HATI-HATI TERHADAP KEMALASAN DAN KEMURTADAN (Peringatan Ketiga) – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 20 Januari 2019)

Ibrani 5:11 – 6:6

PENDAHULUAN
Beberapa minggu yang lalu telah dibahas beberapa peringatan bagi orang percaya, yaitu:

  1. Bahwa setiap orang percaya harus memperhatikan dan jangan mengabaikan apa Tuhan firmankan. Sebab jikalau diabaikan atau lalai, kita dapat hanyut terseret arus yang menyeret kita kepada kebinasaan.
  2. Jangan sampai tidak masuk ke tempat perhentian yaitu, Kanaan sorgawi, karena tidak memiliki penguasaan diri terhadap godaan-godaan yang disodorkan Iblis.
  3. Berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat kita murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Dan poin ketiga inilah yang akan kita bahas selanjutnya, yaitu berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

PENYEBAB KEMURTADAN
Tidak menutup kemungkinan, seorang pengikut Yesus dapat murtad dan menyangkal bahkan menjadi pelawan Yesus karena orang tersebut “Lamban Dalam Mendengar Firman Tuhan.” Kalau kita baca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya nasihat-nasihat Tuhan Yesus dan para rasul serta kitab Wahyu, firman Allah banyak menekankan tentang hal “mendengar” sekaligus berbicara tentang lamban dalam mendengar.

Mungkin Saudara bertanya: Apa yang dimaksud “Lamban dalam mendengar firman Tuhan…?” Orang yang lamban dalam mendengar firman Tuhan, tentu saja bukan menunjuk kepada orang yang belum percaya kepada Yesus, yaitu orang yang menolak firman Tuhan. Bukan juga orang yang malas ke gereja, sehingga jarang mendengar firman Tuhan. Atau orang itu ke gereja, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan.

Kalau begitu siapa dan seperti apa orang yang disebut: Lamban dalam mendengar firman Tuhan? Orang yang lamban dalam mendengar firman Allah, sudah pasti orang tersebut adalah orang yang rajin ke gereja; aktif di jemaat bahkan kalau dengar firman Tuhan, mencatat, hafal firman Tuhan sehingga tidak menutup kemungkinan orang itu juga terlibat melayani Tuhan. Tetapi mereka hanya sebatas mendengar.

Jadi mereka mendengar Firman Allah hanya sebatas di telinga dan pikiran (jiwanya), sehingga ia faham atau mengerti firman Tuhan, bahkan mahir mengkhotbahkan firman Tuhan. Tetapi ia hanya dengar firman Tuhan dengan telinga dan pikirannya tetapi tidak dengan hatinya. Orang yang tidak memasukkan firman yang ia dengar dan ia mengerti ke dalam hatinya, ia tidak akan pernah bisa MENGASIHI firman Allah dan MELAKUKAN firman Allah.

Orang Kristen yang malas, yaitu orang Kristen yang hanya mendengar firman Allah tetapi tidak memasukkan firman itu dalam hatinya dan melakukan firman Allah tersebut, Yesus umpamakan seperti orang yang bodoh (bukan orang yang bijaksana). Dan orang yang bodoh Tuhan Yesus umpamakan seperti orang yang membangun rumah di atas pasir.

Baca dalam Matius 7:26,27 “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Orang yang malas yaitu orang kristen yang cuma mendengar firman Allah tetapi tidak mencintai firman Allah, yaitu tidak mempraktekkan firman Allah dalam hidupnya, orang risten seperti itu sangat mudah untuk menjadi murtad.

MURTAD
Kata Murtad dalam bahasa Yunani: APOSTASIA dalam bahasa Inggris: Apostasy, yaitu ada orang yang awalnya percaya kepada Yesus dan berjuang bagi Yesus tetapi dengan kesadaran (sengaja) orang itu meninggalkan iman kepada Yesus sebagai sikap atau bentuk pengkhianatan atau pemberontakan kepada Yesus. Orang yang murtad ialah orang yang tidak punya kesempatan atau peluang untuk bertobat dan dipulihkan kembali. Itu sebabnya dalam Matius 7:27, digambarkan seperti rumah yang roboh diterpa angin, hujan dan banjir sehingga hebatlah kerusakkannya!

HEBATLAH KERUSAKANNYA
Pada umumnya kita lihat jikalau ada rumah roboh karena gempa atau banjir, tetapi reruntuhan rumah tersebut masih ada yang dapat dimanfaatkan (tiang; jendela; kusen; genting; batu bata) – berarti bagian rumah tersebut masih dapat diselamatkan atau dimanfaatkan. Namun, orang yang murtad digambarkan seperti rumah yang kena gempa liquifaksi, tanah tempat rumah itu berdiri tanahnya mencair, sehingga rumah itu roboh dan tenggelam terseret tanah yang mencair menjadi lumpur sehingga tidak dapat lagi diselamatkan atau dimanfaatkan – inilah yang dimaksud hebatlah kerusakannya. Inilah kondisi orang yang Murtad, mereka tidak dapat diselamatkan lagi. Oleh sebab itu, berjaga-jaga terhadap kemalasan yang bisa membuat murtad, yaitu menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Sebuah contoh, yaitu Daud yang  adalah figur atau tipikal anak Tuhan sangat mencintai firman Tuhan. Dan saat Daud dengar firman Tuhan, Daud tidak hanya mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan pikirannya. Tetapi Daud memasukkan firman Allah itu di hatinya dan menerapkan firman Tuhan itu di hidupnya. Hal ini dapat kita baca dalam kitab mazmur yang Daud tulis Mazmur 119:159 “Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu.”

Daud Pernah Gagal
Sebagai manusia, Daud bukan orang yang sempurna, ia pernah gagal dalam melakukan firman Allah. 1 Samuel 24:1-12- mengisahkan bagaimana Saul dan 3.000 tentaranya berusaha menangkap Daud. Saul mendapat informasi bahwa Daud bersembunyi di sebuah gunung, di daerah En-Gedi. Maka Saul dan tentaranya pergi ke tempat tersebut untuk menangkap Daud. Sesampai di sana, Saul ingin buang hajat, lalu ia masuk ke dalam sebuah gua untuk membuang hajatnya. Tetapi Saul tidak tahu kalau di bagian gua yang lebih dalam ada Daud dan orang-orangnya yang sedang bersembunyi. Dengan santai Saul melepas jubahnya dan membuang hajat, tanpa mengetahui bahwa di bagian dalam gua itu ada Daud dengan tentaranya. Pada saat itu Saul benar-benar tidak berdaya. Ayat 5 – anak buah Daud menyuruh agar Daud tidak membuang peluang emas ini. Daud bangun dan dengan pedangnya ia potong punca jubah Saul. Tetapi setelah Daud memotong punca jubah Saul, lalu dikatakan dalam ayat 6 “Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul.”

ADA PERBEDAAN
Kalau kita baca dalam ayat 3, Saul berusaha mencari Daud untuk menangkap dan membunuh Daud, tetapi hati Saul enjoy alias nyaman-nyaman saja. Sedangkan ayat 5, Daud hanya memotong punca jubah Saul, tetapi Tuhan membuat hati Daud berdebar luar biasa. Mengapa ada perbedaan antara Daud dan Saul…?. Karena Daud mendengar firman Allah, dia renungkan firman Allah sampai mengerti. Tapi tidak sampai di situ. Firman Allah itu disimpan dalam hati, artinya firman Allah itu Daud praktekkan.

Perhatikan ucapan Daud di ayat 10, Daud telah menyimpan dan menghidupi firman Allah dalam hatinya bahwa: “orang yang berani menjamah orang yang diurapi Tuhan, orang tersebut tidak akan bebas dari hukuman?” Berbeda dengan Saul, dalam 1 Samuel 10, ketika Saul dilantik menjadi raja, Allah ubah karakter Saul menjadi baru dan sangat ideal sehingga Saul menjadi orang yang rendah hati, tidak mudah tersinggung lalu sakit hati. Memiliki roh pengampunan dan lain sebagainya. Namun dalam kisah ini Saul mengalami perubahan.

Perubahan Saul karena ia malas mendengar firman Allah. Bahkan Firman Allah yang ia terima, ia malas untuk memasukkannya ke dalam hati. Sebab itu Allah tidak mau mendengar permohonan Saul lagi, akhirnya Saul menjadi murtad dan tidak bisa diperbaiki lagi. Saul mengikuti suara Iblis dan bunuh diri!

KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang murtad dapat terjadi kepada orang yang rajin beribadah namun mereka tidak alami pertumbuhan. Karena mereka hanya sekedar rajin beribadah dan melayani, tetapi hatinya tidak bersungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Oleh sebab itu sebagai orang percaya biarlah kita hidup dengan sungguh-sungguh. Seperti Daud yang menyimpan firman dalam hatinya serta melakukannya. Dan firman Tuhan itu menjadi alarm bagi dirinya. Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s