Peringatan ke-5: WASPADA TERHADAP AKAR PAHIT DAN MENJAUHKAN DIRI DARI KASIH KARUNIA ALLAH – oleh Pdt. J.S Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 3 Maret 2019)

Ibrani 12:14-15

PENDAHULUAN
Salah satu ciri seorang pengikut Yesus yang sejati adalah hidup dalam perdamaian. Berdamai yang dimaksud bukan hanya dengan orang tertentu saja, misalnya keluarga atau orang-orang yang dikasihi, tetapi dengan semua orang, siapapun orang tersebut dan dimanapun kita berada. Dan ukurannya adalah bagaimana sikap kita dalam kehidupan berjemaat. Mengapa dalam kehidupan berjemaat? Sebab jika kita tidak bisa berdamai dengan saudara seiman, maka kita tidak bisa berdamai dengan orang lain yang tidak seiman. Sebab cara kita bersikap dengan saudara seiman dalam persekutuan gereja Tuhan menjadi ukuran di kehidupan sehari-hari.

DASAR HARUS BERDAMAI
Dalam 1 Korintus 10:16, bahwa dasar orang kristen berdamai adalah pengorbanan Yesus. Sebab yang membangun kesatuan ini bukanlah manusia, tetapi Yesus oleh darah-Nya dan Tubuh-Nya. Yesus memberikan nyawa-Nya untuk mempersatukan setiap orang percaya, sehingga kita yang terpisah-pisah dijadikan satu. Inilah sebabnya ketika kita berkumpul kita harus bisa berdamai dan menjadi satu keluarga. Dan saat kita makan roti dan minum anggur perjamuan suci, kita bukan hanya sekedar mengingat pengorbanan Yesus, tetapi juga menjadi satu dengan tubuh dan darah Yesus, yaitu pribadi Yesus. 1 Korintus 10:17, seperti seketul roti yang utuh, maka kita pun menjadi satu dalam perjamuan suci dan menjadi saudara didalam Kristus. Menjadi satu komunitas bukan lagi terpecah-pecah atau saling membenci melainkan satu kesatuan. Yang membangun kesatuan ini adalah Tuhan Yesus lewat karya kematianNya. Itu sebabnya setiap kali perjamuan kudus, kita jadi satu.Biarlah kesadaran ini membuat kita mengerti bahwa setiap orang yang kita jumpai dalam ibadah adalah keluarga.

Persatuan yang Yesus bangun digambarkan dalam berbagai bentuk seperti roti satu ketul, tetapi Tuhan Yesus juga memberikan gambaran yang lain tentang persekutuan sebagai gambaran dari orang percaya, bahwa persekutuan orang percaya adalah tempat kediaman atau rumah Tuhan.

RUMAH TUHAN
Dalam Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka”. Setiap orang percaya adalah tempat kediaman Tuhan, persekutuan yang kita lakukan didasarkan pada nama Yesus dan Yesus menjadikan perhimpunan kita sebagai tempat kediaman-Nya. Bahkan Rasul Paulus menjelaskan lebih detail lagi bahwa perhimpunan orang percaya sebagai Bait Allah.

Jika kita membaca 1 Korintus 3:16, terdapat kata “kamu”, kata tersebut tidak merujuk kepada satu pribadi melainkan himpunan orang yang percaya kepada Yesus, yaitu jemaat di Korintus. Jadi, saat orang percaya berkumpul dalam suatu ibadah, maka persekutuan jemaat Tuhan ini disebut Bait Allah. Yesus tidak tertarik pada bangunan gereja melainkan orang-orang yang hadir dalam ibadah. Perhimpunan jemaat inilah yang menjadi rumah TUHAN. Dan jika Bapa, Putra dan Roh Kudus bertahta diantara kita, maka IA akan menyatakan Kemahakuasaan-Nya; Kemahatahuan-Nya; dan Kemahadiran-Nya. Maka apapun yang kita sembunyikan dan tutupi dapat diketahui oleh Allah dan Tuhan akan menyelesaikan serta menolong setiap umat yang datang berhimpun bersama-sama.

Kehadiran Allah juga datang membawa berkat dan sudah dinubuatkan dalam perjanjian lama. Mazmur 133:1-3, sadar bahwa kita membutuhkan orang lain sehingga ada persekutuan maka minyak menggambarkan berkat Ilahi yang turun dalam perkumpulan orang percaya lewat Firman Allah. Jika ada kesatuan maka berkat rohani akan dialirkan begitu rupa. Dan juga ada “embun”, ini gambaran berkat jasmani. Persoalannya mengapa kita sering tidak alami kuasa,mujizat dan berkat setiap ibadah? Masalahnya adalah sikap hati. Sebab kita datang beribadah dengan sikap individualistis, egois, bahkan angkuh serta tidak peduli dengan keberadaan orang lain. Iblis tidak suka kita menikmati berkat dalam ibadah, karena itu dia berusaha menciptakan kekacauan diantara kita.

Nasihat Firman Allah
Perhatikan nasihat firman Allah dalam Ibrani 12:14. Bahwa kita beribadah dengan satu pengertian bahwa kita semua adalah saudara. Tidak memikirkan diri sendiri, tetapi juga terbeban dengan pergumulan saudara yang lain dan hidup dalam perdamaian sesama jemaat. Seperti Firman dalam Kolose 3:15, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu”. Bahasa asli kata memerintah adalah seperti wasit yang bertugas mengatur jalannya pertandingan dengan baik. Artinya Damai sejahtera yaitu Yesus menjadi pengadil dalam hati kita. Jika kita ijinkan Damai sejahtera memerintah dalam hati kita maka kita akan hidup rukun. Ketika kita hidup dalam damai maka Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya dalam hidup kita.

MENGAPA HARUS TIUP PELUIT?
Damai sejahtera adalah atmosfer Kerajaan Allah yang Tuhan taruh di hati oleh Roh Kudus. Roma 14:17 “Sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Jika kita tidak mau meniup peluit damai sejahtera itu maka kita akan kehilangan 4 hal yang sangat penting dalam hidup. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 12:15 yaitu :
1. Menjauhkan diri dari Kasih Karunia
2. Tumbuh akar pahit
3. Menimbulkan kerusuhan
4. Mencemarkan banyak orang

Kalau hal Ini terjadi maka akan merusak Bait Allah yaitu persekutuan yang Yesus bangun dengan pengorbanan-Nya.

Ada 3 kategori Bait Allah:
1. Bait Allah secara individu (1 Korintus 6:19)
Saat kita buka hati bagi Yesus maka kita disebut Bait Allah atau tempat kediaman Allah. Artinya jangan merusak diri kita dengan meninggalkan kasih karunia, akar pahit, menciptakan kerusuhan.

2. Bait Allah sebagai persekutuan /himpunan orang percaya. (1 Korintus 3:16)
Kata “kamu” adalah himpunan orang percaya. Jangan kita merusak persekutuan dengan menciptakan perpecahan. Yang terjadi kepada orang yang binasakan Bait Allah : 1 Korintus 3:17 jika ada yang merusakkan Bait Allah atau persekutuan jemaat maka Allah akan membinasakan orang tersebut.

3. Bait Allah (Himpunan Orang percaya) secara universal
Orang yang membinasakan Bait Allah tidak akan mendapat bagian dalam perhimpunan besar semua orang percaya yang diadakan di depan takhta Yesus dalam kemuliaan (Wahyu 7:9). Jika kita mau ada dalam perhimpunan itu mulailah dari menjaga hidup kita secara pribadi dan juga dalam hidup berjemaat.

KESIMPULAN
Ketika kita berhimpun dalam ibadah jangan saling cuek melainkan saling memperhatikan dan bila kita lakukan dengan benar maka kita akan masuk dalam perhimpunan besar. Yesus akan memimpin kita dalam ibadah raya di Sorga kekal. Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s