PEMBUNUH RAKSASA seri 7 – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 10 Maret 2019)

1Samuel 17

1Samuel 17:50
Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Puji Tuhan, saat ini kita masih mempelajari tentang menjadi “Pembunuh Raksasa.” Kita semua tahu bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Kelahiran adalah awal perjalanan, sementara kematian adalah akhir perjalanan hidup. Dalam perjalanan menuju akhir kita akan menghadapi berbagai macam rintangan, kesulitan dan persoalan. Kadang-kadang ada masalah yang mudah diselesaikan, namun tidak jarang ada persoalan yang rumit untuk diatasi. Katakanlah itu seperti raksasa Goliat yang dihadapi Daud. Kita memang tidak dapat menghindari hadirnya raksasa-rakasa kehidupan, tetapi percayalah Tuhan memberikan kekuatan dan kuasa untuk memenangkan pertempuran. Daud bukan pahlawan, ia hanya seorang anak gembala, tetapi dapat menumbangkan pahlawan yang gagah perkasa yaitu Goliat.

Rahasia Kemenangan Daud
Kita sudah mempelajari rahasia-rahasia  kemenangan Daud  menghadapi Goliat, yaitu:
1. Memilih mendengar suara TUHAN dari pada suara LAWAN.
Suara lawan selalu terdengar keras, tajam, dan menggentarkan, tetapi suara Tuhan itu lembut, manis dan menenteramkan hati. Oleh karena itu pilihlah untuk mendengar apa yang Tuhan katakan bukan apa yang dikatakan lawan. Percayalah bahwa hidup kita ditentukan oleh perkataan Tuhan bukan perkataan orang.

2. Memilih MEMANDANG TUHAN daripada MEMANDANG LAWAN
Musuh akan selalu kelihatan lebih besar, lebih kuat dari pada diri kita. Jika mata kita hanya tertuju kepada musuh, kita akan ketakutan. Karena itu arahkan pandangan kita kepada Tuhan yang lebih besar dari musuh yang kita hadapi. Di depan mata Daud dan semua orang Israel, Goliat memang besar dan kuat sebab ia adalah raksasa, tetapi Daud tidak takut kepadanya sebab matanya ditujukan kepada Allahnya lebih kuat dan besar dari Goliat.

3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
Percayalah bahwa kemenangan dalam pertempuran kehidupan tidak tentukan oleh besarnya musuh yang kita hadapi tetapi oleh “siapa” yang menyertai. Jika Tuhan di pihak kita siapa yang dapat melawan kita. Jangankan seorang Goliat, ribuan Goliat sekalipun tak akan pernah mampu menandingi kuasa penyertaan TUHAN.

4. Memperkatakan KEMENANGAN bukan KEKALAHAN.
Kata-kata adalah kuasa. Apa yang kita katakan, itu yang kita undang untuk menghampiri kita. Ucapan kita meramalkan masa depan kita. Jadi menang atau kalah tergantung dari ucapan kita. Sebab itu ucapkanlah berkat, kekuatan, kemenangan dan hal-hal yang mendatakang kedamaian. Daud dengan tegas memperkatakan kemenangan atas Goliat, sehingga kemenangan yang terjadi. Jadi jangan katakan keadaan Anda katakan yang Anda harapkan.

5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan daripada mencari kehormatan diri sendiri.
Kemenangan dalam peperangan kehidupan sangat tergantung dari motivasi kita. Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan diri sendiri atau demi nama kehormatan Tuhan. Tuhan hanya membela mereka yang membela kehormatanNya.

6. Pembunuh raksasa memilih berharap kepada TUHAN, bukan senjata perang
Pengharapan adalah kekuatan. Orang-orang berani menghadapi kesulitan hidup karena mereka masih memiliki pengharapan. Hilangnya pengharapan adalah akhir kehidupan. Apapun yang sedang terjadi dan kita hadapi tetaplah berharap kepada Tuhan yang tidak pernah mengecewakan.

Sekarang marilah kita mempelajari rahasia kemenangan Daud selanjutnya yaitu:
7. Pembunuh Raksasa Memilih Keluar dari Zona Nyaman ke ZONA IMAN

 1Samuel 17:32
Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

Sebenarnya Daud tidak ada urusannya dengan peperangan ini, sebab ia hanya seorang gembala, dia bukan prajurit yang dilatih untuk perang. Ada banyak alasan yang dapat membenarkan Daud bersembunyi di padang bersama dengan domba-domba ayahnya. Namun Daud memilih keluar dari zona nyaman ke zona iman. Jika saja Daud tetap bersembunyi di padang dan menikmati kenyamanan, Daud tidak akan pernah dikenal sebagai seorang “pembunuh raksasa.”

Zona Nyaman atau Zona Iman

Zona Nyaman adalah tempat orang-orang bersembunyi menikmati keadaan tenang, nyaman dan aman. Jauh dari kesulitan dan bahaya apalagi pertempuran. Tempat ini adalah bangku empuk bagi para penonton yang bersorak sorai bertempuk tangan menyaksikan pertandingan.

Sebaliknya zona iman adalah medan pertempuran. Di sini orang-orang berdiri dengan gagah menantang lawan dengan keberanian dan keyakinan. Mereka bukan golongan penonton, tetapi para pemain yang siap menghancurkan musuh apapun resikonya.

Orang-orang yang berada di zona nyaman pada akhirnya akan mengalami kemunduran dan mati, tetapi mereka yang memilih berada di zona iman akan tumbuh menjadi besar, kuat dan dewasa.

Kenyaman itu membunuh
Hati-hati dengan kenyamanan, sebab kenyamanan adalah pembunuh kehidupan dan iman. Pelan tetapi pasti. Kenyamanan meninabobokan iman sehingga tanpa disadari seseorang akan jatuh dan mati. Contohnya adalah Jemaat Laodikia – Wahyu 3 : 15-18. Jemaat Laodikia bangga dengan kenyamanan hidup mereka, mereka kaya dan tidak kekurangan apapun. Akibatnya iman mereka menjadi suam, tidak dingin dan tidak panas. Kehidupan rohani yang suam menyebabkan Tuhan menolak dan memuntahkannya. Awas kenyamanan!

Bagaimana dengan KITA?

Perhatikan dua gambar ini! Manakah yang mirip menggambarkan keadaan kita? Apakah kita penumpang kapal pesiar atau kapal perang? Kapal pesiar menawarkan kenyamanan dan kemewahan. Semua orang dilayani dan dihormati. Berbeda dengan kapal perang. Mereka yang ada di kapal perang adalah orang-orang yang terlatih, para prajurit yang telah disiapkan, dididik, digembleng dengan kesukaran sehingga siap menghadapi pertempuran lawan.

Sayangnya banyak orang kristen memilih berada di kapal pesiar. Datang ke gereja hanya ingin menikmati, dilayani, hidup nyaman dan penuh berkat. Usaha maju, pekerjaan oke, keluarga bahagia, anak-anaknya berhasil, dll. Akibatnya kita tidak bertumbuh, tidak menjadi orang kristen yang militan, kita rapuh dan gampang menyerah. Kekristenan kita harus berpindah dari kapal pesiar ke kapal perang. Menjadi laskar Kristus yang tangguh, kuat, kokoh dan berdaya tahan. Tidak gampang menyerah, tegar dalam menghadapi berbagai masalah dan kesukaran, serta mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh.

BERPINDAH DARI ZONA NYAMAN KE ZONA IMAN
1.
Bongkar bentuk kenyamanan, Ulangan 32:11-12
Sekaranglah saatnya kita bergerak maju ke area kerohanian yang baru yaitu zona iman. Untuk itu beranikanlah membongkar segala bentuk kenyamanan. Belajarlah dari Rajawali yang melatih anak-anaknya terbang. Induk Rajawali akan membongkar sarang kenyamanan lalu membawa terbang anak-anaknya dan melemparkannya di udara. Disinilah anak-anak Rajawali mulai mengepakkan sayapnya, mengembangkan potensinya dan terbang menembus badai di angkasa.

Saya percaya selama kita masih menikmati kenyamanan, kita tidak pernah memiliki iman yang tangguh. Iman justru tumbuh dalam kesukaran dan kesulitan. Jika semua tersedia dan mudah, kita tidak membutuhkan iman. Iman dilahirkan dari ketidakmampuan dan ketidakberdayaan.

Perhatikan dua gambar singa ini.

Pertama adalah singa di hutan dan yang kedua adalah singa di kebun binatang. Singa yang berada di kebun binatang memang nyaman, semuanya tersedia, diberi makan, dirawat, tetapi dia hanya menjadi tontonan. Berbeda dengan singa di hutan. Ada banyak tantangan, kesulitan dan persaingan tetapi justru didalam zona seperti itu ia mencapai potensi maksimalnya yaitu menjadi “Raja Hutan.”

2. Bergerak maju ke medan pertahanan lawan
1Samuel 17:48
Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

Langkah kedua adalah bergeraklah maju ke medan pertempuran lawan. Jangan hindari pertempuran, kesulitan dan tantangan, beranilah menghadapinya sekalipun tidak mudah, sebab disanalah iman kita akan bertumbuh. Percayalah hanya badai yang menghasilkan pelaut ulung bukan angin sepoi-sepoi.

3. Melakukan yang bisa dilakukan.
1Samuel 17:49
Lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

Iman tidak menuntut hal-hal besar, ia dimulai dengan hal kecil yang disertai dengan keyakinan dan kepercayaan yang besar. Untuk membunuh Goliat tidak diperlukan tentara yang banyak atau senjata yang canggih, cukup dengan umban gembala yang disertai dengan kepercayaan penuh kepada kuasa Tuhan  untuk merobohkannya. Percayalah apapun yang kita pegang, Tuhan dapat memakainya untuk meraih kemenangan asal kita percaya. Lakukan saja yang bisa dilakukan, selebihnya serahkan kepada TUHAN.

4. Ingatlah, kepada yang TUHAN telah kerjakan
1Samuel 17:37
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Daud sangat mempercayai Tuhan, sebab ia memiliki pengalaman bersama Tuhan. Jauh sebelum ia bertemu dengan Goliat, Tuhan telah mengajarnya untuk membunuh singa dan beruang. Pengalaman akan pertolongan Tuhan inilah yang menumbuhkan iman Daud kepada Tuhan sehingga tidak ada sekecilpun keraguan bahwa Tuhan tidak akan menolongnya. Dengan iman ia berkata: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Iman tumbuh bukan dari pengetahun tetapi pengalaman dengan Tuhan. Sadarilah jika Tuhan telah menolong kita di hari kemarin, bukankah Tuhan juga akan menolong kita pada hari ini bahkan hari yang akan datang? Sebab itu tumbuhkanlah iman kepada Tuhan dengan cara merenungkan kembali segala karya dan pertolonganNya atas diri kita. Percayalah DIA yang telah menolong kita, akan terus menolong kita sampai akhirnya. Sebab itu berpindahlah dari zona nyaman ke zona iman. Tuhan memberkati. KJP!

Advertisements

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s