PERINGATAN KE-4 “HATI-HATI DENGAN DOSA YANG DISENGAJA” – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 3 Februari 2019)

Ibrani 10:26-27

PENDAHULUAN
Dalam Roma 11:22a menuliskan “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya…” Dari surat Ibrani dan surat Roma, kita akan menemukan sifat Allah, bahwa disatu sisi Yesus adalah Allah yang baik, penuh kasih, lemah lembut, sabar dan penuh dengan pengampunan. Waktu kita bersalah, Yesus bersedia mengampuni kita seperti apapun bentuk kesalahan dan dosa kita. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus adalah Hakim yang memvonis (menjatuhkan hukuman) kepada yang dianggap bersalah – Keluaran 34:6 dan 7.

SIFAT DASAR ALLAH
Pada umunya kita mengerti bahwa ketegasan Yesus, dalam menjalankan peran-Nya sebagai hakim yang tegas dan tidak kenal kompromi, adalah  sifat  dasar dari Allah kita. Dan, kepada siapa Yesus, Hakim yang adil itu akan menyatakan kekerasan-Nya?

1. SENGAJA MENGERASKAN HATI
Sebagai hakim, tanpa kompromi, Yesus akan tunjukkan sikap-Nya kepada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan beri. Menyia-nyiakan pengampunan, dengan tidak mau bertobat. Contoh orang yang menyia-nyiakan pengampunan adalah:

  • SAUL
    Menurut 1 Samuel 13:1,2, dua tahun setelah dilantik, Saul lakukan pelanggaran yang membuat Allah kecewa, 1 Samuel 15:11. Akhirnya, Allah jatuhkan vonis, Allah putuskan hubungan dengan Saul, sehingga Saul tidak punya akses dan tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Allah. Saul binasa dengan cara yang sangat tragis,yaitu dengan bunuh diri.
  • ESAU (KEJADIAN 25:32)
    Esau memandang rendah hak kesulungan. Hak kesulungan adalah gambaran tentang keselamatan. Jadi Hak Kesulungan Esau tukar dengan semangkuk kacang merah. Setelah sadar pentingnya hak kesulungan, Kejadian 27:24-28, Esau mencari dan meminta dengan meraung-raung agar hak kesulungan itu bisa ia dapatkan. Namun, semuanya telah terlambat, air mata dan penyesalan Esau tidak ada gunanya lagi. Kacang merah gambaran harta dunia yang dapat menjadi tipuan bagi manusia sehingga manusia memilih tidak datang pada Yesus lalu binasa.

2. SENGAJA MENGHINA YESUS
Banyak orang menolak Yesus karena tidak mengenal Yesus. Tetapi Tuhan berikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Lalu, dengan cara apa dan siapa yang memiliki potensi untuk jadi penghina Yesus?
1. Orang Yang Tidak Percaya
Karena mereka tidak kenal Yesus, mereka dengan sengaja menghina dan menolak Yesus. Tetapi, dengan penuh kasih sayang dan panjang sabar, Yesus tunggu sampai mereka bertobat. Kalau masa kemurahan Tuhan itu berakhir baik secara pribadi atau secara umum Yesus akan tunjukkan kekerasan-Nya kepada mereka.
2. Orang Yang Telah Percaya
Orang yang percaya pada Yesus pun dapat menghina Yesus. Dalam Ibrani 10:28-29, Allah tunjukkan kekerasan-Nya kepada orang yang percaya Yesus, tetapi dengan sengaja menghina dan menyangkal Yesus di muka umum, maka tidak ada ampun lagi. Dalam Ibrani 10 juga terdapat perbandingan antara hukum Taurat dan hukum Kasih Karunia.

Pada masa Hukum Taurat, bangsa Israel dengan susah payah melakukan 569 aturan Taurat sehari-hari. Kalau hukum itu diabaikan, disia-siakan atau dihina, orang tersebut langsung dijatuhi hukuman mati, tanpa ampun. Tetapi Hukum Kasih Karunia, yaitu hukum yang Yesus diberikan kepada kita tanpa syarat apapun. Modal kita, hanya buka hati dan dengan iman kita, kita terima Yesus di hati kita maka kita diselamatkan, Yohanes 3:16, Roma 10:9-10.

Tetapi, jikalau kita sudah terima Yesus dan terima kepastian keselamatan dan dengan sengaja membuang, menyia-nyiakan dan menghina Yesus di muka umum, hukuman yang akan kita terima lebih berat dibanding dengan orang yang sekarang dengan terang-terangan menghina Yesus. Sebab kemuliaan Sorga tidak sama rata, demikian juga dengan neraka, Matius 23:15.

SENGAJA MENGHINA YESUS
Apakah kriteria berdosa dengan cara menghina Yesus dengan sengaja? Ingat kisah Yudas dan Petrus? Sekilas, Yudas dan Petrus sama-sama menyangkal Yesus. Tetapi mari kita perhatikan lebih dalam perbedaan kedua tokoh tersebut ketika mereka sadar bahwa mereka telah menyangkal Yesus.

RASUL PETRUS
Sesungguhnya tidak ada keinginan atau rencana dalam diri Petrus untuk menyangkal Yesus. Sebaliknya, Petrus bertekad untuk menjadi “Pengikut Yesus Yang Sejati” Matius 26:35. Saat Yesus diadili, murid-murid lain lari, tapi Petrus hadir di tempat di mana Yesus diadili. Dalam Matius 26:69-75, tidak ada satu ayat yang mengatakan Petrus berniat untuk menyangkal Yesus. Jadi, Petrus berdosa menyangkal Yesus bukan karena ia rencanakan. Petrus berdosa menyangkal Yesus karena iman Petrus yang masih lemah dan Petrus takut. Petrus belum siap untuk menjadi martir (mati syahid karena mempertahankan iman). Pada saat murid-murid Yesus belum mencapai kedewasaan iman (belum matang), maka dengan kasih sayang dan belas kasihan Allah berkemurahan memberi kita fasilitas: 1 Yohanes 1:7-9. Berbeda dengan Yudas Iskariot.

YUDAS ISKARIOT
Yudas menyangkal Yesus dilakukan dengan rencana yang matang, strategis dan terinci. Yudas cinta akan uang, 1 Timotius 6:10. Dan Yudas tidak punya keinginan untuk bertobat dan menjadi “Pengikut Yesus Yang Sejati”.  Yudas pelihara dosa dan kebiasaan buruk, yaitu tidak jujur dan suka mencuri, Yohanes 12:6. Ia merancang cara untuk dapat uang banyak dengan menjual jasa kepada imam kepala dengan upah 30 keping, sehingga mereka punya hak untuk mendakwa Yesus, Matius 26:14-16. Dengan sadar Yudas menyia-nyiakan kesempatan yang Yesus berikan kepadanya untuk bertobat. Yohanes 13:30, Yesus beri Yudas roti perjamuan (korban keselamatan) kalau Yudas menerima dan bertobat. Tetapi, Yudas tidak makan roti itu, sebaliknya meninggalkan Yesus dengan sebelas murid lainnya, mungkin  sambil  pergi  Yudas mencampakkan roti itu dan berkata:apa gunanya ini!.

Sesungguhnya sikap  yang dilakukan Yudas, adalah gambaran dari orang Kristen yang murtad. Dalam Ibrani 10:37,38  – untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati yang bertahan sampai akhir,  bukan hal yang mudah, apa lagi dengan kondisi dunia yang semakin hancur. Itu sebabnya dalam Ibrani 6:4-6 firman Allah mengingatkan bahwa perlu untuk kita bertahan sampai akhir sebab tidak mungkin dibaharui sekali lagi untuk orang yang sudah meninggalkan Tuhan.

Jika kekristenan kita tidak bertumbuh maka kita akan seperti Petrus, yang jatuh bangun maka lama kelamaan akan binasa. Sebab itu bangun rohani kita, sebab Matius 24:12,13 keadaan dunia semakin merosot dan kasih akan semakin dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai akhirnya akan selamat.

Kita harus memiliki daya tahan apapun yang terjadi. Untuk berdaya tahan menurut Yesaya 40:30,31 – kita harus menanti-nantikan Tuhan. Dalam bahasa Ibrani: QAVA dan dalam bahasa Inggris  “to bind together by twisting” (menjadikan satu dengan cara memintal/melilit jadi satu). Seperti – tiga utas tali yang dililit jadi tambang yang kuat. Kita lemah, mari kita lilitkan diri kita pada pribadi Yesus yang kuat.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s