BERKAT DARI SUMBER HIKMAT  seri 3: TUNTUNAN TUHAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 30 Juni 2019)

Ada lima berkat dari sumber berkat yang tidak lain adalah Yesus sebagai sumber hikmat setiap orang percaya, yang tertulis dalam Amsal 3:1-10. Hikmat yang dibicarakan disini sebenarnya berhubungan dengan hubungan pribadi kita dengan Tuhan.  Berkat-berkat apa saja yang akan kita peroleh jika kita merespon sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai sumber hikmat itu? Ada lima berkat yang akan kita dapatkan dari Tuhan jika kita mengerjakan kehendak Tuhan.  Apa sajakah itu?

LIMA BERKAT
1. Panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera, ay. 1-2.
2. Kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia, ay. 3-4.
3. Tuntunan Tuhan, ay. 5-6.
4. Kesembuhan dan kebugaran, ay. 7-8.
5. Perlipatgandaan berkat, ay. 9-10.

TUNTUNAN TUHAN
Inilah berkat ke-3 dari Sumber Hikmat .
Amsal 3:5-6  “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Dari ayat di atas kita dapat membaca bahwa ada dua hal yang membuat orang percaya tidak mendapatkan tuntunan Tuhan sehingga hidupnya tidak pada jalan yang lurus.
1). Tidak percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (separuh hati). Lebih bersandar kepada pengertian sendiri.
Orang yang hidupnya tidak percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (separuh hati) lebih bersandar kepada pengertian sendiri, maka orang seperti ini hidupnya akan mudah disesatkan dan juga sulit untuk mendapatkan  pertolongan Tuhan.

Contoh orang yang tidak percaya Tuhan dengan sepenuh hati, sehingga mudah disesatkan adalah Hawa,  Kejadian 2:16-17.

Perhatikan perintah Tuhan yang disampaikan kepada Adam dan Hawa.
“Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Ini adalah perintah firman yang disampaikan langsung Tuhan kepada Adam dan Hawa.  Tetapi apa yang dikatakan Hawa ketika berdialog dengan Iblis.

Kejadian 3:3 “Tetapi tentang buah pohon yg ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

Perhatikan kalimat yang digarisbawahi. Tuhan tidak pernah mengatakan atau menyinggung soal meraba buah itu, tetapi janganlah kau makan buah itu. Hawa menambahkan sendiri kalimat itu, ini menunjukkan bahwa Hawa tidak sepenuhnya mempercayai Tuhan.  Melihat Hawa tidak mempercayai Allah dengan segenap hatinya, maka Iblis menggunakan kesempatan itu untuk menyesatkan Hawa. Iblis memutarbalikkan maksud dari larangan memakan buah pengetahuan baik dan jahat itu.

Kejadian 3:4-5 – “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Iblis merusak dan memutar balik perintah Tuhan seolah-olah Tuhan menyembunyikan sesuatu yang manusia tidak boleh ketahui.  “Pada waktu kamu  memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan yang jahat”, padahal sudah jelas Allah katakan pada waktu kamu makan kamu akan mati. Iblis berkata dusta tentang akan menjadi seperti Allah. Itulah sebabnya ia mendapat gelar Bapa segala Pendusta, Yohanes 8:44. Tanpa menunggu lama Hawa langsung percaya perkataan Iblis, ia disesatkan dan masuk dalam jerat dosa yang dipasang Iblis. Hal ini terjadi karena Hawa tidak percaya dengan segenap hatinya terhadap perkataan Tuhan.

Contoh lain NAAMAN, 2 Raja-raja 5:9-14.
Kisahnya dapat diringkas sebagai berikut :
Ay. 9 – Naaman menjumpai nabi Elisa karena mendengar kesaksian dari anak perempuan Israel yang menjadi budaknya.

Ay. 10 – Elisa tidak menjumpai tetapi hanya mengutus suruhannya.

Ay. 11-12 – Naaman tersinggung, karena Elisa tidak menjumpainya dan hanya mengutus utusannya. Ia pergi dengan panas hati, apalagi cara penyembuhannya dinilai aneh, mandi 7x di sungai Yordan yang tidak lebih baik dari sungai di Damsyik tempat tinggalnya.

Ay. 13-14 – Naaman hampir saja gagal untuk mendapatkan pertolongan yang ajaib dari Tuhan, karena menolak perintah firman Tuhan yang disampaikan oleh pesuruh Elisa. Rasa gengsinya sebagai seorang Panglima Tinggi Kerajaan Aram menjadikan ia merasa terhina dengan cara penyembuhan yang aneh, mandi di sungai Yordan 7x. Apalagi disampaikan oleh pesuruh bukan oleh Nabi Elisa secara langsung. Untung para pengawalnya memberi nasehat yang baik, sehingga Naaman sadar dan kembali kepada jalur yang benar yaitu dengan memilih mempercayai firman Allah meski disampaikan oleh pesuruh Elia, ia mandi tujuh kali di sungai Yordan dan Naaman mengalami mujizat kesembuhan dari kustanya.

Dari peristiwa ini kita mendapat pelajaran bahwa kadang Allah memakai cara yang diluar nalar manusia, untuk meruntuhkan gengsi, kesombongan seseorang sebelum menolongnya. Karena yang menjadi penghalang besar bagi orang kaya dan berpangkat model Naaman ini bisa mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati adalah gengsi dan kesombongannya.

2). Tidak mengakui Tuhan dalam segala laku kita. Hasilnya kehidupan yang tidak lurus.

Orang tipe seperti ini :

  • Lebih mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri. Ia merasa dia-lah yang banyak berbuat untuk menghasilkan banyak hal dalam hidupnya.
  • Tidak pernah melibatkan Tuhan dalam segala rancangan hidupnya karena merasa mampu tanpa pertolongan Tuhan.
  • Tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan karena merasa dia-lah yang sudah berjerih lelah membuat segala usahanya berhasil.

Karena Tuhan tidak terlihat, tidak sedikit anak Tuhan pun kadang tidak menyadari apalagi menghargai keberadaan Tuhan dan mengakui peran Tuhan dalam hidupnya. Semua yang terjadi dalam hidup kita, yang kita miliki, termasuk kemampuan kita adalah dari Tuhan, karena Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan. Ini harus kita akui dalam kehidupan kita.

Bagaimana kita mengakui Tuhan dalam segala laku kita? Salah satu bentuk dalam kita mengakui Tuhan adalah  SIKAP HATI kita dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sikap hati yang dikehendaki Tuhan dalam kita memuji dan menyembah-Nya adalah dari dalam roh dan kebenaran. Mengapa harus menyembah dari dasar hati kita yaitu roh kita? Karena Allah adalah Roh.

Yoh. 4:24 “Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Orang yang menyembah dalam roh akan terlihat dalam ekspresi tubuhnya.

Mazmur 134:2 – “Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN.”
Bandingkan dengan (Ratapan 3:41). Mengangkat tangan adalah salah satu bagian dari ekspresi mengakui Tuhan yang dipuji itu ada. Perhatikan, ketika kita sedang menunggu seorang pejabat tinggi dan kemudian menyambut ketika orangnya datang, biasanya kita semua berdiri untuk menyambutnya. Pertanyaannya mengapa harus berdiri? Berdiri merupakan ekpresi kita mengakui dan menghormati kedatangannya. Demikianlah harusnya kita juga mengakui hadirat Tuhan dalam ibadah. Ketika kita memuji Tuhan ekspresikanlah pengakuan kita dengan mengangkat tangan, berdiri, bertepuk tangan dengan tulus dari dasar hati kita yang terdalam (roh kita). Allah akan hadir dalam puji-pujian dan penyembahan yang dinaikkan dengan sikap hati yang benar dan mengakui keberadaan Tuhan.

Mazmur 22:3 “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”

Tuhan hadir dan bersemayam/berdiam di atas puji-pujian kita. Allah menghargai orang yang mengakui Tuhan dalam ekspresi yang dari rohnya memuji dan menyembah Tuhan. Memang tidak harus berdiri, mengangkat tangan, karena disesuaikan dengan usia tentunya, dengan dudukpun kita dapat mengekspreikan pengakuan kita akan kehadiran Tuhan. Tetapi hati-hati jangan pernah menganggap rendah orang yang sungguh-sungguh memuji Tuhan.

Ada satu contoh dalam Alkitab seorang yang menganggap rendah orang yang sungguh-sungguh mengekspresikan pengakuannya akan hadirat Tuhan.

1 Tawarikh 15:29 – Mikhal, anak perempuan raja Saul yang menjadi istri Daud. Melihat Daud melompat dan menari-nari bagi Tuhan, sebagai pengakuan Allah yang berhadirat, ia memandang rendah Daud dalam hatinya.  Apa yang dikatakan Mikhal terhadap Daud, dapat dibaca selengkapnya di 2 Samuel 6:20-22. Karena sikap Mikhal yang tidak menghargai bahkan menganggap rendah Daud dalam mengakui Tuhan dengan cara memuji, menari dan melompat, Tuhan buat ia mandul dan tidak punya anak sampai hari matinya, ay. 23.

Bagi kita yang dapat mengekpresikan pengakuan hadirnya Tuhan dalam ibadah dengan berdiri, mengangkat tangan dan lain-lain, jangan memandang rendah orang yang cuma duduk dalam memuji dan menyembah Tuhan, tetapi bagi yang duduk juga jangan menilai atau menghakimi orang yang memuji Tuhan dengan berdiri. Semua bebas mengekpresikan pengakuan kita akan hadirat Tuhan dengan caranya, yang terpenting adalah semuanya harus datang dari roh kita yang sungguh-sungguh memuji dan menyembah Tuhan.

Kesimpulan
Jika kita mau mendapat tuntunan Tuhan pada jalan yang lurus kepada kebenaran, berkat dan damai sejahtera-Nya, maka kembali kepada ayat pokok kita.

Amsal 3:5-6 – “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

About GPdI Mahanaim Tegal

Profil Singkat GPdI Mahanaim Tegal. Berdiri: Tahun 1989 dengan Gembala Sidang: Pdt.J.S.Minandar (Sejak 1997). Visi: Membangun Keluarga Kristen yang mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama. Misi: Menjangkau jiwa dengan Injil, membina hingga dewasa di dalam Kristus dan melayani.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s