Born Again (Dilahirkan kembali) – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 1 – Minggu, 26 Mei 2019)

Yohanes 3:1-12

Saya rasa kita sudah punya pengalaman kelahiran baru, tapi biarlah ini menjadi peneguhan dalam hidup kita. Saya ingin menyoroti topik “Kelahiran Baru” ini dari sudut pandang kerajaan Allah dan roh, jiwa, tubuh.

Ibarat sebuah bangunan, sehebat apapun tampak luar sangatlah bergantung pada fondasi. Selama kita hidup di dunia (perjalanan rohani juga) begitu banyak hal atau kemungkinan yang dapat terjadi baik ujian, pencobaan maupun berbagai goncangan. Kekuatan bangunan rohani kita dan bagaimana kita bertahan sangat bergantung kepada fondasi iman kita.

Percakapan Yesus dengan Nikodemus
Nikodemus adalah seorang Farisi artinya seorang yang menguasai Taurat dan dapat memberi penjelasan tentang Taurat itu secara mendetail. Dia juga adalah seorang pemimpin agama Yahudi. Seorang Nikodemus merupakan orang penting dalam masyarakat Yahudi saat itu sebab hampir seluruh kehidupan orang Israel selalu berkaitan dengan agama. Mereka mengaitkan segala aspek hidup mereka dengan agama (sistem kepercayaan mereka).

Nikodemus datang saat malam. Mungkin ia mencari waktu senggangnya Yesus dari kesibukan-Nya setiap hari. Ada juga yang menafsirkan dia sengaja datang malam hari agar tidak diketahui oleh orang lain, yang nantinya akan menimbulkan masalah baik dirinya maupun Yesus sendiri.

Nikodemus dan Kecerdasan Intelektualnya
Dalam membuka percakapannya, Nikodemus berkata “Rabi kami tahu…” artinya dia memiliki pemahaman tentang siapa Yesus dan bagaimana penyertaan Tuhan dalam diri Yesus, namun tidak demikian tentang kerajaan sorga dan apa yang disampaikan Yesus, ia belum memahaminya. Yesus berkata bahwa seseorang yang tidak dilahirkan kembali, tidak dapat melihat kerajaan sorga. Disini Yesus tidak berbicara kerajaan sorga nanti (secara fisik) tetapi kerajaan sorga saat sekarang (rohani).

Melihat Kerajaan Sorga
Kata ‘melihat’ dalam bahasa Yunaninya memakai kata  Eido. Kata ini sama seperti yang dipakai dalam ayat 11 untuk kata ‘mengetahui’. Apa yang kita tidak lihat, sulit untuk kita mengetahuinya apalagi mengenai detail untuk menggambarkannya (diskripsikannya). Sehingga kita dapat mengerti bahwa kata Melihat/Eido memiliki makna yang sama dengan “tahu/memahami” (ayat 11). Artinya seorang yang tidak dilahirkan kembali, tidak bisa memahami kerajaan Allah dan apa yang Yesus sampaikan tentang Kerajaan Allah. Begitu juga jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh yaitu Firman dan Roh Kudus, ia tidak dapat masuk (tidak dapat bagian) dalam kerajaan Allah.

Hal inilah yang dialami Nikodemus. Nikodemus seorang Farisi yang cerdas secara intelektual, tapi karena belum dilahirkan kembali ia tidak dapat memahami kerajaan Allah (ayat 9-12). Ada banyak perumpamaan tentang kerajaan Allah, tetapi tanpa melihat (mengetahui) kerajaan Allah tidak mungkin kita dapat mengerti.

Dikatakan juga oleh Yesus barang siapa tidak dilahirkan dari Air dan Roh, ia tidak akan dapat masuk dalam kerajaan Allah. Ini juga sangat penting sebab jika kita tidak dilahirkan kembali, seseorang tidak akan memahami kerajaan Allah apalagi mendapat bagian di dalam kerajaan Allah.

Bagaimana proses Kelahiran Baru?
1. Percaya Yesus sebagai TUHAN dan Juruslamat, Roma 10:9-10
Kepercayaan kepada Yesus haruslah dimulai dari hati dan kemudian keluar dari mulut menjadi sebuah pengakuan, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat hidupnya.

Catatan: Untuk dapat percaya kepada Yesus dan mengakuinya sebagai TUHAN, ada peran dari Roh Kudus (1 Kor 12:3). Roh Kuduslah yang menginsafkan manusia tentang dosa dan kebutuhannya akan keselamatan (Yohanes 16:8).

2. Roh Kudus membangkitkan roh manusia kita dari kematian karena dosa (putusnya huhungan dengan Tuhan)
Orang yang jatuh dalam dosa, terputus hubungannya dengan Allah sehingga rohnya mati (Efesus 2:1,4,5). Saat kita percaya kepada Yesus, Roh Kudus membangkitkan roh kita dari kematian.

3. Saat inilah kita menjadi ciptaan yang baru (bukan tubuh, dan jiwa tapi roh manusia kita yang baru), inilah yang dikatakan dalam 2 Kor 5:17.
Siapa saja yang menerima-Nya diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12). Dengan demikian Roh Kudus menegaskan status kita sebagai anak-anak Allah.

4. Roh kita yang sudah dihidupkan oleh Roh Kudus membutuhkan Firman sebagai benih, 1 Petrus 1:23.
Sekalipun kita sudah percaya, bahkan roh kita sudah dihidupkan oleh Roh kudus, kita butuh Firman sebagai benih. Banyak orang tidak menyukai Firman Allah, pertanyaannya bagaimana kita bisa bertumbuh?

5. Disinilah proses kelahiran baru itu terjadi (Yoh 3:5, dilahirkan dari air dan Roh yaitu Firman dan Roh Kudus). Roh kita yang sudah hidup menjadi tempat bertemunya Roh Kudus dengan benih Firman yang kita dengar.

6. Inilah cikal bakal kelahiran baru di dalam diri kita dimana benih Ilahi (firman Allah yang kita dengar) dibuahi oleh Roh Allah dalam roh manusia kita.

7. Kemudian barulah terjadi kelahiran baru (bayi yang baru lahir ditandai dengan tangisan / tangisan pertobatan)

Dilahirkan kembali, berapa lama prosesnya?
Jawabannya bisa lama bisa juga cepat. Ada faktor yang mempengaruhi. Prosesnya bisa lama karena keras hati artinya masih sayang kepada dosa (tidak mau bertobat) sehingga tidak terjadi pembuahan (benihnya mati).

Berita Pertobatan
Pesan pertama yang dibawa oleh Yohanes pembaptis dan Yesus adalah berita pertobatan. Yohanes berkata “bertobatlah, sebab kerajaan Sorga sudah dekat! (Matius 3:2) Ini bukan bicara soal kerajaan sorga nanti tetapi saat sekarang. Demikian juga Yesus membawa berita awal yang sama yaitu tentang Pertobatan (untuk dapat melihat dan masuk dalam Kerajaan Allah)

Dilahirkan Kembali = Lahir baru = Bayi rohani

  • Bukan Fisik
  • Bukan roh manusia kita = Roh manusia kita dibangkitkan (bertambah kuat, Lukas 1:80; Lukas 2:40 (KJV)
  • Melainkan Jiwa kita (1 Korintus 13:11)

Itu sebabnya untuk kita terus bertumbuh dari bayi rohani menjadi dewasa, kita harus alami pertobatan setiap hari di jiwa kita.

Bertobat = Metanoia = Perubahan pikiran

Rom 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Inilah yang disebut Dewasa/Kristen Sejati, dimana kita dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Alat Pendewasaan kita adalah Firman Tuhan dan Roh Kudus.

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s