMBAR)

Ada tiga kali Iblis dicampakan, yaitu:
1. Wahyu 12:9 – Iblis dicampakkan sebelum masa 3,5 tahun dan memberikan kuasa kepada Antikristus.
Sekarang iblis dapat naik turun Surga dengan bebas untuk menuduh orang percaya dan Yesus sebagai pembela bagi orang percaya adalah hakim bagi kita dan iblis akan memberikan kuasa kepada Antikritus. Oleh karena itu iblis berusaha menjatuhkan orang benar.

2. Pencampakkan kedua adalah saat perang Harmagedon – Wahyu 20:2-3
Iblis dimasukkan dalam lobang Maut. Lalu 1000 tahun damai dan setelah berakhir maka iblis dilepaskan lagi untuk menyesatkan orang percaya, namun iblis akan dibinasakan.

3. Inilah pencampakkan yang ke tiga, Wahyu 20:14 – dicampakkan dalam api kekal yaitu Neraka.
Jadi kita sekarang digaris akhir karena iblis tahu waktunya sudah sangat singkat. Oleh sebab itu gunakan waktu dengan baik sehingga tidak keliru dalam melangkah.

Siapakah sasaran Iblis? Menurut Matius 24:24 “…sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” Jadi sasaran iblis adalah orang pilihan, jika mereka hanya percaya karena mujizat-mujizat maka mereka mudah terseret dan binasa oleh karena Nabi Palsu serta Mesias Palsu. Didalam 2 Korintus 11:2-3, Iblis mengincar orang-orang pilihan yaitu calon-calon mempelai Kristus. Oleh karena itu Rasul Paulus merasa kuatir agar jangan sampai jemaat yang dilayani kehilangan kesetiaan Kristus yaitu kehilangan AKRIBOS. Sehingga jalan hidupnya tidak sesuai dengan jejak langkah Yesus yaitu Firman Allah. Ini dapat terjadi kepada siapapun, sebab itu jejaki langkah hidup dengan sungguh-sungguh di tahun 2019 agar tidak terseret.

* AGAR TIDAK TERSERET
Inilah tujuan kita hidup sesuai firman Tuhan adalah jangan terseret dan jangan melekat kepada dunia ini. Firman Allah mengingatkan jangan hati kita melekat kepada dunia ini. Artinya jangan bergantung pada dunia ini. Lukas 17:32 “Ingatlah akan isteri Lot!” Apa maksudnya…? Isteri Lot, hatinya sangat melekat kepada dunia ini sehingga tangan malaikat yang menuntun isteri Lot tidak bisa membuat isteri Lot untuk bergerak maju. Seruan malaikat ternyata tidak bisa menahan isteri Lot untuk tidak menatap ke depan sehingga ia menjadi tiang garam. Setiap kali hamba-hamba Tuhan menyampaikan firman Tuhan, mereka seperti malaikat yang menarik kita untuk bergerak maju, tinggal bagaimana respon kita.

ANTIKRISTUS MENGUASAI DUNIA
Setelah Iblis dicampakkan ke bumi, Wahyu 13:4, Iblis akan serahkan: kekuatan; tahta dan kekuasaannya kepada Antikristus. Dengan itu Antikristus akan taklukkan semua kekuatan, takhta dan kuasa dunia ini, di bawah kekuasaan Antikristus. Bukan hanya manusia yang akan takluk di bawah kekuasaan Antikristus tetapi semua kekayaan manusia dan dunia akan berada di bawah kekuasaan Antikristus.

Mari berilah waktu untuk Tuhan dan lakukan firman Allah dengan sungguh-sungguh serta berikan apa yang ada untuk mempermuliakan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

EVALUASI KEHIDUPAN AKHIR TAHUN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Akhir Tahun – Senin, 31 Desember 2018)

2 TIMOTIUS 4:7

Rasul Paulus sedang mengevaluasi kehidupannya ketika ia tahu bahwa akhir hidupnya sudah mendekat. Ada tiga hal yang Paulus evaluasi dalam kehidupannya :
1. Perjalanan hidupnya yang digambarkan seperti sebuah pertandingan.
2. Hasil akhir kehidupannya.
3. Kondisi imannya.

Tentang garis akhir kehidupan dapat terjadi meliputi level Akhir dari kehidupan satu hari; Akhir dari kehidupan satu minggu ; Akhir dari kehidupan satu bulan ; Akhir dari kehidupan satu tahun dan yang terakhir yang semua orang akan alami adalah Akhir kehidupan di dunia ini.

Hasil akhir kehidupan manusia dalam penilaian Tuhan hanya ada dua hal :
1. “Baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik.” (Matius 25:21, Markus 25:23, Lukas 25:34). Atau…
2. “Aku tidak pernah mengenal kamu, Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan.” Matius 7:23, Lukas 25:41. Kedua penilaian ini mana yang akanTuhan berikan bergantung dari hasil pertandingan iman setiap orang percaya.

I. EVALUASI PERJALANAN KEHIDUPAN
Kehidupan orang percaya digambarkan dalam dua pertandingan yang berbeda yaitu Pertandingan LARI dan TINJU,  1 Korintus 9:26. Kapan seseorang dinyatakan masuk dalam gelanggang pertandingan itu? Ketika ia mengambil keputusan percaya kepada Yesus.

LOMBA LARI
Membutuhkan stamina yang kuat, kecepatan dan mengikuti aturan yang berlaku. Nasehat penting dari Rasul Paulus tentang bagaimana kita harus berlari, 1 Korintus 9:24. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!”

Dalam sebuah lomba lari dikatakan hanya satu orang saja yang dinyatakan sebagai pemenang. Siapa yang akan menjadi pemenang ? Kitalah yang harus menjadi pemenangnya karena yang menjadi lawan kita adalah dunia ini yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan.

Ada hal yang yang menarik dari nasehat  Paulus untuk kita menjadi pemenang harus lari begitu rupa. Apakah yang dimaksudkan dengan larilah begitu rupa ini?   Ada dua hal yang dapat kita ketahui sebagai jawabannya :
1. 1 Korintus 9:25a – Dikatakan “Tiap-tiap orang yang mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal…”

Yang pertama adalah penguasaan diri. Dalam anak tangga pertumbuhan rohani menuju gereja yang sempurna masuk dalam level yang ke empat atau dalam istilah lomba lari itu kilometer ke empat setelah iman, kebajikan dan pengetahuan, 2 Petrus 1:5. Kilometer pertama adalah iman kemudian ditambahkan kebajikan, dari kebajikan kepada pengetahuan kemudian masuk pada penguasaan diri. Pada level penguasaan diri inilah banyak orang percaya yang jatuh ataupun gugur imannya.

Contoh : Raja Saul dimulai dengan kerendahan hati ketika diurapi jadi raja, tetapi setelah jadi raja ia tidak mampu menguasai dirinya sehingga ia menjadi sombong, haus kekuasaan dan pada akhirnya berbalik tidak taat kepada Allah. Yudas Iskariot dipilih Tuhan sendiri menjadi salah satu murid-Nya dan menjadi Rasul  Tuhan, tetapi kemudian mengkhianati Yesus karena tidak mampu menguasai dirinya dari ketamakan akan uang dan masih banyak contoh lainnya didalam Alkitab. Kita harus dapat menguasai diri kita dari segala keinginan daging  yang merintangi dalam perlombaan iman kita sehingga kita tidak gugur ditengah jalan seperti Saul danYudas.

2. 1 Korintus 9:26a – “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan…”.
Hal kedua dari pengertian larilah begitu rupa adalah jangan lari tanpa tujuan. Jangan menjadi orang kristen yang tanpa tujuan, demikian juga dalam melayani. Sekuat dan sekencang apapun seseorang dalam berlari, jika tanpa tujuan – sia-sia belaka. Hanya buang tenaga dan waktu. Larilah sedemikian rupa dengan tujuan yang pasti dan dalam penguasaan diri yang kuat, karena tujuan pelayanan yang mulanya benar dapat buyar ketika penguasaan diri tidak lagi dapat dikendalikan seperti  raja Saul yang gagal.  Hasil dari pengiringan dan pelayanan yang tanpa tujuan adalah mengakhiri pertandingan dengan tidak baik. Introspeksi Diri untuk evaluasi : Sudah benarkah tujuan pengiringan dan pelayanan kita, di tahun 2018 yang segera berlalu ?

BERTINJU
Inilah gambaran kedua dari Rasul Paulus tentang perlombaan iman orang percaya. Bertinju membutuhkan stamina yang kuat, tenaga yang kuat, strategi dan siap hadapi benturan. Jika di lomba lari tidak ada benturan, bertinju harus alami benturan. 1 Korintus 9:26b – “….Aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” Seseorang yang pengiringan dan pelayanannya tanpa tujuan, maka pelayanannya pun asal-asalan, seperti seorang petinju yang sembarangan saja memukul, serampangan. Hal ini banyak dialami oleh orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, ibadahnya timbul tenggelam, melayani juga pilih-pilih, kena teguran firman marah, pindah gereja. Sebagai pengikut Tuhan yang sejati jangan melayani Tuhan asal-asalan tanpa tujuan dan sasaran yang benar. Introspeksi Diri :  Apakah arah tinju kita sudah pada sasaran yang tepat ?

Apakah selama ini perkataan kita yang terlontar dan membentur orang menjadi berkat atau sebaliknya benturan omongan kita malah menyakitkan orang lain dan membuat mereka undur dari Tuhan. Penilaian kita terhadap orang lain, apakah selama ini kita salah dalam menilai orang lain? Cenderung menghakimi orang lain. Apakah masih pandang bulu atau memberi perhatian kepada saudara seiman dengan kasih? Rasul Paulus kembali memberikan nasehatnya kepada kita.

1 Korintus 9:27 “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak.”

Melatih tubuh artinya mendisiplinkan diri, untuk dapat menguasai diri dalam segala hal. Berbicara tentang disiplin kita dapat evaluasi diri kita, bagaimana dengan: Disiplin doa kita, Disiplin ibadah kita, Disiplin membaca, mendengar dan melakukan firman Tuhan. Tanpa memiliki kedisiplinan diri yang benar, maka iman kita akan mudah dilemahkan dan dikalahkan.

Selanjutnya ayat di atas mengatakan “supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak,artinya jangan sampai kita kena semprit oleh wasit penyelenggara pertandingan (Tuhan) dan didiskualifikasi, dinyatakan melakukan pelanggaran dan dikeluarkan dari gelanggang pertandingan alias gugur.

II. EVALUASI IMAN
Dalam 2 Timotius 4:7 – dikatakan“ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Ada dua hal tentang memelihara iman yaitu :
1. Menjaga kemurnian iman.
Menjaga dari apa? Dari pengajaran sesat; Kepercayaan lain/ duniawi, meliputi dongeng nenek-nenek tua, tradisi yang tidak sesuai dengan firmanTuhan. Berikutnya adalah Half  truth (Separuh kebenaran). Ada gereja-gerja yang mengajarkan firman yang tidak seutuhnya, yang diajarkan hanya pada sisi berkat-berkat-Nya saja, sementara sisi lain tentang pikul salib, menyangkal diri dan kesiapan untuk menderita karena Kristus sebagai konsekuensi pengikut Yesus tidak pernah diajarkan. Jemaat yang seperti ini hanya mengetahui separuh kebenaran tidak utuh, dan iman seperti ini bukan iman yang murni, karena hanya tahu separuh kebenaran firman saja. Tidak heran ketika mereka alami penderitaan dan aniaya karena Kristus, mereka kecewa dan tinggalkan Tuhan.

2. Mempertahankan iman.
Mempertahankan dari godaan dan kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan, Matius. 13:22. Secara umum kita harus mempertahankan iman kita dari dua hal, yaitu mempertahankan iman dari pencobaan dan aniaya. Dalam menghadapi pencobaan dalam 2 Timotius 3:1 – dikatakan : “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Situasi kedepan akan semakin memburuk. Masa yang sukar akan ditandai dengan bertambahnya kejahatan dan turunnya standar moral dalam dunia kekerasan dan pembunuhan hampir menjadi warna setiap hari, dan hal-hal yang tabu dan dosa-dosa sexual sudah terang-terangan dipertontonkan dan dilegalkan. Dalam kerohanian makin banyaknya gereja palsu dan nabi palsu yang akan muncul dan menyesatkan, Matius 24:11—12. Menghadapi aniaya Firman Tuhan tidak pernah menyembunyikan hal ini, tetapi justrus memberitahukan kepada kita soal aniaya.

Yohanes 16:2  – “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.”  Ada dua jenis aniaya yang akan dialami orang percaya, aniaya secara batin dengan dikucilkan, dan aniaya fisik dibunuh. Apa kata Tuhan dalam kita menghadapi masalah ini ? Dalam Matius 10:28 – Dikatakan supaya kita jangan takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh saja tetapi tidak dapat membinasakan jiwa kita, kita harus lebih takut kepada Allah yang dapat membunuh baik tubuh maupun jiwa kita.

Matius 10:29-31 –  Bahwa hal ini tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan dan kehendakTuhan, hanya orang-orang  tertentu saja yang dikaruniakanTuhan untuk menderita sebagai syahid Tuhan, jadi tidak semua orang percaya akan alami hal ini.  Bagaimana jika hal itu terjadi ? Matius 10:32,33 – Tuhan katakan untuk tetap pertahankan iman, dengan tetap percaya bahwa YESUS itu Tuhan. Dengan tetap memelihara iman, sekali Yesus tetap Yesus meski alami kematian karenaYesus, maka kitapun akan diakui Yesus sebagai pengikut-Nya yang sejati di hadapan Bapa di Sorga.  Apapun yang akan kita hadapi di garis terakhir hidup kita ke depan, biarlah Tuhan mendapati bahwa IMAN KITA TETAP TERPELIHARA. Jadikan tahun 2018  sebagai bahan evaluasi kita. Tahun 2019  adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Allah selalu menyertai perjalanan kehidupan kita sampai pada garis akhir.

Yohanes 14:16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”

 Tuhan kirim Roh Kudus kedalam hati kita untuk menyertai kita selama-lamanya memberi kekuatan dan kemampuan untuk bertahan sampai garis akhir sebagai pemenang. Selamat tahun baru 2019.

BERTUMBUH DALAM KASIH DAN PERKENANAN TUHAN – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 30 Desember 2018)

Matius 1 : 20 – 25

Kisah dalam Matius 1:20-25, menjelaskan tentang Yusuf yang mendengar kabar bahwa Maria telah mengandung dan Yusuf merasa tidak pernah bersetubuh dengan Maria tunangannya. Dan ketika ia tahu bahwa Maria mengandung, Yusuf berniat menceraikan Maria secara diam-diam, supaya tidak terjadi hal yang buruk. Sesungguhnya Yusuf berhak untuk menyampaikan kondisi Maria kepada keluarganya. Namun ia tidak lakukan, karena jika ia menyampaikan kondisi Maria yang sedang mengandung, Maria akan dirajam dengan batu berdasarkan hukum Taurat. Tetapi sebelum Yusuf melaksanakan niatnya, Tuhan datang pada Yusuf melalui Malaikat dan berkata dalam Matius 1:20b, 21, bahwa:

  1. Maria mengandung dari Roh Kudus bukan karena benih laki-laki. Sebab Allah punya rencana bagi penyelamatan Manusia.
  2. Anak yang dikandung Maria, harus diberi nama Yesus. Karena di ayat 21, hanya Yesus yang dapat menyelamatakan manusia dari dosa mereka. Tidak ada golongan apapun yang dapat menyelamatkan. Hanya Yesus saja yang dapat melaksanakan penyelamatan.

Kedua hal inilah, yang mendasari Yususf untuk menerima Maria. Jadi bukan karena status Maria sebagai tunangannya.

NAMA ANAK ITU “YESUS”
Nama Yesus mengandung arti ditulis dengan kata Yehova, artinya Yehova keselamatanku. Jadi hanya melalui Yesuslah kita selamat. Itulah sebabnya, dari saat Yesus lahir sampai menjelang Yesus datang kedua kali, nama Yesus terus diberitakan kepada semua orang, mulai dari rakyat jelata sampai kepada raja. Matius 1:21, karena Yesuslah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa. Jadi penting untuk kita juga menyampaikan berita ini kepada orang yang belum percaya Yesus. Sampaikan bahwa dosa sebesar apapun sanggup Yesus ampuni, asal terbuka dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat.

SAMBUTAN MANUSIA
Beberapa ayat yang menerima kabar kelahiran Yesus, adalah :
1. Lukas 2:8-14 – diberitakan pada para gembala. Ini adalah golongan rendah di Israel dan mereka perlu dengar tentang Yesus
2. Lukas 2:17,18 – Gembala memberitakan Yesus kepada orang-orang di kandang.
3. Matius 2:2 – Bintang-bintang memberitakan Yesus kepada orang majus sehingga mereka dapat mengetahui kelahiran sang juruselamat.
4. Matius 2:2,3 – para majus memberitakan Yesus kepada Herodes dan imam.

ORANG YANG MENDENGAR YESUS
Dari sekian banyak orang yang mendengar tentang Yesus, ada 3 sikap orang yang Yesus. yaitu:

  • TIPE HERODES
    Saat mendengar kelahiran Yesus, Herodes tidak percaya, benci dan menganggap Yesus sebagai ancaman bagi dia. Herodes ini adalah tipe orang kristen yang mengaku percaya Yesus dan jadi pengikut Yesus, tetapi tidak mau tunduk dan menyembah Yesus. Sama seperti Herodes yang berpura-pura ingin menyembah Yesus, padahal hanya untuk membunuh Yesus dan pengikutnya. Orang tipe Herodes gambaran orang yang mendengar siapa itu Yesus, tapi tidak percaya, benci, marah dan menganggap Yesus sebagai ancaman bagi dirinya. Herodes tidak mau menyembah Yesus.

    Perhatikan kata “Menyembah” dalam bahasa Ibrani dituliskan SHAKHAH, sedang bahasa Yunani dituliskan PROSKUNEO. Artinya, tunduk dan setia kepada sang tuan, seperti seekor anjing kepada tuannya. Jadi, seorang penyembah adalah orang Kristen yang taat dan setia pada tuannya. Dengan mengetahui arti menyembah, apakah hidup kita sudah benar-benar menyembah Tuhan, seperti seekor anjing yang taat dan tunduk pada tuannya.

    Kristen tipe Herodes adalah orang yang mengaku dirinya Kristen (Pengikut Yesus), tetapi ia tidak mau tunduk/taat kepada perkataan  atau perintah YESUS yang adalah Tuannya. Bahkan, ada orang Kristen, yang merasakan nasehat; teguran Firman Tuhan sebagai penghalang bahkan ancaman bagi dirinya.

  • TIPE UMAT ISAREL
    Dalam Yesaya 9:1-6, ini nubuatan tentang Mesias, bahwa suatu waktu Mesias akan datang dengan gelar antara lain: Penasihat Ajaib; Allah yang perkasa; Bapa yang kekal dan Raja Damai yang memberkati umat Allah sehingga tidak kekurangan, sejahtera dan diberkati. Tetapi sayang para Tua-tua Israel, Guru, Imam dan Ahli Taurat mereka tidak menjelaskan nubuat tentang Mesias secara utuh dan tuntas. Artinya mereka tidak mengajarkan Firman Allah tentang Mesias secara utuh, detil dan lugas – apa adanya, yaitu pemberitaan tentang:
    1. Yesaya 53:1-12 dijelaskan bahwa Mesias yaitu Raja dan Pemimpin, diutus Allah ke dunia untuk memikul penderitaan dengan mengorbankan Diri-Nya untuk menebus dan membebaskan manusia dari dosa dan kebinasaan (neraka).

    2. Mesias, Raja dan Pemimpin yang telah  menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia, menghendaki agar semua pengikut-Nya turut menderita bersama-Nya, Matius 16:24.

    Kedua hal ini yang tidak diajarkan kepada orang-orang Israel. Jadi ketika Yesus lahir, mereka menolak Yesus karena melihat sisi manusia Yesus bahwa Yesus lahir dari seorang anak tukang kayu dan dari keluarga sederhana. Yesus tidak membebaskan Israel dari penjajahan kekuasaan kerajaan Roma. Akibatnya, sampai sekarang Israel tidak percaya Yesus dan memandang firman Allah dengan janji berkatnya saja tidak menerima injil sepenuhnya.

    Banyak orang yang mengaku dirinya “Pengikut Yesus” tetapi pengiringan mereka adalah  Kristen iman bangsa Israel atau orang Yahudi. Orang Kristen tipe bangsa Israel (Yahudi), adalah orang Kristen yang tujuan pengiringannya hanya tertuju kepada berkat. Mereka menolak ajaran bahwa memikul salib (menderita), aniaya dan mati karena Kristus sebagai suatu kehormatan dari Tuhan untuk dimuliakan bersama Tuhan, Roma 8:17. Sebaliknya, mereka berkata: Penderitaan, kesukaran dan aniaya sudah ditanggung oleh Yesus di atas kayu salib. Mereka berpendapat bahwa pengikut Kristus yang masih alami: penderitaan, aniaya, kesusahan berarti orang tersebut masih berada di bawah kutuk! Tetapi, firman Allah berkata bahwa orang yang mengaku diri Kristen (Pengikut Yesus) tetapi tidak mau memikul salib dan menderita bersama-sama Yesus, berdasarkan firman Allah, dalam Roma 11:28, orang tersebut disebut sebagai seteru Allah dan bukan: “Pengikut Yesus Yang Sejati.”

  • TIPE ORANG MAJUS dan GEMBALA
    Tipe Orang Majus adalah orang yang dengan rela dan tulus hati mau mencari Yesus dan menyembahNya. Mereka mau hidup dalam pimpinan Tuhan. Oleh sebab itu kita ikuti sikap hidup dari orang majus dan Rasul Paulus dengan semboyan hidup orang majus adalah sama dengan semboyan hidup rasul Paulus yaitu Roma 8:35-39. Jadi karena iman dan kesetiaan serta kesungguhannya, para majus diluputkan Tuhan dan ancaman Herodes. Biarlah telinga kita siap menerima tentang berkat dan siap menerima tentang hukuman Allah.

PENUTUP
Kita menghadapi tahun-tahun yang semakin hari semakin sulit. Tetapi bila pengiringan kita seperti: Orang Majus, Gembala, Yusuf, Maria, Simeon dan Hana, saat Antikristus menyatakan diri, kita akan diluputkan Tuhan dari ancaman Antikristus.

BERTUMBUH DALAM KASIH DAN PERKENANAN TUHAN – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Natal – Selasa, 25 Desember 2018)

Markus 1:11

PENDAHULUAN
Kalimat atau ucapan dalam Markus 1:11, merupakan perkataan Bapa di Surga bagi Yesus sebagai Anak yang dikasihi dan berkenan kepada-Nya. Kitapun sebagai pengikut Yesus, rindu untuk kita bertumbuh dalam kasih, sehingga hidup kita berkenan kepada Tuhan. Caranya adalah dengan Yesus harus lahir di hati kita, artinya percaya dan menerima Yesus dan mengalami kelahiran baru/pertobatan atau pembaharuan hidup. 2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama, sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Yang tidak alami pembaharuan roh dan jiwa, tidak bertumbuh dalam kasih dan kita tidak berkenan di hadapan Bapa.

SUDAH DIMULAI ZAMAN PERJANJIAN LAMA
Pertumbuhan rohani, jiwani dan jasmani sudah dirancang sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Sebuah contoh dalam Perjanjian Baru, yaitu Saulus menjadi Paulus.  Kisah 9:1-19 ia seorang pembenci Yesus diubahkan dan bertumbuh menjadi Pemberita Injil. Sedang di Perjanjian Lama adalah Saul yang adalah Raja Israel. Allah memilih dan memberkati Saul dengan jabatan sebagai raja Israel, karena Allah ingin agar Saul menjadi berkat secara rohani, jiwani, jasmani bagi Israel dan bangsa lain.

1 Samuel 10:1 – Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya inilah tandannya bagimu, bahwa Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri.” Allah memilih Saul, karena Allah mau memakai Saul menjadi berkat yaitu menyelamatkan Israel. Begitu juga Allah memilih dan menyelamatkan kita karena Allah berkehendak memakai kita untuk menyelamatkan jiwa-jiwa bagi kemuliaan Yesus.

ALLAH LENGKAPI SAUL
Untuk menggenapi rencana Allah, Saul tidak langsung terjun ke medan perang dan memerangi musuh. Tetapi, ada beberapa pengalaman rohani yang Saul harus alami dalam hidupnya, antara lain:
1. Menjadi Ciptaan Yang Baru
1 Samuel 10:2-6 “Maka Roh Tuhan akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.” Saul mengalami kepenuhan Roh seperti para nabi. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada lain: “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apakah Saul juga termasuk golongan nabi?”

Saul menjadi pemimpin yang ideal:
Jabatan Saul adalah raja, tetapi sifat dan karakter Saul adalah sifat dan karakter nabi. Saul berubah menjadi manusia lain yaitu sifat dan karakter Saul berbeda dengan lainnya. Tuhan ingin memakai kita menjadi dampak bagi semua orang.

2. Rendah Hati – 1 Samuel 10:15,16
Ketika Saul pulang, Saul bertemu dengan pamannya yang menanyakan ucapan Samuel kepada Saul. Tetapi Saul menceritakan tentang keledai milik ayahnya yang hilang itu telah ditemukan. Ia tidak menceritakan tentang Samuel yang mengurapinya sebagai raja untuk dipuji sang paman. Tetapi Saul dengan rendah hati, ia menyimpan perkara itu.

3. Memiliki Penguasaan Diri
Setelah diurapi sebagai raja, Samuel memperhadapkan Saul kepada rakyat Israel, dan ia disambut sukacita dan seruan: “Hidup raja!!!”,1 Samuel 20:14. Tetapi ada sekelompok orang yang menghina dan merendahkan Saul. 1 Samuel 10:27, Tetapi ia (Saul) pura-pura tuli. Jadi Saul tidak mempedulikan mereka yang memandang rendah dirinya, ia menguasai dirinya begitu rupa. Meskipun mereka mengejek dan menghina Saul secara terang-terangan dan dengan sangat kasar. Saul tidak merasa sakit hati sebaliknya Saul pura-pura tidak mendengar.

 4. Memiliki Roh Pengampunan
1 Samuel 10:1, salah satu tanda seorang raja diurapi Tuhan adalah ia sanggup menyelamatkan umat Allah dari tangan musuh. Dan itu dinyatakan ketika seorang bernama Nahas, orang Amon mengancam akan mencungkil mata kanan orang Israel yang ada di Yabesy Gilead dan memperbudak mereka. Namun 1 Samuel 11 mengisahkan bagaimana Saul sanggup menyelamatkan Israel dari musuh (Nahas) sebagai bukti bahwa Saul sah sebagai raja Israel yang diurapi. Hal baik yang dilakukan oleh Saul, telah membangkitkan ingatan rakyat Israel akan ucapan orang dursila yang telah menghina Saul. Mereka datang berusaha mencari orang dursila dengan maksud untuk membunuh orang-orang dursila tersebut , 1 Samuel 11:12. Perhatikan tindakan Saul dalam 1 Samuel 11:13 – Tetapi kata Saul: “Pada hari ini seorang pun tidak boleh dibunuh, sebab pada hari ini Tuhan telah mewujudkan keselamatan  kepada Israel.”

SAUL TIDAK MENJADI BERKAT
Saul bertumbuh dalam hal rohani, jiwani dan jasmani (materi). Dan Saul telah melayani dan menjadi berkat dengan menyelamatkan orang Israel yang tinggal di Yabesh Gilead. Tetapi mengapa sifat dan karakter Saul berubah menjadi jahat, bengis, kejam, iri hati, tidak ada belas kasih dan sombong? Mengapa hidup Saul berubah dan tidak menjadi BERKAT…? Saul berubah menjadi jahat dan tidak jadi berkat karena Saul tidak mencari Tuhan. Pada mulanya Tuhan sudah merancangkan yang baik tetapi Saul tidak dapat memelihara kerohaniannya. 2 Samuel 1:21, ayat ini menjelaskan kehidupan Saul menjadi hancur karena ia tidak memelihara apa yang sudah ia kerjakan dalam hidupnya.

Sebelum perang, seluruh tentara Israel naik ke gunung Gilboa untuk menyegarkan diri; melatih diri untuk perang dan meminyaki perisai, pedang, tombak, anak panah dengan  minyak urapan. Tetapi, yang diperbuat Saul, 1 Samuel 28:4b, saat Saul naik ke Gilboa dan mengumpulkan tentara Israel untuk berperang melawan Filistin, Saul ketakutan. Saul berusaha mencari Tuhan, tetapi Tuhan tidak berkenan ditemui.  Saul minta pertolongan seorang dukun dari Endor. Samuel menyesali potensi Saul, karena Saul tidak memelihara kasih Allah dengan ibadah; doa; cari Tuhan dan urapan Roh Kudus.

PENUTUP
Kalau kita ingin diberkati  dan menjadi berkat, rajinlah ibadah dan hiduplah dalam doa dan urapan Roh Kudus.  Kita akan diubahkan dari hari ke hari menjadi berkat secara rohani, jiwani dan jasmani. Tuhan akan pakai kita menjadi berkat bagi orang lain. Sebaliknya, walaupun kita punya segalanya, tetapi kalau hati kita kering tanpa kasih dan urapan, kita bagaikan padang gurun yang kering (tidak menjadi berkat). Tuhan Yesus memberkati kita semua.

MENGHADAPI RESIKO KARENA TUNDUK PADA KEHENDAK ALLAH – oleh Pdt. Yos Hartono, dari Yogyakarta (Ibadah Raya – Minggu, 23 Desember 2018)

Lukas 1:28-45

Lukas 1 mengisahkan tentang perjumpaan Maria dengan malaikat dan bagaimana resiko-resiko yang dihadapi Maria karena ketundukannya kepada kehendak Allah. Kisah ini juga menuliskan bagaimana Maria terkejut, terteror, gusar dan bingung ketika berjumpa dengan Malaikat (ayat 29).  Ia gemetar, sulit bicara karena shock. Meskipun Malaikat itu membawa kabar kelepasan bagi bangsanya, bahwa Juruselamat akan lahir lewat kandungannya dan juruselamat itulah yang akan membebaskan orang Isarel bukan hanya dari penjajahan romawi atau belenggu politis, , kesehatan dan ekonomi, tetapi juga dari penjajahan dosa, yang tak seorang pun dapat membebaskan diri. Respon Maria yang terkejut atau terteror sama seperti respon kita sebab kadang kitapun tidak tepat merespon sesuatu yang baik, malah bingung, berargumen dan memberikan banyak alasan (ayat 34).

Respon Maria merupakan respon yang manusiawi, sebab secara logika apa yang ia alami tidak masuk akal. Maria bertanya-tanya bagaimana ia dapat mengandung, sebab ia belum bersuami? Tidak masuk akal, tidak logis, tidak mungkin. Dan semua pertanyaan Maria adalah perwakilan manusia, yang bingung dan terus beragumen karena sesuatu yang tidak logis. Karena Manusia menjadi korban logika/pikiran, sehingga jika itu bertentangan dengan logikanya ia akan hilang damai sejahtra.

Benar bahwa pikiran manusia sudah menolong manusia menciptakan segala sesuatu yang memudahkan manusia dalam menuntaskan pekerjaan. Meski demikian hebatnya pikiran manusia, masih terbatas adanya dan banyak misteri. Jadi, jangan mengandalkan pikiran manusia kita, sebab ada banyak yang tidak dapat dijawab oleh pikiran manusia, apa lagi membaca pikiran tentang Allah.

Solusinya, kecerdasan logika atau cara berpikir manusia, kadang harus dijawab dengan hati dan iman.  Inilah juga menjawab malaikat dari maria, tentang kondisinya yang mengandung tanpa menerima benih dari laki-laki. Tetapi faktanya, yang tidak logis itu terjadi. Sebab itu natal ada karena Maria mengandung dan melahirkan bayi Yesus. Ketika Malaikat mendengar apa yang dikatakan oleh Maria, Malaikat memberitahu bahwa ini rencana Allah maka respon Maria harus dengan iman bukan logika manusia. Manusia secara hakekat disebut sebagai makhluk monoporlis (satu tetapi banyak dimensi). Jika demikian, maka pergunakan banyak dimensi yang sudah Tuhan berikan. Dimensi tersebut adalah:
1. Lahir Batin
Hal yang ada dalam diri manusia – ini susunan kodrati dalam bahasa alkitab Tubuh, jiwa dan roh

2. Sifat Kodrati
Mahluk individualis yang tidak peduli dimensi sosial. Dimensi ini tidak akan seimbang tanpa dimensi sosial.

3. Kedudukan kodrati

Dimensi tersebut harus bekerja dengan seimbang, dimana setiap dimensi saling memperlengkapi. Demikian saat Maria menggunakan pikirannya bahwa mustahil untuk mengandung tanpa pria, namun faktanya ia mengandung karena benih Roh Kudus, maka ia harus menundukkan logikanya kepada kehendak Allah bagi dirinya. Pemberitaan Malaikat kepada Maria menembus segala macam dimensi manusia. Sebab Allah sanggup laukan segala hal yang mustahil karena kuasa Allah melampaui hukum manusia.

Sebuah contoh alkitab yang bertentangan dengan hukum fisika, yaitu di 2 Raja-raja 6:1-6 – tentang kapak yang mengapung. Secara logika mana mungkin besi kapak mengapung, karena semua benda yang berat jenisnya melebihi berat jenis air akan tenggelam. Faktanya kapak itu mengapung karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Pakai logika untuk melaksanakan tugas, namun ada masa dimana kita lepaskan pikiran manusia dan datang pada Tuhan. Sebab hukum Allah-lah yang terbaik.

Jadi atasi rasa takut dengan percaya kepada janji dan firman Allah, tanggalkan pikiran manusia dan percaya kepada Allah. Ada garansi firman Allah “jangan takut”. Para gembala yang dijumpai oleh malaikat juga dipesankan oleh malaikat untuk jangan takut, sebab Tuhan sudah bekerja. Persoalan selalu ada, dengarkan firman Allah sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

PENYERAHAN MARIA
Setelah sekian banyak argumen dan logika, akhirnya Maria tunduk pada Malaikat, ia percaya serta berserah pada Allah. Misteri tak terjawab, maka ia pakai hatinya untuk percaya sehingga di ayat 38 dituliskan “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Maria pasrah dan menyerah, tidak perlu stress dan pasrah serta berkata “jadilah sesuai kehendakmu”. Ini yang membuat Tuhan senang dengan kita percaya dan berserah pada Dia yang ciptakan semua. Jangan bantah firman Allah, melainkan sadar diri seperti Maria.

PERJALANAN SELANJUTNYA
Perhatikan Lukas 1:39-45,  ketika Maria pasrah kepada kehendak Allah. Kehidupan Maria terus berlanjut, dan Maria memiliki kehidupan yang luar biasa. Dalam perikop ini sangat nampak bagaimana saat Maria kunjungi Elisabeth di pegunungan Yudea yang jaraknya yang cukup jauh. Dan ada 2 peristiwa yang mengikuti Maria, yaitu hidup Maria berdampak manfaat bagi Elisabeth dan kedua adalah resiko. Jadi ketika ada titik temu bersama dengan Tuhan, dalam kekristenan tetapi ada 2 hal yang terjadi bersamaan, yaitu resiko dan manfaat. Inilah yang dihadapi oleh Maria ketika ia tunduk kepada titah Allah.

RESIKO DAN MANFAAT
Resiko:
1. Maria diejek
Karena tidak ada yang tahu bahwa Maria sudah bertemu dengan Malaikat. Memang tidak tertulis jelas pengalaman ini, namun pasti Maria hadapi. Secara manusia Maria menghadapi konflik batin karena orang di sekitarnya. Inilah resiko Maria, dibutuhkan kekuatan untuk menghadapinya.

2. Ancaman hukum taurat tentang wanita yang mengandung.
Bahwa wanita yang mengandung tanpa suami akan dirajam dengan batu

3. Berjalan dari Nasaret ke Bethlehem untuk sensus
Ini adalah perintah Kaisar Romawi bahwa mereka harus sensus ke tempat semula atau tempat lahir. Perjalanan dapat mencapai 2 – 3 hari, Maria menunggangi keledai dalam kondisi hamil tua.

4. Melahirkan di kandang domba
Maria dan Yususf tidak mendapat tempat menginap yang layak sehingga mereka menginap di kandang domba yang terletak di dalam goa.

5. Dikunjungi para gembala
Saat Yesus lahir, para gembala yang adalah starta terendah di Israel datang melihat Bayi Yesus. Gembala adalah golongan yang dianggap rendah bahwa tidak layak menerima status masyarakat (KTP).

Inilah latar belakang  natal yang sebenarnya bahwa ada orang-orang yang rela mengambil resiko untuk lahirnya juruselamat. Jadi natal adalah moment dimana kita rela memikul resiko saat tunduk dan percaya Yesus, resiko berbeda-beda yang akan kita hadapi karena iman kepada Yesus. Jadi ikut Yesus tidak selalu kelimpahan materi, sebab ada resiko. Jadi bertahanlah saat resiko datang.

Manfaat
Dampak atau manfaat ketaatan Maria, bahwa kehadiran Maria membuat Elisabeth penuh Roh Kudus. Elisabeth bernubuat tentang Maria, bahwa Maria diberkati dari antara wanita lainnya. Allah memberikan hak istimewa pada Maria. Demikian juga kita akan menjadi berkat bila hidup dalam ketaatan dan ketundukan pada Tuhan.

KESIMPULAN
Bila kita taat pada Tuhan dan berserah maka kita akan menjadi berkat bagi siapapun. Meskipun ada resiko, tetap percaya firman Allah. Tanggalkan logika dan andalkan Tuhan, sebab pikiran manusia terbatas adanya. Minta Tuhan menguatkan jika ada resiko dan bersyukurlah kepada Tuhan. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

JANGAN SAMPAI TIDAK MASUK “TANAH PERJANJIAN” – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 16 Desember 2018)

Ibrani 3:7-11 

PENDAHULUAN
Ibrani 3:7-8 “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus:”Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu  pencobaan di padang gurun…”  Ayat ini merupakan tulisan Musa yang dikutip oleh Rasul Paulus dalam Mazmur 95:7b-8, “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hati-mu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di  padang gurun.”

Tujuan Rasul Paulus mengutip tulisan Musa adalah untuk mengingatkan kepada Israel Rohani betapa pentingnya kita menjalani kehidupan menuju tanah Perjanjian yaitu kerajaan Allah. Karena itu akan menentukan bagaimana hasilnya. Jangan sampai tidak masuk ke tanah perjanjian, seperti yang dialami oleh orang Israel jasmani sewaktu dipadang gurun.

Musa tidak berkata “BESOK”, tetapi berkata “HARI INI!” yang artinya: tidak dapat ditunda lagi sebab mungkin saja besok, lusa, ataukah minggu depan sudah terlambat untuk melaksanakannya, sebab sudah tidak ada kesempatan lagi. Oleh sebab itu, jikalau firman Allah mengingatkan, menegur dan menasihati, jangan ditunda lagi bahkan mengeraskan hati (Ibrani 3:7-8). Maksud “Jangan keraskan hatimu” adalah jangan tolak firman Allah, jangan acuhkan/cuek firman Allah, dan jangan sampai tidak melakukan  firman Allah. Juga jangan terus hidup dalam dosa dan tidak mau bertobat! Mengapa tidak dapat ditunda? Karena geramNya akan seperti pada waktu pencobaan di padang gurun yaitu sewaktu di Masa dan Meriba.

Memang Tuhan adalah adil, panjang sabar; murah hati dan lemah lembut. Tetapi ada saat di mana Tuhan tidak mengulur-ulur waktu dan tidak memberi kesempatan lagi kepada manusia. Jadi segera bertobat dan berhenti berbuat dosa. Roma 11:22a  “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya!”

KEGAGALAN BANGSA ISRAEL
Betapa penting respon yang benar atas peringatan dan nasihat Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 10:1-10, Paulus ingatkan kekerasan bangsa Israel, yang membuat mereka tidak masuk Tanah Perjanjian yaitu tanah Kanaan. Bangsa Israel gagal masuk tanah Kanaan bukan karena kekurangan fasilitas. 1Korintus 10:1-4, Allah menyediakan Fasilitas bagi bangsa Israel dalam perjalanan masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan (tanah Kanaan) dengan menyediakan semua kebutuhan makan, minum, pakaian, kesehatan dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Tetapi selanjutnya di ayat 5, bangsa Israel gagal sampai ke tanah Kanaan dan sebagian besar bangsa Israel tewas di padang gurun. Jadi bukan karena kekurangan fasilitas mereka gagal, melainkan karena mereka mengeraskan hati di hadapan Allah sehingga mereka tidak mau dengar firman Tuhan dan tidak mau bertobat.

DOSA DAN PELANGGARAN ISRAEL
Dosa apakah yang dilakukan oleh bangsa Israel di mata Tuhan sehingga mereka tidak masuk tanah kanaan? 1 Korintus 10:6-10, dituliskan bahwa ada 5 dosa yang dilakukan bangsa Israel, yang menyebabkan Israel gagal masuk tanah perjanjian yang Tuhan janjikan, antara lain :
1. Menginginkan Yang Jahat
1 Korintus 10:6 “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat.”

Keinginan jahat seperti apa yang dilakukan bangsa Israel sehingga mereka tidak sampai di Tanah Perjanjian yaitu Kanaan? Bilangan 11:4-6 mencatat bahwa bangsa Israel menginginkan hal-hal yang dahulu mereka nikmati di Mesir yaitu menu Mesir. Mereka mengungkapkan semua kepada Musa tentang Mesir. Jadi orang Israel tidak dapat melepas hal-hal yang dahulu mereka nikmati di Mesir dan mengeluh kepada Musa.

Mesir merupakan gambaran hal-hal duniawi. Jika diartikan ke masa kini, orang Israel ini sama dengan orang percaya yang tidak lepas dengan dosa-dosa melainkan tetap menginginkan hal-hal duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sesungguhnya, Pengikut Yesus Yang Sejati, adalah orang yang telah meninggalkan dosa-dosa masa lalunya. Jadi kalau kita masih punya keinginan untuk mencicipi dosa masa lalu dan kita melakukannya, kita akan seperti Israel yang tidak masuk tanah perjanjian yaitu Kanaan sorgawi.

2. Penyembah Berhala
1 Korintus 10:7 “supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: “Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria”.

Perhatikan Keluaran 32:1-6. Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, seharusnya bangsa Israel beribadah hanya kepada Allah. Sebab itulah tujuan Allah membawa mereka keluar dari Mesir. Tetapi, mereka malah menyembah berhala. Mereka melihat orang Mesir yang menyembah berhala, menyembah patung yang kelihatan oleh mata. Bangsa Israel pun menginginkan hal yang sama. Mereka ingin menyembah Allah yang dapat dilihat. Itulah sebabnya, ketika Musa naik ke gunung Sinai dalam waktu yang lama, mereka meminta untuk dibuatkan patung dari emas. Mereka rela mempersembahkan kekayaan yang mereka dapat dari majikan mereka di Mesir, untuk dijadikan patung berhala. Padahal Tuhan bermaksud menggunakan kekayaan bangsa Israel untuk membangun mezbah Allah dan peralatan lainnya. Jika demikian maka kitapun harus berhati-hati. Kita harus menjauhkan diri dari semua bentuk penyembahan berhala/kepercayaan apapun. 1 Korintus 10:20 – orang yang menyembah berhala sama dengan bersekutu dengan roh-roh jahat yang menunggangi berhala.

3. Melakukan Percabulan
1 Korintus 10:8   “Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.”  Perbuatan cabul seperti apa yang dilakukan oleh bangsa Israel? Bilangan 25:1-5, pada saat itu Balak seorang raja Moab yang takut melihat bagaimana kemenangan Isarel maka ia membayar Bileam untuk mengutuki Isarel. Alhasil usahanya gagal, sebab bukan kutuk yang keluar melainkan berkat. Melihat usahanya gagal, maka Bileam memberikan ide kepada Balak dengan memanfaatkan gadis-gadis Moab untuk datang ke perkemahan orang Israel dan menggoda mereka bahkan sampai berzinah dengan orang Israel. Melihat kondisi tersebut, Tuhan begitu geram kepada orang Israel. Sampai akhirnya ada seorang anak muda yang bertindak, sehingga tulah berhenti atas Isarel. Jadi ada orang-orang  Israel yang berzinah ditewaskan di padang gurun dan tidak sampai di tanah Kanaan .

Secara rohani, kita tahu bahwa Iblis ingin melemahkan kekuatan orang Kristen melalui dosa percabulan sehingga mereka meninggalkan Tuhan dan binasa. Mungkin bukan percabulan jasmani, tetapi percabulan rohani. 1 Korintus 6:9,10 – orang cabul tidak akan masuk kerajaan Allah.

Demikian 3 kegagalan Isarel masuk tanah Kanaan dan masih ada 2 lagi kegagalan Isarel yang akan dibahas pada minggu-minggu berikutnya.

KESIMPULAN
Ingat pesan Tuhan, jika Tuhan sudah berfirman. Ikuti dan jangan tunda, jika menunda maka kita akan gagal masuk tanah Kanaan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita untuk dapat hidup sesuai kehendakNya. Tuhan Yesus memberkati.

PERJAMUAN KUDUS ADALAH PERINGATAN AKAN PENGAMPUNAN DAN PENEBUSAN DOSA – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 3 – Minggu, 2 Desember 2018)

Kolose 1:13,14 – “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita kedalam Kerajaan AnakNya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.”

Ayat pokok kita ini menjelaskan tentang keadaan kita sebelum dan sesudah kita ditebus melalui pengampunan dosa lewat korban Kristus. Korban Kristus yang akan kita peringati lewat perjamuan suci. Sebelumnya hidup kita dikuasai oleh kuasa kegelapan karena dosa, karena semua orang telah berbuat dosa. Roma 3:23“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah“. Tetapi oleh kebesaran kasih Allah, kita telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan kedalam perlindungan kerajaan AnakNya (Yesus), melalui pengampunan dosa kita oleh darah Yesus di salib.

TENTANG DOSA
Dosa kalau dalam bahasa Indonesia memiliki pengertian yang sederhana yaitu memberontak / melawan Tuhan; tidak melakukan kehendak Tuhan ;  melakukan pelanggaran;  hidup dalam kegelapan/kejahatan;  hidup dalam ketidakbenaran. Dalam bahasa Yunani kata dosa memiliki arti yang lebih luas :

1. HAMARTIA (Kehilangan tanda)
Saat manusia diciptakan, manusia memiliki tanda Illahi yaitu Kemuliaan Allah, Roma 2:23.

Roma 3:23 – “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Ayat ini menjelaskan bahwa sebelumnya manusia memiliki tanda keIlahian dari Allah yaitu cahaya yang meliputi seluruh keberadaannya dan cahaya kemuliaan itu menjadi pakaiannya. Namun tanda kemuliaannya itu sirna ketika mereka jatuh kedalam dosa, untuk itulah manusia membutuhkan pakaian sebab mereka telanjang karena kemuliaan sebagai pakaiannya telah hilang. Sehebat, sekaya dan sepandai apapun manusia, tanpa kembali dipulihkan dari dosanya, ia sudah kehilangan tanda kemuliaan itu.

2. HAMARTEMA (Tidak menanggapi atau melawan hukum Allah).
Artinya tidak menanggapi atau melawan kebenaran firman Allah, meski sebenarnya ia tahu kebenaran itu. Markus 4:12 mengatakan “Supaya, sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”  Mereka sengaja tidak mau menanggapi firman Tuhan.

3. PARAKOE (Ketidaktaatan; tidak mau mendengar).
Ibrani 2:2 “Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal.

Contoh:

  • Istri Lot, Kej 19:26.
    Istri Lot sudah diberi tahu dari sejak awal untuk mematuhi malaikat Tuhan ketika harus lari dari kota Sodom. Permintaan Tuhan tidak berat hanya satu dan mudah, jangan menoleh ke belakang. Lot dan kedua anaknya mematuhinya, tetapi istri Lot karena mungkin ada hal-hal yang tidak bisa ia lepaskan dari kota Sodom yang penuh dosa, ia melanggar perintah Tuhan dan menoleh ke belakang, ia binasa dengan cara yang terbilang unik, menjadi tiang garam.
  • Simson, Hakim 16:17.
    Simson adalah nasir Allah yang kekuatannya luar biasa, namun tewas juga dengan cara yang tidak umum sekalipun dalam perang. Ia tertimpa bangunan akibat memilih tidak mentaati aturan Tuhan atas dirinya sebagai nazir Allah.
  • Raja Saul, 1 Sam 15:9-11.
    Raja Saul dipilih oleh Allah sendiri sebagai orang yang rendah hati dan mentaati Tuhan, tetapi akhir hidupnya ia tewas dengan cara yang tidak kesatria. Ia bukan dibunuh oleh musuhnya dalam peperangan, tetapi bunuh diri.

4. ANOMIA (Kejahatan)
Dalam2 Kor 6:14 – Ditulis kedurhakaan dan dalam 1 Yoh 3 : 4 ditulis  melanggar hukum.

Sebagai pengikut Yesus yang sejati, mampu tetap berdiri diatas kebenaran, walaupun semua orang di lingkungannya melakukan pelanggaran.  Seperti Lot yang tetap ada dalam kebenaran meski ia tinggal di kota Sodom yang berdosa, Kej. 13:12,13. Lot menderita batinnya karena setiap hari ia hidup ditengah-tengah masyarakat yang berdosa, tetapi ia bertahan hidup dalam kebenaran.

2 Petrus 2:7 “Tetapi Ia menyelamatkan Lot orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja.” Bahayanya dosa kedurhakaan jika sudah merajalela, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

Mat 24:12 “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”

5. PARANOMIA (Kebebalan).
Menunjuk kepada orang yang keras hati; tidak mau diberi tahu/dinasehati. Contoh Bileam (2 Petrus 2:16) dan Firaun (Kej 7-8).  Kedua tokoh ini berulang kali diperingatkan oleh Tuhan, dari paling lembut sampai dengan keras Tuhan peringatkan, hati mereka tetap bebal dengan mengeraskan hatinya menolak peringatan Tuhan.

6. PARABASIS (Pelanggaran)
Secara harafiah artinya melewati batas.  Garis batas Tuhan bagi kita tegas yaitu Firman Allah, yang tidak boleh dilanggar. Israel melanggar hukum yang justru mereka banggakan yaitu Taurat, Roma 2:23. Sehingga sebagian besar dari mereka tidak dapat memasuki tanah perjanjian, tetapi ditewaskan Tuhan di padang gurun.

7. PARAPTOMA (Kesalahan)
Secara harafiah artinya kejatuhan. Kejatuhan dalam penerapannya adalah kejatuhan karena hidupnya tidak benar; Tidak jujur; Tidak setia.

Contoh:

  • Simson, Hakim 16 – Meski Ia seorang nazir Allah tetapi hidupnya tidak menuruti kebenaran.
  • Ananias dan Safira, Kisah 5 – Mereka tidak jujur dalam membawa korban persembahan.
  • Yudas Iskariot – Tidak setia, ia mengkhianati Yesus karena tamak akan uang.

Semua manusia tidak ada yang luput dari daftar tujuh dosa tersebut dan tidak ada satupun yang dapat mengatasi dosanya. Satu-satunya yang dapat mengurus dosa manusia adalah Yesus Kristus lewat pengorbananNya di kayu salib, yang mati bagi penebusan dosa kita.

Melalui penebusan darah Yesus yang mulia, kita menjadi suatu umat yang besar atau istimewa dihadapan Tuhan dalam kerajaan-Nya yang kekal. Lukas 7:28 “Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.”

Mengapa yang terkecil dalam kerajaan Allah disebutkan lebih besar dari Yohanes pembaptis ? Yohanes pembaptis adalah benar ia orang besar yang diutus Allah mendahului juru selamat, tetapi ia tidak alami penebusan dosa oleh darah Yesus. Ia memang ada dalam kerajaan Allah tetapi tidak lebih besar dari orang-orang yang telah menerima penebusan oleh darah yang mahal, kudus, tak bercela dari Putra Allah Yesus Kristus Tuhan. Jadi betapa berharganya kita bagi Tuhan, yang telah menerima penebusan darahNya. Melalui perjamuan suci kita diingatkan, bahwa dosa kita telah ditebus dan kita menjadi milik Tuhan dan berhak menerima kemuliaan yang lebih besar dari Yohanes pembaptis. Tuhan Yesus memberkati.