EVALUASI KEHIDUPAN AKHIR TAHUN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Akhir Tahun – Senin, 31 Desember 2018)

2 TIMOTIUS 4:7

Rasul Paulus sedang mengevaluasi kehidupannya ketika ia tahu bahwa akhir hidupnya sudah mendekat. Ada tiga hal yang Paulus evaluasi dalam kehidupannya :
1. Perjalanan hidupnya yang digambarkan seperti sebuah pertandingan.
2. Hasil akhir kehidupannya.
3. Kondisi imannya.

Tentang garis akhir kehidupan dapat terjadi meliputi level Akhir dari kehidupan satu hari; Akhir dari kehidupan satu minggu ; Akhir dari kehidupan satu bulan ; Akhir dari kehidupan satu tahun dan yang terakhir yang semua orang akan alami adalah Akhir kehidupan di dunia ini.

Hasil akhir kehidupan manusia dalam penilaian Tuhan hanya ada dua hal :
1. “Baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik.” (Matius 25:21, Markus 25:23, Lukas 25:34). Atau…
2. “Aku tidak pernah mengenal kamu, Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan.” Matius 7:23, Lukas 25:41. Kedua penilaian ini mana yang akanTuhan berikan bergantung dari hasil pertandingan iman setiap orang percaya.

I. EVALUASI PERJALANAN KEHIDUPAN
Kehidupan orang percaya digambarkan dalam dua pertandingan yang berbeda yaitu Pertandingan LARI dan TINJU,  1 Korintus 9:26. Kapan seseorang dinyatakan masuk dalam gelanggang pertandingan itu? Ketika ia mengambil keputusan percaya kepada Yesus.

LOMBA LARI
Membutuhkan stamina yang kuat, kecepatan dan mengikuti aturan yang berlaku. Nasehat penting dari Rasul Paulus tentang bagaimana kita harus berlari, 1 Korintus 9:24. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!”

Dalam sebuah lomba lari dikatakan hanya satu orang saja yang dinyatakan sebagai pemenang. Siapa yang akan menjadi pemenang ? Kitalah yang harus menjadi pemenangnya karena yang menjadi lawan kita adalah dunia ini yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan.

Ada hal yang yang menarik dari nasehat  Paulus untuk kita menjadi pemenang harus lari begitu rupa. Apakah yang dimaksudkan dengan larilah begitu rupa ini?   Ada dua hal yang dapat kita ketahui sebagai jawabannya :
1. 1 Korintus 9:25a – Dikatakan “Tiap-tiap orang yang mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal…”

Yang pertama adalah penguasaan diri. Dalam anak tangga pertumbuhan rohani menuju gereja yang sempurna masuk dalam level yang ke empat atau dalam istilah lomba lari itu kilometer ke empat setelah iman, kebajikan dan pengetahuan, 2 Petrus 1:5. Kilometer pertama adalah iman kemudian ditambahkan kebajikan, dari kebajikan kepada pengetahuan kemudian masuk pada penguasaan diri. Pada level penguasaan diri inilah banyak orang percaya yang jatuh ataupun gugur imannya.

Contoh : Raja Saul dimulai dengan kerendahan hati ketika diurapi jadi raja, tetapi setelah jadi raja ia tidak mampu menguasai dirinya sehingga ia menjadi sombong, haus kekuasaan dan pada akhirnya berbalik tidak taat kepada Allah. Yudas Iskariot dipilih Tuhan sendiri menjadi salah satu murid-Nya dan menjadi Rasul  Tuhan, tetapi kemudian mengkhianati Yesus karena tidak mampu menguasai dirinya dari ketamakan akan uang dan masih banyak contoh lainnya didalam Alkitab. Kita harus dapat menguasai diri kita dari segala keinginan daging  yang merintangi dalam perlombaan iman kita sehingga kita tidak gugur ditengah jalan seperti Saul danYudas.

2. 1 Korintus 9:26a – “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan…”.
Hal kedua dari pengertian larilah begitu rupa adalah jangan lari tanpa tujuan. Jangan menjadi orang kristen yang tanpa tujuan, demikian juga dalam melayani. Sekuat dan sekencang apapun seseorang dalam berlari, jika tanpa tujuan – sia-sia belaka. Hanya buang tenaga dan waktu. Larilah sedemikian rupa dengan tujuan yang pasti dan dalam penguasaan diri yang kuat, karena tujuan pelayanan yang mulanya benar dapat buyar ketika penguasaan diri tidak lagi dapat dikendalikan seperti  raja Saul yang gagal.  Hasil dari pengiringan dan pelayanan yang tanpa tujuan adalah mengakhiri pertandingan dengan tidak baik. Introspeksi Diri untuk evaluasi : Sudah benarkah tujuan pengiringan dan pelayanan kita, di tahun 2018 yang segera berlalu ?

BERTINJU
Inilah gambaran kedua dari Rasul Paulus tentang perlombaan iman orang percaya. Bertinju membutuhkan stamina yang kuat, tenaga yang kuat, strategi dan siap hadapi benturan. Jika di lomba lari tidak ada benturan, bertinju harus alami benturan. 1 Korintus 9:26b – “….Aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” Seseorang yang pengiringan dan pelayanannya tanpa tujuan, maka pelayanannya pun asal-asalan, seperti seorang petinju yang sembarangan saja memukul, serampangan. Hal ini banyak dialami oleh orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, ibadahnya timbul tenggelam, melayani juga pilih-pilih, kena teguran firman marah, pindah gereja. Sebagai pengikut Tuhan yang sejati jangan melayani Tuhan asal-asalan tanpa tujuan dan sasaran yang benar. Introspeksi Diri :  Apakah arah tinju kita sudah pada sasaran yang tepat ?

Apakah selama ini perkataan kita yang terlontar dan membentur orang menjadi berkat atau sebaliknya benturan omongan kita malah menyakitkan orang lain dan membuat mereka undur dari Tuhan. Penilaian kita terhadap orang lain, apakah selama ini kita salah dalam menilai orang lain? Cenderung menghakimi orang lain. Apakah masih pandang bulu atau memberi perhatian kepada saudara seiman dengan kasih? Rasul Paulus kembali memberikan nasehatnya kepada kita.

1 Korintus 9:27 “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak.”

Melatih tubuh artinya mendisiplinkan diri, untuk dapat menguasai diri dalam segala hal. Berbicara tentang disiplin kita dapat evaluasi diri kita, bagaimana dengan: Disiplin doa kita, Disiplin ibadah kita, Disiplin membaca, mendengar dan melakukan firman Tuhan. Tanpa memiliki kedisiplinan diri yang benar, maka iman kita akan mudah dilemahkan dan dikalahkan.

Selanjutnya ayat di atas mengatakan “supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak,artinya jangan sampai kita kena semprit oleh wasit penyelenggara pertandingan (Tuhan) dan didiskualifikasi, dinyatakan melakukan pelanggaran dan dikeluarkan dari gelanggang pertandingan alias gugur.

II. EVALUASI IMAN
Dalam 2 Timotius 4:7 – dikatakan“ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Ada dua hal tentang memelihara iman yaitu :
1. Menjaga kemurnian iman.
Menjaga dari apa? Dari pengajaran sesat; Kepercayaan lain/ duniawi, meliputi dongeng nenek-nenek tua, tradisi yang tidak sesuai dengan firmanTuhan. Berikutnya adalah Half  truth (Separuh kebenaran). Ada gereja-gerja yang mengajarkan firman yang tidak seutuhnya, yang diajarkan hanya pada sisi berkat-berkat-Nya saja, sementara sisi lain tentang pikul salib, menyangkal diri dan kesiapan untuk menderita karena Kristus sebagai konsekuensi pengikut Yesus tidak pernah diajarkan. Jemaat yang seperti ini hanya mengetahui separuh kebenaran tidak utuh, dan iman seperti ini bukan iman yang murni, karena hanya tahu separuh kebenaran firman saja. Tidak heran ketika mereka alami penderitaan dan aniaya karena Kristus, mereka kecewa dan tinggalkan Tuhan.

2. Mempertahankan iman.
Mempertahankan dari godaan dan kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan, Matius. 13:22. Secara umum kita harus mempertahankan iman kita dari dua hal, yaitu mempertahankan iman dari pencobaan dan aniaya. Dalam menghadapi pencobaan dalam 2 Timotius 3:1 – dikatakan : “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Situasi kedepan akan semakin memburuk. Masa yang sukar akan ditandai dengan bertambahnya kejahatan dan turunnya standar moral dalam dunia kekerasan dan pembunuhan hampir menjadi warna setiap hari, dan hal-hal yang tabu dan dosa-dosa sexual sudah terang-terangan dipertontonkan dan dilegalkan. Dalam kerohanian makin banyaknya gereja palsu dan nabi palsu yang akan muncul dan menyesatkan, Matius 24:11—12. Menghadapi aniaya Firman Tuhan tidak pernah menyembunyikan hal ini, tetapi justrus memberitahukan kepada kita soal aniaya.

Yohanes 16:2  – “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.”  Ada dua jenis aniaya yang akan dialami orang percaya, aniaya secara batin dengan dikucilkan, dan aniaya fisik dibunuh. Apa kata Tuhan dalam kita menghadapi masalah ini ? Dalam Matius 10:28 – Dikatakan supaya kita jangan takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh saja tetapi tidak dapat membinasakan jiwa kita, kita harus lebih takut kepada Allah yang dapat membunuh baik tubuh maupun jiwa kita.

Matius 10:29-31 –  Bahwa hal ini tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan dan kehendakTuhan, hanya orang-orang  tertentu saja yang dikaruniakanTuhan untuk menderita sebagai syahid Tuhan, jadi tidak semua orang percaya akan alami hal ini.  Bagaimana jika hal itu terjadi ? Matius 10:32,33 – Tuhan katakan untuk tetap pertahankan iman, dengan tetap percaya bahwa YESUS itu Tuhan. Dengan tetap memelihara iman, sekali Yesus tetap Yesus meski alami kematian karenaYesus, maka kitapun akan diakui Yesus sebagai pengikut-Nya yang sejati di hadapan Bapa di Sorga.  Apapun yang akan kita hadapi di garis terakhir hidup kita ke depan, biarlah Tuhan mendapati bahwa IMAN KITA TETAP TERPELIHARA. Jadikan tahun 2018  sebagai bahan evaluasi kita. Tahun 2019  adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Allah selalu menyertai perjalanan kehidupan kita sampai pada garis akhir.

Yohanes 14:16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”

 Tuhan kirim Roh Kudus kedalam hati kita untuk menyertai kita selama-lamanya memberi kekuatan dan kemampuan untuk bertahan sampai garis akhir sebagai pemenang. Selamat tahun baru 2019.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s