PEMBUNUH RAKSASA MEMILIH BERHARAP KEPADA TUHAN, BUKAN KEPADA SENJATA PERANG – Seri PEMBUNUH RAKSASA (Ibadah Raya 1 – Minggu, 13 Januari 2019 oleh Pdt. Joseph Priyono)

Tiga belas hari telah kita jalani tahun 2019, apakah yang sudah terjadi atas hidup kita? Saya percaya tahun baru 2019 ini memberikan harapan baru bagi kita. Disamping harapan-harapan baru yang akan terjadi di tahun ini, satu hal yang tidak dapat kita hindari dalam perjalanan hidup ini adalah hadirnya “raksasa” di sepanjang perjalanan. Tahun telah berganti, musim telah berubah, tetapi raksasa akan tinggal tetap menantang kita. Pada pagi hari ini, kembali kita akan mempelajari bagaimana caranya menjadi “Pembunuh Raksasa.”

Beberapa waktu yang lalu kita sudah pelajari rahasia kemenangan Daud melawan Goliat.
1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan, bukan suara lawan.
2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan bukan lawan.
3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
4. Pembunuh raksasa memilih memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.
5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.

Saat ini kita akan mempelajari kunci kemenangan Daud yang keenam.

Pembunuh raksasa memilih berharap kepada TUHAN bukan senjata perang

Kemenangan Daud atas Goliat didasarkan atas harapannya yang ditujukan kepada Tuhan bukan kepada kelengkapan senjata perang ataupun jumlah pasukan yang dimiliki.

Mari kita perhatikan harapan Daud kepada Tuhan.
1Samuel 17:38-40 

Ayat 38
Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.

Ayat 39
Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya.

Ayat 40
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

Sebelum berangkat berperang melawan Goliat, Saul menawarkan baju perangnya kepada Daud. Mengapa? Sebab selama ini baju perang itu telah menjadi harapan bagi Saul. Bagi Saul baju perang yang dia kenakan adalah perlindungan atas dirinya. Berulang kali Saul maju berperang, ia selalu aman berada dibalik baju perangnya. Itulah sebabnya Saul menawarkan perlindungan baju perang kepada Daud, tetapi Daud menolaknya. Mengapa Daud menolak baju perang yang diberikan Saul? Sebab bagi Daud, harapannya tidak ditujukan kepada baju perang. Bukan pula kepada senjata dan perlengkapan perang. Daud lebih berharap kepada Allah sebagai tempat perlindungan dan kubu pertahanannya.

Mazmur 46:2
Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

Pengalaman-pengalaman bersama dengan Tuhan di padang penggembalaan, menghantar Daud untuk menaruh harapannya hanya kepada Tuhan. Daud lebih percaya kepada Tuhan dari apapun yang ditawarkan Saul. Baju perang lengkap, senjata perang yang hebat, bukan jaminan kemenangan. Sekali lagi bagi Daud harapannya hanya kepada Allah yang memberi kemenangan. Kepada siapa kita menaruh harapan saat ini. Senjata perang atau kepada Tuhan? Berharaplah hanya kepada Tuhan yang sanggup melakukan segala sesuatu.

KUASA PENGHARAPAN
Bicara pengharapan bahwa pengharapan adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia, karena pengharapan adalah mesin penggerak manusia. Hidup kita bergerak karena masih ada harapan. Berikut ini beberapa kuasa dari pengharapan:

1. Pengharapan membuat orang bertahan dalam penderitaan.
Hanya orang yang memiliki harapan yang mampu bertahan hidup dalam ujian yang ringan maupun berat. Misalnya:

  • Orang tua rela bekerja keras banting tulang karena memiliki harapan kepada keluarganya.
  • Orang yang sakit kanker, bertahan dalam kelemahan dan kesakitan karena berharap datangnya kesembuhan.
  • Orang merantau tinggalkan keluarga, karena memiliki harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Hal yang sama juga dialami oleh rasul Paulus. Rasul Paulus tetap bertahan dalam pelayanan sekalipun mengalami berbagai penderitaan karena ada harapan akan upah yang kekal di kerajaan Allah.

1 Korintus 4:17-18
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

2. Pengharapan membuat orang berhasil
Kesuksesan masa depan di awali dari harapan. Harapan melahirkan usaha, ketekunan dan kesungguhan yang membuahkan keberhasilan.

  • Pedagang yang berharap sukses akan bekerja dengan sunguh-sungguh.
  • Atlet yang mengharapkan juara, akan berlatih sekeras mungkin.
  • Hanya penjual yang memiliki harapan akan berhasil menjual produknya.

3. Pengharapan memberikan keberanian.
Orang-orang yang memiliki pengharapan selalu hidup dalam keberanian. Mereka sadar bahwa dalam hidup ini ada tantangan yang dihadapi, ada kesulitan, bahkan penderitaan, namun semuanya itu tidak membuat mereka mundur ataupun berhenti, mereka terus mendorong maju menghadapi segala tantangan hidup.

Apa yang membedakan Daud dengan Saul dan seluruh orang Israel? Jawabnya adalah HARAPAN. Saul dan bangsa Israel tidak memiliki harapan untuk menang saat menghadapi Goliat, tetapi Daud percaya selalu ada harapan bersama Tuhan. Itulah sebabnya Daud tidak takut dengan kebesaran dan kekuatan Goliat. Daud maju menghadapi Goliat. Itulah kuasa pengharapan.

Hilangnya Pengharapan
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dapat kehilangan pengharapan. Itulah sebabnya tidak sedikit didapati orang-orang yang bunuh diri karena tidak lagi memiliki harapan dalam hidupnya. Hilangnya harapan adalah tanda matinya kehidupan. Dari media online news.detik.com, ada beberapa contoh orang-orang yang memilih mengakhiri hidupnya karena kehilangan harapan.

  • Santri Ponpes di Pasuruan ditemukan gantung diri berbaju koko. (10 Januari 2019)
  • Dalam sepekan, Ada 3 orang tewas gantung diri di Gunung Kidul. ( 6 Januari 2019)
  • Sudarsi nekat gantung diri, diduga terbelit masalah ekonomi (4 Januari 2019)
  • Pasutri di Tangerang tewas gantung diri (2 Januari 2019)

Inilah adalah fakta yang terjadi disekitar kita, bahwa hilangnya harapan adalah akhir dari kehidupan.

Yesus sumber Pengharapan
Dalam hidup ini bukan saja kita menjaga agar tidak kehilangan pengharapan, tetapi kepada siapa kita berharap itu lebih penting. Jika kita salah menaruh harapan, kita akan menemukan kekecewaan. Pengharapan sejati harus kita tujukan kepada Tuhan Yesus. Sebab barang siapa berharap kepada Tuhan, ia tidak akan dikecewakan.

Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ibrani 6:19
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.

Rom 5:5
Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Marilah kita melihat contoh-contoh orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan
1. Wanita yang sakit pendarahan 12 tahun (Markus 5:25 – 29)
Seharusnya wanita ini tidak lagi memiliki harapan, sebab telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Apa yang masih diharapkan? Tidak ada! Tetapi saat ia mendengar berita tentang Yesus, harapannya menyala kembali. Ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Dan saat ia menjamah jubah Yesus maka berhentilah pendarahannya dan ia sembuh dari penyakitnya.

2. Lazarus (Yohanes 11)
Ayat 21:  Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Marta berpikir, jika saja Lazarus belum mati maka masih ada harapan, tetapi sekarang sudah mati, tidak ada lagi harapan.

Di dalam Yesus selalu ada harapan, bahkan yang mati sekalipun Tuhan masih dapat menghidupkannya kembali.

Penutup
Adakah diantara kita sedang mengalami keadaan seperti wanita yang sakit pendarahan ini atau seperti Lazarus. Keadaan yang Saudara alami sepertinya memang tidak ada lagi harapan. Jangan menyerah, jangan putus asa, tetaplah bertahan, teruslah berjuang, didalam Yesus masih ada harapan. Yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus masih sanggup melakukannya.

Ayub 14:7-9 

Karena bagi pohon masih ada harapan : apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.

Sebagaimana pohon yang ditebang masih memiliki harapan untuk bertunas kembali demikianlah hidup kita. Seburuk, separah, sehancur apapun Tuhan sanggup memulihkan kembali. Percayalah pada firmanNya dalam Matius 12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Tuhan memberkati. KJP!!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s